Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Saturday, June 22, 2024

Membaca Makna Joko Anwar's Nightmares and Daydreams

 
Joko Anwar's Nightmares and Daydreams (2024) adalah kisah tentang pertentangan kelas sosial. Fiksi sains, thriller, hingga gore horror jadi pembungkusnya.

Dalam serial yang pertama kali tayang sejak 14 Juni ini, penghuni kelas ekonomi marjinal jadi tokoh utama dalam lima dari tujuh episode. Dua lainnya menggambarkan kelas menengah yang pada akhirnya bersatu dengan kaum miskin tadi untuk melawan golongan super berkuasa.

Episode pertama yang berjudul Old House berkisah tentang seorang sopir taksi bernama Panji. Suatu hari tokoh yang dimainkan Ario Bayu ini mengantar perawat panti jompo yang dihuni para orang kaya. Anehnya, pengelola rumah besar itu menerima klien baru secara cuma-cuma.

Panji dan istrinya meninggalkan ibu mereka yang pikun di panti jompo tadi untuk menghindarkan putra mereka dari bahaya. Ayah satu anak itu lantas menyesal dan berusaha menjemput sang ibu.

Setelah masuk sembunyi-sembunyi, Panji melawan kekuatan yang mengeksploitasi masa muda. Sejenis makhluk aneh berjari empat menghisap vitalitas kaum miskin demi keabadian sang kaya. Itu pertentangan kelas pertama.

Episode kedua berjudul The Orphan, bercerita tentang pasangan pemulung Iyos dan Ipah. Diperankan oleh Yoga Pratama dan Nirina Zubir, mereka berjuang untuk keluar dari jerat kemiskinan melalui kejadian mistik: mengadopsi anak ajaib berjari empat.

Dalam satu adegan, Ipah diusir dari dalam restoran mewah yang menunya ingin dia cicipi. Benturan kelas sosial memang nampak di sana, tapi episode ini terasa lebih menekankan keserakahan.

“Greed is good” kata ekonom. Episode The Orphan lantas menunjukkan batasannya.

Episode ketiga berjudul Poems and Pains mengenalkan nama bagi kaum berkuasa melalui sebuah kata yang lebih mudah diterima dibanding mengenalkan mereka kepada penonton sebagai oligark: agarthan. Tokoh Rania yang diperankan Marissa Anita bisa berpindah badan. Gambaran kota tempat mereka berasal tergambar saat dia merasuki Adrian.

Meski episode tiga menampilkan Agarthan dalam wujud serupa manusia, episode setelahnya hanya tampak melalui pengerahan aparat. Berlatar di Jakarta Utara tahun 1985, Agartha sebagai sebuah “nafsu mengeksploitasi” pada akhirnya melahirkan “antibodi”, entitas yang dipilih “supreme being” untuk menjaga kemanusiaan.

Tahun 1997 terjadi resesi ekonomi. Seorang mantan petugas karcis bioskop bernama Bandi berjuang untuk bertahan hidup di sebuah rumah susun bersama istrinya, Dewi.

Memerankan Bandi yang terjebak dalam sebuah mesin waktu, Kiki Narendra bak Jack Nicholson yang hadir ke pesta di ballroom hotel Overlook dalam film The Shining. Kurun yang baginya terasa beberapa jam ternyata berlangsung selama dua tahun. 

Adegan itu bisa jadi mengacu ke “penghisapan” yang dikendalikan kaum super kaya alias agarthan. Istri Bandi sendiri menyaksikan itu meski gagal menyelamatkan sang suami.

Pada akhirnya Dewi yang diperankan Sita Nursanti menjadi oposan agarthan. Ia punya kekuatan khusus, sebagaimana terlihat dalam episode keenam berjudul Hypnotized. 

Dewi dan kelompoknya merekrut Ali, seorang teknisi elektronik yang buta warna. Kesulitan finansial akibat kelainan itu, membuat Istri Ali yang diperankan Poppy Sovia mencuri dari supermarket. 

Pada pangkal kisah, sosok yang diperankan Fachri Albar ini lolos proses seleksi Dewi karena dia berhasil “ambil kendali”. Salah satu kendali itu: menentang tindakan pencurian oleh Ningsih.

Di penghujung episode berjudul PO BOX, kekuasaan agarthan ditunjukkan melalui kuasanya menghilangkan manusia. Haydar Salishz yang memerankan Adrian tampil lagi sebagai agarthan berkedok menteri.

Bersama kawanannya, ia hendak menyantap mata Valdya, calon antibodi baru. Ini metafora untuk sebuah tindakan eksploitasi.

Beruntung rombongan antibodi datang menyelamatkan. Kaum miskin superpower pada akhirnya bertarung melawan golongan berkuasa, secara harfiah.

Secara kiasan, pertarungan proletar dan borjuis akan berlanjut di season 2 setelah anggota antibodi terakhir yang diperankan Asmara Abigail mau bergabung dan berujar: “let’s kick their ass”.[]


Wednesday, January 10, 2024

Teknoskeptisisme


Selama paruh akhir 2023, isi bacaan, tontonan dan musik yang saya dengar banyak bertema tentang teknoskeptisisme—paham yang meragukan keuntungan teknologi termutakhir. Mari saya ceritakan tentang mereka satu per satu.


Awalnya dari buku. Oleh seorang teman diskusi di English Lab, saya direkomendasikan buat baca Make Time. Dalam buku terbitan 2018 itu Jake Knapp dan John Zeratsky (JZ) kasih tips cara meluangkan waktu (make time) dan kenalkan konsep kolam tak berujung (infinity pool) untuk analogikan distraksi yang mudah diakses via internet. 


Buku itu pula yang mengenalkan saya ke istilah "industri distraksi" sekaligus menganalogikan ponsel sebagai cincin di film Lord of The Rings.


"Terkadang aku merasa ia seperti mata yang terus menatapku... Aku menemukan diriku tidak bisa tidur tanpa dia di sakuku." (Bilbo Baggins)


Halaman terakhir Make Time berisi dereran buku yang jadi acuan ide JZ dan Knapp. Alhasil saya baca Sapiens (2018).


Yuval Noah Harari jadi pemikir superstar gara-gara bukunya itu banjir pujian. Tokoh prestisius global semacam Barrack Obama hingga Bill Gates merekomendasikan buku bersubjudul "Sejarah Ringkas Umat Manusia" itu.


Isinya memang cukup cerdik merangkum sederet alasan kenapa Homo sapiens bisa jadi penguasa planet bumi. Menariknya, dalam wawancara di situs vox, Yuval mengaku kalau seandainya dia nggak rutin meditasi, sebagai profesor ilmu sejarah di Israel, dia akan terus meneliti tentang objek militer di abad pertengahan. "Meditasi" lantas jadi kata kunci yang berkait dengan "teknoskeptisisme" tadi.


Judul lain yang saya lahap dari daftar pustaka Make Time: Deep Work (2016). Buku ini ditulis Cal Newport.


Dalam satu bab khusus, profesor ilmu komputer dari Georgetown University itu mengajak pembaca menimang benefit media sosial yang menurutnya: kurang berfaedah. Akademisi lulusan MIT tahun 2009 itu kasih tips penggunaan notebook (buku tulis dalam arti harfiah) untuk atur fokus harian pembaca. 


Trik "pemenggalan waktu per 15 menit" itulah yang saya pake sampai sekarang—meskipun saya tetap harus juggling dengan komitmen buat disiplian. Dan itu ga masalah. Jangan sampai ilusi kesempurnaan justru jadi distraksi itu sendiri.


Sebetulnya, ada satu lagi buku yang saya baca Juli lalu dan ditulis seorang teknoskeptik lain: Jaron Lanier. Judulnya, Ten Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now. 


Cukup jelas lah ya isinya tentang apa. Jadi mari kita lanjut bahas musik.


Oktober 2023, Saturday Night Karaoke merilis minialbum yang efektif dan efisien: More Chords, Better Points. Isinya lima lagu yang kalo didengar berurutan rasanya akan seperti naik kereta Whoosh dari tengah perjalanan: cepat-cepat-cepat-cepat-pelan.


Yayaya, analoginya aneh. Haha. Poin saya: secara musikal rasanya begitu. 


Secara lirikal, kuartet asal Bandung ini menawarkan nomor bernuansa tragis tapi bisa komedik dalam sekali hentak. Judulnya: Abnormal? Abnormal!!!


Tokoh utama di lagu ini ceritanya muak dengan "unggahan gawai" seseorang yang punya ego tengik dengan membagikan "piagam, properti, teknologi termutakhir, swafoto pretensius di tengah momen plesir". Lebih jauh dari urusan pamer-pameran, lagu ini menggarisbawahi "konsep prestasi" yang di judul sempat diragukan lantas diyakinkan dengan tiga tanda seru: abnormal!!!


Visualisasi abnormalitas tadi lalu saya tonton di film The Truman Show. Film rilisan 1998 itu belum menyebut "unggahan", "distraksi", atau istilah terkait teknologi kiwari di atas. Judul yang dibintangi Jim Carrey ini menampilkan komodifikasi kehidupan personal.


Hari ini bukankah itu yang terjadi? Saat scrolling tentang posting trivial aktivitas harian, di timeline muncul satu-dua iklan yang menyelingi. Kalau kata Superman Is Dead di lagu Citra OD yang dirilis 2006: "privasi hari ini adalah konsumsi".


Kita mungkin sudah merasa maklum. Bagi kreator film itu, nggak. 


Meskipun yaaah, kalau kata Yuval sih harusnya film itu diakhir dengan Truman bebas dari studio televisi dan masuk lagi ke "studio" peradaban global. Dia merujuk ke beberapa hal yang disepakati umat manusia sebagai intersubjektivitas—pembahasan tentang objektif, subjektif dan intersubjektif ada di buku Sapiens.


Teknoskeptisisme yang dikenalkan judul-judul di atas baru beberapa titel yang saya simak tahun lalu. Untuk menutup ulasan ini, saya kutipkan artikel buatan Cal Newport yang dipublikasikan The New Yorker akhir tahun lalu. Dalam sebuah paragraf dia memperhalus kata skeptis menjadi seleksionis:


Techno-selectionists believe that we should continue to encourage and reward people who experiment with what comes next. But they also know that some experiments end up causing more bad than good. 


Techno-selectionists can be enthusiastic about artificial intelligence, say, while also taking a strong stance on settings where we should block its use. They can marvel at the benefits of the social Internet without surrendering their kids' mental lives to TikTok. []


Wednesday, October 4, 2023

Sherina


Petualangan Sherina 2 dikemas sedemikian sederhana. Karakter protagonis-antagonis dipisahkan ke dalam spektrum yang hitam-putih. 

Dulu Kertarajasa, kini Syailendra. Kita bisa rasakan posisi mereka dalam kisah ini sejak kemunculan pertama. 

Meski bersegmentasi "semua umur" sekuel ini terasa lebih tepat ditujukan bagi penonton film pertama. Penonton yang berusia dewasa diajak menengok lagi masa anak-anak, saat Petualangan Sherina mempengaruhi gelagat anak tahun 2000an.

Saat itu saya masih SD. Begitu pula istri saya yang mengaku banyak terinspirasi gaya sherina: cokelat M & M's, bekal sekolah, you name it. Dua puluh tiga tahun kemudian, kami melihat Sherina yang sama, tampil dalam kemasan kisah serupa.

Sherina kecil dan dewasa harus menghadapi perbedaan realita dengan ekspektasi. Jika Sherina 2000 sedih dan gundah karena tak ingin pergi berpisah dengan temannya di Jakarta, maka Sherina 2023 digambarkan marah karena peliputan ke Davos batal. Sherina yang sudah jadi reporter televisi malah ditugaskan ke hutan Kalimantan.

Bandung dan Palangka Raya bagi Sherina kecil dan dewasa terasa sama saat dia melintasi rimbun pohon yang tampak serupa. Ia menatap ke luar jendela mobil dalam komposisi visual yang mirip.

Kejutan: Sherina kecil bertemu Sadam di Bandung, Sherina dewasa jumpa Sadam di Palangka Raya. Mereka kadang kompak, tapi beberapa kali juga beda pendapat saat menghadapi tokoh antagonis pemburu satwa liar.

Riri Riza dan Mira Lesmana, sebagai duet sutradara dan produser, kini menawarkan gagasan konflik pelestarian orang utan. Dua puluh tiga tahun lalu, isu yang mereka sodorkan berupa perebutan lahan. 

Saat pencaplokan wilayah masih relevan di saat ini, mungkin masalah pelestarian hewan juga akan tetap penting disampaikan di masa depan nanti. Mereka sedang menandai zaman.

Penanda era lain yang juga tampak sengaja disisipkan, terlihat ketika Sherina diminta segera pulang ke Jakarta untuk meliput konferensi pers Presiden Jokowi. Dua puluh tiga tahun dari sekarang, penonton film ini akan punya sebuah konteks menarik saat menilik lagi kondisi yang dihadirkan dalam jagat Petualangan Sherina 2. 

Di luar hal-hal simbolik itu, Petualangan Sherina 2 sesederhana surat cinta buat inner child kita. Sherina dan Sadam terlihat bersenang-senang dengan karir dan tantangan kerja di dalamnya. Hingga di usianya yang kepala tiga, mereka belum menikah dan itu nggak apa-apa. 

Dalam beberapa hal, film ke-25 rumah produksi Miles Film ini nampaknya ingin membuat generasi 2000an sumringah, serupa ekspresi Sherina ketika dihadiahi tas lama. []

Tuesday, October 4, 2022

Alfiansyah

Dalam Majalah Tempo terbaru, ada esai Goenawan Mohammad di rubrik Catatan Pinggir. Judulnya "Giosue".


Di esai itu, Pak GM mengulas film Life is Beautiful. Judul aslinya La Vita e Bella.


Giouse yang ia comot jadi judul, berasal dari nama tokoh anak-anak dalam film garapan sutradara Roberto Benigni. Sang sutradara, juga berperan jadi ayah Giosue, bernama Guido.

"Guido bisa menghadirkan di dalam mata anaknya sebuah hidup yang seru, dan anaknya berbahagia." 


Demikian salah satu pendiri Majalah Tempo ini menuliskan sinopsis, dengan sebuah plot twist.

"Tapi bukankah kita tetap mengatakan bahwa Guido tahu dan kita tahu ia berbohong: kamp konsentrasi itu bukanlah tempat di mana la vita e bella?"

Esai Giosue dalam edisi 3-9 Oktober 2022 ini, sebenarnya rilisan ulang dari terbitan 5 April 1999. Filmnya sendiri pertama kali tayang tahun 1997.


Meski begitu, ada sebuah paragraf, yang membuat rubrik mingguan ini rasanya baru ditulis hari Minggu, 2 Oktober 2022.

"Giosue percaya. Tetapi sampai sejauh mana ketidakadilan dan kekejaman, sebagai kenyataan hidup harus ditutup dari mata seorang anak? Sejauh mana cinta mengizinkan kita berdusta dan bohong bisa bersifat protektif? Film La Vita e Bella (Hidup itu Indah) memberi jawaban yang ekstrem: sampai sejauh jauhnya. Bahkan di ambang liang kubur orang banyak."

Setelah membaca bagian di atas, saya membayangkan Giosue sebagai tokoh fiksi pengganti Alfiansyah. Dalam umur 11, ia kehilangan orang tuanya dalam tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang Jawa Timur.


Saya membayangkan, dari ayah dan ibunya (Yulianton dan Devi Ratna) ia mewarisi sebuah renjana terhadap sepak bola. Keluarga Aremania ini menaruh passion terhadap sebuah permainan sebelas lawan sebelas di sebuah liga yang dijuduli ABC News In-depth sebagai: the world's most dangerous league.


Judul dari tiga tahun lalu itu mewujud kenyataan pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Lebih dari seratus orang meninggal akibat penumpukan massa yang diawali lemparan gas air mata oleh polisi, setelah suporter kecewa dengan kekalahan tim tuan rumah.


Di akhir esainya, Pak Goen membayangkan:

"Terkadang kita ingin ada seorang Guido yang sebaiknya mengelabui kita. Tapi benar perlukah kita akan sebuah dusta yang bisa membuat kita tak putus harap?"

Saya lalu membayangkan, di bulan November nanti, saat Alfiansyah akan berusia 12, apakah ada yang "berdusta atas nama cinta" kepadanya soal penyebab dia jadi yatim piatu? Ataukah dia harus siap menerima fakta tentang "ketidakadilan dan kekejaman, sebagai kenyataan hidup

"? []

Wednesday, June 8, 2022

Film Statement Ngeri-Ngeri Sedap

 Sekilas tak ada yang salah dari karakter Pak Domu. Dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, Arswendi Bening Swara memerankan sosok ayah berwatak keras dan teguh terhadap warisan adatnya. 


Ayah dari anak bernama Domu ini keukeuh, keturunannya harus menikah dengan sesama suku batak. Ia pun masih terkungkung dalam stereotip bahwa kesuksesan perantau dari Sumatera Utara seakan hanya bisa diukur saat mereka menjalani karir di bidang hukum.


Maka, murkalah ia kala Domu si sulung hendak menikah dengan perempuan sunda, dan Gabe malah bekerja sebagai pelawak. Ia pun kecewa, saat Sahat si bungsu malah menetap di Jogja selepas lulus kuliah. Menurut adat, anak bungsu harusnya ada di rumah orang tua untuk kemudian mewarisi peninggalan ayah-ibunya.


Lain halnya dengan Mak Domu. Ibu empat anak ini lebih kompromistis dengan aturan adat. Menurut tokoh yang diperankan Tika Panggabean ini, yang penting kerinduan ke tiga anak lelakinya bisa dibayar tuntas. Selama tinggal di sebuah rumah tepian Danau Toba, ia dan suami ditemani satu-satunya anak perempuan mereka, Sarma.


Pak Domu dan Mak Domu, tiba di satu momen saat pertengkaran jadi satu-satunya cara supaya anak-anak mereka yang merantau bisa pulang. Dari pertengkaran inilah, kisah bergulir mengungkap beberapa hal, dari relevansi adat sampai gaya pengasuhan anak.


"Tanpa adat pun kita tetap bisa hidup," sanggah Sahat saat diminta pulang untuk menghadiri upacara adat Sulang Sulang Pahompu. Tradisi itu bertujuan merayakan pernikahan yang tertunda akibat salah satunya kendala ekonomi. Opung Domu yang diperankan Rita Matu Mona, menekankan bahwa kehadiran cucu jadi syarat utama upacara itu.


Namun, saat ketiga anak lelaki pulang dan hadir di acara tadi, mereka pun dihadapkan ke tuntutan adat lain. Momen saat para komika Boris Bokir, Lolox dan Indra Jegel bersikeras, melontarkan kontra argumen hingga menyatakan pasrah, jadi momen komikal. Unsur komedi, memang bercampur padu dalam takaran dan timing yang tepat selama sekitar dua jam durasi film.


Pun demikian dengan kutipan dialog yang dihadirkan berulang tapi sarat makna. 

"Makanan Mamak memang paling enak sedunia."

"Tapi bukan itu yang membuatmu pulang kan?"


Sarma alias anak kedua yang diperankan Ghita Bhebhita, jadi karakter paling kurang diantisipasi dalam film perdana rumah produksi Imajinari ini. Ia memegang peran sentral dalam menghadirkan plot twist tentang trik menghadirkan abang dan adiknya. Lewat nasib yang ia jalani, Sarma pula yang menghujamkan panah ke jantung budaya patriarki.


Pada dasarnya, tradisi batak dan keindahan bentang alam Danau Toba dalam Ngeri-Ngeri Sedap, ibarat cangkang. Di dalam inti skenario yang ditulis dan disutradarakan Bene Dion Rajagukguk ini, ada pernyataan atau film statement yang ditujukan bagi semua anak dewasa dan semua orang tua—yang tak punya batasan usia untuk terus belajar menjadi ayah dan ibu.


Beberapa pesan, tidak cukup diekspresikan dalam kata atau kalimat. Seperti salah satunya Ngeri-Ngeri Sedap ini, ada gagasan yang perlu dipahami saat ia berwujud kisah. []

Sunday, August 8, 2021

Sentilan Buat Eksploitasi di Industri Fashion

 Gimana caranya ngenalin isu eksploitasi pekerja di industri tekstil, tanpa jadi bingung dan malah jadinya lucu? Ya, lewat nonton film ini. 


Zoolander, ceritanya tentang kehidupan absurd model pria. Pemenang tiga tahun berturut-turut model terbaik dalam tahun itu, kalah bersaing.


Derek, si model tokoh utama kita--yang diperankan komikal maksimal oleh Ben Stiller--harus mengakui kharismanya kalah sama model lain, Hansel yang diperankan Owen Wilson--nggak jelas juga sebenanrya kriteria model pria terbaik itu apa. Haha.


Dengan kekalahan itu,  Derek malah ditawari kerjaan sama Mugatu, seorang fashion influencer yang sejak awal film peran antagonisnya udah diungkap. Mugatu yang dimainkan oleh Will Ferell, sebenarnya bekerja buat sekelompok "mafia" yang ingin melestarikan eksploitasi pekerja di bidang fashion tadi. 


Caranya: rekrut model pria "terabsurd" buat dijadikan agen rahasia. Si model bakal bertugas membunuh pemimpin baru sebuah negara yang warganya jadi pekerja industri busana tadi. Nama negaranya: Malaysia.


Di negara tetangga kita, jelas film ini berujung dilarang tayang. Soalnya memang candaannya bisa jadi menyakitkan bagi kaum nasionalis harga mati. Hansel setidaknya dua kali nyebut nama mikronesia dan apa gitu satu lagi. Haha. 


Padahal keliatannya, yang dikritik mungkin China. Soalnya si presiden "malaysia" bernama dan penampilan khas negara yang kini jadi sumber pekerja murah itu--buktinya, korporasi besar produksi barangnya malah di sana. Jadi, ketersinggungan soal Malaysia sepertinya berlebihan.


Mungkin yang seharusnya tersinggung justru para model pria di dunia nyata. Soalnya memang kehidupan mereka di film ini keliatan konyol. 


Untungnya para model barangkali sadar bahwa ini komedi. Kalau pun misalnya memang model pria itu seaneh demikian, ya ketawain aja.

Saturday, July 31, 2021

Jurnalisme Musik Mati, Almost Famous Pusaranya

 Ada dua profesi yang bisa kita dapati gambarannya lewat film Almost Famous, selain musisi. Pertama, jurnalis musik. Kedua, kalau memang ini bisa dibilang profesi: poser.


Tokoh utama kita, namanya William Miller. Usianya belasan tahun, tapi dia sudah mahir menulis reportase atau ulasan tentang musik. 


Suatu ketika, dia bersua dengan kelompok musik Stillwater. Band ini awalnya menolak si kritikus musik, soalnya menurut mereka, "kami bermusik buat fans, bukan buat kritikus". 


Lantas pada akhirnya, Miller kemudian diterima (bahkan bisa ikut tur) setelah membuktikan bahwa dia bukan cuma kritikus. Di tur itu pula dia bersua dengan Penny Lane, seorang fans Stillwater yang ngefans banget sampe rela ngikutin mereka ke mana pun. Fans semacam itulah yang disebut poser.


Film ini menampilkan masa kejayaan jurnalisme musik di tahun 1973. Di indonesia, saat itu majalah Aktuil yang terbit sejak 1967 lagi naik daun. Jurnalisnya bahkan mengenalkan istilah "dangdut" dan "blantika", dua terma yang sampai sekarang masih kepake.


Begitu pula di Amerika sana. Rolling Stone jadi majalah musik dengan tingkat penghormatan tertinggi. Dan Miller, sedang membuat tulisan soal Stillwater untuknya.


Sosok Miller ini fiksional. Begitu pula band Stillwater. Rolling Stone, jelas nyata ada, lengkap dengan kolumnisnya yang terkenal: Lester Bangs. 


Lewat Almost Famous--yang diambil dari nama tur konser band Stillwater--kita bisa lihat cara jurnalis bekerja. Dari mencatat, menandai momen, hingga wawancara--yang ternyata nggak mudah.


Cara kerja Rolling Stone yang memastikan kebenaran kutipan narasumbernya, juga menunjukkan dari mana penghormatan tadi berasal. Sampai saat ini, cara demikian pula yang dipakai oleh media tulis kredibel untuk memastikan kualitas beritanya.


sayangnya (atau syukurnya?), jurnalisme musik kini sudah wafat. Setidaknya demikian yang dikatakan Chris Weingarten dalam buku Jurnalisme Musik tulisan Idhar Resmadi.


Idhar juga menyitir tulisan Dan Kopf bahwa "kritik musik yang menarangkan hal ihwal kualitas album untuk dibeli, sudah tidak relevan lagi". Penyebabnya, internet.


Meski demikian, Idhar menutup bahwa "fungsi dan makna jurnalisme musik itu sendiri mungkin tidak benar-benar mati, tapi berubah". Sebelum dia berubah, demikianlah wujud jurnalisme musik seperti yang kita tonton di Almost Famous.

Sunday, July 11, 2021

Soal Donnie Darko

 Donnie Darko, beberapa kali saya baca di sejumlah rekomendasi film dengan judul berkata kunci: mindfuck, plot twist, twisted ending, atau semacamnya. Film dari tahun 2001 ini baru saya tonton di Mola TV.


Ceritanya tentang seorang remaja bernama Donnie Darko yang punya gangguan emosi. Dari sudut pandang si Donnie ini, kita bisa lihat bahwa gangguan emosinya dipicu oleh sosok imajiner bernama Frank.


Frank yang pakai kostum kelinci menyeramkan itu, suatu malam ngajak Donnie keluar dari kamarnya. Ndilalah, malam itu ada mesin pesawat jet jatuh tepat di kamar Donnie. 


Setelah itu, hubungan Donnie dan Frank berkaitan dengan sebuah peristiwa yang disebut Frank sebagai akhir dari dunia. Bagi Donnie, ternyata momen itu menjadi titik penting hidupnya. Donnie berpindah dimensi.


Meski begitu, pemahaman soal apa yang terjadi dengan Donnie sebenarnya multi interpretasi. Bisa dibaca seperti di atas, atau ada pula yang bilang kejadian di rentang durasi tertentu sebenarnya imajiner aja. 


Setidaknya ada dua akun YouTube yang bikin video essay soal penafsiran itu: Wisecrack dan  The Take. Mereka membandingkan hasil nonton dua versi film: theatrical cut dan director's cut. 


Sementara, ada lagi satu dokumenter dari tahun 2016 yang sepertinya lebih detil bahas film itu. Judulnya, Deus Ex Machina: The Philosophy of Donnie Darko (2016).

Saturday, June 26, 2021

Metafora Jepang di Kisah Batosai

 Akhirnya, bagian akhir trilogi live action Rurouni Kenshin rilis di Netflix. Episode ketiga ini jadi akhir penebusan Kenshi Himura atas dosanya di masa lalu.


Dalam sekuel berjudul ini, sejarah tanda silang di pipi kiri Si Batosai dibahas. Luka itu ditorehkan mantan istrinya, Tomoe Yukishiro.


Tomoe punya seorang adik, namanya Enishi. Pria berambut putih ini dewasa sebagai mafia dari China, yang ternyata membiayai kerusuhan yang didalangi Sishio Makoto--samurai mirip mumi yang jadi antagonis di film kedua.


Enishi datang dari Shanghai buat membalas kematian kakaknya. Nasib Kenshi dalam bahaya.


Film berdurasi dua jam lebih ini, menampilkan interpretasi yang lebih mudah dieksekusi di medium sinema. Misalnya soal luka kedua di pipi Kenshi yang beda dibanding versi komik.


Bagi saya, yang paling memuaskan dari film ini koreografinya. Kamera diposisikan jauh dari petarung. 


Dalam komposisi gambar yang nggak terlalu detil--rata-rata medium close up--justru keliatan perkelahiannya epik. Nikmatilah momen ketika Kenshi lari di dinding lorong, mundur teratur saat digempur di markas musuh utama, hingga didorong sampe ngangkat sekitar dua meter di pertempuran lawan Enishi. Eyegasmic.


Lebih dari itu, narasi penebusan dosa ala samurai di masa restorasi meiji, tetap dipertahankan. Samurai X ini tentang Jepang sebagai sebuah bangsa.


Akun YouTube Accented Cinema menganalisa bahwa kisah batosai sang pembantai adalah kisah Jepang yang di masa modern sedang menebus kesalahannya di masa kolonialisme. Saat itu, Jepang agresif menjajah seperti yang juga dilakukan rekan seideologinya, Jerman di bawah Nazi.


Pasca Hiroshima dan Nagasaki dibom, Jepang berbenah. Mereka mulai memakai "sakabatou", pedang bermata tajam terbalik. Tetap menakutkan (dalam konteks ekonomi-budaya-geopolitik), tapi nggak agresif.


Untuk lebih menikmati kisah berlatar tahun 1800an ini, kita juga bisa belajar sejarah Jepang di platform yang sama. Netflix punya serial berjudul Age of Samurai: Battle For Japan.


Seorang kawan saya yang menggemari sejarah Jepang, menilai serial itu punya penggambaran tokoh sentral yang beda sama deskripsi yang dia biasa baca. Misalnya, Nobunaga menurutnya nggak kayak gitu. 


Bagaimana pun, fakta tentang perbedaan tafsiran sejarah memang nggak bisa dihindari. Justru itulah esensi kita belajar sejarah. Beda temuan, beda penafsiran. []

Sunday, June 13, 2021

Versi 68% Sebuah Film Spionase

Uncle

Agen rahasia CIA kerjasama bareng agen rahasia KGB. Padahal dua organisasi itu saingan. Inilah premis utama film The Man From U.N.C.L.E.


Yang saya nikmati dari film semacam ini: sense cerdik, canggih, misterius, dan tentu saja laga. Semuanya ada, khas film bertema spionase.


Napoleon Solo seorang agen rahasia CIA yang flamboyan. Dalam beberapa hal, dia kalah dari Illya Kuryakin--agen KGB yang merefleksikan intimidasi rezim diktatoriat Uni Soviet.


Di tengah mereka berdua, ada Gaby yang ternyata, sebaiknya nggak saya ceritain. Intinya, film dari tahun 2015 yang saya tonton ini baru permulaan. Kata U.N.C.L.E. baru ada di bagian akhir. Bakal ada sekuelnya? Kayaknya iya.


Soalnya, film ini memang adaptasi dari serial film dengan judul yang sama, rilisan tahun 1964. Menarik kan, di tahun ketika blok timur dan blok barat berperang dingin, film ini menawarkan alternatif jalan tengah.


Meskipun, karena ini tahun 60an, teknologinya nggak secanggih agen rahasia di film Kingsman. Kecanggihannya ada di si tokoh utama ini sendiri. Illya bisa ngejar mobil dan tahan lajunya. Solo, punya perhitungan presisi yang bikin dia seakan lucky bastard doang.


Adegan laga favorit saya, kejar-kejaran di akhir film. Teknik zoom ini yang kasar justru bikin pemetaan posisi pergelutan jadi tergambar. Selain itu, editing di bagian menyusup ke pulau privat juga asik. Komikal, ringkas, artistik.


Meski begitu, nilai film ini di Rotten Tomatoes: 68%. Sementara film seri originalnya yang 4 season itu, diponten 100%. []

Saturday, May 15, 2021

Kinipan

Katanya, rentang perhatian alias attention span manusia semakin singkat. Orang cuma bisa tahan nonton sekian detik, makanya story Instagram cuma 15 detik.

Tunggu, kenapa orang juga bisa tahan nonton serial berjam-jam? Rupanya attention span yang menciut itu mitos belaka. Yang penting: satu menit pertama musti memukau.

Akhirnya, Watchdoc merilis film dokumenter Kinipan lewat kanal YouTube, yang durasinya dua setengah jam. Satu menit pertama, kita langsung dihadapkan ke inti film—perusakan lingkungan.

Empat menit awal film, bagian “lead” berakhir. Judul muncul. Dua setengah jam lalu berakhir.

Kinipan ternyata bukan cuma soal sebuah desa di Kalimantan yang menghadapi perusahaan perusak hutan. Tokoh utamanya dua orang: Basuki dan Feri.

Ada 7 bab yang menggambarkan perjuangan pelestarian alam melalui perspektif dua orang ini. Di awal, penokohan mereka terasa dekat.

Kita pun bisa menaruh simpati dan kepercayaan. Sehingga, ketika mereka turut menganalisa, terasa sahih.

Basuki memusatkan perjuangan di pulau Kalimantan, sementara Feri di Sumatera. Keduanya bakal ketemu di bagian akhir.

Di antara pertemuan itu, mereka mengungkap bahwa eksploitasi alam, pandemi, kuasa negara, semua berkaitan. Ada beberapa informasi lama, ada pula yang baru.

Misalnya, soal konflik kepentingan antara pemuka negara dan pengusaha yang pernah didalami film dokumenter Sexy Killer. Tentang kegagalan proyek sawah di Kalimantan yang diulas Asimetris.

Yang baru saya dapat dalam film ini: beda persepsi soal restorasi hutan dari mata korporasi dan masyarakat adat. Kamu akan temukan detil kisah ini di sekitar 45 menit terakhir film, lengkap dengan “cover both side” yang sempat diributkan netizen ketika Sexy Killer tayang dua tahun lalu.

Pada akhirnya, ada nada pesimisme dalam narasi bahwa “negara tidak mungkin mengembalikan hak pengelolaan hutan ke masyarakat adat”. Tapi toh perjuangan warga di sekitar hutan menolak padam.

Meski, narasi di bagian akhir Kinipan menuturkan nada getir:


“Kini semuanya telah terhubung/

Peradaban dan gaya hidup kita/

Menuntut pengorbanan besar dari alam//

Yang merasakan dampaknya/

Tak hanya manusia//

Sebab manusia/ jelas bukan

Satu-satunya yang butuh hidup//

Dan harga yang harus dibayar manusia/

Kadang lebih besar

Dari keuntungan yang didapat//

Apalagi/ jika yang membayar

Bukan mereka yang paling

Menikmati kue ekonomi//

Bahkan jika tragedi itu

Menjangkau sampai

pusat-pusat ekonomi dan pusat populasi/

Korban yang ditimbulkan akan semakin besar//

Lalu/ dengan dalih untuk mencari solusi

Untuk semua masalah ini/

Sekelompok manusia yang berkuasa/

Membuat kebijakan yang justru/

Berpotensi memperburuk keadaan di masa depan/

Yakni kembali menuntut pengorbanan

Alam dan seisinya//

Lalu lingkaran masalah yang sama

Akan terulang di masa yang akan datang//

Bahkan jika keputusan itu/

Murni untuk kepentingan bersama/

Dan tanpa konflik kepentingan sedikit pun//

Di sisi lain/ untuk memperbaiki lingkungan/

Justru tak melibatkan mereka

Yang paling berkepentingan//

Pelestarian hutan/ diserahkan kepada

Mereka yang hidupnya tidak tergantung

Secara langsung pada hutan//

Sementara yang terdekat/

Justru hanya menonton//

Menonton bagaimana dulu hutan dirusak/

Dan kini/ menonton bagaimana/

Konon hutan akan dipulihkan/

Lewat berbagai proyek yang tak mereka pahami//

Padahal/ justru dari bangku penonton inilah/

Pertunjukan keserasian antara alam dan kebutuhan hidup/

Telah dipentaskan selama ribuan tahun//“

Saya tiba-tiba kepikir lagu Iwan Fals untuk anaknya, Galang Rambu Anarki. Cuma liriknya diubah jadi begini: “tinjulah congkaknya negara buah hatiku, doa kami di nadimu”. []

Saturday, May 8, 2021

Nyari Soul to Squeeze di Conehead

 Saya cukup serius dengan hobi musik sejak Red Hot Chili Peppers merilis album By The Way (2002). Mulai saat itu, beberapa album RHCP saya simak cukup khusyuk. 


Beberapa waktu setelahnya, kuartet yang sering telanjang dada ini merilis album kompilasi Greatest Hits. Di dalamnya ada lagu yang dibuat untuk sebuah film. Judul lagunya Soul To Squeeze, judul filmnya Coneheads. Keduanya keluar pertama kali tahun 1993.


Tahun ini, Coneheads rilis di Netflix. Demi kecintaan saya ke RHCP tadi, saya tonton film komedi itu.


Coneheads berkisah tentang alien dengan kepala runcing. Niatnya menginvasi, nyatanya mereka malah hidup berintegrasi dengan manusia setempat.


Seperti lazimnya film lain yang bermetafora tentang peminggiran kaum minoritas--macam film X-Men--Coneheads juga bersuara serupa. Keluarga alien ini ketauan otoritas setempat setelah memakai nama imigran yang sudah meninggal.


Sekali lagi, ini film komedi. Meski di beberapa momen mereka menyembunyikan identitas, di kesempatan lain keanehan mereka terlihat dianggap normal. Misalnya ketika tokoh Beldar memeriksakan giginya yang runcing di rongga mulut yang berlapis-lapis.


Nampaknya memang keanehan alien itu yang mau ditonjolkan film ini. Dari cara tidur vertikal, cara kencan yang beda, sampai logat bicara serupa robot. Bagi saya, semua itu nggak menarik. Nggak lucu. Karena memang saya nonton film ini demi RHCP.


Sayangnya, lagu favorit saya itu ternyata cuma tempelan musik latar yang cuma beberapa detik. Mood film ini juga ternyata beda sama music video Soul To Squeeze.


Di dalam video clip, empat orang personil RHCP ceritanya jadi anggota kawanan sirkus. Di luar Chad, Flea, Anthony dan John, ada seorang anonim berkepala menonjol ke arah atas, persis karakter Coneheads.


Bedanya, video bernuansa hitam putih itu terasa noir. Si Conehead dalam MV Soul To Squeeze terlihat jadi peluru sebuah meriam--gambaran kongkrit jiwa yang diperas (squeezed soul). Gaya itu lebih cocok sama mood lagunya. 


Bagi penonton lain, Coneheads mungkin lucu. Bagi saya, film komedi yang berhasil bikin ngakak, paling cuma Home Alone dan Le Petit Nicholas. Atau kamu punya usul judul lain? []