Saturday, June 26, 2021

Baru Kenalan Sama Weezer

 


Ketika pop-punk berjaya sebagai genre musik dominan di tahun 90an, saya belum punya cukup modal buat kenalan sama Weezer. Selain nama besar lain semacam Blink-182 dan Green Day, Weezer memang juga dikenal dengan musik catchy yang sejenis kedua band tadi.


Bertahun-tahun berlalu, saya kehilangan alasan buat mencari mereka lagi. Sampai datanglah 2021, ketika kuartet asal California ini merilis album baru.


Judul albumnya Van Weezer, sebuah tanda penghormatan bagi kelompok musik Van Halen. Gitaris band legendaris itu, Eddie Van Halen, belum lama ini berpulang setelah didera sakit.


Selain penggunaan kata "van" dalam album, jejak audio ala Van Halen juga terdengar di track Blue Dream dan I Need Some of That. Maksudku, penggunaan suara 1-2 dalam melodi gitar, meskipun sidik jari Weezer tetap terasa.


Van Weezer punya 10 track yang bernuansa simpel, mudah dinyanyikan dan "lembut". Mungkin bagi beberapa pendengar lama, kesan itu kurang tepat. 


Nyatanya, itu muncul sebagai buah perkenalan pertama saya sama Weezer dalam format album. Sebelum ini, satu-dua lagu hits mereka saya pernah denger.


Karena memang udah klop sama musik semacam ini, di masa depan saya bakal mengantisipasi lagi rilisan baru Weezer. Jika dengan usia setua ini saja mereka bisa semenyenangkan ini, bisa jadi besok-besok mereka tetap akan semuda dulu kayak sekarang. []

Metafora Jepang di Kisah Batosai

 Akhirnya, bagian akhir trilogi live action Rurouni Kenshin rilis di Netflix. Episode ketiga ini jadi akhir penebusan Kenshi Himura atas dosanya di masa lalu.


Dalam sekuel berjudul ini, sejarah tanda silang di pipi kiri Si Batosai dibahas. Luka itu ditorehkan mantan istrinya, Tomoe Yukishiro.


Tomoe punya seorang adik, namanya Enishi. Pria berambut putih ini dewasa sebagai mafia dari China, yang ternyata membiayai kerusuhan yang didalangi Sishio Makoto--samurai mirip mumi yang jadi antagonis di film kedua.


Enishi datang dari Shanghai buat membalas kematian kakaknya. Nasib Kenshi dalam bahaya.


Film berdurasi dua jam lebih ini, menampilkan interpretasi yang lebih mudah dieksekusi di medium sinema. Misalnya soal luka kedua di pipi Kenshi yang beda dibanding versi komik.


Bagi saya, yang paling memuaskan dari film ini koreografinya. Kamera diposisikan jauh dari petarung. 


Dalam komposisi gambar yang nggak terlalu detil--rata-rata medium close up--justru keliatan perkelahiannya epik. Nikmatilah momen ketika Kenshi lari di dinding lorong, mundur teratur saat digempur di markas musuh utama, hingga didorong sampe ngangkat sekitar dua meter di pertempuran lawan Enishi. Eyegasmic.


Lebih dari itu, narasi penebusan dosa ala samurai di masa restorasi meiji, tetap dipertahankan. Samurai X ini tentang Jepang sebagai sebuah bangsa.


Akun YouTube Accented Cinema menganalisa bahwa kisah batosai sang pembantai adalah kisah Jepang yang di masa modern sedang menebus kesalahannya di masa kolonialisme. Saat itu, Jepang agresif menjajah seperti yang juga dilakukan rekan seideologinya, Jerman di bawah Nazi.


Pasca Hiroshima dan Nagasaki dibom, Jepang berbenah. Mereka mulai memakai "sakabatou", pedang bermata tajam terbalik. Tetap menakutkan (dalam konteks ekonomi-budaya-geopolitik), tapi nggak agresif.


Untuk lebih menikmati kisah berlatar tahun 1800an ini, kita juga bisa belajar sejarah Jepang di platform yang sama. Netflix punya serial berjudul Age of Samurai: Battle For Japan.


Seorang kawan saya yang menggemari sejarah Jepang, menilai serial itu punya penggambaran tokoh sentral yang beda sama deskripsi yang dia biasa baca. Misalnya, Nobunaga menurutnya nggak kayak gitu. 


Bagaimana pun, fakta tentang perbedaan tafsiran sejarah memang nggak bisa dihindari. Justru itulah esensi kita belajar sejarah. Beda temuan, beda penafsiran. []

Sunday, June 20, 2021

Sebuah Kalimat Pembuka

 Sebuah buku, bisa kita kenang dari kalimat pembuka atau penutupnya. Novel kanon 1984 dimulai dengan "it was a bright cold day in April, and the clocks was striking thirteen". 


Banyak orang meraba makna dan estetika dari susunan kalimat itu. Barangkali karena memang si kalimat pertama, jadi bagian pembuka dari gagasan utama keseluruhan buku. Pantaslah dia dianggap penting.


Baru-baru ini saya terkesan dengan sebuah kalimat pembuka. Dari buku puisi--katakan demikian--berjudul Catatan Najwa 2. Bunyinya begini:


"Jurnalisme menjadi rahmat sekaligus kebahagiaan. Ia memberi begitu banyak: pengalaman hidup, karier, jejaring sahabat dan relasi, penghargaan, mungkin juga popularitas. Untuk semua itu, jurnalisme tidak menuntut banyak, ia mensyaratkan independensi dan objektivitas."


Paragraf itu, memulai rentetan pilihan keberpihakan Najwa Shihab dan timnya atas berbagai isu publik. Semua disampaikan lewat prolog dan epilog dari talkshow Mata Najwa, dengan rima khas pantun dan tingkat sastrawi ala puisi.


Prolog, epilog, pantun, puisi, itu semua label. Intinya, rangkuman hingga ajakan. Dan yang baru-baru ini--baru halaman pertengahan maksudnya--bikin saya terkesan, kalimat satu ini:


"Mengingat adalah aksi politik paling sehari-hari, bahu membahu kita bangun benteng memori. Karena mengingat adalah aksi yang tak bisa disanggah, cara bertahan rakyat melawan kuasa yang pongah." []