Thursday, February 23, 2023

Beruntung

 

Bullet Train (2022) mengajak kita bersenang-senang dengan makna sial dan keberuntungan. Kita akan mengikuti kisah seorang pembunuh bayaran bernama Ladybug. 


Brad Pitt, memerankan tokoh utama yang hanya dikenal lewat kode khusus untuk menyebut seorang pembunuh bayaran. Di dalam kereta cepat (bullet train) Shinkansen, tanpa diduga Ladybug yang sudah tidak prima  karena faktor usia berjumpa dengan 4 pembunuh bayaran lain yang sialnya lebih pintar menjalankan tugas.


Yang menarik, kesialan itu ternyata beruntun. Ladybug harus berhadapan lagi dengan Lemon (Bryan Tyree Henry) dan Tangerine (Aaron Taylor-Johnson) yang pernah menembaknya saat tugas Johanesburg.


Dia juga harus bersinggungan misi dengan pembunuh lain—The Wolf (Bad Bunny), The Hornet (Zazie Beetz), hingga White Death (Michael Shannon). Padahal tugasnya nampak mudah: cukup antarkan sebuah koper ke seseorang di stasiun ujung.


Film ini disutradarai David Leicht yang muncul pula sebagai cameo, Jeff Zufelt. Sineas asal AS ini dikenal pula sebagai stunt performer dan memulai debut penyutradaraannya pada tahun 2014 lewat film John Wick—meski menurut laman wikipedia, hanya Chad Stahelski yang disemati kredit atas film laga itu.


Leitch juga pernah mengarahkan film Kick Ass hingga Deadpool 2. Bagi yang sudah menyaksikan judul-judul tadi, tentu sudah punya gambaran pula tentang brutalitas adegan laga dan gaya humor yang juga muncul dalam Bullet Train.


Kisah lika-liku penugasan di Jepang ini, bermula dari novel berjudul "Maria Beetle" buatan Kotaro Isaka terbitan 2010. Maria Beetle sendiri diperankan aktris Sandra Bullock.


Semula, peran itu akan diisi Lady Gaga. Sialnya (atau untungnya?) penyanyi berjuluk Mother Monster itu punya jadwal syuting bersinggungan dengan film yang ia bintangi, House of Gucci (2021).


Perubahan atau penyesuaian peran juga ada di tokoh The Prince. Dalam film, ia diperankan Joey King dan memang berubah menjadi seorang perempuan. 


Dalam sebuah adegan, Sang Pangeran (yang ternyata perempuan) menjelaskan alasan julukannya sambil baca novel Shibumi gubahan Trevanian. Katanya, itu terkait keinginan sang ayah, White Death.


White Death sendiri, diceritakan berasal dari Rusia. Sebenarnya tidak ada masalah dengan penampilan aktor Michael Shannon saat memerankan sang antagonis.


Dia punya gaya khas memutar silinder revolver dengan sapuan lengan. Ikonik sekali. Hanya saja formula demonisasi Rusia oleh film produksi AS bagi saya terasa membosankan.


Kalau memang tokoh utama "diputihkan" dari yang semula berbangsa Jepang, idealnya para pembuat film Bullet Train punya imajinasi yang lebih fantastis lagi dong, selain menampilkan formula heroisme yang itu-itu lagi. []


Wednesday, February 22, 2023

Privasi

Dear david bermula dari Laras, seorang siswi berprestasi. Dia ketua OSIS, sumber kebanggaan sekolah, juara lomba kepenulisan.

Sebagai penulis, Laras punya saluran rahasia. Sebuah blog, ia isi fantasi romantik-erotik dengan objek teman sekelas bernama David.

Laras tentu berupaya mempertahankan citra baik yang selalu melekat dalam dirinya, demi terus mendapat keringanan biaya sekolah dan lancar mengejar cita-cita masuk UI. Sialnya, laras gagal logout dari komputer sekolah dan seseorang menyebarkan cerpen dari dalam akunnya. 

Peristiwa itu mengenalkan privasi kepada sasaran utama penonton ini, remaja. Apakah sikap sekolah berlebihan? Apa Laras sudah sebaiknya melindungi diri?

Dalam Dear David, kepala sekolah memimpin orkestra infiltrasi ke ruang privasi murid atas nama kondusivitas. Seorang siswa berbisik ke laras, "lo kan ketua osis, harusnya lo bisa berbuat lebih". Mereka memprotes perampasan ponsel.

Di luar film, negara juga masuk ke ranah privat warganya. Masih ingat skandal Aipda Ambarita? Dia merazia handphone sembarang orang demi konten, padahal salah.

Satu lagi yang lebih anyar: putusan MK tentang pernikahan beda agama. Pelapor uji materi undang-undang merasa dirugikan karena menurut sebuah pasal dalam peraturan yang lahir di tahun 1974, sepasang calon suami-istri harus punya agama yang sama saat menikah.

Editorial Majalah Tempo menilai, itu bentuk pengaturan berlebihan negara kepada warganya, karena sudah masuk ranah privat. Seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia, dua dari sembilan hakim MK sendiri mengakui bahwa perlu ada perbaikan tentang aturan itu, dimulai dari pihak pemerintah dan DPR. 

Mengenal privasi, baru satu dari bahasan lain yang bisa kita baca atau renungkan dari film Dear David. Hal lainnya: bullying, pengaruh media sosial ke kehidupan nyata, kesehatan mental, inklusivitas dan (ehem) cinta segitiga. []


Sunday, January 22, 2023

Autobiography

The award-winning film "Autobiography", is finally coming back home after concluding a series of screenings in more than 20 film festivals. The title refers to the life experiences of its 2022 Citra award-winning scriptwriter, Makbul Mubarak--who also direct the movie.


He said that the idea of "Autobiography" came from his childhood. His parents were civil servants, and the 31-year-old moviemaker lived in some circumstances where power was given naturally for symbols of nation. 

Some influential figures, trapped (or overuse) in the powerful situation. So much so that it led to violence. One question emerged inside Makbul's head as to where would power violation ends?

The answer, lies at the end of the movie. The final scene depicts Mubarak's take on which side he stands on. Or, if he chose the opposite side of the finale, I guess we still can read the whole movie as a precaution of the famous quotation by Lord Acton:

"Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely."

Unfortunately, at some point the portrait of fictional story in Autobiography can easily be found in real life in Indonesia--a nation where militarism holds power for several decades. You might have experienced one. 

Makbul himself had experienced an uncomfortable story of how several influential figures can easily misuse their abilities. As he told Koran Tempo the January 22 edition, Mubarak shared his past story of being accused stealing from a shop. Unbeknownst, the authority took advantage of his powerless position and took money from the young man.

In the universe of "Autobiography", such power relation has special place to let the story rolls out. We will see Kevin Ardilova who plays as Rakib. He becoma a personification of ourselves--through some cinematography techniques (mise en scene). A Polish cinematographer beautifully arranged a myriad of eary shots and combined with works of Philippinos editor and French sound editor, then make viewers feel like it was truly terrifying to work for a powerful military retired general named Purnawinata who was played by Arswendi Bening Swara.

Purna was on his path toward residential election. As he was away from his family, the ex-war veteran chose Rakib taking role of being his caretaker. 

Rakib was treated as his long-awaited son by the father of three daughter. On the contrary, on the visit to jail, Purna said to Rakib's father that he felt satisfied with Rakib's service. The relationship was mutual as Rakib found an ideal father figure in Purna's attitude. Until one moment moves the story.

"Autobiography" was also shows us another issues that follows militarism. Natural exploitation was told as a background, delivered side by side with the negligence of one's source of life. On another part of the movie, impunity also can be seen. 

The movie also shed a light on another note that needs to be taken more seriously. Military power has its own strength and weakness that affects a wider part of society. []