Sunday, January 22, 2023

Autobiography

The award-winning film "Autobiography", is finally coming back home after concluding a series of screenings in more than 20 film festivals. The title refers to the life experiences of its 2022 Citra award-winning scriptwriter, Makbul Mubarak--who also direct the movie.


He said that the idea of "Autobiography" came from his childhood. His parents were civil servants, and the 31-year-old moviemaker lived in some circumstances where power was given naturally for symbols of nation. 

Some influential figures, trapped (or overuse) in the powerful situation. So much so that it led to violence. One question emerged inside Makbul's head as to where would power violation ends?

The answer, lies at the end of the movie. The final scene depicts Mubarak's take on which side he stands on. Or, if he chose the opposite side of the finale, I guess we still can read the whole movie as a precaution of the famous quotation by Lord Acton:

"Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely."

Unfortunately, at some point the portrait of fictional story in Autobiography can easily be found in real life in Indonesia--a nation where militarism holds power for several decades. You might have experienced one. 

Makbul himself had experienced an uncomfortable story of how several influential figures can easily misuse their abilities. As he told Koran Tempo the January 22 edition, Mubarak shared his past story of being accused stealing from a shop. Unbeknownst, the authority took advantage of his powerless position and took money from the young man.

In the universe of "Autobiography", such power relation has special place to let the story rolls out. We will see Kevin Ardilova who plays as Rakib. He becoma a personification of ourselves--through some cinematography techniques (mise en scene). A Polish cinematographer beautifully arranged a myriad of eary shots and combined with works of Philippinos editor and French sound editor, then make viewers feel like it was truly terrifying to work for a powerful military retired general named Purnawinata who was played by Arswendi Bening Swara.

Purna was on his path toward residential election. As he was away from his family, the ex-war veteran chose Rakib taking role of being his caretaker. 

Rakib was treated as his long-awaited son by the father of three daughter. On the contrary, on the visit to jail, Purna said to Rakib's father that he felt satisfied with Rakib's service. The relationship was mutual as Rakib found an ideal father figure in Purna's attitude. Until one moment moves the story.

"Autobiography" was also shows us another issues that follows militarism. Natural exploitation was told as a background, delivered side by side with the negligence of one's source of life. On another part of the movie, impunity also can be seen. 

The movie also shed a light on another note that needs to be taken more seriously. Military power has its own strength and weakness that affects a wider part of society. []

Tuesday, November 29, 2022

Guntur

Seiap kali pulang--dan melewati pusat kota--rasanya selalu ada yang memanggil. Namanya Guntur, satu dari tiga gunung wisata yang ada di Garut. Kamis lalu, kami jumpa lagi.

Saya mendaki gunung berketinggian 2.249 meter di atas permukaan laut itu, hingga bagian dada (atau pusar?). Perlu dua jam lagi untuk sampai di pucuk si gunung beraktivitas vulkanik aktif--setidaknya begitu menurut perkiraan seorang petugas di pos 3.



Di titik peristirahatan (atau pendaftaran pendaki) paling ujung itu, ada seorang penjaga. Dia akan meminta KTP kita untuk dititipkan di sana, lantas menukarnya dengan sebuah kartu. Di bagian belakang kertas berlaminasi itu ada nomor ponsel dan sebuah nama: Mang Oded--mungkin begitu sang penunggu pos akrab disapa.

Di pos itu pula, tahun 2018 saya menginap saat mendaki Guntur untuk kali pertama. Waktu itu saya mencatat pengalaman "mengulur waktu" dengan para relawan pendakian. 

Mereka sekarang absen. Mungkin masih di kaki gunung karena operasional pelayanan pendaki baru akan memuncak keesokan harinya, saat akhir pekan. 

Hari itu, saya benar-benar bertiga: satu orang di pos satu, orang yang diduga bernama Mang Oded di pos 3, dan saya sendiri. Beruntung, perjalanan itu berlangsung sesuai rencana, meski saya menemukan beberapa kejutan.

Saya sempat tersesat di bagian awal pedakian setelah melewati basecamp. Seorang bapak memberi arahan di atas sebuah kertas, tapi saya gagal mengikuti petunjuk itu. Malah saya sempat masuk ke sebuah area berbatu yang berujung buntu.


Setelah putar balilk arah, akhirnya saya menemukan jalur yang betul. Setelah itu, ada lagi kejutan lain. 

Tiga tahun lalu, jalur pendakian yang saya lewati cenderung homogen. Sekarang, saya melintasi sebuah sungai. Seru sekali.

Keseruan lain dari solo hiking kali ini, juga terasa saat turun gunung. Jalur berbatu besar jadi favorit saya karena ada yang bisa dijadikan perosotan. Haha. Posisinya yang curam juga bikin saya harus duduk di atasnya untuk bisa turun, itung-itung istirahat.


Dan puncak dari impresifnya pendakian kali ini, sebenarnya ada di bagian timing. Hujan turun, tepat ketika saya diantar ojek ke rumah makan Ampera di Jalan Cipanas--setelah menempuh masing-masing dua jam naik dan turun.

Setelah kenyang makan, go-car mengantar saya ke kolam renang Sumber Alam. Di sana saya menjadwalkan renang-berendam-mandi cukup hanya 45 menit. Ternyata itu belum cukup. Lebih dari dua jam saya menikmati pemandangan Gunung Guntur dari pusat wisata kolam air panas itu. 



Saya ingat sebuah argumen bahwa humor yang baik punya kadar "bikin ketawa" yang setingkat di bawah "bikin tersinggung". Pendakian yang "berkesan" juga bisa dimaknai demikian, saat dia "setingkat di bawah ancaman hipotermia". []


Tuesday, October 4, 2022

Alfiansyah

Dalam Majalah Tempo terbaru, ada esai Goenawan Mohammad di rubrik Catatan Pinggir. Judulnya "Giosue".


Di esai itu, Pak GM mengulas film Life is Beautiful. Judul aslinya La Vita e Bella.


Giouse yang ia comot jadi judul, berasal dari nama tokoh anak-anak dalam film garapan sutradara Roberto Benigni. Sang sutradara, juga berperan jadi ayah Giosue, bernama Guido.

"Guido bisa menghadirkan di dalam mata anaknya sebuah hidup yang seru, dan anaknya berbahagia." 


Demikian salah satu pendiri Majalah Tempo ini menuliskan sinopsis, dengan sebuah plot twist.

"Tapi bukankah kita tetap mengatakan bahwa Guido tahu dan kita tahu ia berbohong: kamp konsentrasi itu bukanlah tempat di mana la vita e bella?"

Esai Giosue dalam edisi 3-9 Oktober 2022 ini, sebenarnya rilisan ulang dari terbitan 5 April 1999. Filmnya sendiri pertama kali tayang tahun 1997.


Meski begitu, ada sebuah paragraf, yang membuat rubrik mingguan ini rasanya baru ditulis hari Minggu, 2 Oktober 2022.

"Giosue percaya. Tetapi sampai sejauh mana ketidakadilan dan kekejaman, sebagai kenyataan hidup harus ditutup dari mata seorang anak? Sejauh mana cinta mengizinkan kita berdusta dan bohong bisa bersifat protektif? Film La Vita e Bella (Hidup itu Indah) memberi jawaban yang ekstrem: sampai sejauh jauhnya. Bahkan di ambang liang kubur orang banyak."

Setelah membaca bagian di atas, saya membayangkan Giosue sebagai tokoh fiksi pengganti Alfiansyah. Dalam umur 11, ia kehilangan orang tuanya dalam tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang Jawa Timur.


Saya membayangkan, dari ayah dan ibunya (Yulianton dan Devi Ratna) ia mewarisi sebuah renjana terhadap sepak bola. Keluarga Aremania ini menaruh passion terhadap sebuah permainan sebelas lawan sebelas di sebuah liga yang dijuduli ABC News In-depth sebagai: the world's most dangerous league.


Judul dari tiga tahun lalu itu mewujud kenyataan pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Lebih dari seratus orang meninggal akibat penumpukan massa yang diawali lemparan gas air mata oleh polisi, setelah suporter kecewa dengan kekalahan tim tuan rumah.


Di akhir esainya, Pak Goen membayangkan:

"Terkadang kita ingin ada seorang Guido yang sebaiknya mengelabui kita. Tapi benar perlukah kita akan sebuah dusta yang bisa membuat kita tak putus harap?"

Saya lalu membayangkan, di bulan November nanti, saat Alfiansyah akan berusia 12, apakah ada yang "berdusta atas nama cinta" kepadanya soal penyebab dia jadi yatim piatu? Ataukah dia harus siap menerima fakta tentang "ketidakadilan dan kekejaman, sebagai kenyataan hidup

"? []