Saturday, January 25, 2020

Wiji Thukul


Suatu hari di tahun 2016, ada film berjudul Istirahatlah Kata-Kata. Film ini bercerita tentang hari-hari di masa pelarian Wiji Thukul. Thukul dikenal sebagai seorang penyair. Puisinya dikenal dengan gaya bernama puisi pamflet—isinya menyampaikan pesan perlawanan. Dan jenis puisi demikian ditakuti rezim. Singkat kisah, banyak aktivis yang terinspirasi karyanya dan menggulirkan reformasi. Wiji lalu dicari—terutama setelah dia dituduh terlibat peristiwa penyerangan kantor PDI tanggal 27 Juli 1996. Sampai sekarang, tidak ada informasi pasti tentang nasib Wiji.

Dua tahun setelah muncul Istirahatlah Kata-Kata, sebuah film dokumenter dirilis: Nyanyian Akar Rumput. Judul ini diambil dari buku kumpulan puisi yang dirilis tahun 2014. Film besutan Yuda Kurniawan ini, kemudian meraih penghargaan film dokumenter terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia 2018. Pada akhirnya, saat inilah kita bisa menyaksikan Nyanyian Akar Rumput di bioskop: dua tahun setelah dipublikasikan.

Di satu sisi, film Istirahatlah Kata-Kata—secara interpretatif—memperlihatkan bagaimana Wiji melawan rasa rindu keluarganya. Dalam sebuah adegan, diperlihatkan merananya Thukul melihat seorang anak bayi menangis ketika mati lampu di Kalimantan. Ketika itu pula Fajar Merah si bungsu berusia sebaya anak itu. Dalam adegan lain, Sipon sang istri juga bergelut dengan stigma. Hingga akhirnya, hari ini pencarian kepastian nasib Wiji belum juga berakhir.

Di sisi lain, film Nyanyian Akar Rumput menampilkan bagaimana Fajar Merah dan keluarganya, hidup tanpa Wiji Thukul. Seperti yang dikisahkan sang kakak, Fitri Nganti Wani, semula Fajar tidak suka dibandingkan atau dikait-kaitkan dengan sang ayah. Baginya, ada yang tidak beres dengan kondisi keluarganya. Dan itu karena ayahnya tidak ada. Belakangan, Fajar mengenal musik—banyak simbol musikal tampil dalam identitas Fajar: dari kaos band dan majalah musik, hingga biografi musisi. Tak dinyana, idolanya dalam bermusik justru menggemari sang bapak. Maka, Fajar kemudian mendalami puisi-puisi Wiji, bahkan menyanyikannya bersama band bernama: Merah Bercerita.

Merah Bercerita beranggotakan empat personel—sementara di akun Spotify-nya, tampak tiga tersisa—dan satu orang manager. Eksplorasi musik mereka lahir dari kamar Fajar.

Kadang, Sipon sang ibu memberi masukan ide.
Kala lain, kakak Fajar juga ambil bagian.
Dan setiap saat, semangat Wiji selalu menyertai.

Dalam satu momen di kuarter akhir film, paman Fajar, Wahyu Susilo berpendapat bahwa musikalisasi puisi memberi energi yang memberi semacam nyawa tersendiri bagi puisi sang adik.

Menyaksikan Nyanyian Akar Rumput, juga terasa seperti menyaksikan film tentang pertunjukan musik. Sejumlah lagu ditampilan tanpa jeda. Bahkan, lagu bertajuk Derita Sampai ke Leher mengalun dua kali: di studio rekaman dan di panggung—sebagai lagu penutup film. Momen akhir itulah yang paling impresif. Fajar dan rekan musikalnya mewarnai tubuh mereka dengan cat. Lalu, Fitri datang membacakan puisi. Emosional.

Selain penampilan tadi, sejumlah dokumentasi video di awal masa reformasi juga ditunjukkan. Momen ketika Wiji Thukul dinobatkan sebagai penerima Yap Thiam Hien tahun 2002, terasa paling sentimental. Tampak Fajar belum begitu paham apa yang sebenarnya terjadi. Sipon, sempat berupaya tegar ketika menjawab pertanyaan wartawan. Meski akhirnya, ia ambruk.

Hari ini—setelah sekitar 10 hari—Nyanyian Akar Rumput berhenti tayang. Momen sinematik itu pada akhirnya jadi perwujudan nubuwat Wiji Thukul dalam puisinya, Kebenaran Akan Terus Hidup: Aku akan tetap ada dan berlipat ganda. Film ini juga jadi pengingat untuk penuntasan kasus pelanggaran HAM--pembunuhan oleh aparat dan penghilangan paksa. Karena jika tuntatan pengadilan terus disuarakan dan digelar, bukan tidak mungkin kata penutup puisi yang sama jadi nyata: Kebenaran takkan mati. []