Wednesday, December 25, 2013

New Album: Finding Nadia - April Is Our December (2013)


Selamat hari natal, hari kelahiran Sang Juru Selamat. Momen kelahiran Kristus hari ini juga menjadi selebrasi kelahiran album baru Finding Nadia. Paket karya Finding Nadia kali ini bertajuk April Is Our December. Ada sembilan lagu yang dipasang di album pamungkas ini. Ya, setelah rilisan ini, Finding Nadia membubarkan diri.

April 2008, empat orang mahasiswa baru sebuah universitas di Bogor sepakat dengan sebuah nama band, Finding Nadia. Nama itu berawal dari inspirasi yang hadir dari sejumlah band emo/screamo yang hanya berkesan feminin di nama. Keempatnya lalu setuju meminjam nama seorang mahasiswi yang mereka kenal di sebuah kegiatan kampus. Jadilah Finding Nadia setelah awalan kata kerja ditambahkan sebagai pelengkap. Finding Nadia kemudian menjadi lima, setelah seorang drummer masuk. Empat bulan kemudian, mereka menjajal panggung pertama di sebuah gig bertajuk "Kota yang Hilang".

Dalam menjalankan Finding Nadia, para personilnya seringkali kesulitan menemukan irisan waktu di sela aktivitas primer mereka. Buntutnya, baru dua tahun setelah ada, album perdana Finding Nadia tercipta dengan judul "A Huge Difference Between Zero and The Number After". Kendala serupa tetap bersama mereka, meski sejumlah panggung sempat menjadi ajang presentasi karya Finding Nadia. Sejak 2012, Finding Nadia yang saat itu hingga kini kembali berempat, berkumpul lagi dan mengolah tabungan karya mereka. Mengenang April sebagai bulan kelahiran, album "April Is Our December" akhirnya dirilis.

Pencapaian progresif seorang kreator, terjadi ketika mereka menggubah karya yang berbeda dengan kreasi sebelumnya, namun tetap terhubung benang merah yang sama. Ikhtiar itu dilakukan Finding Nadia di album keduanya ini. Sembilan lagu dihimpun dari rentang masa tiga tahun proses kreatif. "Pagi Ini di Semester Akhir" sempat dirilis sebagai single. Pun demikian dengan "Tak Kan Pernah Sama" yang sempat muncul dalam wujud akustik. Sementara "Sejak Dekade Terakhir" berasal dari rilisan lama proyek Various Flames, "Tell You Something" ditarik dari album pertama dengan menghadirkan Rizka Zahra Tamira sebagai modifikator sektor vokal. Sisa lima lagu lain tercipta spesial untuk album penutup ini. Mereka adalah "Anthem of Birth", "Hollow Lines", "It Ain't Over 'Till It's Over", "Don't Climb the Wall, Walk Through It!" dan "Run Something New". Seluruh materi album direkam secara swadaya di sebuah ruang rekaman yang juga seadanya. Rekaman momen-momen selama proses vokalisasi sengaja dimasukkan di ujung dua lagu, sebagai perwakilan serupanya gambaran suasana saat Finding Nadia terbentuk, hingga kini terpisah. Semoga rilisan terakhir Finding Nadia ini menjadi hadiah natal yang berkesan. -r.ardiansyah-

track list:

1. Anthem of Birth
2. Pagi ini di Semester Akhir
3. Hollow Lines
4. It ain't Over 'till It's Over
5. Tak Kan Pernah Sama
6. Don't Climb the Wall, Walk Through It!
7. Sejak Dekade Terakhir
8. Tell You Something
9. Run Something New

Download link:
APRIL IS OUR DECEMBER (26 MB)

Finding Nadia:

Rona Jutama Yonanda
Rheza Ardiansyah
Raden Achmad Fauzan Alfansuri Rahili
Mohamad Iqbal Panggarbesi

Release date: December 25th, 2013

Copyright: FINAD 2013

http://soundcloud.com/findingnadia

http://twitter.com/finding_nadia

https://www.facebook.com/FindingNadiaMusic

Sunday, December 8, 2013

The Sigit Detournement, Naik Hajinya Para Insurgent Army

Oleh: Rifki Maulana

Source: @Thesigit
Mungkin agak sedikit telat untuk menulis review konser yang berlangsung 26 Oktober 2013, tapi tidak ada salahnya menulis telat daripada tidak menulis sama sekali. Dua puluh enam Oktober 2013 mungkin akan dikenang sebagai naik hajinya para insurgent army, karena selain itu konser tunggal untuk launching album detourn the sigit, pada hari itu juga adalah hari jadi 10 tahun band tersebut berkarir. Saya yakin the sigit sudah cukup layak diberikan predikat legenda hidup musik indie Indonesia.

Saturday, December 7, 2013

Penampilan Terakhir Yas bersama Alone At Last

Oleh: Rheza Ardiansyah

Foto dipinjam tanpa izin dari wadezig.com
Vokalis band Alone At Last, Yas Budaya, hengkang dari band tempatnya berkarya selama sebelas tahun. Sore tadi ia menghelat pertunjukan terakhir dengan band asal Bandung itu. Berarena di gelaran Jakcloth 2013, penampilan terakhir Alone At Last (AAL) bersama Yas saya saksikan sejak pertengahan sesi. Sejumlah hal menarik membuat saya tak sabar untuk mendokumentasikannya disini.

Saya merangsek ke hadapan panggung saat Muak Untuk Memuja dimainkan. Ada yang berbeda dari departemen gitar di kiri panggung. Tak ada Indra Papap disana. Yang terlihat justru seorang gitaris lain yang sepertinya berstatus additional karena dosen Hubungan Internasional di Unpad Bandung itu mungkin sedang berhalangan gabung. Rupanya itu gitaris band ALICE. Saya tahu setelah Yas mengenal dan mempromosikan band itu. 

Seorang pria entah siapa juga naik panggung. Mengaku tahu AAL sejak mereka baru band studio-an, orang itu disambut hangat para personil AAL. Dia lanjut curhat bahwa dirinya berhutang inspirasi. Di belakangnya, Yas duduk menunduk sambil sesenggukan. Dia juga cerita soal Papap yang sudah tidak lagi bersama AAL. Disitulah saya baru sadar bahwa ternyata Yas bukan yang pertama meninggalkan band emo-punkrock itu.

Di akhir pertunjukan, Takkan Berakhir Disini dialunkan. Lagu ini sekaligus jadi pernyataan sikap bahwa meski Yas keluar, AAL masih ada dengan tiga personil lain yang masih tersisa. Penampilan Yas sore tadi masih sama dengan aksi yang biasa ia tampilkan, diantaranya membagikan stiker (kali ini bersama uang kertas sepuluh dan dua puluh ribu), sampai berpantomim dengan mukanya yang ekspresif. Tanpa mikrofon, dia lalu minta maaf jika selama sepuluh atau sebelas tahun ini ada ucapannya yang salah. Terakhir, dia bilang "gue biasanya paling ga suka difoto-foto di panggung, tapi buat kali ini, boleh lah". Kelimanya berangkulan, menunduk hormat ke arah penonton, lalu usailah era Alone At Last bersama juru vokal Yas Budaya.

Friday, September 27, 2013

Wukir Tanpa Bambu Wukir

Oleh : Rheza Ardiansyah


Hari kesepuluh di bulan kesembilan, saya memaksakan hadir ke sebuah forum diskusi musik di rangkaian pameran bienal OK Video. Yang paling membuat saya ingin hadir adalah penampilan Wukir Suryadi, seorang musikus asal Yogyakarta yang dikenal karena instrumennya yang selalu khas. Saya kira pas tiba disana, pas diskusi usai dan Wukir bersama kawannya sudah tinggal beraksi. Nyatanya tidak. Saya hadir ketika diskusi masih berlangsung, meski sudah di bagian akhir. 


Ada jeda antara sesi diskusi dan pertunjukan Wukir dkk yang kala itu tergabung dalam proyek bernama The Instrument Builder. Di sela sesi kopi-rokok itulah, saya berkesempatan berbincang singkat dengan salah satu dari personil duo Senyawa ini. Berikut isi percakapan kami:



Kisah Jurnalis Dalam Jurnalis Berkisah


Saya sempat menyesal saat pertama beli buku ini, meskipun harga yang harus saya bayar lebih murah. Jurnalis Berkisah saya temui di sebuah bazaar buku. Bersama dua buku lainnya, ia jadi buku pertama yang saya sikat. Penyesalan saya terbit dari daftar pustaka yang banyak berupa alamat situs internet. Saya pikir, kalau buku ini cuma mindahin data dari internet, mending saya browsing sendiri. Ternyata, setelah saya lahap kata demi kata, makna demi makna. Sadarlah saya bahwa ini memang buku yang saya butuhkan. Ini buku yang sangat tepat dibaca wartawan, atau orang yang tertarik dengan apa dan bagaimana profesi itu dijalani.

Naskah Hidup Seorang Reporter



Reporter itu mata, telinga dan hati sebuah stasiun televisi. Demikian kata seorang senior saya dari TV elang biru. Melalui indera dan interpretasinya, tiap reporter tentu punya impresi tersendiri soal berbagai peliputan yang ia kerjakan. Bagaimana jadinya jika rangkuman memori itu dirangkum dalam buku? Maka salah satu jawabannya adalah sebuah paket tulisan bertitel Reporter And The City.

Friday, April 19, 2013

Can I Say 13th Edition



Untuk mengunduh Can I Say Edisi 13, 
klik gambar diatas

Kalau mau unduh versi pdf saja, klik tulisan ini

Sunday, April 14, 2013

Menyelamatkan Musik Indie dari Penciptaan Kultur yang Pragmatis

Mereka menyebut musik ini sebagai musik indie. Ada yang mengatakan bahwa musik indie kini sudah menjadi sebuah genre musik tersendiri, sehingga mereka mengurai sebuah sistem alam semesta bernama musik yang terbagi menjadi beberapa galaksi bernama genre mulai dari pop, rock, jazz, klasik, blablabla dan lalu munculah genre indie. Album musik indie akan diberi rating tinggi di berbagai media musik dibandingkan dengan album-album musik mainstream. Dan orang yang mendengarkan musik indie lebih berkelas dibandingkan mendengarkan musik mainstream. Lalu apakah anda serius membaca paragraf ini? Baiklah, sebenarnya saya tidak serius menulis paragraf ini. Hal-hal berbau sok tahu diatas merupakan hasil pola pikir saya yang merupakan fusi dari naif dan pragmatis yang sampai sekarang diksi dari percampuran pola pikir tersebut mungkin belum dapat anda temukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Friday, April 12, 2013

Life In A Day

Kita mendefinisikan hari sebagai rentang interval waktu sepanjang 24 jam. Dalam kurun tersebut, manusia di seluruh dunia punya banyak kejadian yang memaknai ruang waktu yang mereka lewati. Rangkuman peristiwa dari jagad kejadian di seluruh dunia, ditampilkan dalam film Life In A Day. Film ini merupakan gabungan dari video-video yang diunggah situs video YouTube hari Sabtu tanggal 24 Juli 2010. Kreator film ini meminta orang-orang mengabadikan hidup mereka selama sehari itu, dan menjawab beberapa pertanyaan. Alhasil, video berdurasi 4500 jam terbentuk dari 192 negara. Dari video inilah, hidup manusia dirangkum menjadi visualisasi berdurasi satu setengah jam. Film ini digarap adik kakak Ridley Scott dan almarhum adiknya Tony Scott. Keduanya sudah jelas jadi jaminan mutu film ini.

Life In A Day diawali dari tengah malam, saat hari keduapuluh empat bulan ketujuh masih muda. Aktivitas dini hari di bawah bulan purnama digambarkan beragam. Dari seorang pemabuk, suasana pasar tradisional di Indonesia, lalu berlanjut ke berbagai suasana bangun pagi. Film itu lalu melanjutkan cerita selama sehari dunia berputar. Ada suka, ada duka. Sesekali saya dibuat menyunggingkan senyum. Sesekali pula saya berdecak kagum, dan di bagian lain, saya dipaksa ikut merasakan apa yang digambarkan di layar sana. Life In A Day kiranya bisa jadi semacam pengantar bagi alien yang ingin tahu kondisi makhluk yang mendiami si planet biru ini. Kalau alien saja perlu tahu, apalagi kita si tuan rumah planet bumi ini. Saran saya, segera sempatkan satu setengah jam kamu. (rheza ardiansyah)

Monday, April 1, 2013

ARTE Indonesia 2013








Jebraw - Subur



Lagu ini direkam saat Jebraw hadir di acara bioskop keliling tanggal 30 Maret 2013. Jebraw yang dikenal jago bikin lagu dadakan, ditantang bikin lagu dengan tema Eyang Subur. Ternyata Jebraw interpretasi sendiri soal Subur tadi

Saturday, March 2, 2013

Sebuah Reuni yang Membangkitkan Inspirasi

                Para legenda Madchester akhirnya datang menuju Indonesia. Pastinya euforia melanda para pecinta jenis musik ini baik kalangan tua, muda, maupun diantaranya, tak terkecuali saya sendiri. Begitu euforianya, karena setelah disband selama 15 tahun, mereka akhirnya memutuskan untuk reuni pada tahun 2011 kemarin, dan mereka datang ke Indonesia untuk pertama kalinya. Menjadi fans berat dari band asal Manchester ini sejak kecil, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menonton dan menikmati mereka langsung pada tanggal 23 Februari 2013 yang lalu, di Lapangan D Senayan Jakarta.


               

Wednesday, February 6, 2013

Can I Say Edisi 13 Siap Garap


Can I Say Edisi 13 akan segera dirilis. Demikianlah gambaran halaman depan yang dirancang Azka Nugroho. Seperti biasa, bakal tetap ada rubrik-rubrik khas Can I Say yang muncul di edisi 13 nanti. Kami masih menerima masukan karya untuk dipajang di edisi 13. Kamu bisa kirim foto esay, ulasan buku, ulasan film, ulasan album musik, atau sekedar berbagi tentang tiga buku, film, atau album musik yang akhir-akhir ini kamu gilai. Kirim buah karya kamu ke canisaymagz@gmail.com. Salam Berkarya!

Wednesday, January 16, 2013

Seperti

Foto oleh Rheza Ardiansyah diambil dari sini
Seperti pertama kali. Biasanya malam tak kebingungan saat gelap duduk disampingnya. Menjabarkan hening, disela detak-detak yang tak mampu bising. Aku seperti dimainkan oleh peran, mengakhiri cerita dan memulai episode berikutnya. Seperti hidup yang memutuskan tali nasib dan berjingkrak sendiri.
Aku dan perasaan, berdiam bersama. Sebagai sebuah kisah yang ditelaah oleh detik dan masa. Saat ini, hatiku seolah tengah dipenjara dengan rapi di balik bui mimpi. Menahan ratusan kata yang berdebat, bertarung untuk tetap terkurubg. Mungkin kekal hingga ajal. Jeda ini hanya mampu beriringan dengan dentangan detik jarum jam yang tak bisa diam. Sedang aku, berjalan bersisian dengan tembok dingin, mendengar tanpa binger, bertahan buta dengan kata.
Kehidupanku sempat terbunuh oleh hati yang mati -serupa hati yang mati rasa. Saat sayap-sayap adam melenggang menjadi jubah hitam. Sampai saat ini, biar saja, aku lelah bertanya kenapa. Tembok-tembok tegak sekeliling, mengotak-ngotakan mimpi, harapan, cita dan cinta padamu. Mereka tumbuh dengan sendirinya. Tanpa panggilan, tanpa pondasi. Seperti isyarat angin untuk hujan, mengarang mendung pada paparan awan.
Mungkin seperti hatiku, yang menutup pintu saat mendengar namamu.

Vocalista Angels

Di Klaten Jawa Tengah, ada sebuah kelompok paduan suara yang meraih prestasi gemilang di kancah internasional. Awalnya mereka menjuarai kompetisi paduan suara di tingkat kecamatan, kabupaten, menjuarai Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), meraih medali emas di kompetisi paduan suara di Korea Selatan, China, Amerika Serikat, menempati posisi ke-8 paduan suara terbaik sedunia diantara 1000 kelompok paduan suara lain, dan banyak prestasi lain yang mereka raih, padahal mereka dari daerah, dengan berbagai keterbatasan dan tantanggannya sendiri. Tengok saja deretan tanda penghargaan di foto diatas. Nama kelompok paduan suara ini adalah Vocalista Angels.