Thursday, October 10, 2019

Realita Joker

“Ini film sungguh dark dan bad vibes banget, kalo suasana hati dan pikiran lo lagi gak sehat, pas nonton langsung makin ancur dan kepikiran. Filmnya bagus banget, tapi saran gua nontonnya pas lagi keadaan bahagia dan baik2 aja.”
Cuit sebuah akun Twitter di hari kedua penayangan film Joker pekan pertama Oktober lalu, mampir di lini masa. Saya skeptis. Film Joker ini, yang disutradarai sineas yang membuat komedi The Hangover, bisa bikin penontonnya punya pengalaman sinematik begitu berkesan? Keraguan itu akhirnya pupus ketika saya benar-benar menyaksikannya sendiri. Dan saya tahu kenapa bisa ikut terganggu: Joker menjadi cerminan realita masyarakat kita.
Joker bercerita tentang seorang badut penyandang kelainan pseudobulbar affect—kelainan emosi yang ditunjukkan dengan ekspresi tangis atau tawa yang tidak bisa dikendalikan penderitanya. Badut bernama Arthur Fleck, mengalami berbagai kesialan akibat kondisi Kota Gotham yang dia tempati, cacat secara moral dan sosial. Pada suatu momen puncak, ia lalu menjelma menjadi Joker yang kita kenal sebagai musuh bebuyutan Batman.
Demonstrasi
Katanya, seni adalah kebohongan yang menggambarkan kenyataan. Keyakinan itu, membuat saya menarik garis penghubung antara fiksi dan realita dari sejumlah adegan dalam film besutan Todd Phillips ini. Thomas Wayne merespon kematian tiga orang pegawainya akibat penembakan oleh sosok berwajah badut. Momen ini, ia manfaatkan untuk menawarkan diri sebagai calon wali kota.
“Maybe they didn’t realize, but I am their only hope,” sesumbar Wayne.
Ternyata, promosi diri ayah Batman ini ditangkap berbeda oleh warga dengan strata ekonomi kelas bawah. Mereka justru menangkap kesan bahwa Wayne sebagai representasi kaum jutawan, malah merendahkan pelaku pembunuhan dengan sebutan pengecut karena bersembunyi di balik topeng. Tajuk utama koran pun memberitakan sebuah gerakan massa: Kill The Rich.
Rasa muak terhadap oligark atau kaum superkaya, membuat warga Gotham jengah. Mereka melakukan aksi massa dengan memakai topeng badut. Serupa dengan di layar sana, rasa muak sejenis diperlihatkan para demonstran akhir September lalu. Konsepsi topeng badut paralel dengan status mahasiswa atau kaum terdidik. Demonstrasi berlangsung di berbagai daerah dengan tujuh tuntutan utama:
1. Tolak 8 RUU dan sahkan 1 RUU,
2. Batalkan pimpinan KPK yang baru terpilih,
3. Tolak TNI dan Polri bertugas di jabatan sipil,
4. Hentikan militerisme di Papua dan bebaskan tahanan politik,
5. Hentikan kriminalisasi aktivis,
6. Pidanakan korporasi pembakar hutan,
7. Tuntaskan kasus pelanggaran HAM.
Beruntung, pangkal aksi massa di Indonesia tidak sekacau belasan menit terakhir film Joker. Meski sama-sama menimbulkan korban jiwa—duka mendalam saya haturkan atas kepulangan La Randi dan Muhammad Yusuf, juga 254 mahasiswa yang sempat dirawat di wilayah hukum Polda Metro Jaya—tidak ada sosok psikotik yang jadi tokoh utama eskalasi situasi. Paling, Ananda Badudu yang jadi martir ketika ditangkap “Batman” kepolisian perihal pengumpulan dana melalui situs crowdfunding.
Kekerasan Domestik
Kelainan jiwa yang mendera Arthur Fleck, ternyata bermula dari sakit yang juga dialami ibunya. Bukan bermaksud tidak empati, tapi yang dilakukan Penny Fleck rasanya belum sekejam yang dilakukan Sri alias Yayu asal Sukabumi.
Akhir September lalu, ia terungkap berperan atas pembunuhan terhadap anak perempuan berusia 5 tahun, Nadia Putri. Sebelum meninggal, Nadia diperkosa oleh kedua kakak angkatnya yang masing-masing berusia 14 tahun dan 16 tahun. Setelah pemerkosaan itu terungkap, Nadia malah dibunuh oleh ibu kedua remaja laki-laki. Jasadnya lalu dibuang ke Sungai Cimandiri.
Tahan dulu sampai di sana. Ibu dua anak berusia 35 tahun ini punya kegilaan lain. Dia mencekik korban karena cemburu ketika anaknya memerkosa Nadia. Saat itu pula, Sri dan kedua anaknya berlanjut melakukan hubungan badan alias inses. Sebelum itu, kebiadabannya tampak dari luka memar pada wajah dan bekas bakaran setrika di paha Nadia. Tetangga yang bersaksi demikian pun mengaku tidak akur dengan Sri. Ia malah marah ketika dinasehati.
Jika Arthur Fleck yang demikian tersiksa saja berubah jadi Joker di usia dewasanya, mau jadi apa kedua anak Sri? Sulit membayangkan apa yang ada di benak keduanya jika tidak ada pendampingan yang tepat. Joker saja dikisahkan punya seorang terapis di awal film.
Ketidakpedulian
Sebuah ulasan film menyebut bahwa film Joker terlalu menumpukan kekuatan ke kapabilitas seni peran Joaquin Phoenix. Dramatisasi kesialan yang dialami tokoh Arthur berlebihan. Bagi saya, adegan perundungan oleh anak jalanan di depan toko yang sedang memberlakukan diskon, memperkuat kesan bahwa penghakiman oleh massa membahayakan.
Lihat ketika psikologi massa yang merasa kuat karena bergerombol, tampak kala Arthur dikeroyok. Kondisi sejenis terlihat dalam persekusi ke penganut Ahmadiyahpenelanjangan pasangan di Cikupa Tangerang, hingga pembunuhan seorang terduga pencuri dari rumah ibadah. Saya yakin, semua itu terjadi karena orang di sekitar korban perbuatan di atas tidak mau membantu. Mereka tidak peduli. Sama seperti ketika Arthur berteriak minta tolong di jalanan Gotham yang ramai, dan tidak ada satu pun orang yang membantunya. Saya ikut ngeri karena khawatir, mungkin giliran saya jadi korban berikutnya. Apalagi hukum seakan tidak punya kekuatan sebagai kontrol sosial. Coba saja tanyakan ke pengungsi Ahmadiyah di Lombok sana.
Jika dibahas lebih dalam lagi, film Joker juga bisa menyapu lebih banyak isu. Sebut saja soal persaingan dalam dunia kerja di kasus Randall yang membekali Arthur pistol. Lalu perihal superiority complex atau kecenderungan merasa berkuasa atas sesuatu—dalam hal kampanye Thomas Wayne dan humor ala Murray Franklin. Belum lagi soal peran media massa dalam mengatur agenda setting—ingat ketika pemberitaan di alam raya Joker ramai dengan fenomena tikus super—yang dikesankan dalam dialog film bahwa topik itu kurang krusial.
Meski demikian, durasi 122 menit pada akhirnya tandas dengan sebuah adegan multitafsir yang menampakkan Joker di sebuah ruang interogasi. Penonton bisa memaknai bahwa ia dikerangkeng karena jadi pemicu kerusuhan. Pemirsa lain bisa juga membaca bahwa adegan penutup itu justru realita yang real di dunia Joker—semua kisah sebelum adegan itu, hanya ada di kepala si tokoh utama. Lantas, jika memang hampir sekujur lika-liku film ini cuma fiksi di benak Joker, apakah kita juga tetap mau berdalih bahwa semua cacat sosial ini cukup dibalas di akhirat nanti? []

Tuesday, October 8, 2019

Rumah Habibie


Koleksi Patung

Menjadi wartawan di media nasional membuat saya berkesempatan bertemu tokoh nasional bahkan internasional. Adalah B.J. Habibie, sosok jenius yang dunia kenal dengan julukan Mr. Crack karena temuannya di bidang rekayasa pesawat terbang. Presiden ketiga Indonesia ini saya temui pada sebuah kesempatan di kediamannya di kawasan Patra Kuningan Jakarta. Juni ini (2014) usianya 78 tahun. Suaranya pun masih lantang. Gerak langkahnya masih mantap.

“Eyang usianya hampir 80, tapi kalau bicara seperti usia 18 tahun.” ujarnya dalam sebuah kelakar.

Selain bicara panjang lebar selama sekitar satu jam, kala itu saya juga diajak berkeliling rumahnya. Banyak hal yang dibahas, salah satunya tentang koleksi karya seni yang jumlahnya boleh dibilang tidak sedikit.

Awalnya saya diajak ke ruang tamu. Ada beberapa ruang tamu di rumah yang ditinggali Eyang Habibie—demikian ia nyaman disapa—sejak awal tahun 1970-an ini.

“Ya biasanya saya duduk sini, sini Ainun. Sini (tamu) prianya, sini wanitanya. Yang pernah ke mari, misalnya presiden Carter, atau Sultan Bolkiah. Jadi banyak sekali tokoh-tokoh saya terima di sini. Ini meja makan. Saya makan di sini kalau dengan tamu.” Ujarnya menjelaskan.

“Eyang suka koleksi sculpture?” Tanya saya tentang deretan patung di ruangan itu.

“Oh ya, saya suka. Itu (buatan) Rodin (dibaca: Rodang). The Thinker. Si Pemikir namanya. Rodin orang Perancis.” Eyang Habibie menjelaskan sambil tangannya memegang dagu, menirukan pose Si Pemikir.

Saya lalu ditunjuki patung lain di ruangan itu. dari sebua patung penerbang bernama The Aviator, patung burung yang mencengkeram mangsanya, hingga patung Rodin lain bernama The Cathedral.

“Coba lihat ini tangan. Tangan ini, tidak mungkin tangan dari satu orang. Jadi, ini dua orang. Tangan kanan dua-duanya. Rodin. Ini keliatan bagaimana partnership, saling membantu. Baik dalam kehidupan rumah tangga, atau dalam masyarakat, et cetera. Tergantung filsafatnya. Saya suka sekali Rodin.” Katanya menutup penjelasan.

Menikmati Sastra

Selain seorang teknokrat, Habibie rupanya juga seorang budayawan. Ia mengaku suka sekali dengan karya seni. Penggemar Enrique Iglesias ini juga menikmati ragam sastra, sajak atau cerita-cerita.

“Saya nikmati kalau ada teater. Tapi kalau saya bekerja saya gak punya waktu, karena waktu hanya 24 jam, dan saya harus tekuni dalam bidang teknologi.”

Wujud perkawinan seni dan teknologi dalam jagad selera seorang Habibie juga tampak dalam berbagai ornamen tentang kuda. Baginya, kuda itu punya kesan tersendiri.

“Kenapa saya suka? Karena kuda bagi saya perlihatkan kekuatan. Kan horse power. Tapi dia perlihatkan dinamikanya. Dia loncat, tapi dia punya kekuatan dan dinamika besar, tapi elegan. Bukan nafsu kuda loh. Haha.”

Kami kemudian berpindah ruangan. Eyang Habibie menuntun saya menuju bagian depan rumah. Setelah pintu masuk, ada sebuah ruangan penghubung kecil. Pahatan berlapis kaca terukir di lantai ruangan itu. tampak peta Indonesia dalam sebuah bulatan. Tepat di atasnya, di kubah yang menjadi tempat lampu hias bergantung, terlukis burung-burung dan awan. Di depan pintu dan dinding sekeliling ruangan juga terpampang relief lain yang menggambarkan kekayaan budaya Indonesia.

Ruang tunggu di sebelah kanan kemudian kami masuki. Tiga lukisan buatan Basuki Abdullah terjejer di dinding. Di ruangan ini, Eyang Habibie ingin menunjukkan bahwa orang Indonesia juga ada yang bisa melukis ala Rembrandt. Tak hanya lukisan realis khas perupa Belanda itu, ia juga punya ruangan lain yang menunjukkan bahwa Indonesia juga punya tokoh seni lukis abstrak sekelas Picasso. Di ruangan itu, terpajang pula lukisan Bagong Kusudiardjo.

“Ini semua lukisan asli, tidak copy,” Eyang Habibie meyakinkan.

Ia juga menambahkan bahwa Eyang Ainun punya hobi membuat sketsa lukisan. Sketsa-sketsa itu kini tersimpan rapi di rumah mereka di Jerman.

Setelah mengenalkan koleksi benda seninya, Eyang Habibie mengajak saya menyusuri lorong di salah satu bagian rumah. Di dinding lorong terpampang empat lukisan dengan warna dominan biru. Keempatnya menggambarkan proses masuknya agama ke Indonesia. Gambar pertama menunjukkan bahwa Hindu-Buddha adalah yang pertama tiba. Ada tarikan garis-garis serupa cahaya yang seolah memancar dari bagian atas.

“Ini semua lari ke satu titik: Ketuhanan Yang Maha Esa.” Pungkas Eyang Habibie.

Dengan penjelasan serupa, ia kemudian menjelaskan makna tiga lukisan berikutnya—tentang kedatangan Islam yang dibawa Laksamana Ceng Ho, Islam bawaan pedagangan Gujarat, hingga penyebaran Agama Kristen. Lorong dengan lukisan itu berujung ke sebuah air mancur dengan fosil kayu di bagian tengahnya. Dari sana terlihat taman yang memamerkan patung seukuran tubuh manusia dewasa. Ada The Thinker, Dewa Ganesha, Dewi Saraswati, dan sebuah patung pemikir dari Afrika.

“Si pemikir dari Afrika ini, originalnya itu sebesar yaa berapa sentimeter ada.” Eyang Habibie menjelaskan sambil mengambil jarak antara jempol dan telunjuk sebelah kanannya.

Kalau Anda dalam hal ini berbudaya tinggi, agama berkualitas tinggi berarti imtak (iman dan takwa)-nya tinggi, dan berpendidikan tinggi, sehingga ipteknya juga tinggi, Anda jadi unggul. Maka akan terjadi seperti Nabi Musa. Karena itu saya membuat ini,” Eyang Habibie menunjukkan dua buah kolam aquarium.

Puluhan ikan koi terlihat mematuk-matuk dasar batu di sana. Sementara, air di kolam itu terus bertumpahan. Kedua kolam itu adalah representasi laut merah yang terbelah ketika Nabi Musa membawa umatnya menyelamatkan diri dari serangan Firaun. Berjalan melintasi kedua kolam itu, kami kemudian memasuki ruang perpustakaan bernama Pusat Keunggulan Informasi Peradaban Indonesia. Dalam ruangan itu tersimpan informasi tentang iptek, budaya dan agama. Di sisi lain perpustakaan itu, juga terpampang replika pesawat-pesawat buatan PT DI—yang sempat ia pimpin.

Pembicaraan tentang rumah “imtak-iptek” pun berakhir di sana. Di kediamannya itu, Eyang Habibie tinggal bersama para ajudannya. Setelah perbincangan kami ditutup, Eyang Habibie kembali memasuki bagian privat rumahnya yang diterangi cahaya temaram. []

Saturday, September 7, 2019

Bawang

Sabtu siang ini saya sekeluarga diam di rumah. Kami memasak sama2. Saya giliran menyiapkan tumis buncis, sambil diarahkan windi yang gerakannya dibatasi permintaan sara untuk tetap ada di dekatnya—sara lagi sakit. Ketika bawang merah selapis demi selapis saya iris, rasa pedih di mata mulai terasa.

“Ini respon bawang menyesuaikan diri,” saya bilang dengan nada bicara sok tau.

Windi tergelak. Saya sekali lagi meyakinkan dia. 

“Lho beneran. Sebenarnya ini mekanisme dia buat berevolusi. Sama kayak tumbuhan lain, mereka menyesuaikan diri,” saya mulai membangun fondasi argumen.

“Tau nggak, kenapa strawberry merah dan manis? Agar warnanya mencolok lalu diambil hewan atau manusia biar bijinya yang udah matang siap menyebar dan tumbuh di tempat lain,” kali ini saya mengutip analogi dari sebuah buku.

“Terus kenapa strawberry mentah nggak enak? Karena bijinya belum siap disebar,” 

“Itu aku tau dari buku tebel yang biasa aku baca itu,” saya membeberkan sumber informasi. Windi masih terlihat senyum tipis.

“Selama ini kan kita taunya manusia yang berkuasa atas semua makhluk lain, padahal semuanya hasil interaksi. Jadi saling memanfaatkan,” saya nggak mau kalah.

“Kenapa nasi jadi makanan pokok? Itu cara mereka (tanaman padi) biar nggak punah. Jadi menyesuaikan diri dengan aktivitas manusia. Tentu saja mereka nggak mikir kayak manusia,” 

“Aku lagi suka pola pikir kayak gitu,” pembicaraan menuju babak akhir.

“Kalo di agama kan manusia pemimpin alam semesta. Nah kalo menurut biologi, kita ini sama aja sama yang lain, saling mempengaruhi,” Windi terlihat enggan mendebat. Penjelasannya sebenarnya bisa lebih panjang. Ada di buku Guns, Germs and Steel buatan Jared Diamond.[]

Tuesday, August 6, 2019

Bandung

Menyusuri sore kota bandung
Mampir di lobi tobucil
Potong arah ke saparua 
Mampir toko buku gramedia

Sore ini kelihatannya biasa
Bisa gabung sparko sehatkan raga
Tapi memang sebenarnya berbeda
Besok bandung sudah tak ada

Belok ke jalan trunojoyo 
Cari toko otong koil kongko
Malah masuk pots meets pop
Batal beli celana cino

Tanjakan tipis di kabar kampus
Hajar gigi tiga sepeda
Muncul di jalur kawasan dago
Niat sikat diskonan di jongko

Lintas gempol pelajar mengobrol
Ingat pernah ajak windi-aksara
Cari hunian sementara
Buat satu tahun hidup bersama

Sunday, July 7, 2019

Decision

Have you ever watched Moneyball? I have just did. The movie is about a baseball manager who applied a new style of putting a player based on statistical performances to win the match. His name was Billy Beane. Brad Pitt acted as him as a cold attitude kind of person. He was also a stubborn 40 years old ex-baseball player. One moment showed it when he asked his baseball team owner, to give more funding to buy players. The reason is surely to win the league. Unfortunately, his owner said that Oakland Athletics (A’s) was not have a huge budget. To be survived in the main league, is even more, too good to be true.

Billy Beane once have been a baseball player. It all started in his upcoming high school graduation in early 1980s. He was offered to two options of his future career: to be a baseball athlete, or go to prestigious college. He chose number one. A flashback of his past was showed along, with the moment when he struggled to save A’s. With his facial expression and gesture, we’ve got to known that he was regret to choose those path. Until one “eureka” moment came along.

He met Peter Brand, a data analyst that helped Billy to use a technique called sabermetrics. By using this way of managing player, he put a lot of statistical numbers as consideration to choose to buy or sell baseball player(s). The result was satisfying, A’s won the game for 20 times in a row. 

Actually sabermetrics was first ackowledged in the early of 19th century. Even so, Billy and Peter was fully use it in that first decade of 20th century. Oakland Athletic’s didn’t came as a winner for the tournament. Nevertheless, under Billy Beane’s managerial tactic, there was one magical moment that he (always) missed—Billy was never watched their team played. Peter showed him at the end of their 20nd victory on a recorded video. There was a fat player dying to run to the base after he beat the ball. Unbeknownst, he pointed a home run—his ball thrown highly so that their enemy cannot interupt the batter to run over the circle to make a point. So, actually he hasn’t need to did so because afterall, his statistical record proved that he could did it. And Beane gave him that chance. You ought to watch it by your own to see this serenical climactic moment.

At the end of the film, Beane was offered a job as GM on another team: Red Sox. Reffering to his experience on leaving college scholarship for baseball (and money), he took one crucial choice: decline the offer that would make him “the highest-paid GM in the history of sports.” Beane said, “I made one decision in my life based on money and I swore I’d never do it again.” []

Saturday, July 6, 2019

Shadow


Imagine you are in this kind of condition: an Iranian mother who lives in a high rise building in the middle of war situation. At the same time, you were haunted by a jinn. That’s the story you would see when you are watching Under The Shadow. I have seen it a few days ago after the movie was released in 2016. Formerly, I have heard several reviews said that this Iranian film served us an intense fear and terror feeling. Does it really do?

Under The Shadow tells the story of an Iranian wife whom his husband leave her and their daughter to go to work. It was situated in the early 1980s, when Iran and Iraq confronted in a military war. One day, their building was attacked. On one hand, she has to survived, but on the other hand she have to persuade her daughter to come along. The problem is, they were haunted by a ghost. Moreover, they were separated by the spirit’s incitement.

This film showed us of how Iranian portray ghost appearance. Same with how we see ghost in Indonesia (and another country in Southeast Asia), Iranian—based on Under The Shadow—also see women as a the scariest ghost. Even so, in this film she came with no face. All of her body was covered with a spreading fabric, and using that cloth to terrorized her (allegedly) daughter. I’m not sure about whether she was really are or not, because there were no blatant clue to said so. The figure of mother only showed through the dialogue and writing in the book whom saved secretly by the main character. 

Perhaps, that was just the way of how Iranian filmmaker delivered the story. Once in the past, I have watched another Iranian movie called A Separation. That Abbas Kiarostami’s movie was not precisely ended up the divorce process of one household. We as a viewer, decided by ourselves with considering each and every character involved on it. I guess—without being generalizing—that’s the beauty of Iranian art of moving pictures. []

Friday, July 5, 2019

Joshua

What did you do when you were 18 years old? There was a boy in Hong Kong who managed to gather people in his country to fight against tyranny. His name is Joshua Wong. I watched a story of him through the movie called Joshua: Teenager vs Superpower.

The movie was started with a glimpse of Hong Kong’s history in the day when they handovered from British Empire’s territory at 1997. Since then, Chinese government handled Hong Kong as one of its area based on a principle called: one nation, two systems. It means that Hong Kong has its own government. The problem is, leader of Hong Kong was dictated—or chosen—by Chinese government. It means that their program would not be dedicated to the people of Hong Kong, because they weren’t choose their own leader. 

As time goes by, Hong Kong government was going to adopted the Chinese education system. Meanwhile, Chinese government thinks that Hong Kong’s students are not nationalistic enough. The nationalism term in Chinese national education context, means obedience. Joshua, was rise against that idea. Through Facebook, he and his friends creates an organization named Scholarism. They fought for their future by occupied public space. Long story short, in September 2012, chief executive of Hong Kong announced that national education system was not a mandatory. Joshua was win.

Another success story of defending Hong Kong’s freedom from Chinese pressure, was happened in early 2014. Joshua and friends, gathered with activist Benny Tai whom declared to fight for national suffrage. They tried to get out from Chinese domination in choosing their own political leader through a mass action called Occupy Central. CY Leung took a hard action to defend national conductivity. Police push mass hardly to clear the occupied place. Even more, they attacked Joshua when he was speaking in the middle of demonstrant. Nevertheless, Joshua kept his chin up. He said he will never stop make hong kong is hong kong again. 

At last, Scholarism turned into a political party. Some of the activist ride through it to make their political goals comes true—to fight for freedom beneath legislative board. On the other hand, Joshua was found guilty on unlawful assembly. A few days ago, Joshua was freed after he has been detained for one month. And Hong Kong, once again fell to the battlefield. This time, people fought for anti extradition law. Will they be the victor? []

Tuesday, July 2, 2019

Memorize

By submitting netflix’ subcription, I have a chance to watch so many movies. By this week, at least eleven movies i have watched. The last 2 movies was a classic movies: MiB and Kungfu Hustle. MiB was first released at 1997. It tells the story about special forces who handled problems referring to alien activities on planet earth. Actually, the latest film of MiB was released last month. And I haven’t seen it (even more, not interested to do so) due to negative review about it. The first MiB saga, somehow felt fresh. I still can released some laugh at the moment where local police officer named James Edward—whom then known as Agent J—tried to catch a running alien-human in the streets of New York. 

“New York is now raining with a black people”, he said when jumped down to the opened-ceiling-tour-bus. The dialogue showed how he mock himself—as black guy. The same pattern was used when J joined a selection of an upcoming new agent of MiB. He asked Zed about the purpose of being there: running some test with a number of best of the best of the best marine, army, and other military person. One of them answered Edward with the exact answer as Zed told: to be the best of the best of the best—without knowing theirown roles later. James then mocked him as a “captain america” with silly expression. 

The same sensation, I got from the second classical movie: Kungfu Hustle. It was produced in Hong Kong at 2004. Stephen Chow played as the main character—and director as well. He roled as a clumsy boy whom tried to scam residents of one village in order to get a staggering reputation as member of the axe gang—in fact, he wasn’t. Unpredictably, he found out that almost all of the villagers are doing well in kungfu fighting. Among them, also live 2 legendary self defense virtuoso whom inevitably has to woke their power up to defend their home from the brutality of axe gang. Unbeknownst of himself, the boy has a kungfu super power as well.

I guess, this was the second best action movies that i have ever saw. The first place belongs to The Raid 2: Berandal (2014). Those two titles offered a beautiful fighting scene. Those are shot in a medium close up composition, so that we can see from a wider perspective of how the fight runs out. Kungfu Hustle feels more special because it’s comedic taste. The moment when the main character challenged villagers to fight, was the most hillarious one. We can trully feel the interesting usage of “setup-punchline” pattern in almost all over the movie. 

MiB and Kungfu Hustle are two memorable movies that up till now, still feel warm to enjoy. Even so, I have another movie that I have been watched lately, and gave a strong comedic/ satiric/ sadistic effect. I recommend You to watch this one: Parasite (2019). []

Monday, July 1, 2019

Lost

One day, Windi, Sara and I went to supermarket. We bought daily goods. As windi picks this and that, I took Sara to stroll around the store. Sometimes, I let her move quite far from me, about 10 to 15 meters away. As I met Windi in one certain point, she asked me where Sara is. Jokingly said, i told her that I didn’t know. Right after that, worry face aroused. It seems like she’s going to scream out to call Sara, if I wasn't told her that Sara was still around. Shortly after that, Sara appeared from racks with her jolly tiny footsteps. 

The same moment happened to Marie when she lost Sara—her daughter. Marie and Sara are a fictional characters in the movie that I have saw on Netflix entitled Arkangel. It was part of a series named Black Mirror. Black Mirror tells different stories about the dark side of near future probable condition. In this particular episode, it depicts us about how Marie uses an apps (actually it was an internet-of-things) to control her daughters whereabouts. 

It was started when Marie losts Sara for the first time when her daughter was 3 years old. She ran for a cat in the park, out of her mom’s supervision. Then, Marie implanted a device from a company named Arkangel to her daughter’s body. So much so that she can see what Sara sees, or even further, can modify her daughter’s vision to some kind of harms. Unfortunately, it was irreplacable. Sara grew with the Arkangel and faced several teenage “naughty/ natural” moments, under her mothers access to the device. What happened next, leads to their separation. As if they meant to be away, since Sara was a little.

The movie made me think about how we should keep a healthy relationship with our daughter. On one hand, we tend to be overprotective, but on another one, we also ought to trust to our child's level of growth--and accompany them as well. []

Sunday, June 30, 2019

Identitas

Awalnya sempat takut ga kesampaian otak saya kalo baca buku yang ditulis Profesor Ariel Heryanto ini. Haha. Soalnya formatnya ilmiah banget: banyak catatan kaki, banyak kutipan dari buku atau penelitian lain, dll. Ternyata, pas dibaca sampe tamat, Identitas dan Kenikmatan asik-asik aja. Mungkin karena subjek penulisnya “saya” (terasa lebih cair), bukan “penulis”—yang biasanya terdengar kaku.

Di dalam buku ini, dibahas pencarian identitas keindonesiaan yang ternyata tidak sesederhana melabeli dengan satu lapis. Maksudnya, ada banyak kondisi dan tampilan yang menunjukkan bahwa itulah bangsa indonesia di saat itu. Dan semua dianalisa berdasarkan budaya layar: produk sosiologis yang tampak melalui layar ponsel, televisi, bioskop, dan sejenisnya.

Pertama, identitas berdasarkan kecenderungan menyikapi gelombang post-islamisme—definisi ini tidak dijelaskan secara gamblang, tapi saya menangkap bahwa post-islamisme bermakna penggunaan islam untuk tujuan “nonislami” (penyimpulan tentang post-islamisme saya rujuk dari pengertian populer post-rock: membuat musik rock dengan suara yang kurang nge-rock. Dalam pembahasan tentang konservatisme ini, sampel yang diuji, tentang fenomena pasca penayangan film ayat-ayat cinta dan perempuan berkalung sorban.

Kedua, identitas berdasarkan cara bangsa indonesia menyikapi perang ideologi kapitalisme-komunisme. Di dalam buku ini, dibahas juga beberapa film yang menandingi gagasan fiktif film pemberontakan g-30-s/pki. Para pembuat film tandingan ini digolongkan ke dalam 3 kategori: pembuat film yang merupakan korban (yang tergabung dalam organisasi tertentu) seperti: tjidurian 19, pembuat film yang tidak terkait dengan peristiwa 1965 tapi tetap mengajak para korban seperti: the act of killing, dan pembuat film yang bukan korban dan tidak memainkan korban selamat genosida seperti: sang penari—sebenarnya, film feature pertama yang angkat tema geger 1965 dibuat oleh garin nugroho, bukan sang penari yang disutradarai ifa isfansyah, menantu garin nugroho. Tiga kategori ini saya tulis sesuai ingatan saya. Mungkin salah. Hehe. Yang jelas banyak dijelaskan judul filmnya—dan kamu bisa telusuri di internet untuk ditonton online.

Ketiga, identitas berdasarkan perlakuan terhadap etnis tionghoa. Di sini juga dijelaskan, tentang alasan kenapa warga indonesia etnis tionghoa selalu termarjinalisasi. Jawabannya berkaitan dengan politik kekuasaan. Pembahasan tentang ini, kemudian berlanjut juga dengan analisa terhadap gempuran budaya dari negara asia timur lain: halyu wave dari korea selatan. Ada satu kutipan menarik tentang ini. Kurang lebih: di masa orde baru, keturunan tionghoa dipaksa ganti nama untuk menutupi identitas keasiatimurannya. Sekarang, fans k-pop rela melabeli diri dengan nama oriental. Hal yang sama berlaku dengan tren berkerudung.


Intinya, buku ini direkomendasikan untuk dibaca oleh orang yang tertarik untuk menganalisa fenomena budaya pop—produk budaya yang diproduksi secara massal. Satu sumbangan penting lain buku ini adalah kesadaran untuk tidak terjebak ke dalam kategorisasi identitas. Identitas itu semu, kemanusiaanlah yang nyata ada dan harus terus diperjuangkan. []

Sunday, May 12, 2019

Endgame


“Everyone have been failed in fulfilling their fate,”

The dialog in Avengers: Endgame struck me to moment before my wife and I should have fulfilled our destiny to watch it on the best seat on the best schedule. We came to Botani Square around 12:30, more than one hour before we have managed to watch the movie at 14 pm. We were not directly went to the cinema, as the show has been booked previously through mobile app.

Long story short, 15 minutes before the movie started, we went upstairs. Unfortunately, there was an error while I scanned the QR code to get the ticket. Hence, we went to the receptionist to ask for a help. Then, we know that I have booked the wrong location. It was bought in Bogor Square. Located about 5 kilometers from where we were.

I can see sadness arouse from Windi’s face, for today has been planned since about one week ago. Without any further saying,  we ordered two new tickets. Of course—beside the price was more expensive—we got worse position than we planned before, but actually it was still fine. That was the second time I sit on P row, on the right side of the screen. Previously, I was in the same position when watched Samurai X: Kyoto Inferno. Anyway, at the end both of us enjoyed the movie. Here is several things I can share you about this last phase of Marvel Cinematic Universe.

Endgame started right after Thanos snapped his finger to demolish half of the universe’s creature. In it’s prequel, Avengers: Infinity War, this creature of Titan planet, decipher that he wants to make life on the universe being stable. At that moment, the population number is too gigantic. So the misery that came along it, could be abolished as well. Does it true? There was an interesting dialog regarding the situation. The conversation later on closed by one remarkable quotation from Thanos: I am inevitable.

I cannot tell you further about the story of this saga. I guess, the best way to enjoy this movie is not to know any information about the plot. Just trust to the upcoming surprises that you will watch—three hours duration was quite worth it. Unless, if you need to know the redline of this film, I can give you one statement: endgame tells about time heist, or simply “time travelling”. []