Monday, November 20, 2017

Fenimisme Dalam Marlina

Saya selalu menyesal setelah nonton film yang resensinya sudah saya baca. Ada sensasi kaget yang kurang mengejutkan karena si resensi bocorkan beberapa alur kisah, meskipun bocoran itu penting juga buat meyakinkan saya untuk memutuskan nonton sebuah film atau nggak. Dalam hal menyaksikan film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, sebaiknya sebelum nonton saya cukup tau bahwa ini film garapan Mouly Surya dan juara di sejumlah kompetisi film internasional. Itu aja sebenarnya udah menarik. Sama satu lagi: film ini bicara tentang feminisme. Pesan tentang perjuangan perempuan melawan dominasi laki-laki, pertama tampak di nama Marlina. Sutradara Mouly Surya mengaku terinspirasi dari seorang guru berdisko di ruang guru di luar jam pelajaran, yang videonya kemudian viral. Ketika wartawan mengkalrifikasi, sang guru mengaku yang dilakukannya bukan kesalahan. Dan guru itu bernama: Marlina. Barangkali kisah itulah yang melahirkan adegan ketika Novi menawarkan agar Marlina ke gereja dan melakukan pengakuan dosa. Marlina tentu saja menolak, karena dia merasa tidak berdosa. Marlina tidak berdosa. Dia cuma membela diri dari tujuh lelaki yang memburunya, atau tepatnya mengeksploitasi keperempuanan Marlina: memperkosa dan merampas semua tabungan ternaknya. Marlina ternyata bisa membela diri dan menuntut keadilan. Perjalanan tentang pelaporan ke kantor polisi itulah yang jadi kisah dominan di film ini. Adegan pertama tentang Marlina yang didatangi gerombolan Markus, mengingatkan saya ke pemaparan ini. Intinya, menurut opini di link tadi, yang dilakukan para laki-laki sebenarnya bukan karena faktor moral atau didikan, tapi memang system kehidupan yang dominan bergaya patriarki. Lalu kisah Marlina menggambarkan tentang upaya tokoh utama menggedor dominasi itu. Dia berusaha setara dengan pria. Tapi usahanya sayangnya nggak berhasil. Dia (dan Novi si ibu hamil) harus terjebak ke dalam lingkar labirin yang sama: nurut ketika diminta laki-laki, diintimidasi, berontak dan menyelamatkan diri, lalu memperjuangkan keadilan. Apakah di dunia nonfiksi kondisi perjuangan kesetaraan gender seperti demikian? []

Wednesday, October 18, 2017

Makin Paranoid

Saya sekeluarga baru pindah dari tempat tinggal lama. Sebenarnya kamar itu nyaman. Desainnya minimalis, fasilitasnya cukup lengkap pula. Sayang, rumah di lokasi strategis itu dijual. Pemilik baru nggak lagi mengontrakkan kamar yang pernah kami tempati. Beberapa lama kemudian, saya berpikir tentang untung juga pindah dari sana. Bagus sih bagus, tapi ada suasana aneh. Saya dan Windi pernah melihat kursi Aksara goyang sendiri. Di malam hari, kursi yang sama bergetar. “Tadi kesenggol,” saya menghibur istri. Tapi anak selugu apa pun rasanya akan sulit menerima penjelasan bahwa tombol ON si kursi cuma butuh kesenggol biar nyala. Nggak lama setelah itu, film Pengabdi Setan dirilis. Waktu itu saya mengincar nonton di penayangan perdana. Teman lama sudah diajak dan janjian buat nonton di bioskop 4DX. Biar sensasinya maksimal. Rencana itu lalu batal, dan berpindah ke hari lain dengan jenis ruang bioskop yang biasa aja. Sesuai dugaan, Pengabdi Setan versi baru ini ternyata setraumatik versi aslinya. Dulu waktu seusia SMP, saya pernah nonton film Pengabdi Setan dan sampai sekarang ada tiga adegan yang kebayang terus:
  1. Si tokoh utama menemukan pocong di kamarnya. Begitu muka si pocong keliatan, ternyata itu dia sendiri.
  2. Kecelakaan motor menabrak truk sampai pengemudinya masuk ke bak truk itu.
  3. Pintu kebuka sendiri, piano bunyi sendiri, tuts pianonya ada yang mencet tapi pemain musiknya gak keliatan.
Akibatnya, waktu itu saya takut tidur di kamar sendiri karena ruangan tempat tokoh Tomi ketemu pocong bermuka dirinya sendiri, mirip suasana kamar saya. Setelah nonton Pengabdi Setan versi Joko Anwar, efek sampingnya lebih ke kebayang-bayang sosok ibu. Ayu Laksmi sukses menampilkan ibu yang menakutkan. Saya aja nonton sampe siapin jari tangan di posisi mata sama telinga biar gak terlalu parah efeknya. Jempol di samping kepala, empat jari lain di pipi. Selain soal keseraman suasananya, Pengabdi Setan juga menampilkan gaya perfilman ala Joko Anwar. Film dia, selalu bikin kepikiran kok bisa keren gitu ya twist-nya. Modus Anomali misalnya. Sebenarnya kan itu kisah sederhana tentang orang yang hobi membunuh dan menakuti diri sendiri. Gaya penyampaiannya yang bikin kita mikir itu yang seru. Pintu Terlarang juga begitu. Ternyata semuanya ada di dunia yang ada dalam kepala tokoh Gambir. Dalam hal Pengabdi Setan, naik turun emosi tentang terror hantu tampil intens. Ada bumbu komedinya juga. Selain itu, tiap film ada keterkaitannya. Coba simak bagian akhir ulasan ini. Sebenarnya, untuk yang baru punya pengalaman misterius semacam saya, film ini kurang tepat. Karena bikin makin paranoid. Apalagi, di tempat tinggal saya yang baru, tiap sekitar magrib suka ada suara mirip kereta kuda kayak lewat di sebelah ruangan. Singkat dan samar-samar sih, tapi tetap jelas terdengar. Padahal itu di lantai 5. Mungkin suara mesin yang rutin bunyi. Semacam alarm. Begitu sih cara saya menghibur diri. []

Friday, August 25, 2017

Membaca Jurnalisme Musik

“Rock journalism is about people who can’t write, interviewing people who can’t talk, for people who can’t read” (Frank Zappa)
Judulnya Kastana Taklukkan Jakarta. Penulisnya Soleh Solihun. Saya tertarik buat baca buku ini karena dulu setelah lulus kuliah sempat bercita-cita menjadi wartawan di sebuah majalah musik. Melalui kisah Kastana, gambaran pekerjaan yang waktu itu saya idamkan cukup tergambar. Lengkap dengan perjuangan perpindahan antar media dan konflik di dalamnya. Kastana ini sebenarnya tokoh di kehidupan nyata. Ceritanya dia lulus setelah berkuliah tujuh tahun di kampus UNPAD Jatinangor. Setelah itu, Kif Kastana—demikian nama lengkap si tokoh utama—bertualang dari satu media ke media lain, sebagai rock journalist. Menjadi wartawan musik, ternyata tidak mudah. Tantangannya melebar dari persoalan gaji, manajemen kantor, sampai urusan ormas. Lika-liku itulah yang ditulis di buku ini. Tapi sebenarnya, inti dari kisah Kastana adalah tentang pencarian renjana, atau dalam istilah kekiniannya disebut passion. Bahasa di novel Kastana ini bukan bahasa sastrawi. Rasanya seperti mendengar seorang teman lama yang berkisah tentang “sekarang jadi begini, padahal sebelumnya begitu”. Kontennya juga nggak kering. Saya bisa melipat beberapa halaman yang di dalamnya ada kalimat yang layak kutip. Atau setidaknya menambah wawasan saya sebagai pembaca—atau peminat jurnalisme musik.
“Tapi kalau menurut saya, yang namanya musik itu tak bisa dilepaskan dari subjektivitas penikmatnya. Persoalan selera. Tapi, selera yang baik tentunya dibentuk dari referensi atau wawasan yang luas.” (halaman 232)   “Kata tokoh ilmu komunikasi Carl I. Hovland, ‘communication is the process to modify the behavior of other individual’” (halaman 227)
Pembacaan saya atas buku ini, menggiring ke penelusuran sosok di balik Kastana. Saat saya langsung cek akun instagram Soleh Solihun, rupanya dia sedang menggarap sebuah film berjudul “Mau Jadi Apa?”. Pencarian renjana Kastana akan berpidah ke layar lebar. [] 

Wednesday, July 12, 2017

Perjalanan Darat Bali-Aceh

Selama tugas liputan mudik lalu, saya menamatkan sebuah buku. Judulnya Family Traveler: 34 Hari Menuju Kilometer Nol Indonesia. Buku ini dibuat kakak kelas saya sewaktu kuliah, Kak Vina. Isinya tentang ia bersama suami dan anaknya yang berusia empat tahun, menempuh perjalanan dari Bali ke Aceh selama sebulan lebih. Buku terbitan Gong Publishing ini menceritakan hari per hari yang mereka jalani selama perjalanan itu. Ada beberapa cerita menarik dari nekadnya keluarga ini. Mereka cuma berangkat dengan bekal awal 500 ribu rupiah. Ongkos perjalanan berikutnya disambut dari satu lokasi ke lokasi berikutnya. Misalnya ketika di hari keempat, ada tambahan dana dari sebuah acara yang dihadiri Kak Vina. Empat hari setelah itu, perjalanan panjang ini sudah hampir batal. Untung dua orang dewasa di mobil jenis city car ini bisa meredam emosinya masing-masing. Termasuk ketika mereka benar-benar putar balik arah dan mengarahkan mobil ke arah jalan pulang sebelum sampai di garis finish. Tersesat? Mereka alami juga. Soalnya memang patokannya dua aplikasi penunjuk arah. Setelah itu mereka memaksimalkan peran GPS, Gunakan Penduduk Setempat. Dari balik rintangan itu, ada temuan-temuan menarik untuk kita ikuti jika ingin menelusuri jejak mereka. Muncul beberapa rekomendasi tempat penginapan, visualisasinya, dan gambaran orang yang akan menyambut pendatang di daerah itu. Ada juga selipan tips agar pembaca bisa menikmati perjalanan pesawat dengan harga miring. Jadi, keluarga Kak Vina nggak hanya naik mobil. Ketika mengunjungi Belitung, perjalanan udara ternyata hitungannya lebih hemat, tentunya setelah tips tadi dijalani. Yang juga asik dari buku setebal 258 halaman ini, adalah pembahasan tentang Avi, anak tunggal pasangan Kak Vina-Bang Marvin. Akhir perjalanan mereka ternyata bertepatan dengan ulang tahun si gadis cilik. Kak Vina sebagai pencerita utama, menuliskan sesuatu sebagai ucapan selamat buat anaknya. Begitu juga dengan Bang Marvin, yang ternyata surat cintanya ini lebih panjang, dengan uraian yang menurut saya lebih menyentuh. Mungkin karena saya dan Bang Marvin sama-sama seorang bapak. Mungkin karena pembahasan tentang Avi dimulai dari kisah kelahirannya. Mungkin karena di bagian itulah tujuan utama perjalanan ini dijelaskan. []

Thursday, June 22, 2017

Pevi Permana dan Pemuda Hijrah

Sekitar tahun 2010, saya jalan-jalan ke sebuah event di ITB. Ketika itu ada acara skateboarding juga di sana. Skateboarder terkenal dari Bandung kumpul di sana. Datanglah salah seorang dari mereka ke arena. Dia pakai kacamata hitam, rambut gondrong, tangannya menenteng papan seluncur dan tali yang terhubung ke leher anjing chihuahua. Orang ini Pevi Permana. Beberapa hari lalu, saya ketemu lagi sama Pevi. Kesan saya tentang dia berubah. Ternyata sekarang Pevi nggak “setinggi” itu. Pevi saya wawancara sebagai seorang muslim yang berhijrah. Pindah dari kehidupan lama ke hidup baru yang lebih agamis. Obrolan kami digelar di sela aktivitas padatnya di Jakarta-Bandung-Bali. Pevi meluangkan waktu sekitar dua jam di kantornya di Gudang Selatan, Bandung. Kami berbincang selama sekitar 10 menit di depan sebuah cafĂ© di dalam gudang artistik itu. beberapa kali Pevi menunduk, terutama ketika bercerita tentang masa lalunya. Sebelum Hijrah Pevi Permana lahir tahun 1988. Pada tahun 1999, ia mengenal papan skateboard dari teman sepermainannya. Sementara teman-teman yang mengenalkannya kepada skateboard berhenti bermain skate, Pevi terus menekuni hobi ini hingga bertahun-tahun setelahnya. Empat tahun kemudian, dia mulai ikut kejuaraan. Dalam dua kompetisi pertama sepanjang karirnya, Pevi berhasil menembus babak final. Di kali ketiga, juara ketiga langsung dia sabet. Tahun 2005 ia menjadi juara tingkat nasional. Dua tahun setelah itu gelar tingkat Asia ia raih, hingga di tahun 2009, Pevi Permana mencatatkan namanya sebagai skateboarder peringkat ke-40 tingkat dunia. Dari berbagai prestasinya tadi, Pevi mulai hidup mandiri. Kemandirian ini, yang dilengkapi dengan prinsip “tanpa aturan main” dari permainan skateboard, membuat pevi lekat dengan sebuah gaya hidup.
Yang saya alami ketika saya punya uang dari skateboard mulai hedonisme. Mulai merasa dirinya sebagai bintang. Mencukup keuangan karena pertandingan sering, juara sering, dapet hadiah. Selalu setiap bulan ada 3-4 kali. Dapet juga gaji dari sponsor. Di situ mulai, yang namanya kalau kata (bahasa) sundanya mah hidup aing kumaha aing.
Hijrah Selain karena sang istri, hidup Pevi kemudian berubah setelah ia menyerah dengan ajakan seorang teman. Adalah Fani Inong, seorang skateboarder yang aktif berpapan seluncur sejak tahun 90an. Selama dua tahun, Inong terus mengajak Pevi ikut pengajian.
Tidak mau, sibuk, ada acara, harus main skateboard. Seribu alasan yang saya punya. Tapi ketika (itu) selalu istiqomah teman saya ngajak. Dan akhirnya saya merasa nggak enak karena sering diajakin dan akhirnya saya ikut ke kajian itu. Ternyata kajian itu sangat bermanfaat, kayak mengisi nutrisi hati dimana hati itu kosong ga ada apa-apa tiba-tiba dikasih nutrisi. Hati itu menjadi lebih baik, dan hati dari yang hitam pekat itu bisa jadi abu-abu. Dari situ saya mulai luluh dan nggak keras hati. Dari situ saya mengenal yang namanya solat.
Kajian yang dimaksud Pevi, adalah kegiatan yang digelar kelompok Pemuda Hijrah. Diakui Pevi, ceramah keagamaan yang biasa diikutinya di sana terasa lebih ringan. Saya pernah hadir ke sebuah acara yang digelar di mesjid Trans Studio Mal Bandung. Waktu itu saya tiba pas solat isya tiba. Masjid besar yang ada tepat di sebelah pusat perbelanjaan itu penuh. Saya dan ratusan orang lain sampai harus nunggu giliran buat bisa ikut solat. Itu pun bukan di dalam mesjid, tapi di area parkir. Konten ceramah Ustad Hanan memang dekat dengan kalangan muda. Ketika berbicara tentang Nabi Musa, Ustad muda kelahiran 1981 ini bisa sekaligus membahas tentang gaya milenials di medsos instagram. Saya mengajukan permintaan wawancara dan peliputan Pemuda Hijrah sejak bulan April. Hingga akhir bulan Juni ini, jawabannya sama: komunitas The Shift atau Pemuda Hijrah, belum mau tampil di televisi. Saya juga berusaha mewawancarai Inong, yang juga aktif di Pemuda Hijrah. Sayangnya ia berhalangan. Tapi Pevi sempat cerita, tentang apa alasan Inong mengajaknya hijrah. Katanya, kenikmatan hijrah sama seperti asiknya bermain skateboard.
Dia sekarang mendalami agama. Dan sekarang sudah sangat dalem paham banget soal agama, makanya dia mau mengajak bahwa 'ya saya tau skateboard itu enak, fun. Makanya saya selalu ngajak orang main skateboard. Halnya sama kayak agama itu enak, agama itu fun. Makanya saya mau ngajak kamu ke tolabul ilmu, mengajak ke yang lebih baik. Karena enak.' Menurut dia seperti itu.
Pasca Hijrah Maghrib tinggal belasan menit lagi. Tadinya Pevi mau solat maghrib di mesjid Al Latif, mesjid yang bisa dibilang markas komunitas Pemuda Hijrah. Rencana itu batal karena katanya harus beresin kerjaan di kantor HLWD. HLWD ini brand buatan Pevi yang semula bernama Hellwood. Produknya berupa papan skate dan busana yang spiritnya skateboarding. Hellwood berubah jadi HLWD setelah Pevi hijrah.
Ketika itu memang lagi hell banget. Saya pun bikinnya secara tidak sadar. Ketika saya pikir-pikir sekarang, aduh berat banget namanya takut kebawa-bawa sampe akhirat, akhirnya saya ganti jadi HLWD. Dan sekarang mau manufacturing juga jadi Landed Club, karena sudah landing. Filosofinya di sana karena sudah mulai mendarat semuanya sudah mulai kondusif biar lebih enak terdengar juga.
Lalu, apakah pasca hijrah, Pevi berhenti bermain skateboard? Jawabannya tidak. Kini bahkan ia jadi atlet nasional. Ketika dimintai waktu wawancara pekan lalu, Pevi berhalangan karena lagi ikut pelatnas. Di kesempatan lain ketika saya minta kesempatan ambil gambar pas main skateboard, Pevi bilang besok aja di Bali pas perayaan skateboarding day 21 Juni 2017. “Berarti lusa bukan besok,” saya mengingatkan. “Oh iya berarti lusa,” Pevi jawab setelah diam dulu. “Akang terlalu excited nih kayaknya.” :)

Ganti Hati

Buku Ganti Hati saya baca ketika ada tugas meliput kisah Sel Penyembuh untuk program 360 Metro TV. Sel penyembuh yang dimaksud tentu saja sel punca atau stem cell, sel muda yang dimodifikasi sehingga bisa mengobati macam-macam penyakit. Dalam rangka penyusunan kisah itu, saya perlu seorang narasumber yang pernah merasakan manfaat stem cell. Pilihan terkuat jatuh ke mantan menteri BUMN Dahlan Iskan. Pada akhirnya saya berhasil mewawancarai pemilik grup media Jawa Pos ini ketika ia sedang berobat di Cina. Dan sebelum perbincangan jarak jauh itu dimulai, saya membekali diri dengan baca buku Ganti Hati. Pada tahun 2007, Dahlan Iskan didiagnosa menderita kerusakan hati. Buku Ganti Hati memang langsung dimulai dengan paparan latar belakang itu. Di dalamnya ditulis pula bahwa kerusakan yang ia alami sebenarnya sudah cukup parah. Saluran pencernaan bagian dalam Dahlan mirip balon yang siap meletus. Belum lagi organ limpa membesar, sehingga kekurangan darah putih. Sebagai pembaca, saya dibuat paham bahwa ini bukan penyakit ringan.
Kenapa ada virus hepatitis B di liver saya? “Karena liver saya tidak kebal ketika virus untuk pertama kalinya datang dan masuk ke dalam liver saya.” Kenapa badan saya tidak kebal? “Karena saya tidak pernah menjalani vaksinasi antihepatitis B saat saya masih bayi/kecil.” Kenapa waktu itu tidak menjalani vaksinasi? “Karena tidak tahu.” Kenapa tidak tahu? “Karena tidak berpendidikan dan tidak cukup pengetahuan. Juga karena negara waktu itu masih sangat miskin dan pemerintah sibuk mengurus politik atau rebutan posisi.”
Hal Lain Selain Ganti Hati Buku ini ternyata tidak hanya berkisah tentang pengalaman Dahlan bertarung melawan penyakit hepatitis B selama 2 tahun, tapi juga rangkuman biografi hidupnya. Bab yang paling saya suka berjudul “Tersenyum ketika Dioperasi seperti Menikmati Kemiskinan”. Dalam tulisan ini, sebenarnya Dahlan memaparkan analisa tentang mengapa sakit liver bisa ia derita, tapi pembahasannya diambil dari sudut pandang unik yang kritis dan bisa mendekatkan kepada pembaca.
                Jelaslah bahwa karena kemiskinan dan kejumudan yang melatarbelakangi, saya menderita sakit liver. Apakah saya menyesali dilahirkan di keluarga miskin? Sama sekali tidak. Kemiskinan kami adalah kemiskinan struktural. Kemiskinan yang juga dialami banyak orang di lingkungan saya. Bahkan hampir di semua kampung saya. Di kapupaten saya. Juga di negara saya. Kemiskinan rame-rame.Kami bisa menikmatinya bersama-sama.
Buku ini juga nggak garing. Selain terasa seperti mendengar curhatan seorang teman, si teman yang sedang kit abaca kisahnya ini juga humoris.
Untung, tidak ada penilaian bahwa siapa yang meninggal dengan payudara besar berarti dimurkai Tuhan. (Bab 25) [ketika berbicara tentang wajah menghitam akibat sirosis hati, dikaitkan dengan azab tuhan]
Simak lagi contoh paparan jenaka satu ini:
Memang setelah 1,5 bulan transplantasi, wajah saya yang sudah dua tahun menghitam, kini kembali… hitam. Maksud saya kembali ke hitam yang aslinya. Bukan hitam karena sirosis. Kini wajah saya sudah boleh dibilang kembali seperti hitamnya kereta api (duile!), meski hitam banyak yang antre. Imbuhan kata terakhir itu bukan asli ciptaan saya. Anak kalimat itu adalah keputusan yang diambil dalam kongres para pemilik kulit keruh, untuk sedikit mengangkat derajat mereka. (Bab 26)
Kisah Ganti Hati, juga menyisipkan sejumlah pengetahuan baru. Saya diperkenalkan dengan konsep tasawuf sathariyah, prinsip sangkan paraning dumadi, ilmu mantiq, usul fiqih, bahkan tips menulis yang baik.
… bahwa bikin tulisan itu harus deskriptif dan detil, gunakan kalimat pendek dan kutipan singkat. Agar imajinasi pembaca dari sebuah tulisan lebih kuat disbanding paparan audio-visual. (Bab 27)
Pada akhirnya, Ganti Hati menutup diri dengan keberhasilan operasi yang dijalani Dahlan di Cina. Ia mendapat donor potongan hati dari seseorang asal Bandung yang lahir tahun 1985. Orang ini tidak disebut identitasnya dengan jelas, namun diperkenalkan sebagai orang yang pernah gagal menyelamatkan ayahnya yang hatinya rusak. Dahlan juga menutup buku ini dengan caranya menyikapi penyakit yang timbul akibat kerja (terlalu) keras. Kutipan yang akan saya lampirkan ini memang panjang, tapi paragraf inilah yang membelokkan premis yang semula terbentuk, bahwa bekerja terlalu keras itu mematikan.
Saya ingat kata-kata bijak di laboratorium Prodia: Waktu muda mati-matian bekerja sampai mengorbankan kesehatan untuk memperoleh kekayaan. Waktu tua menghabiskan kekayaan itu untuk membeli kembali kesehatannya—dan banyak yang gagal. Kebetulan, saya tidak gagal. Dan lagi, saya kerja keras tidak semata-mata untuk mencari kekayaan. Di dunia ini banyak orang yang kerja keras tanpa bermaksud kerja keras. Atau sekadar hobi. Mainannya ya kerja keras itu. Seperti Pak Moh. Barmen, tokoh olahraga di Surabaya. Mainannya ya mengurus sepak bola itu.

Friday, June 16, 2017

Pertahanan Terakhir Qatar: Sepakbola

Timur tengah semakin bergejolak. Qatar diembargo sejumlah negara tetangganya karena emir negara pulau di teluk Persia itu terang-terangan menyatakan keberpihakan kepada Iran dan sekutunya. Meski dibantah pihak Qatar, bagi geng Arab Saudi dan kawan-kawannya, momen ini jadi pemicu ketegangan yang sebenarnya muncul sejak tahun 2011, ketika negara-negara timur tengah melakukan revolusi pemerintahan melalui rangkaian kejadian Arab Spring. Qatar berbeda pendapat tentang pihak mana yang lazimnya didukung mayoritas negara timur tengah. Antara pemberontak atau petahana. Hingga kini, blokade akses terhadap Qatar masih diberlakukan, dan beberapa negara membantu memasok kebutuhan hidup warga negara Qatar. Tapi tahukah anda, bahwa penyelamat lain Qatar ketika krisis ini terjadi adalah sepak bola. Piala dunia 2022. Baru-baru ini saya membaca buku “Brazillian Football and Their Enemies: dan cerita-cerita lainnya seputar sepakbola Indonesia dan liga-liga dunia”. Judulnya memang panjang, mungkin agar kontennya juga tergambarkan. Meski sebenarnya berjudul utama tentang sepak bola Brazil, sebenarnya bahasan tentang sepak bola negeri samba hanya seperempatnya. Pemilihan judul Brazil lebih karena buku ini terbit tahun 2014, ketika piala dunia dihelat di sana. Brazillian Football… memuat kompilasi tulisan dari para penulis yang tergabung dalam Pandit Football Indonesia. Artikel mereka sebenarnya sudah dimuat di berbagai laman situs internet. Buku ini menjadi raga bagi opini-opini itu. Selain kisah seputar piala dunia di Brazil, ada tiga bagian lain dalam buku ini: obrolan seru sepakbola, uang dan sepakbola, dan all about world cup. Di judul terakhir itulah kisah tentang Qatar ditulis. Judulnya: Terpilihnya Qatar Jadi Politisasi Terbesar dalam Sejarah Sepakbola. Ditulis Aqwam F. Hanifan, titel ini berisi awal mula terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 hingga analisa bahwa keterpilihan itu sebenarnya (selain bermotif ekonomi) juga cara Qatar menghimpun soft power dari dunia untuk bertahan ketika krisis di kawasan itu terjadi, seperti hari ini. Intinya, ketika Qatar diganggu tetangga-tetangganya, negeri kaya minyak bumi ini tidak akan terlalu khawatir, karena seperti yang tertulis di halaman 165, “dunia akan berkata: jangan coba-coba ganggu (proyek kami di) Piala Dunia! Di Balik Sepakbola Sebagai olah raga paling populer di seluruh dunia, sepakbola kaya kisah dan makna. Buku ini menelanjanginya bulat-bulat. Ada drama perjuangan manusia sepakbola yang garis klimaksnya menanjak, (Dongeng dari Modena) ada pula yang antiklimaks (Hanya Ada Satu Heleno de Freitas). Ada tentang wajah politik di dalam sepakbola yang dicitrakan apolitis, ada juga terkait nilai ekonomi dari balik lapangan hijau. Buku ini membantu pecinta sepakbola mengenal lebih dalam permainan yang mereka sukai hingga bagian dalamnya. []

Tuesday, June 6, 2017

Hai, Selamat Tinggal

Hari-hari ini saya seperti hilang arah. Maksud saya, mungkin terlalu banyak yang ingin saya lakukan sementara saya terlalu malas untuk melakukan semuanya. Haha. Tadi pagi saya meninggalkan tempat tinggal sekitar jam 8, lalu berbelok arah di persimpangan, menuju jalan layang Pasupati. Biasanya belok kiri, jadi belok kanan. Sengaja, ada yang ingin saya beli di Pusdav kompleks Pusdai Jabar. Padahal ujung-ujungnya barangnya nggak ada. Sebelum akhirnya seperti biasa mendarat di tempat kerja, saya mampir dulu ke tempat pangkas rambut. Karena belum buka—meski sebenarnya kalau mau sabar nunggu 15 menit lagi rambut saya udah rapi—saya batal cukur rambut. Di seberangnya ada toko buku. Saya mampir dan beli sekopi majalah. Di lapangan Siliwangi, saya push up 30 kali, pull up 5 kali dan menyiksa otot perut dengan sebuah gerakan. Itu tadi saya lakukan masih dengan kostum celana jins formal, sepatu kantoran, dan seragam di dalam jaket. Sudah saya bilang, saya terlalu banyak mau. Salah satunya badan kekar. Hahaha. Oke, sekarang saya di meja kerja. Rupanya majalah Hai yang tadi saya beli nggak semenarik dulu. Terlalu banyak ulasan acara. Tapi tunggu, bukankah itu edisi terakhir versi cetaknya? Masa nggak tertarik baca lebih detil? Sebelum saya ceritakan kesan membaca edisi penting ini, saya mau bernostalgia dulu dengan majalah remaja Hai. Jika Anda membaca Bobo di masa kecil, saya yakin hasrat membaca Anda juga akan tersalurkan melalui majalah Hai. Oke, dengan catatan tambahan bahwa anda laki-laki. Hai memang majalah remaja pria. Edisi yang paling saya kenang dari majalah ini adalah yang covernya Erix Soekamti. Edisi pertama dengan logo baru yang saya beli sekitar tahun 2005 atau 2006. Edisi itu bahas tentang punk. Dari band, sejarah, manifesto, sampai perbedaan punk dan punx. Sekitar tahun 2007, majalah itu dituker sama seorang teman. Untuk melepas satu keping edisi itu, saya dikasih tiga kaset tiga album pertama SUM41. Ketika itu saya belum suka kuartet asal Kanada tadi. Sampai kegemaran bermain game ketika itu membuat saya mendengar lagu Fat Lip dari album kedua. Luar biasa. Melodius dan menghentak. Pada akhirnya, Half Hour of Power, All Killer No Filler, dan Does This Look Infected? jadi konsumsi harian. Ah, segar! Nah sekarang kita kembali lagi ke majalah Hai. Bulan ini, terbit edisi terakhir Hai dalam wujud cetak. Selanjutnya ia akan hadir di platform digital. Sebagai pembaca rilisan fisik, saya lebih nyaman membaca semua informasinya dalam satu bundle cetakan. Di edisi kali ini, tiap artikel tampil berupa versi pendek, sementara bagian panjangnya bisa diakses melalui QR Code yang menyertai tiap judul. Agak merepotkan, tapi memang begitulah gimmick-nya. Sebelum Hai benar-benar sepenuhnya dibaca lewat sambungan internet, edisi ini memberikan transisi. Hijrahnya Hai ke wujud digital, memperpanjang barisan media yang beradaptasi dengan kondisi pasar. Saya terlalu malas buat menambahkan data tentang media-media yang pada akhirnya gak bikin edisi cetak lagi. Yang jelas, Hai berhenti berwujud fisik setelah berusia 40. Maka dengan perjuangan sepanjang itu, saya ingin mengucap selamat atas kelulusan brand sekaligus para awak redaksinya. Di bagian akhir edisi itu orang-orang dari dapur Hai berfoto menggunakan toga, sekaligus menuliskan kalimat terakhir mereka. Yang paling saya suka, dari orang yang mengutip pernyataan Nyai Ontosoroh: “Kita telah melawan Nak. Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” []

Monday, June 5, 2017

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Friday, June 2, 2017

Andy Noya

Leonardo Kamilius, cuma butuh satu buku untuk menggerakkan niatnya membantu masyarakat yang membutuhkan modal usaha di utara Jakarta: Banker to the Poor (Muhammad Yunus, 2006). Aang Permana, juga menyebut satu buku yang membuatnya bulat meninggalkan pekerjaan sebagai peneliti dan membuka usaha pengolahan ikan: Mereka Bilang Saya Gila (Bob Sadino, 2008). Setelah membaca Andy Noya: Kisah Hidupku (Adhi KSP & Andy F. Noya), saya merasa menemukan sebuah buku yang posisinya seperti dua buku di atas: meneguhkan tekad—dalam kasus saya, menjadi wartawan.

Kenapa buku ini sedemikian penting? Pertama, “Kisah Hidupku” mengupas tuntas masa lalu wartawan yang bersinar dengan program Kick Andy-nya itu. Tuturannya kronologis, dimulai dari masa kecilnya di Surabaya, hingga kiprah jurnalistik teranyarnya dan Kick Andy Foundation. Paparan kisahnya pun detil. Tiap bab (dalam buku ada 11 “bagian”) tersusun dari 4 hingga belasan subbab. Di dalam turunan bab itulah terungkap bahwa karier kewartawanan Andy bermula dari rangkaian pengalaman yang bukan cuma sudah digariskan, tapi diupayakan.

Andy lahir dari sebuah keluarga yang terpisah. Ibunya di Surabaya, sang ayah di Jayapura. Kehidupan di ibu kota Jawa Timur itu penuh perjuangan. Keluarga kecil itu harus tinggal di sebuah garasi. Belum lagi kakak Andy kena polio. Mata Andy pernah juling. Pergaulannya di sana pun menyesatkan hingga ia sempat disebut-sebut akan jadi penjahat. Sampai kemudian ia pindah ke Malang sebelum hijrah lagi ke Jayapura. Di kota pusat provinsi Papua itu, Andy menghabiskan masa remaja. Di era ini pula kenangannya bersama sang ayah terbentuk. Dalam sebuah edisi Kick Andy, pria kelahiran tahun 1960 ini pernah terbawa emosi ketika seorang narasumber berkisah tentang ayahnya. Buku ini menjelaskan alasan di balik kejadian itu.

Dari buku setebal lebih dari 400 halaman ini, saya menandai sejumlah hal. Selain simpulan dari sebuah kisah, halaman yang memuat data dan fakta tentang beberapa kejadian juga menarik untuk ditandai. Misalnya kisah-kisah ludruk yang sering Andy saksikan. Dari Lutung Kasarung, hingga Sam Pek-Eng Tay. Ada juga informasi tentang kasus cessie Bank Bali. Hal lain yang juga saya anggap penting, adalah pengalaman Andy sebagai wartawan. Berkat kegigihannya memperoleh keterangan seorang narasumber, ia kerap mendapat kesempatan mewawancarai narasumber A1. Lim Sioe Liong misalnya. Ketika itu konglomerat dengan nama lain Sudono Salim ini sangat tertutup kepada pers. Maka wajar kalau kesempatannya mewawancara menjadi kebanggaan tersendiri. Dalam hal perolehan narasumber, Andy juga mengaku gigih. Ketika turut serta dalam proyek buku Apa dan Siapa—yang kemudian jadi pijakan karir pertamanya sebagai wartawan—ia mendapat kredit khusus karena mewawancarai lebih banyak narasumber. Di awal masa kewartawanannya pula, Andy sudah berkomitmen menolak pemberian dari narasumber. Raihan-raihan semacam itulah yang lalu mengantarkannya ke anak tangga karir jurnalistik yang lebih tinggi, bahkan menjadi pemimpin redaksi.

Dari pengalamannya sebagai pemimpin redaksi, ada beberapa kisah yang saya tandai. Suatu saat ketika memimpin Seputar Indonesia, ia memperjuangkan penayangan siaran langsung dengan durasi lebih panjang. Andy harus berdebat sengit dengan jajaran direksi demi izin itu. Permintaannya kemudian dikabulkan, dan tim pimpinannya mengalahkan program saingan di stasiun TV lain. Sebagai pemimpin redaksi, Andy juga harus mempertimbangkan keamanan tim lapangannya. Kisah mendebarkan itulah yang digambarkan ketika tim liputan RCTI harus diselamatkan dari amukan massa pro-kemerdekaan Timor Timur. Ketika memimpin Metro TV, ia juga menampakkan ketegasan dengan memecat reporter yang menolak memakai dasi.

Buku ini enak dibaca. Rasanya saya seperti menyaksikan program Kick Andy, karena banyolan khas dari tayangan itu tetap ada. Tengok halaman 213 ketika ia berkisah tentang pacar yang kemudian jadi istrinya. Ada kalimat dalam tanda kurung “maaf agak lebay supaya istriku senang membaca tulisan ini.” Meski begitu, biografi rilisan 2015 ini bukan berarti tanpa cela. Sebuah resensi yang saya baca di situs Penerbit Buku Kompas lebih jeli menyampaikan koreksi lebih tajam. Jadi, jika ini buku yang (sekali lagi) meneguhkan tekad saya menjadi wartawan, buku apa yang menggerakkan Kamu? []

Tuesday, May 30, 2017

Kedekatan Cek Toko Sebelah

Akhirnya, film yang paling kami tunggu-tunggu sepanjang 2016, tayang juga. Waktu nonton Ngenest kami puas sih. Jadi ketika Ernest Prakasa mau bikin Cek Toko Sebelah, kami ga sabar nonton. Dan memang seru. Film dimulai dengan perkenalan toko dan para tokoh di sekitarnya. Ada Afuk sang juragan toko sembako—diperankan secara apik oleh aktor Malaysia Chew Kin Wah. Dia punya anak bungsu namanya Erwin (Ernest Prakasa), seorang karyawan perusahaan multinasional dengan karir bagus. Anak sulungnya Yohan (Dion Wiyoko). Dia beda sama adiknya karena alasan yang akan kita tahu di sepanjang film. Ketika Yohan pinjam uang ayahnya dan berjanji mengembalikan, kata Afuk “ga usah janji kalau gak yakin bisa nepatin.”

Bagi saya, ini bukan adegan asing. Di dalam blognya, Ernest pernah berkisah tentang dia waktu masih kecil. Kala itu, ia pernah rewel dan dijanjikan ibunya akan dibelikan sesuatu kalau Ernest kecil berhenti merengek. Ernest menurut, tapi hadiah yang dijanjikan nggak dikasih. Di situlah ayahnya menegur sang ibu. Saya masih ingat kata-katanya: “setiap perkataan adalah janji.” Dialog di atas, saya yakin cara Ernest membumikan momen penting itu. Nilai-nilai kekeluargaan memang kental terlihat di film berdurasi hampir dua jam itu.

Di akhir film, Ernest bahkan berfoto bareng dan mencantumkan kredit khusus bagi kedua orang tuanya. Tema ini membuat Cek Toko Sebelah dekat dengan semua orang. Siapa sih yang nggak punya kedekatan dengan ibu. Apalagi ketika dia udah nggak ada. Jadinya, momen ini paling menyentuh. Terus, siap-siaplah buat emosi kita dikocok. Dari momen sedih adegan lucu langsung dateng. Dan sekali lagi, itu juga dekat dengan kita. Dengan kami sih khususnya. Haha. Misalnya adegan ini. Suatu ketika, Ayu—istri Yohan yang diperankan brilian oleh Adinia Wirasti—bikin kue nastar. Ternyata kuenya pedes. Adegan ini baru saya alami. Ceritanya Windi bikinin pisang goreng. Ternyata pisang gorengnya pedas. Saya juga heran saat itu kenapa pedas, dan gak protes. Haha. Baru saat nonton itu saya tanya ke Windi. Ketauanlah bahwa ternyata bumbu bala-bala yang sebelumnya dia masak, kecampur. Pantesan. Haha.

Yang juga kami nikmati dari film ini, dialognya. Semuanya terasa natural. Mereka seperti (atau nampaknya memang) menjadi diri mereka sendiri. Coba simak pembicaraan ketika Yohan dan teman-temannya lagi main kartu. Pembicaraan di atas meja ini mengalir lembut. Tanpa bermaksud mendikte penonton, dialognya berhasil mengungkap informasi bahwa Yohan DO dari universitasnya. Dia juga pernah “magang” di penjara. Kalau kata istilah mata pelajaran Bahasa Indonesia-nya mah, koherensi antar kalimatnya bagus. Dan bagi orang yang ngerti etika penyusunan gambar, koherensi antar gambar juga bagus. Di sini peran Cesa David Luckmansyah sang video editor perlu diapresiasi, meski ada satu sekuen yang menurut saya bisa lebih smooth (peralihan dari kisah perkenalan Afuk dengan tablet PC). Tapi toh itu pilihan kreatornya. No problemo.

Terakhir, saya membaca Cek Toko Sebelah ini sarat simbol. Sindiran lah. Misalnya tentang toko sembako menolak menjual lahan. Atau becerminlah di cerita kawanan main kartu Yohan yang memasang nukilan ayat suci dan berdoa sebelum berjudi. Ketika kita tertawa, sebenarnya kita menertawai diri sendiri. Sadar atau tidak. Tapi toh kata Charlie Chaplin, hidup itu memang komedi kok, andai kita melihat sebuah fenomena dalam pandangan menyeluruh. Tapi hidup juga tragedi, jika kita melihatnya dalam tatapan close up. Ah sudahlah, saya mulai sok serius. []

* Sebenarnya tulisan ini pertama kali dipublikasikan di sini tahun lalu

Tuesday, March 7, 2017

Mengenang Kelahiran Via Bukaan 8

Akhirnya saat ini tiba juga. Saya menghadapi tantangan yang saya buat sendiri: merasakan seberapa kangen sama anak-istri yang enggak tinggal bareng. Sebulan terakhir kami memang terpisah. Saya di Bandung, Windi dan Aksara—yang baru lahir—di Bogor. Tiap pagi, Windi selalu kirimi saya foto atau kadang video kondisi teraktual anak kami. Hampir tiap jam, kami juga berkirim pesan. Sekedar tanya “lagi apa?”. Hingga pada suatu ketika, tayanglah film Bukaan 8. Saya akan mengenang momen-momen kelahiran Aksara melalui film ini. Bukaan 8 adalah kisah tentang seorang keluarga muda yang ada di tahap krusial mereka: kelahiran anak pertama. Sang suami bernama Alam yang diperankan Chicco Jericho berpasangan dengan Mia, sosok yang dimainkan Lala Karmela. Intinya, film ini berkisah tentang lika-liku proses kelahiran anak pertama dengan sapuan warna karakter Alam yang slengean, dan keluarga Mia yang riweuh. Pilinan kisah di film garapan Angga Sasongko ini diperkeruh dengan macam-macam masalah yang mungkin dihadapi seorang pendengung, buzzer di Twitter. Maka, film ini sekaligus juga berkisah tentang gambaran sebuah profesi yang belum tentu bisa dialami banyak orang. Menarik. Yang menarik dari Bukaan 8, pertama visualisasinya. Di dalam film berdurasi sekitar dua jam ini, tidak sedikit percakapan media social dimunculkan. Dan percakapan itu berhasil ditampilkan dengan menarik. Saya suka bagian ini. Kedua, musiknya. Komposisi kru yang menggarap film ini, kurang lebih sama dengan tim yang mencipta Filosofi Kopi. Sapuan musik pengiring suasana yang digubah Mc Anderson terasa pas. Ada ketukan kick drum dan snare ketika suasana rusuh. Ada lirih melodi ambient ketika drama memuncak. Rasanya pas saja. Pemilihan lagu Payung Teduh yang sebenarnya musik produksi lama yang diolah ulang juga oke-oke saja. Oiya, lagu FSTVLT di awal film juga pas dengan aktivitas netizen di belantara Jakarta:
“hits namun kitsch hujan blitz padahal gulita naik naik ke puncak gunung kasta mati lelah karena terlalu berusaha”
Terakhir, saya tersentak dengan sebuah dialog. Ketika Alam dan seorang mandor ngobrol sambil ngopi. “Anaknya laki-laki atau perempuan?” Tanya sang mandor yang lalu dijawab ketidaktahuan. “Pasti dia bangga karena ayahnya ada pas dia lahir.” Tutupnya. Pernyataan itu rentan mengundang debat, tapi membuat saya bersyukur. Saya beruntung bisa hadir ketika Aksara datang ke dunia. Padahal saat itu handphone koordinasi biro Bandung tetap dibawa. Saya juga harus bersyukur, karena bisa maksain nonton, meskipun kepotong-potong karena harus bolak-balik keluar bioskop buat ngangkat telepon buat koordinasi. Saran saya, segeralah kamu—ayah-ibu baru dan calon orang tua baru terutama—nonton juga. Jumlah layarnya udah makin sedikit. [] 

Thursday, January 26, 2017

Target Pasar xXx: Return of Xander Cage

Tahun 2005, saya masih duduk di bangku SMA. Ketika itu saya tinggal di rumah kos, karena rumah orang tua jaraknya satu jam perjalanan dari sekolah. Di kosan, nggak ada TV. Padahal, malam itu ada film laga yang sangat ingin saya tonton. Akhirnya, seorang teman berbaik hati mengajak saya menginap di rumahnya. Terima kasih buat Gravito, berkat kemurahan hatinya, malam itu saya berhasil nonton film xXx, yang sebenarnya pertama kali rilis tahun 2002. Triple X, meskipun skor di imdb jelek, bagi saya film penting.

Rangkaian adegan ekstrim Xander Cage, ketika itu membangkitkan nostalgia saya semasa SD-SMP yang gandrung permainan skateboard Tony Hawk di Play Station 1. Triple X memang menjual aksi ekstrim. Motocross yang melompat tinggi melewati pagar duri, stiker “skateboarding is not a crime” dan terjun bebas dari jembatan buat merusak mobil mewah, masih saya ingat dari seri pertama xXx. Lalu datanglah seri keduanya, yang dibintangi Ice Cube. Ah yang saya ingat cuma mukanya yang selalu merengut. Awal tahun 2017, dibuatlah seri ketiga xXx, dengan kedatangan kembali pahlawan saya: Vin Diesel sebagai Xander Cage.

Sebenarnya peringatan bahwa film ini mengecewakan bukan sekali dua kali saya baca. Dan itu terbukti. Di menit-menit awal film. Gimana ceritanya Neymar yang keturunan Brazil, sehari-hari main bola buat sebuah klub sepak bola di Spanyol, ada di Cina sama perekrut agen xXx: Gibbons? Apa itu sebenarnya di warung makan Cina Barcelona? Bisa aja sih begitu, tapi masa sih tiba-tiba ada perampok yang masuk ke restoran timingnya pas si Gibbons bayar. Lalu dengan heroiknya Neymar sang calon penerus xXx menyelamatkan. Rentetan logika itu awalnya meragukan, tapi kemudian masuk akal ketika penonton dipaparkan cerita tentang Xander Cage yang diuji instingnya melalui rekayasa suasana. Pahamlah saya, itu kondisi bentukan Gibbons buat mancing potensi Neymar. Saya juga mulai paham, kenapa Gibbons dan Neymar harus bertemu di restoran Cina—dengan merk yang jelas terpajang (dalam bahasa mandarin). Jawabannya, karena film ini ditujukan bagi penonton Asia.

Perlu bukti lain? Saya kenalkan Anda ke Kris Wu, mantan personil boyband konsorsium Korea-China EXO. Berperan sebagai Nick, skill ekstrim rapper itu cuma pencet tombol play di set DJ—tunggu, apa dia cuma memandu joget ya? Saya lupa. Intinya kalau pun Kris Wu dihapus dari jalinan kisah perebutan Kotak Pandora—alat pengendali satelit—film ini akan tetap berjalan mulus. Lalu kenapa ia dimainkan? Untuk menarik fans Wu agar menonton. Pertanda ke-Asia-an film ini juga terlihat dari hadirnya Donnie Yen—pemeran utama trilogi Ip Man. Ada juga Tony Jaa, si jago muay thai itu. Selain itu, hadir pula Deepika Padukone yang menyegarkan.

Yang ingin saya sampaikan, ini sesuai dengan sebuah video yang pernah saya tonton. Bahwa Hollywood kali ini melirik Cina sebagai pasar potensial. Dalam video itu, dipaparkan pula bahwa saking pentingnya positioning Tiongkok di dalam film agar penonton utama merasa dekat, adegan dalam film Looper (2010) yang mulanya diskripkan di Perancis, lokasinya jadi Shanghai. Di luar urusan pertargetpenontonan di atas, xXx: Return of Xander Cage tetap menarik. Terjun bebas masih ada, ledakan tetap bombastis, Xander girls—emang Bond doang yang punya girls?—juga asik-asik. Agar ketika nonton seri ketiga xXx ini kepuasannya bisa maksimum, sebaiknya nikmati saja unsur utama trilogi ini: aksi ekstrimnya. []

Tuesday, January 24, 2017

Wiji Thukul dan Anak Perempuannya

Selama beberapa lama di akhir masa kuliah sekitar 6 tahun lalu, saya memasang potongan lagu Jeruji berjudul Lawan sebagai musik pembuka ketika menyalakan laptop. Liriknya lugas. Kental nuansa pembangkangan, dan dirangkum dengan seruan “lawan”.
Kami cinta negeri ini, tapi kami benci sistem yang ada. Hanya ada satu kata: lawan!
Belakangan, barulah saya tahu bahwa barisan terakhir di lagu itu mulanya dipopulerkan di dalam sebuah puisi berjudul Peringatan. Penggubahnya, Wiji Thukul. Sosok penyair cadel inilah yang kemarin saya tonton di film Istirahatlah Kata-Kata. Atau Solo, Solitude—versi judul bahasa Inggrisnya. Menonton Istirahatlah Kata-Kata, seperti menikmati puisi. Pelan, simbolik, sederhana—jika kesederhanaan puisi “hanya” berupa kata-kata, maka sederhananya film ini “hanya” rentetan adegan bernuansa sunyi. Bagi beberapa orang mungkin gaya ini mengundang rasa bosan. Saya aja ketiduran di beberapa skena—sehingga perlu tanya ke istri di sebelah tentang adegan yang kelewat. Dengan membuat penonton melewatkan layar, bagi saya bukan berarti film ini gagal, atau jelek. Justru ia berhasil menyampaikan suasana yang ingin dibagikan ke penonton. Ketika nonton What They Don’t Talk About When They Talk About Love, saya merasakan sensasi serupa. Misalnya ketika tokoh utama menghitung jumlah sisiran rambut. Setelah baca wawancara sutradaranya, barulah saya sadar bahwa adegan itu perlu untuk menunjukkan kepercayaan si tokoh terhadap suatu mitos, yang memang ketika dilakukan terasa membosankan. Pula demikian dengan Istirahatlah Kata-Kata. Potongan kisah persembunyian Wiji Thukul ketika menyelamatkan diri dari kejaran militer, menggambarkan pelarian yang senyap. Meski menampilkan ketegangan, unsurnya bukan terbentuk dari intensitas yang biasa ada di film laga. Cukup dengan pembicaraan semi interogasi seorang tentara di sebuah tempat pangkas rambut, penonton bisa merasakan ketegangan. Barangkali pengetahuan bahwa Thukul bukan ditangkap ABRI, yang mengurangi rasa khawatir kita akan nasib si tokoh utama di tangan prajurit yang bercukur itu. Rasa empati penonton, selain dipancing melalui tensi pencarian dan persembunyian, juga diundang melalui cara Thukul teringat anak yang ia tinggalkan. Dalam beberapa kesempatan, ketika ia bersembunyi di Pontianak, seringkali terdengar suara tangis bayi. Saat itulah naluri kebapakannya menyeruak. Saya jadi ingat tulisan Zen RS di status Facebooknya. Bahwa ia paham bagaimana beratnya meninggalkan seorang anak. Anak perempuan khususnya. Perasaan itu diungkap juga oleh Pandji. Dalam salah satu kisah di balik layar tur dunianya, komika ini mengaku paling tidak nyaman ketika mengingat sang putri, yang malah sembuh ketika ayahnya ada. Bagi saya yang belum tahu rasanya jauh dari anak, sepertinya itu tidak sedemikian menyiksa. Lalu pandangan saya tertuju ke perut Windi yang menggelembung matang. Dia cuma senyum. Katanya lihat aja nanti. Saya pun menerka-nerka, ketika pekan depan bertugas ke luar kota selama berminggu-minggu, saya akan sekangen apa dengan dia, dan calon anak perempuan kami. []

Monday, January 23, 2017

Kode Nusantara

Topik liputan saya untuk program 360 Metro TV berjudul Kode Nusantara, datang dari sini: sebuah buku sains populer tentang pengungkapan rahasia ilmiah dalam budaya nusantara. Naskah setebal hampir 200 halaman ini lahir dari telaah Hokky Situngkir, peneliti Bandung Fe Institute, sebuah institusi riset independen yang menyebut diri sebagai pusat studi kompleksitas. Ilmu kompleksitas berarti memandang sebuah objek penelitian dari berbagai sudut pandang sains. Dan ketika pisau kompleksitas itu dijadikan alat untuk membedah fenomena dan produk budaya di Indonesia, terungkaplah Kode Nusantara. Kode-kode atau nilai dasar budaya nusantara ini nantinya bisa digunakan untuk mengembangkan budaya lain berdasarkan identitas dasar bangsa.

Di bagian pertama, Hokky langsung membahas temuan terdasar berupa ciri khas gaya gambar bangsa nusantara setelah dibandingkan dengan lukisan bangsa eropa. Ada sebuah struktur khas yang dimiliki budaya nusantara. Namanya fraktal. Dari fraktal inilah temuan lain kemudian diungkap. Mulai struktur horizontal dan vertikal candi Borobudur yang membentuk perbandingan selaras, hingga pengukuran dimensi dalam gorga (ukiran khas batak). Penjelasan-penjelasan tentang fakta ilmiah dalam budaya nusantara ditampilkan dalam bahasa saintifik yang dikemas seawam mungkin, tapi tetap saja di beberapa halaman membuat kening berkerut. Buku ini sebaiknya dilengkapi glosarium atau kamus istilah di bagian akhirnya. Selain itu, Hokky juga menyelipkan beberapa kritik. Ini memudahkan pembaca merefleksikan pemaparan riset tadi ke kehidupan nyata. Misalnya ketika mengungkap batu bernada di gunung padang, ia juga menyayangkan kebiasan mistis masyarakat di objek budaya kuno itu. Atau saat Hokky menuliskan bahwa budaya batik yang menyebar di seluruh Indonesia ternyata merupakan contoh inovasi yang bisa dikembangkan dari nilai dasar budaya yang sudah ada. Dengan begini, pembaca lain yang ingin mengembangkan sebuah nilai budaya menjadi produk ekonomis, bisa terbantu. Cara Hokky memulai sebuah bab juga menarik. Saya terkesan dengan caranya memperkenalkan Charles Darwin kepada pembaca di awal bab kelima. Sisi lain hidup sang bapak evolusi itu diungkap sebelum namanya dibocorkan. Dari cara yang juga diperlihatkan di bab 7 (Bangsa-Bangsa yang Bernyanyi) ini, terbaca pula betapa mendalamnya pengetahuan Hokky tentang profil sejumlah ilmuwan. Sementara di bab akhir, Hokky memaparkan analisanya tentang fase kebangkitan sebuah bangsa, yang ternyata berkaitan dengan bagaimana cara mereka memperlakukan potensi atau identitas budaya.
Baik kebangkitan bangsa-bangsa Eropa, Amerika Serikat, maupun Jepang, dimulai dengan revitalisasi warisan budayanya. Bangsa yang bervisi peradaban sepertinya memang harus mengikuti tahapan tersebut, tak terkecuali Indonesia, jika keragaman budaya yang ada dilihat sebagai asset demi inspirasi yang mendunia. []

Sunday, January 8, 2017

Mantra Layar Kaca

Sejak tahun 2013, saya bertugas sebagai reporter di program Mata Najwa Metro TV. Episode pertama yang ada kerja saya di dalamnya, adalah tayangan berjudul “Rindu Daripada Soeharto”. Setelah itu, selama sekitar 14 bulan saya belajar di program yang dimotori Najwa Shihab itu. Tahun 2013, Mata Najwa sedang gencar memulai lagi format talk show yang digelar di kampus-kampus: Mata Najwa On Stage.

Saya pertama kali bertugas di tahap ini, ketika MOS digelar di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, 14 Desember 2013. Kala itu saya jumpa dengan seseorang berkacamata bundar dan rambut pendek. Belakangan kami berkenalan. Ternyata ia Fenty Effendy, yang dua tahun kemudian menerbitkan buku tentang Mata Najwa bejudul Mantra Layar Kaca. Mbak Fenty—demikian saya kemudian menyapanya—sebenarnya bukan orang asing.

Ia pernah menjadi produser sebuah program dialog di Metro TV. Pantes Mbak Fenty terlihat akrab juga sama Mbak Nana (panggilan Mbak Nana) dan para produser Mata Najwa saat itu (Mbak Citra, Mas Nurdhian, Mas Cahyadi). Kedekatan itu pula yang nampaknya membuat buku gubahannya terasa mampu menggali hal-hal detil, karena bisa masuk ke momen-momen kecil yang justru punya kisah tersendiri. Saya ingat ketika episode yang menghadirkan wali kota Surabaya Tri Rismaharini, akhirnya diputuskan berdiri sendiri. Sebelumnya, wawancara Risma yang menangis ketika mengisahkan suasana prostitusi, akan digabung dengan wali kota dan bupati dari daerah lain. Kisah ini ternyata turut di kisahkan. Tulisan Mbak Fenty juga menyelipkan rahasia di balik ungkapan para narasumber yang ketika itu diperbincangkan.

Di akhir wawancara dengan Megawati, presiden RI ke-5 ini menangis ketika mengungkapkan cita-citanya: Indonesia Raya. Dalam episode yang sama, Megawati juga terkesan dengan pertanyaan tentang almarhum suaminya, Taufik Kiemas. Bagaimana cara Najwa bertanya? “tidak perlu rumit merumuskan pertanyaan. Dengarkan dengan seksama jawaban narasumber Anda dan galilah hal yang belum terungkap dari jawaban itu.” (hal. 188) Selain kisah dari ruang rapat studio taping Mata Najwa, Mantra Layar Kaca juga menyajikan data dan fakta tentang episode yang pernah diulas.

Secara garis besar, pembaca bisa paham tentang apa yang terjadi dengan kasus bailout Bank Century. Dalam bab lain, kronologi kasus cicak lawan buaya juga dihadirkan. Meski informasi dan tips di atas memberi manfaat tersendiri bagi pembaca (khususnya wartawan), berbagai paparan di dalam buku ini lebih terasa sebagai glorifikasi kesuksesan Mata Najwa. Untungnya, otokritik bagi program yang tayang sejak 2009 ini juga tetap ada (opini Yunarto Wijaya di halaman 315).

Sekarang, buku lain tentang Mata Najwa sudah terbit, judulnya Catatan Najwa. Buku yang terakhir itu isinya rangkaian kalimat pengantar dan penutup dalam setiap episode program yang tayang tiap Rabu malam itu. Tranformasi identitasnya ke berbagai bentuk tadi, nampaknya menunjukkan bahwa Mata Najwa, memang Mantra Layar Kaca. []

Wednesday, January 4, 2017

Punan Semeriot

Meski semalam tidur larut setelah berpesta ulang tahun sekolah, Aken tetap bangun pagi. Ia sudah ada di pinggir sungai dengan tas barunya yang berisi alat mandi dan alat tulis.Buku tulis itu ia keluarkan. Sebuah pensil berujung tumpul mengiringinya. Tak ada pisau, tidak ada serutan. Satu-satunya pulpen di tangan saya berikan untuknya. Selanjutnya, Rina mengambil alih. Dengan telaten ia mengajari Aken satu per satu menulis huruf dan angka.

Catharina Megawati alias Rina, adalah salah satu pengajar Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS), sebuah sekolah nonformal yang diinisiasi Sri Tiawati, keponakan Rina. Rata-rata seminggu sekali, Sri dan Rina mengajar anak-anak suku Punan Semeriot di kampung halaman mereka. Meski sebenarnya itu tidak mudah. Rina dan Sri tinggal di Desa Kelembunan, Kecamatan Sekatak, Bulungan, Kalimantan Utara. Untuk menuju Sungai Semeriot di Desa Ujang, mereka perlu menempuh perjalanan sekitar lima jam. Perjalanan panjang ini tidak mudah.

Mereka harus menerjang jeram dengan perahu ketinting, sebuah sampan seukuran kano yang maksimal ditumpangi empat orang. Perjuangan menuju Desa Ujang tambah berat jika air sungai sedang surut. Beberapa kali mereka harus turun dari perahu dan menariknya ketika tersangkut bebatuan dasar sungai. Meski tidak mudah, keduanya tak menyerah. Kini, satu tahun sudah Sekolah Adat Punan Semeriot telah beroperasi. Tiga puluhan anak di perkampungan kecil suku Punan Semeriot itu tidak lagi asing dengan pendidikan. Dan Aken, sudah mengenal abjad, angka, dan membaca—meski terbata-bata.

Aken

Aken adalah anak pertama dari lima bersaudara. Enam sebenarnya. Adik pertamanya meninggal karena sakit, entah apa.Tapi saya menduga, penyakit yang membunuh sang adik bukan yang tak bisa disembuhkan. Kesan itu saya dapat setelah mendengar kisah Liana, saudara sepupu Aken. Mereka seusia, sekitar 10 tahunan. Ibunda Liana meninggal karena sakit krungut—demikian Liana menyebutnya. Krungut yang ia maksud adalah cacar.

Mestinya, ibu Liana bisa diselamatkan jika akses pelayanan kesehatan terjangkau. Kenyataannya, di perkampungan berisi 20 rumah itu, fasilitas umumnya cuma gereja. Perkampungan Suku Punan Semeriot sebenarnya berdiri belum lama. Rumah yang saling berhadapan itu tidak mereka tempati setiap hari, karena para Punan Semeriot lebih suka berkelana. Mereka menjelajahi suatu wilayah hutan, lalu berpindah ke hutan bagian lain untuk berburu makanan dan menyambung hidup. Kebiasaan itusekarang mereka hentikan, demi dua alasan.

Pendidikan

Ditipu. Itu salah satu pengalaman pahit Jhonidy Apan ketika sebagai anggota suku Punan Semeriot, ia berinteraksi dengan dunia luar—peradaban yang mengenal uang. Jhoni berkenalan dengan alat tukar itu pada tahun 1991. Senyumnya tersungging ketika mengenang kebingungannya karena mendapat uang kembalian dalam sebuah transaksi. “Saya kasih satu lembar, tapi malah dikasih lagi dua lembar,” ungkapnya. Raut muka serupa juga tampak ketika pria 48 tahun ini mengisahkan kali pertama suku Punan Semeriot mengenakan baju berupa kain. Sebelumnya, mereka memakai kulit kayu talun yang mereka dapat dari meladang di dalam rimba. Hasil meladang itu pula, yang kemudian menjadi bekal suku Punan Semeriot untuk berinteraksi dengan kehidupan kapitalistik.

Kala itu Jhoni menjual kayu gaharu yang ia dapat dari dalam hutan. Dari seseorang yang membelinya di kota, Jhoni mengantongi uang 200 ribu rupiah. Belakangan dia baru tahu, bahwa harga sebenarnya yang pantas ia dapat bisa mencapai 10 juta rupiah. Tak ingin kejadian serupa terulang, pria yang kini menjabat Kepala Lembaga Adat Dayak Punan Kecamatan Sekatak itu, menghentikan kebiasaannya berladang. Tahun 2013, ia dan anggota kelompoknya mendapat bantuan pembangunan rumah dari pemerintah. Sebuah perkampungan kecil pun terbentuk. Jhoni kemudian mengupayakan satu solusi agar anggota suku punan semeriot tak lagi mempan ditipu: pendidikan.

Menghadirkan guru ke perkampungan Punan Semeriot, ternyata bukan perkara gampang. Sebuah ketinting ia siapkan khusus untuk sang pengajar. Gaji pun sudah disiapkan bupati, meski kemudian tak bertahan lama. “Ternyata 6 bulan, jadi guru itu sudah pindah. Nah pindah mungkin bagaimana dia cari yang paling mahal,” Jhoni menjelaskan. Seorang pendeta juga pernah bertugas di kampung Punan Semeriot, dengan sarana yang kurang lebih serupa. “Kami waktu itu siapkan juga susu anaknya, makanannya, jatah-jatahnya, kami siapkan. Dan uang transportasinya, kami kasih. Mutasi lagi,“ papar Jhoni.

Kini, harapan Jhoni agar anak-anak Punan Semeriot berpendidikan, bergantung di pundak Sri dan Rina. Keduanya bergerak sukarela mengajari tiga puluhan anak-anak. Dari menulis, membaca, menjala ikan, hingga belajar gosok gigi. Ilmu adat istiadat juga tak luput diwariskan seorang tetua di sekolah bentukan dua perempuan Punan Kelembunan itu.

Hutan Adat VS Hutan Negara

Alasan kedua yang membuat suku Punan Semeriot berhenti hidup nomaden, adalah perubahan hutan. Sejak 2009, perusahaan pengolahan kayu masuk ke hutan yang biasa dijelajahi para Punan Semeriot. Masalah muncul ketika tidak ada batas antara hutan adat dan hutan yang boleh dikelola perusahaan. Sebenarnya, sudah ada aturan tegas yang membagi peruntukan hutan bagi kedua belah pihak. Pada tahun 2013, Mahkamah Konstitusi menerbitkan Putusan Nomor 35/PUU-X/2012 dalam perkara pengujian Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Di dalamnya disebutkan bahwa hutan adat bukan hutan negara, melainkan hutan hak milik masyarakat adat. Artinya, hutan adat akan dibebaskan dari kewenangan negara untuk menjadikannya hutan yang dikelola perusahaan. Dua hari jelang tahun berganti menjadi 2017, presiden mengeluarkan sejumlah wilayah adat dari konsesi perusahaan. Keuntungan serupa itu bisa didapat Punan Semeriot ketika mereka sudah punya batasan wilayah yang jelas. Dan hingga kini, proses pemetaan masih berlangsung.

Jhoni 

Jhoni mengajak saya menembus rerimbunan semak. Di balik tutupan dedaunan, kemudian terkuak jalur untuk pejalan kaki. Tanahnya basah. Beberapa jejak kaki tanpa alas masih tercetak jelas. Itulah jalur yang biasa ditempuhnya untuk meladang ke hutan. Meski sudah punya permukiman permanen, ia dan keluarganya tak bisa setiap saat tinggal menetap. Bersama istri dan anak-anaknya, Jhoni masuk ke hutan hingga satu minggu. “Di mana sungai yang ada ikan, atau di mana gunung yang ada binatang, ya kita tuju itu. Itulah kehidupan punan yang sebenarnya.” Jhoni menutup percakapan. []