Wednesday, June 13, 2012

Solum

Seorang mahasiswa terlempar ke masa depan dan menyadari bahwa dosen yang mengajarnya, telah mengembangkan temuan yang bisa berakibat fatal jika disalahgunakan. Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana akhirnya teknologi itu digunakan? Jawaban itu ada dalam film Solum ini.





Solum terkesan dibuat dengan perlengkapan seadanya. Meski demikian, ide yang disajikan begitu segar, unik dan mampu memancing emosi penonton untuk turut merasakan ketegangan. Film ini sebenarnya berpotensi menjadi karya yang berkesan dalam, jika beberapa hal berikut tidak perlu terjadi. Ketika Diraf bertanya dimana ia berada, wanita yang bersamanya begitu fasih menjelaskan bahwa ia berada di Bogor pada tanggal dan bulan sekian. Sebenarnya ia cukup menyatakan bahwa ia di Bogor. Penambahan Desember 2011 malah mengesankan bahwa si wanita itu tahu Diraf terjebak dalam lorong waktu. Wanita itu juga terkesan tak ingin tahu tentang Profesor Diraf yang hidup lagi, bahkan jauh lebih memuda. Padahal, ia cukup punya banyak waktu untuk menanyakan itu. Keberadaan mesin waktu, juga mengundang tanda tanya tersendiri. Bagaimana bisa Diraf maju ke dimensi dengan jarak berpuluh-puluh tahun? Bagaimana bisa profesor yang menjadi dosen Diraf tidak tertarik dengan apa yang membawa Diraf ke masa depan? Dibalik keganjilan tadi, sebenarnya Solum ini menarik disimak. Visualisasi yang ditampilkan sudah menunjukkan bahwa dengan alat yang sepertinya seadanya, para kreator film itu sudah menghasilkan luaran maksimal. Pemakaian musik latar, pembagian sekuen dengan bunyi ledakan, penggambaran adegan kejar-kejaran, sudah cukup nyaman dinikmati di film ini. Solum, bisa jadi film fiksi sains yang dicari, ketika di masa depan nanti, Ciptran Production House telah menghasilkan film sci-fi yang membanggakan Indonesia di mata dunia.

Text by Rheza Ardiansyah
Video by Attar Fariduddin

Thursday, June 7, 2012

Kemegahan Nidji di Malam Penganugerahan IPB


Malam Penganugerahan IPB (MPI) 2012, sukses diadakan pada Minggu (3/6/2012) yang mengusung Tema Alunan Cinta dalam Simfoni Alam membawa warna merah menjadi nuansa utama pada malam tersebut. Pembukaan acara menampilkan Tim Perkusi Flavalicious MAX!! dan berkolaborasi dengan Tim Tari Bendera yang mewakili kesebelas fakultas yang ada di IPB. Hadir secara khusus. Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto M.Sc mengenakan jaket kulit hitam. Celana jeans dan kacamata hitam disambut dengan gemuruh tepuk tangan berhamburan dari penonton yang memenuhi seisi gedung GWW.

Wednesday, June 6, 2012

Endah N Rhesa dan Tangga meriahkan IPB Green Living Movement 2012 #2


Penampilan  performance art Tari Saman dari UKM Gentra Kaheman IPB membuka malam Cultural Performance dan Closing Ceremony acara IPB Green Living Movement 2012 #2. Penonton serentak berteriak ketika Endah N Rhesa, sepasang duo luar biasa ini memasuki panggung dan memainkan lagu pertama mereka yaitu Blue Day. Alunan lagu Tuimbe diaransemen dengan Yamko Rambe Yamko dipersembahkan Endah N Rhesa untuk kawan-kawan di Bagian Timur Indonesia dengan panjatan doa agar mereka mendapat kualitas pendidikan yang setara dengan teman-teman di Pulau Jawa. Seisi penonton GWW berteriak riuh ketika Wish You Were Here dinyanyikan dan dipersembahkan kepada para kekasih yang menjalan Long Distance Relationship (LDR),  juga sederet lagu lainnya yaitu I Don’t Remember, When You Love Someone dan Baby It’s You dibawakan dengan sangat apik oleh Endah N Rhesa pada malam tersebut. Girlband besutan UKM MAX!! IPB yaitu Cherry Max pun dengan sangat cantik mewarnai panggung Cultural Performance dan Closing Ceremony.