Friday, November 30, 2018

Sustainability


Dua hari terakhir saya ikut pelatihan tentang menulis berita berbasis data laporan keberlanjutan atau sustainability report alias SR. Apa itu SR? Saya juga baru tau di acara AJI Bandung ini, bahwa SR itu semacam laporan tahunan perusahaan yang berisi tentang catatan pelaksanaan prinsip ramah sosial dan lingkungan, tapi tetap mengutamakan profit. Oke, kalimat pembuka ini bukan awal yang bagus buat menarik kamu melanjutkan baca. Haha. Tapi mungkin kamu juga perlu tau apa yang saya baru tau.

Jadi, sekarang ini kesadaran hidup ramah lingkungan sedang tumbuh—karena planet bumi makin rusak. Kita bisa lihat film dokumenternya Leo diCaprio berjudul Before The Flood. Di film itu, diceritakan bahwa sebagai negara penghasil polutan terbanyak di dunia, Tiongkok sudah mulai menggunakan energi ramah lingkungan. Di India juga gaya hidup hijau mulai dijalani. Pemerintah Amerika juga komitmennya begitu, sebelum Obama diganti Trump. Hehe.

Nah, ada sebuah system pengawasan perusahaan agar ramah lingkungan. Namanya SR tadi. Di Indonesia, hampir 9% perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia sudah menerbitkan laporan keberlanjutan. Laporan semacam inilah yang perlu kita promosikan terus agar nanti di masa depan, prinsip ramah lingkungan jadi pertimbangan sebuah perusahaan untuk didukung publik. Dibeli sahamnya, atau produknya dilanggan misalnya. Bagi wartawan, cara untuk mengarusutamakan ide ini, tentu saja dengan melakukan peliputan. Rancangan peliputan itulah yang saya presentasikan di hari terakhir pelatihan.

Intinya, saya mengajukan usulan peliputan tentang SR bagi perusahaan tekstil. Ide ini berasal dari film dokumenter yang saya tonton semalam. Judulnya: True Cost (2015). True Cost mengungkap harga riil di balik banderol murah busana bermerk yang kita beli. Ternyata, di belakang harga miring baju yang trennya cepat berganti, ada upah buruh yang dipangkas. Belum lagi upah nonfinansial yang harus direlakan.

Upah buruh jadi variabel yang paling memungkinkan dikurangi karena pabrik tekstil berlomba menjual produknya ke merk-merk besar dengan harga murah. Itu jika dapur produksi mereka mau tetap ngebul. Sutradara Andrew Morgan mengenalkan kita ke korban dan pahlawan industri tekstil. Melalui seorang ahli, dia juga menganalisa satu buntut sistem kapitalisme/ konsumerisme ini. Lalu apa solusinya? Yang jelas bukan sistem khilafiyah. Apalagi komunisme. Hehe. []

Wednesday, October 31, 2018

Bana

Belantara internet raya mengantarkan saya ke sebuah nama: Arlian Buana alias Bana. Bukunya berjudul Merry Christmas Felix Siauw. Bisa didownload gratis. Berupa file pdf. Buatan tahun 2012. Buku lama. Tapi gapapalah saya baca juga. Biar plong pas bersihin folder downloads. Tebalnya seratus sekian halaman. Isinya tentang dirinya sendiri dan sejumlah topik pemberitaan nasional. Lantas kenapa bawa-bawa nama Felix Siauw?

Saya bacanya skimming. Di bagian awal, Bana memperkenalkan dirinya sebagai alumni sebuah pesantren—yang juga pernah jadi tempat cendekiawan muslim Komarudin Hidayat mondok. Penulis kemudian kuliah di tempat Komarudin Hidayat jadi rector: UIN Syarif Hidayatullah. Dari situlah dia kemudian bercerita tentang pergaulannya. Dari Putut EA sampai Ariel Noah. Selanjutnya, Bana bahas beberapa topic berdasarkan pengalaman dan paradigma pribadinya. Contoh, soal PKI dan Yahudi. Dia bertanya (ke Bapaknya): “mengapa orang kita tidak membenci Belanda dan Jepang? Mengapa kita lebih membenci PKI dan Yahudi?”

Dengan bahasa ringan ala tulisan mojok.co—salah satu artikelnya juga dikutip—Bana sebenarnya sedang menjelaskan tentang buku John Roosa: Dalih Pembunuhan Massal, film Pengkhianatan G/30/S/PKI, sampai menganalogikan peristiwa itu dengan alur kisah film Game of Thrones. Jawaban pertanyaan di atas, ternyata pertanyaan juga:
“mengapa kita harus memendam kebencian? Untuk apa kita membenci dan bermusuhan, demi siapa?” (hal. 63)
Tapi yang asik dari tulisan geng mojok macam Bana ini, gaya penyampaian opini melalui satir. Contohnya di judul “Menjadi Muslim Pintar bersama Palu-Arit”. Ketika dia menulis:
“Beberapa waktu sebelumnya, pernah pula PKS-P menunjukkan kecerdasan yang jenuin tiada banding. Kira-kira dia mencuit begini: Lihat dong, PKS-P mendapat kunjungan lebih dari empat juta sehari tapi servernya tidak pernah down. Luar biasa. Saya kehabisan kata-kata.” (hal. 114-115)
Fakta-fakta berikutnya setelah paragraf itu, tentu saja menyanggah impresi “luar biasa” dan “kehabisan kata-kata”. Itulah tulisan satir. Inti gagasannya, merujuk ke aksi Gus Dur soal isu ini:
“Maka lihatlah, Gus, jangankan mengobati luka, melihat simbol palu-arit saja kami masih parno. Kami kesulitan bersikap adil, Gus, karena kami lebih senang merawat kebencian seperti hobi kami mengasah batu akik.” (hal. 117)
Felilx Siauw-nya mana? Ada di tulisan berjudul “Menjadi Penggemar Berat Felix Siauw”. Di situ tertulis:
“Berkat perjuangan Ustadz Siauw, Al Quran dan Sunnah telah jadi hukum di negara kita. Indonesia secara resmi sudah menerapkan Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan.” (hal. 121)
Ciri bahwa puja-puji penulis terhadap Siauw berupa satir, ada di kalimat terakhir: “Babi, Nody Arizona membangunkan saya dari mimpi.” Dan pembahasan Felix Siauw tidak berhenti di sana. Masih ada judul lain yang bisa bikin "pengikut" Felix di media sosial blingsatan. []

Saturday, September 1, 2018

Bahasa


Tengah pekan ini, Bandung diguyur hujan gerimis. Nggak deras banget. Cukup sampai bikin aroma petrichor menguar. Semacam ngemrat kalau istilah bahasa sundanya. Artinya membasahi. Tekniknya dengan menyebar titik air ke sebidang tanah. Bisa disemprot tipis-tipis atau air disebar pakai gayung atau ember. Biasanya objeknya lapangan.

Saya jadi ingat opini Dandhy Laksono, tentang ancaman kepunahan bahasa daerah. Menanggapi berita tentang menteri pendidikan yang berkomentar tentang penyederhanaan bahasa daerah. Salah satu inisiator Alianji Jurnalis Independen itu, menyitir data bahwa 11 bahasa daerah sudah punah dan 16 lainnya terancam. Lalu, dia bercerita tentang nasib Bahasa Dawan berdasarkan pengalamannya mengunjungi kerajaan Boti di NTT.

Baru-baru ini saya lagi bacabuku tentang bahasa. Judulnya Gara-Gara Alat Vital dan Kancing Gigi: Bunga Rampai Bahasa. Penulisnya Gustaaf Kusno, seorang dokter gigi militer. Dia rajin nulis di Kompasiana sampai akhirnya terbitlah buku ini sebagai kumpulan tulisannya di situs blogging itu. Buku terbitan 2013 ini udah dibaca sampai halaman 90 dari hampir 190 halaman. Di dalamnya ada 6 tema besar yang dipecah lagi jadi sekitar 9-10 bab. Saya sendiri sudah khatam baca tulisan-tulisan bertema Serunya Indonesia! dan Asal Bahasa.

Dari buku ini, saya jadi tau sejarah sejumlah kata. Misalnya istilah kongkalikong yang ternyata diserap dari bahasa belanda “konkelen” (bersekongkol). Atau misalnya pengetahuan baru bahwa istilah “hutan” sebenarnya muncul dari nama perusahaan di masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1916 yang memuat kata “houtaankap”, artinya penebangan kayu (hout: hayu, aankap: memangkas).
Buku ini juga senada dengan argumen Dandhy bahwa bahasa itu menyimpan pengetahuan. Bukan cuma alat komunikasi. Kata ngemrat atau emrat di atas misalnya. Maka tepat pula kalau Dandhy bilang:
Bila sebuah bahasa lokal punah, tak ada lagi referensi pengetahuan lokal yang bisa dirujuk []

Thursday, August 16, 2018

Grohl

Kamis minggu lalu, Foo Fighters merilis video musik/ dokumenter tentang dave grohl selama 30 menit. Delapan menit awal video itu bercerita tentang 22 menit performa musik yang akan dia tampilkan. Dia lalu mengenalkan anak-anak dari sebuah studio musik bernama Join The Band. Di studio berumur 20 tahun itulah anak Dave belajar main musik. Dia juga mewawancarai pemilik studio dan anak-anak didiknya. Dari perbincangan itu, Dave kemudian merasa melakukan hal yang sama. Memperbaiki diri, mencoba hal baru yang belum pernah dia lakukan. Salah satunya, merekam lagu sepanjang sekitar 23 menit dengan 7 instrumen yang dia mainkan sendiri secara live recording. Jadilah: Play.

Kalau dipecah, lagu Play menurut saya setidaknya bisa jadi tiga sub lagu. Judul pertama bisa ada di interval menit ke-9 sampai 19:11. Potongan kedua di rentang 19:12-23:27. Nah sisanya, masih di hitungan satu sub lagu, meskipun ada bagian melambat jelang akhir durasi. Yang menarik, intro paruh ketiga lagu ini, rasanya mirip intro lagu Smells Like Teen Spirit milik Nirvana.

Dave Grohl memang alumni trio Nirvana, sebagai penggebuk drum. Akhir-akhir ini, saya lagi baca lagi biografi Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal tahun 1994 karena bunuh diri. Di biografi berjudul Heavier Than Heaven itu—dicomot dari nama salah satu tur promo album Nirvana di awal karir—ada kisah tentang pertama kali Dave masuk Nirvana.

Dalam bab berjudul Love You So Much, dikisahkan bahwa kala itu (Mei-Desember 1990), Nirvana gonta-ganti drummer. Dari Chad Channing sampai Dan Peters. Mereka nggak betah di Nirvana karena tabiat gitaris bandnya yang destruktif.
“Sudah menjadi hal umum bagi Kurt saat itu untuk menerjang drum Chad..Di Boston, Kurt malah sempat melemparkan satu teko kaca penuh air ke arah Chad, yang untung saja meleset beberapa inci dari kupingnya.” (hal. 215)
“Show itu menjadi show Dan Peters yang pertama dan terakhir bersama Nirvana meski saat itu dia bermain amat baik. Pendatang baru itu bernama Dave Grohl, 21 tahun, yang aslinya berasal dari Virginia.” (hal. 227)
Buku  Heavier Than Heaven belum khatam lagi saya baca. Sebelum ini, saya khatamkan biografi karangan Charles R. Cross ini tahun 2007 atau 2008. Barangkali kalau dibaca dengan bekal pengalaman dan pengetahuan di usia yang lebih tua 10 tahunan, ada persepsi lain yang muncul dari bacaan satu ini. []

Monday, August 6, 2018

Kolaborasi

Intan mengangkat tangan. Dia memang paling aktif pagi itu. Matanya selalu memancarkan binar antusiasme. Meskipun yang dia kisahkan sebenarnya cerita pilu. Intan yang kini duduk di kelas 11, punya seorang kerabat yang gagal melanjutkan studi ke SMA. Musababnya, sistem zonasi. Maksudnya, siswa yang domisilnya jauh dari sekolah yang ingin dia masuki, saat seleksi akan kesulitan buat bersaing dengan siswa yang lebih dekat ke sekolah. Orang yang diceritakan Intan akhirnya lanjut belajar di SMK, karena tinggal di luar kecamatan Limbangan.

Soal sistem zonasi, Novia punya pendapat beda. Siswa kelas 12 yang menyandang sabuk cokelat karate ini memandang skema penerimaan siswa baru tahun ini sudah bagus. Katanya agar kualitas pendidikan merata. Benarkah demikian? 

Saya lalu bertanya ke siswa kelas satu. Sayangnya nggak ada yang berani bercerita di hadapan 20 orang lebih di ruangan itu. Saya sampai harus minta tolong Yayu sang ketua OSIS buat tunjuk adik kelasnya biar bicara. Saya memaksa karena memang mereka harus berani berpendapat di depan banyak orang. Dan keberanian itulah salah satu hal yang ingin kami tumbuhkan di dalam diri adik-adik kami, pelajar di Limbangan (khususnya).

Saya bercerita tentang pengalaman kami bertiga: Reza, Rizki, Aldi. Kami hadir ke SMAN 13 Garut buat berbagi pengalaman. Persis semacam kelas inspirasi (KI), cuma targetnya aja yang beda—KI bicara di depan siswa SD, kami presentasi di hadapan remaja SMA. Tapi golnya sama. Kami mau, anak-anak dari Kecamatan Limbangan bisa punya banyak pilihan untuk berprofesi. Untuk berkontribusi ketika indonesia menuai bonus demografi.

Tulisan ini, selain berupa ulasan sekaligus juga ajakan buat siapa pun profesional asal Limbangan Kabupaten Garut (khususnya), untuk ikut berbagi pengalaman. Tentang masa SMA yang menyenangkan sekaligus menegangkan, tentang dihidupi dan menghidupkan renjana (passion), tentang hal-hal positif yang bisa ditiru remaja di kampung kita. Bisa jadi, dari SMA Limbangan akan lahir seorang sutradara visioner di kemudian waktu. Hari ini dia getol bikin film, bermodal kamera handphone. Siapa sangka pula, nanti bakal ada pengarang berpengaruh dari SMA ini. Sekarang dia masih cari cara publikasikan kumpulan tulisannya. Saya bertemu mereka. Ngobrol sama mereka. Di Limbangan. Dan nggak mau mereka jadi bagian dari video lagu Lentera Jiwa yang menampilkan orang-orang dengan keseharian di bidang kerja yang tidak mereka suka—kami sempat tayangkan video itu sebagai selingan.

Di kesempatan berikutnya, mereka mau dikenalkan lagi dengan luasnya dunia. Bukan cuma dari mata jurnalis, farmasis, geofisis. Sambil menunggu kepastian jadwal pertemuan kedua, untuk sementara kami berkomunikasi dulu lewat grup whatsapp. Bisa bahas pelajaran sekolah, latihan berbahasa inggris, atau mungkin saling bantu kalau ada kesulitan di aplikasi belajar coding yang kami pakai. Intinya, kita berkolaborasi. Mari!

Tuesday, July 31, 2018

Semiotika

Saya datang ke Spasial sekitar jam 19:45 hari Minggu lalu. Tadinya, saya malah akan hadir di sana sejak jam 16, sebelum akhirnya tahu bahwa Semiotika naik panggung jam 20. Band post-rock asal Jambi itu lagi sering saya dengar. Makanya pas mereka mampir ke Bandung dalam rangkaian tur pra-acara Soundrenaline, saya sempatkan nonton langsung. Biar merasakan musik mereka secara lebih hidup.

Trio Bibing-Riri-Gembol langsung membunyikan instrumen begitu set alat mereka siap. Tanpa perkenalan, tanpa judul lagu.

“Soalnya kita juga kebanyakan kalau live pun kadang-kadang jarang bilang ini lagu apa,” Bibing sempat jawab pertanyaan saya soal judul lagu. Setelah mereka tampil. “Kita nutupin mata, terserah kalian mau gimana, kalian mau moodnya gimana pas degerin musik kita, terserah. Jadi judul-judul itu ya itu dari kita, dari sudut pandang kita.”

Sejak dibentuk tahun 2014, Semiotika sudah buat satu album berjudul Ruang (2015) dan satu minialbum Gelombang Darat (2018). Menariknya, lagu pertama yang mereka rekam ada di minialbum yang dirilis empat tahun kemudian. Judulnya Delusi. “Aransemennya susah.” Kata Bibing soal lagu ketiga yang mereka bawakan juga di Bandung malam itu. Dalam penampilan itu pula, Bibing mengaku bahwa mereka bahagia bisa sepanggung dengan Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS), band post-rock bentukan 2007. Katanya di atas panggung, kalau UTBBYS nggak ada, Semiotika nggak ada juga.
“Aku suka emang kayak instrumental, dari dulu aku suka. Bang Riri ngasih suasana baru. Jadi pas di kedai itu—Bibing dan Gembol mengelola sebuah kedai—kan dari siang sampe malem kan dengerin semua lagu. Cuma yang pasti pas malem-malem, kita lagi beres-beres, nyuci piring, buat mie, itu dengerinnya kebanyakan Under (The Big Bright Yellow Sun), Explosions (In The Sky). Ini band mana ya? Band bandung. Anjir keren. Jadi kayak, pas udah bosen gitu, abis gawean di kedai, ‘ayo ngejam’. Padahal ada band-band sendiri. Gembol ada band hardcore, Riri ada band dub-ska”
Waktu saya dan Bibing bicara soal band yang menginspirasi mereka, saat itu pula obrolan kami terpotong. Didi sang pencabik bass UTBBYS pamit pulang.

“Sukses, sukses!” kata Didi singkat setelah bertanya sampai kapan Semiotika di Bandung.

“Kang. Nuhun. Nuhun nya.” Bibing berbahasa Sunda dengan logat khas orang Sumatera.

“Edankeun!” kata Didi. Bibing membalas dengan meneriakkan kata yang sama. []

Saturday, July 21, 2018

Pop Kosong


Seorang komedian bernama Trevor Noah, punya program bernama The Daily Show yang disiarkan rutin di youtube. Isinya komedi tentang sebuah berita yang sedang hangat buat dibahas. Tanggal 17 Juli lalu, Trevor bahas tentang kemenangan Perancis di piala dunia. Dengan gaya satir dia bilang:
“Africa won the world cup”
Pembawaan komedi seperti ini, ternyata dianggap serius oleh pemerintah Perancis. Duta besar Perancis untuk Amerika Serikat bahkan sampai bikin surat buat Trevor dan mengoreksi opininya di atas dengan penjelasan panjang lebar. Meski begitu, komedian asal Afrika Selatan yang masuk daftar 100 orang berpengaruh tahun 2018 versi majalah Times ini, bisa membalas semua protes yang dilayangkan Perancis. Sepertinya, candaan Trevor menyinggung dubes Gerard Araud karena semboyan fraternite, egalite, liberte seakan dimentahkan. Moto kebebasan, keadilan, persaudaraan memang jadi semacam Bhineka Tunggal Ika-nya Perancis sejak tahun 1880. 

Sayangnya, semangat konservatisme mengancam keberagaman di benua biru—seperti halnya virus penyeragaman merongrong toleransi di Indonesia. Menilik kondisi tadi, saya berkesimpulan bahwa, semboyan negara cuma utopia—meskipun setidaknya bisa jadi panduan juga. Dan paradoks itu bukan hanya terjadi di Perancis.
“Anakronisme lain politik Amerika Serikat adalah system electoral college. Di negara kampiun demokrasi terdepan dunia, pemilih tidak pernah bisa secara langsung memilih presiden mereka. Tiap empat tahun di awal bulan November, pemilih mencoblos dalam pilpres sejumlah orang yang akan mewakili satu negara bagian untuk duduk di electoral college yang kemudian mendapat tugas untuk memilih presiden baru.”
Kutipan kalimat di atas bukan saya ambil dari buku bertema utama politik, melainkan musik. Judulnya Pop Kosong Berbunyi Nyaring: 19 Hal yang Tidak Perlu Diketahui Tentang Musik, buatan wartawan The Jakarta Post sekaligus pemilik distributor musik Elevation Records. Kritikan terhadap sistem elektoral Negeri Paman Sam ia tuliskan dalam sebuah bab berjudul “This Heat, Deceit dan Penyakit Demokrasi”. This Heat adalah nama band avant-garde asal London. Deceit judul album terakhirnya—dari dua album dan satu minialbum. Dan kontennya, kritik untuk sang kampiun demokrasi dari lagu-lagu yang lahir di tahun 1981. Menariknya, penulis menganalisa bahwa lirik dari 29 tahun lalu itu masih relevan dengan realita Amerika hari ini.
“Serigala betina (she-wolf) yang disebut di baris terakhir tampaknya mengacu kepada kapitalisme yang menyusui pekerja, dan pada akhirnya membenturkan satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain; white supremacist melawan Black Lives Matter, media di pantai timur melawan redneck Amerika, para feminis progresif pendukung Hillary melawan kaum perempuan kelas pekerja yang memberi apologi bagi misoginisme Trump.”
Selain menganalisa lirik dan musik dengan realita kekinian, pengalaman pribadi penulis juga mewarnai pembahasan tentang sebuah musik. Saya paling suka ketika Taufiq secara sinikal menggambarkan hidup di usia 30an dalam judul The Thistysomethings Are Not Alright—titel ini diberi keterangan Extended Coda karena tidak ada di versi cetakan sebelumnya yang baru memuat 13 naskah. Tidak ada referensi musik yang dinukil di bagian ini, melainkan tawaran bahwa:
“Bagaimana  jika pilihan bagi generasi usia tiga puluhan sekarang adalah untuk berjalan lebih pelan. Bangun lebih siang, membaca buku lebih sering, menikmati lagu, lebih banyak berdiam dan berfikir.”
Selain analisa dan kontemplasi, buku ini tentu saja mengenalkan pembaca ke referensi musikal yang bisa jadi terasa menyegarkan. Namun, menemukan referensi musik di masa kini sudah semudah membuka tab baru di browser bukan? Resensi singkat di bagian punggung buku menuliskan: 
“satu-satunya nilai tambah yang bisa Anda dapatkan dari buku ini adalah bahwa semua pemain kelas bulu yang ditulis di buku ini (kecuali Dylan era akhir 1990an) ditemukan di masa pra-internet.” []

Agus


Saya kenal seorang Agus. Dia teman saya semasa kuliah di periode 2008-2011. Tahun 2012-2013 Agus lanjut jadi asisten dosen di departemen kami. Lima tahun berikutnya Agus tinggal di Amerika Serikat, meraih gelar master dan sekarang menjemput titel doktor.

Lima hari terakhir Agus berkunjung ke Bandung, tempat saya sekarang tinggal bersama anak dan istri. Di hari kedua kunjungannya, saya ajak Agus menjelajah kawasan kota tua. Sore itu kami mulai dari pertigaan jalan braga dan jalan asia afrika. Agus menunggu di seberang Starbucks. Ketika kami duduk berhadapan sekitar 20 menit kemudian di Warkop Purnama, titik tempat dia menunggu terekam dalam sebuah foto bernuansa sepia, ketika jalanan di masa itu lengang dan delman masih melintasi jalan asia afrika ke arah timur—sekarang, arus lalu lintas di jalan asia afrika dibuat searah ke barat, dan tentu saja tidak ada lagi delman. Kota Bandung beruntung masih punya beberapa warisan peninggalan masa lalu. Dan kisah dari berbagai lokasi bersejarah itulah yang saya kenalkan ke agus dalam tiga hingga empat jam setelahnya.

Di warung kopi yang semula bernama Chang Chong Se itu, saya dan agus ngobrol lama. Ditemani roti srikaya—yang saya paksa Agus buat nyicip—kami bicara banyak hal. Dari presiden sampai dosen. Dari buku The Broken Ladder—tentang kesenjangan ekonomi—hingga kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia. Dari film The Death of Stalin sampai Buffalo Boys. Sebagai kawan lama, tentu saja pembicaraan tentang masa lalu juga kami ungkit. Agus masih tertawa lepas ketika saya ceritakan ulang soal egosentrismenya sebagai anak bungsu. Dan agus sempat bikin kaget karena mengingat bahwa saya pernah berniat untuk melarang istri bekerja ketika menikah kelak. Saat itulah saya sadari bahwa, kami berubah.

***
Saya dan Agus sama-sama suka film. Katanya, dia selalu ceritakan ke teman-temannya di Amerika tentang film yang pernah kami buat bertiga, bersama Metha. Saya dan Agus juga suka bertukar referensi film. Selama di Amerika sana, Agus sulit buat nonton film Indonesia. Saya ceritakanlah bahwa Pengabdi Setan memang seseru Hereditary. Bahwa akhir-akhir ini banyak film nasional yang menarik. Dari Kulari ke Pantai sampai Buffalo Boys. Judul terakhir itu yang semalam saya tonton.
Buffalo Boys bercerita tentang tiga orang pria Jawa yang kembali ke kampung halamannya setelah diungsikan ke alam liar benua amerika tahun 1860. Ketiga orang tadi kemudian membawa bekal kemampuan bertarung ala wild west ke east indie, untuk membalas dendam ke bangsa penjajah.

Kalau dikait-kaitkan, Agus ini Buffalo Boys juga. Seorang yang lahir di Jawa Barat merantau ke pesisir timur Pennsylvania. Seperti trio Jamar, Suwo dan Arana, Agus pulang sementara dari negara barat ke belahan bumi timur dengan oleh-oleh khasnya. Sepertinya, anugerah terbesar Agus setelah dia berjuang di masa menjadi asisten dosen, bukan cuma gelar akademik di Amrik. Keleluasaan berpikir. Dan keberanian mengambil keputusan. Mungkin itu yang paling dia nikmati saat ini, di negeri yang mendewakan kata freedom. Apakah kebebasan dan keberanian Agus (akan) subur juga di Indonesia? Tidak ada jaminan demikian. Mungkin kenyataan itu yang mendorong Agus buat balik lagi dan tinggal di sana. Bisa sampai lima tahun ke depan, bisa juga lebih lama dari itu. []

Wednesday, July 11, 2018

Kaka Dani


Saya membaca Suku Dani alias Kaka Dani di film Kulari ke Pantai, sebagai simbolisasi asing sekaligus ke-kita-an Papua. Maksudnya begini.
Jreng, jreng, jreng.
"Sa punya cerita..."

Kaka Dani di film Kulari ke Pantai diperankan oleh pria bernama asli Suku Dani, yang uniknya fasih berbicara dengan logat khas Papua. Dalam sebuah dialog, ia bercerita tentang dirinya sendiri di kehidupan nyata: lahir dan besar di Papua—tepatnya lahir di Jayapura dan besar di Wamena. Makanya, ketika diajak berbahasa Inggris oleh Happy, dia bilang:
“Ade, sa pake bahasa inggris itu kalo di amerika sana.”

Nah di kehidupan luar layar film, Suku Dani memang sekolah di Amerika, tepatnya di Atlanta. Bahkan ketika syuting, Dani sambil mengerjakan skripsinya. Fakta-fakta itu, bikin saya mikir bahwa kehadiran Dani dari Papua ini menyiratkan simbol bahwa Papua dianggap asing—tampak ketika ia diajak bicara bahasa asing oleh ‘orang indonesia’. Padahal dia orang Papua, bahkan minta diajak berbahasa Indonesia. Dalam dialog di atas, saya juga berpikir bahwa “Amerika” yang ia maksud—jika dikaitkan dengan penguasaan sumber daya alam di sana—juga menyuarakan simbol tersendiri. Saya jadi ingat buku Semua Untuk Hindia.

Semua Untuk Hindia

Akun instagram penjual buku online aebookstore menulis bahwa:
“’endorsement’ Ariel Heryanto atas buku ini melalui kuliah umumnya tentang peran gerakan kiri terhadap kemerdekaan Indonesia memang tidak salah tempat.”

Saya setuju dengan itu. Buktinya, saya langsung cari bukunya meskipun sebelumnya pernah baca juga pujian untuk kumpulan cerpen karangan Iksaka Banu itu di ulasan-ulasan koran. Apalagi setelah saya baca cerpen berjudul Teh dan Pengkhianat di Koran Tempo. Nafsu membaca Semua Untuk Hindia menggebu-gebu—oke ekspresi ini berlebihan. Sayangnya, ekspektasi saya sedikit patah karena membaca kata pengantar bikinan Nirwan Dewanto di buku yang sama. Dia membocorkan ending kisah berjudul “Gudang 012B”. Akhirnya, saya baca dari belakang. Mirip cara kita nonton film Memento (Christopher Nolan, 2000).

Setelah baca tulisan Iksaka Banu soal kehidupan prakemerdekaan, saya jadi berpikir tentang Indonesia jika tanggal 17 Agutus 1945 proklamasi tidak pernah terjadi. Bisa jadi saya punya teman main kelereng bernama Ujang, dengan mata biru dan rambut pirang. Atau cinta monyet saya mungkin seorang gadis berbahasa sunda bernama Beatrice, tentu saja deskripsi fisik serupa “Ujang-Ujangan” tadi. Meskipun, konsekuensinya bisa saja berujung seperti romansa Soekarno dan Rika Meelhuysen. Atau malah jika “Indonesia tidak merdeka”, saya bakal punya bupati bernama khas eropa yang menganggap warga berkulit cokelat bukan manusia yang setara. Sekali lagi, saya musti setuju dengan pendapat Ariel Heryanto tentang Semua Untuk Hindia:
Sejak terbitnya karya Buru oleh Pramoedya A. Toer di tahun 1980-an, inilah karya sastra Indonesia yang pertama dan mungkin satu-satunya yang secara radikal menjungkir-balik sejarah nasional.

Oke mari sekarang kita kembali ke film Kulari ke Pantai. Intinya, saya senang berkenalan dengan Suku Dani. Dia memenuhi imajinasi saya bahwa Indonesia bisa lebih beragam dan seru dengan kehadiran orang kaukasian. Saya juga bahagia dengan fakta bahwa dari Bali ada seorang remaja bule berbahasa Indonesia berusia 16 tahun berprofesi sebagai surfer professional bernama Kailani Johnson—yang kemudian diidolakan tokoh Sam di dalam film itu.

Kini, rasanya saya akan cukup percaya diri untuk menyanggah pesan perpisahan wartawan bernama Maria Geertruida Welwillend alias Geertje. Dalam cerpen berjudul Selamat Tinggal Hindia—tulisan pertama dalam buku Semua Untuk Hindia—ia menulis sebuah pesan perpisahan:
“selamat tinggal Hindia Belanda, selamat datang Repoeblik Indonesia”

Jika kehidupan beragam kita tidak diracuni ketakutan tentang asing dan aseng, “Geertje” tidak perlu pergi dari nusantara dengan hanya meninggalkan pesan melalui tulisan dari lipstik. []

Saturday, June 30, 2018

Turun-Temurun

Siapa yang sudah nonton hereditary? semalam saya baru nonton. Bekalnya cuma nonton trailer, dan pujian singkat tentang serunya film ini.

Saya kira, ini film tentang manipulasi genetika yang berujung malapetaka. Soalnya di trailer ada minatur rumah lalu ada manusia di dalamnya. Ternyata bukan. Adegan itu menunjukkan pekerjaan tokoh utama bernama Annie. Dia mereka ulang beberapa babak kehidupannya ke dalam bentuk miniatur. Dan ternyata, hidupnya juga sudah diatur sejak lama oleh sang ibu bernama Elen yang baru saja meninggal.

Jadi ini horor semacam apa? Horor mistis. Khas kepercayaan orang sana, bahwa ada iblis atau satu dari 8 raja neraka yang ingin hidup di dunia menumpang ke tubuh manusia. Ingat film Sinister? atau The Rite? Kurang lebih film ini seperti itu, tapi tentu saja dengan ciri khasnya tersendiri. Terutama plot twist.

Alur kisah Hereditary melaju lamban. Kalau dibagi tiga babak, menurutku ceritanya bisa dibatasi di momen ketika Elen meninggal sampai Joan datang, momen saat Annie sekeluarga mengalami kejadian aneh pasca pertemuan dengan Joan, dan klimaks di akhir yang tentu saja jangan saya singgung. Hehe.

Jika kamu termasuk penyuka film horor yang banyak ledakan, kejutan, atau penampakan, barangkali bisa kecewa selama dua babak pertama. satu jam pertama, bahkan saya merasa film ini lambat sekali menunjukkan identitasnya sebagai film horor.

Tapi justru bekal informasi di dua babak tadi jadi mesiu yang bikin babak ketiga mengejutkan. Atau malah membingungkan. Haha. Kita bisa diskusikan soal ini lewat jalur privat. Tapi kalau mau simak sendiri analisa soal film ini, kamu bisa tonton beberapa video ulasannya di youtube. Saya nonton yang judulnya "60 Things You Missed In Hereditary (2018)".

Menurutmu, film seperti apa yang layak diganjar bagus? Bagi saya, yang bikin kepikiran setelah keluar bioskop. Dan memang film ini melakukan itu. Seperti film Modus Anomali buatan Joko Anwar. Makanya saya menaruh rekomendasi sutradara itu sebagai anjuran serius. Dia nyaranin buat nonton Hereditary. Mungkin juga karena ada sedikit irisan dengan film rilisannya terbaru: Pengabdi Setan. Dua film ini sama-sama tentang sebuah sekte rahasia pemuja setan.

Pada akhirnya, saya setuju dengan kesimpulan pengulas film langganan saya, Cinecrib:
"..dan ini emang tipikal horor yang kalo lu nyari cerita lu harus nonton ini sih, bukan cuma nyari jumpscare." []

Tuesday, June 26, 2018

Perang Makassar


Koran Kompas hari minggu adalah favorit saya. Bahkan edisi berminggu-minggu yang lalu, akan tetap saya simpan fisiknya kalau memang belum dibaca atau kontennya berkesan. Contohnya yang saya sobek dan simpan dari tanggal 13 Mei lalu. Ada artikel berjudul Akhiri Perseteruan Tiga Abad. Tulisan buatan Muhammad Ikhsan Mahar dan Edna C. Pattisina ini berujung pada kesimpulan bahwa konflik masa lalu bisa dihadirkan lagi demi jadi alat politik. Dan kita musti waspada.

Kisah di artikel itu bertarikh tahun 1666 hingga 1669, ketika Perang Makassar pecah. Musababnya, seorang bangsawan kerajaan Bone bernama Arung Palaka. Ketika itu keturunan Bone berada di bawah pengaruh kerajaan Gowa, meski sebenarnya bangsawan Gowa memperlakukan pemilik darah biru dari Bone dengan baik. Ia merasa siri dan pesse atau perasaan harga diri dan rasa malunya terusik akibat bangsawan Bone diminta ikut menggali parit untuk melindungi kerajaan Gowa dari kolonialis VOC—sumber lain menyatakan bahwa Arung Palaka dari Bone marah karena pihak Gowa melanggar perjanjian untuk saling memuliakan.

Singkat kisah, pemberontakan Arung Palaka ditumpangi pihak ketiga tadi. VOC melalui Cornelis Speelman, ingin mengambil alih benteng Sumba Opu. Misi itu kemudian terwujud. Sultan Hasanuddin melepas tahta. Meski demikian, setelahnya Sultan Hasanuddin dan Arung Palaka justru membuang dendam. Itu terbukti dengan makam Arung Palaka yang lokasinya tidak jauh dari pusara Sultan Hasanuddin. Antropolog Unhas, Tasrifin Tahara, menyimpulkan konflik sudah selesai secara kultural.

Sekitar 350 tahun terlewati sejak Perang Makassar, sebuah unggahan menyerukan ajakan untuk menghancurkan patung Arung Palaka dan membongkar makamnya, karena ia dinilai sebagai pemberontak. Padahal menurut pengajar Ilmu Sejarah di Unhas, Amrullah Amir, “tidak tepat menyebut sosok pengkhianat yang dikaitkan dengan bangsa Indonesia karena abad ke-17 konsep negara Indonesia belum ada.”

Kisah Arung Palaka dan Sultan Hasanuddin dalam artikel di rubrik Politik dan Hukum tadi, sebenarnya menyuarakan sebuah peringatan yang tidak hanya berlaku bagi suku bangsa di Sulawesi Selatan, tapi juga di wilayah Indonesia lain yang memang sudah ditaktirkan bermula dari banyak kerajaan yang (beberapa) pernah saling berkonflik.
“Tampaknya, tambah Tafsirin, konflik pada masa lalu akan dimanfaatkan generasi kini untuk mengagungkan ketokohan keduanya sebagai representasi etnis Bugis dan Makassar. Di pertarungan politik, misalnya, persaingan calon kepala daerah akan mengerucut pada persaingan antartokoh kedua etnis.” []


Wednesday, June 13, 2018

Sunya


Sekitar seminggu sebelum Aksara lahir, saya dan Windi nonton sebuah film. Judulnya Sunya. Film ini diputar di sebuah bioskop bernama Kinosaurus di kawasan Kemang Jakarta. Untuk masuk ke sana, kita harus melewati toko buku Aksara. Dari situlah ide nama anak kami lahir. Meski di awal saya bicara soal Aksara, tulisan ini bukan tentang dia, melainkan Sunya dan buku berjudul Kumpulan Budak Setan.

Sunya
Film Sunya dibuat oleh sutradara Hary Dagoe Suharyadi. Itu pengalaman pertama saya nonton film sineas yang ternyata sudah buat film sejak lama dan karyanya diputar di festival film internasional. Misalnya film Happy Ending yang tayang di Toronto World Wide Film Festival 1996 di Kanada—dan ditampilkan juga pada momen penayangan Sunya di Kinosaurus waktu itu.
Sunya berkisah tentang seorang pria bernama Bejo, yang mencari tahu penyebab neneknya sulit meninggal dan harus menahan sakit di usia tua. Bejo kemudian menelusuri penyebabnya, dan ternyata berkaitan dengan masa lalu Bejo.
Meski tampak sederhana, alur kisah film ini sebenarnya kompleks. Banyak tampilan simbolik semacam tarian, renungan, hingga adegan panas. Bahkan aktrisnya, mengaku nggak ngerti film itu tentang apa.
"Ini pertama kalinya saya nonton film ini. Sebelumnya deg-degan dengan hasilnya, karena saya aslinya bukan aktris, tapi penari. Tapi setelah menonton, saya malah makin nggak ngerti apa maksud film ini," ujar Astri sambil tertawa malu. (Liputan6.com)
Saya duga, dia nggak baca cerpen yang jadi inspirasi film ini dibuat. Sunya disadur dari salah satu kisah di buku Kumpulan Budak Setan berjudul Jimat Sero buatan Eka Kurniawan. Titel keempat dari 12 cerita di dalam buku itu, punya garis merah serupa. Jika Bejo di Sunya seorang pemuda desa, di Jimat Sero, tokoh utama—yang berkisah dengan subjek “aku”—seorang eksekutif dengan karir cemerlang plus pacar anak bos bernama Raisa.
Selebihnya, rasanya kisah Jimat Sero dan Sunya sama. Rohman menitipkan jimat ke Bejo, lalu jimat itu jadi semacam kunci agar Bejo dan Rohman saling terhubung. Dan itu pula yang terjadi dengan nenek Bejo, kakek Bejo dan ayah Rohman.

Kumpulan Budak Setan
Selain Jimat Sero, kisah-kisah di buku Kumpulan Budak Setan juga menghimpun hasil imajinasi lain Eka Kurniawan. Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad juga bergabung dengan Eka untuk proyek yang diinisiasi tahun 2009 ini. Masing-masing penulis mengarang 4 cerita yang mengandung unsur lendir dan mistik. Dan fiksi-fiksi ini, ode buat Abdullah Harahap. Siapa Abdullah Harahap? Bab pertama buku ini menjelaskannya.
Ia menulis novel horor “picisan”, diramu dengan seks, di tahun 1970-1980-an. Anda dapat menemukan novelnya saat berjalan-jalan di toko buku kecil , pasar loak atau stasiun kereta. Status “picisan” Abdullah Harahap mencerminkan status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khazanah sastra. (Hal. x)
Trio pengarang Kumpulan Budak Setan, terasa punya ciri khas nuansa cerita berbeda. Goyang Penasaran buatan Intan dan Topeng Darah bikinan Ugo, terasa paling vulgar. Istri saya sampai mengernyit ketika dibacakan satu dua kalimat. Sementara Eka, terasa seperti dengan sengaja menempatkan klimaks di akhir cerita. Dan itu seru. []

Monday, June 11, 2018

Lima


Beberapa waktu lalu, Lola Amaria diwawancara di Eagle Awards selama sekitar satu jam. Ia berkisah berbagai hal. Dari tentang visinya berkesenian melalui film, hingga mengutarakan mimpinya berkolaborasi dengan Salahuddin Siregar, seorang sineas dokumenter. Saat ini, hasil kolaborasi itu sudah bisa disaksikan melalui film LIMA.

Film LIMA berkisah tentang drama kehidupan sebuah keluarga di Kota Bandung yang mencerminkan implementasi Pancasila, dasar negara Republik Indonesia. Pengulas film di akun Twitter @djaycoholyc, menganalisa kaitan antarkisah dalam film LIMA, berdasarkan desain poster film:
Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa Lambangnya adalah Bintang. Di #FilmLima dipasang adalah foto Maryam, Ibu dari Fara, Aryo dan Adi. Beliau dipasang di tengah-tengah sebagai core dari film ini. Sama seperti lambang Pancasila. Sila pertama berkaitan erat dengan agama.
Sila-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Gambar Rantai diwakili Bi Ijah, pembantu paling loyal di keluarga Maryam. Dan bi Ijah benar-benar dimanusiakan oleh keluarga ini meski statusnya sebagai pembantu
Sila-3: Persatuan Indonesia Pohon Beringin digambarkan oleh Adi, bontot yang mampu memeprsatukan keluarga dengan cara dia yang kadang tak biasa.
Sila-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan Ada Fara di situ, Fara itu jago dalam berdebat untuk mendapatkan hasil ideal sesuai kemampuan bukan karena titipan.
Sila-5: Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia Aryo ada di sila ini. Bersikap adil sebagai anak tengah, tidak memihak namun tetap memegang teguh prinsip dia.
Waktu itu saya menonton film LIMA di bioskop Ciwalk. Dalam penayangan jam 21:20 itu, seisi studio cuma ada tiga orang, termasuk saya. Satu orang ternyata nggak datang, karena pas beli tiket saya bisa lihat ada 3 titik berwarna merah di bangku penonton. Menurut akun instagram @film_indonesia, sampai tanggal 10 Juni, LIMA ditonton 78 ribu lebih orang.

Sekadar memberi gambaran, saya coba bandingkan jumlah penonton LIMA dan Dilan 1990. Jika dibandingkan dengan film Dilan 1990—yang menyandang predikat film terbanyak ditonton di tahun 2018—raihan penonton film LIMA sangat sedikit. Dilan yang sudah disaksikan 6 juta lebih orang, di hari ke-10 penayangannya sudah ditonton 3 juta orang. Padahal, film LIMA cukup seru dan penting—bukan berarti Dilan tidak. Selain karena misinya dalam menggambarkan penerapan pancasila tanpa terkesan berceramah, LIMA juga menurut saya cukup artistik.

Alur kisahnya pun tetap berdasar ke kejadian nyata. Ketika nonton film Bulan di Atas Kuburan (2015), saya sangsi dengan realita tentang sopir taksi bernama Sabar yang diperankan Tio Pakusadewo, dibakar massa karena kecelakaan lalu lintas. Siapa sangka, dua tahun setelahnya seorang pria di Bekasi dibakar karena dituduh mencuri. Realita ini pula yang melatari salah satu fragmen kisah Adi di film LIMA.

Meski begitu, perihal kesesuaian dengan realita ini juga dikritisi Leila S. Chudori dalam majalah Tempo edisi 17 Juni 2018. Menurutnya:
“Persoalan tingkah laku anak-anak pembantu juga terselesaikan dengan happy ending yang hampir muskil mengingat berkali-kali rakyat kecil divonis hukuman berat untuk kesalahan yang kecil.” []

Saturday, May 26, 2018

Marx


Tahun 2016 lalu ketika membuat penelusuran berjudul “Gaduh Ideologi”, saya mewawancarai Romo Magnis di kantornya. Dengan malu-malu, saya mengaku bahwa belum membaca Das Kapital untuk mendalami marxisme yang akan kami bincangkan. Saya terkejut karena ia bilang nggak usah.

Pada kesempatan lain, saya sempat mendengar langsung bahwa sastrawan Sapardi Joko Damono berdecak kagum atas isi kepala Marx. Ia salut dengan latar belakang Karl yang bukan siapa-siapa, tapi membuahkan gagasan yang menurutnya brilian.
Bagaimana Marx bisa dikagumi sekaligus disalahkan? Baru-baru ini saya nonton film berjudul Young Karl Marx (2017).

Film ini disusun kronologis, dimulai dari penjabaran kondisi sosial ketika Marx bekerja sebagai wartawan yang kritis terhadap pemerintahan saat itu.

“Pada tahun 1843, eropa dikuasai oleh sistem kerajaan yang berkalang krisis, kelaparan dan resesi ekonomi.”

Marx muda yang masih berusia 25 tahun kemudian ditangkap akibat tulisannya yang dianggap berbahaya bagi kerajaan Prusia. Ia dan istrinya lalu diasingkan ke Perancis pada tahun 1844. Di sana Marx bertemu kolaboratornya: Friedrich Engels. Young Karl Marx menggambarkan suasana pertemuan Marx-Engels yang awalnya canggung. Marx yang terkesan arogan, sempat ragu dengan komitmen perjuangan Engels. Wajar, karena ayah Engels pemilik pabrik: pemilik alat produksi yang memiliki tendensi memeras tenaga buruh.

Dalam sebuah adegan digambarkan bahwa suatu hari Engels dan ayahnya meninjau pabrik miliknya ketika para pegawai protes dengan durasi kerja berlebihan. Seorang pekerja bernama Mary Burns berani mendebat pemilik pabrik. Ketika dia diancam pemecatan dan memancing solidaritas pekerja lain, tidak ada yang mendukung. Di kemudian hari, Mary inilah yang menjadi istri Engels.

Singkat cerita, Marx dan Engels kemudian berkolaborasi. Di kemudian hari, lahirlah manifesto komunisme—yang jadi semangat pemberontakan di sejumlah belahan dunia (di film ini digambarkan dengan cuplikan foto protes, dilatari lagu Bob Dylan berjudul Like a Rolling Stone).

Perjalanan menuju rilisnya deklarasi terbuka tentang paham komunisme, juga digambarkan di film berdurasi 2 jam kurang 2 menit ini. Mulai dari kehadiran Marx di kongres para anarkis di Perancis, hingga pembentukan partai internasional Communist League (yang sebelumnya berupa organisasi pemikir kritis bernama League of the Just atau League of Outlaws). Momen menarik ketika tokoh anarkis Pierre-Joseph Proudhon menghadiahkan buku The Philosophy of Poverty (Filosofi Kemiskinan) juga ditampilkan. Di kemudian hari, Marx menjawab buku itu dengan judul The Poverty of Philosophy (Kemiskinan Filsafat).
Secara visual, film ini sebenarnya membosankan. Meski demikian, setidaknya Young Karl Marx penting bagi pembelajar audio-visual, untuk mengenal sosok yang dinobatkan filsuf paling berpengaruh abad ke-21 ini. Selanjutnya, untuk mengetahui kenapa Romo Magnis dan Pak Sapardi berbeda pendapat, kita harus mendalami buah pikiran Marx. Menurut sosiolog Immanuel Wallerstein,

“Hal pertama yang harus saya katakan kepada anak muda adalah mereka harus membaca-nya. Jangan membaca tentang dia, tetapi baca Marx.”

Anjuran di atas, nampaknya akan sulit diterapkan di Indonesia, karena Tap MPRS nomor 25 tahun 1965 masih berlaku. []






Monday, May 7, 2018

Rumah, Musim Hujan, Kejawen

Semalam saya baru nonton film Rumah dan Musim Hujan. Film ini sempat tayang di bioskop awal tahun 2018 dengan judul Hoax. Judul internasionalnya One Day When The Rain Falls, karena memang berkisah tentang suatu malam di bulan ramadhan, ketika hujan turun mengiringi kisah sebuah keluarga.

Film ini dibuka dengan santap buka puasa yang dihadiri seorang ayah dan anak-anaknya. Kisah kemudian bercabang setelah ketika anak sang bapak yang masing-masing diperankan Tora Sudiro (Raga) dan Tara Basro (Ade), pamit ke rumahnya masing-masing. Vino G. Bastian yang memerankan Ragil, kemudian tinggal di rumah bersama bapaknya yang dimainkan Landung Simatupang. Sutradara Ifa Isfansyah, menampilkan Rumah dan Musim Hujan dalam balutan horror dan drama.

Kisah intinya, tentang kepercayaan penganut kejawen, bahwa seseorang lahir bersama tiga saudara lainnya: plasenta, air ketuban, dan ari-ari. Ketiga saudara kembar itu raganya mati, tapi jiwanya ada dan selalu menemani seorang bayi hingga ia tumbuh dan menjalani hidup, bahkan kadang hadir ketika wetonnya tiba, alias si orang itu berulang tahun menurut penanggalan tradisi jawa. Kepercayaan ini digambarkan dengan mendebarkan ketika Ade terlibat teka-teki sosok asli sang ibu (Jajang C. Noer). Sementara itu, dialog yang saling sulam juga mengalir saling melengkapi informasi dari tiga subkisah.

Konsep kelahiran bersama tiga kembar tadi dikisahkan Raga ketika pulang bersama pacar barunya, Sukma (Aulia Sarah). Raga dan Sukma lalu terlibat patgulipat perebutan perhatian dengan mantan pacar Raga: Sari. Bagian ini, bernuansa lebih ringan dan jenaka. Gong besar penanda klimaks film ini, ada di akhir kisah. Ragil yang ternyata menyembunyikan sebuah rahasia, memperlihatkan makna di balik penyesalan sang ayah yang mengaku salah memberi nama.

Saya sebenarnya baru sadar setelah tanya ke istri saya yang keturunan Jawa. Nama ragil artinya bungsu, padahal Ragil masih punya adik bungsu perempuan. Jika dikaitkan dengan rahasia yang disembunyikan Ragil, penyesalan sang ayah ternyata beralasan. Namun, pada akhirnya semua tampak baik-baik saja. Sahur tiba, Ragil menyiapkan empat piring di meja makan. []

Monday, April 23, 2018

The Shining

Akhir maret sampai awal april lalu, film Ready Player One ramai diulas sebagai film bagus—ada juga sih yang bilang film ini jelek. Selain karena kisahnya menarik, banyak easter egg atau pesan tersembunyi berupa kemunculan tokoh dari film lain. Saya jadi terpancing nonton lagi film The Shining.

Sebelumnya, film besutan Stanley Kubrick ini saya tonton tahun 2011. Hampir semua scene memorable yang muncul di Ready Player One, saya ingat—kisah Gold Room, lift muntah darah, dan akhir pengejaran di taman teka-teki (Hedge Maze) baru saya ingat lagi pas nonton di kali kedua. Tidak ada satu kalimat seragam yang menjelaskan The Shining ini film tentang apa. Ada yang memaknai film ini tentang keluarga yang bapaknya kesurupan, ada juga yang analisa bahwa ini tentang si bapak melecehkan anaknya (padahal ga ada visualisasi eksplisit soal itu), ada juga yang membaca bahwa itu tentang pembantaian bangsa indian oleh orang kulit putih.

Ada banyak interpretasi lain sebenarnya tentang film ini. Bahkan, dibuatkan khusus dalam satu film dokumenter sepanjang satu setengah jam berjudul Room 237. Selain The Shining dan dokumenter Room 237, sebenarnya masih banyak video dan tulisan lain yang bahas adegan dan penanda tertentu dari film The Shining. Kalo nonton semua rasanya juga nggak bakal habis-habis karena ada aja analisa yang relevan, karena misalnya dikaitkan dengan karya lain yang lebih kontemporer.

Menyaksikan lagi The Shining dan pembacaan karyanya yang nggak habis-habis, membuktikan bahwa Stanley Kubrick—sineas kelahiran New York AS—bisa panjang umur karena karyanya. Sepanjang umur sebuah filmnya yang lain, yang versi aslinya akan tayang lagi di festival film prestisius Cannes bulan Mei nanti, sebagai perayaan ulang tahun filmnya yang ke-50. Mungkin itu juga momen tepat, tahun ini waktu yang tepat bagi saya buat namatin nonton “2001: A Space Odyssey”. []

Sunday, April 1, 2018

Karni Ilyas

Sebagai wartawan nonkarier—maksudnya belum belajar ilmu jurnalistik secara formal—saya berusaha membekali diri melalui beberapa cara agar mahir berprofesi. Salah satunya baca buku biografi wartawan. Kali ini yang baru saya khatamkan buku tentang Karni Ilyas. Buku setebal 400an halaman ini sebenarnya ditulis Fenty Effendy tahun 2012. Isinya tetap relevan sampai sekarang karena Pak Karni masih di TV One dan masih lekat dengan citra Indonesia Lawyers Club (ILC). Perjalanan karier Pak Karni sebelum tersohor sebagai presiden ILC, sebenarnya bisa dihubungkan dengan satu kata: hukum. Ia mulai bekerja sebagai wartawan setelah menodong pemimpin redaksi Suara Karya Rahman Tolleng dengan sebuah kalimat:
‘’Pak, saya sudah baca Suara Karya. Menurut saya, ada berita yang tidak masuk di situ.”… Ketika Tolleng bertanya sekali lagi, barulah ia menjawab bahwa tidak ada berita hukum di Suara Karya.
Setelah diterima di Suara Karya itulah Pak Karni menekuni peliputan bidang hukum, hingga berlanjut di Majalah Tempo, sampai memimpin SCTV, antv lalu TV One. Sejumlah kasus yang ia liput juga dikisahkan di buku ini, misalnya tentang upaya pengembalian uang negara yang dikorup istri kedua Haji Thahir, Kartika. Pak Karni berhasil mendapat kesempatan wawancara di Jenewa, eksklusif. Sayangnya saya nggak menemukan kisah akhir upaya pemulangan uang setara Rp153 miliar itu—atau mungkin saya kurang teliti. Selain kasus Kartika, kisah lain juga ada di kasus kasus Siti Nurbaya tahun 1973: Syarifa Syifa. Banyak wartawan meliput persidangan tersebut karena kisah yang dialami Syarifa Syifa, 15 tahun, cukup tragis. Umur 12 tahun ia dipaksa kawin oleh neneknya. Setelah punya anak satu, sang nenek tidak suka lagi dengan si mantu memaksa cucunya itu bercerai dan mengawinkannya dengan lelaki lain. Syarifa berontak lalu kabur dengan pacarnya, tapi polisi menangkap mereka. Sidang pada awal bulan Juli itu adalah untuk mengadili Jemsar Salim Alhadar, 25 tahun. Pemuda keturunan Arab itu diadukan Ahmad Alhasni dan Daeng Raiyah, ayah dan nenek Syarifa. (Hal. 49) Berselisih hitungan detik dengan ketok palu hakim yang menghukum Jemsar 2,5 tahun penjara, Syarifa memekik, megeluarkan pisau silet, dan mengancam ibunya, Sumiati. … Saat itulah Karni menyaksikan sebuah tindakan nekat. Syarifa memasukkan pisau silet yang dipegangnya ke dalam mulutnya dan menelannya. (Hal. 50) “Andaikan saya pulang setelah makan siang, sama seperti wartawan-wartawan pemalas lainnya, pastilah saya melewatkan berita itu. Tapi karena prinsip saya tak hendak pulang sebelum ruang sidang ditutup, jadilah headline eksklusif itu.” (Hal. 54) Gambaran Pak Karni menjalankan prinsipnya di atas, dikisahkan juga di pengalaman peliputan kasus lain. Dari penangkapan teroris Azahari dan Noordin M. Top di Wonosobo, sampai wawancara jenderal LB Moerdani yang saat itu dikenal sulit bicara ke media. Bagi wartawan kemarin sore semacam saya, pengalaman wartawan senior bisa jadi contoh agar pada ujungnya, public juga yang diuntungkan dengan kualitas produk jurnalistik yang bagus. Semoga begitu. []

Tuesday, March 20, 2018

Turah dan Neorealismo

Sinopsis

Tepat ketika saya masuk ke ruang auditorium, layar di latar panggung menampilkan sesosok bayi muncul mengambang. Badannya pucat. Seorang pria menyaksikan tubuh tak bernyawa itu dari daratan. Dialah Turah, warga kampung Tirang di Tegal Jawa Tengah, yang kemudian langsung menguburkan jabang bayi. Polisi lalu datang mendalami kasus mayat bayi, lengkap dengan rombongan wartawan. Para awak media itu lalu mewawancarai warga Tirang lain yang selalu tampil telanjang dada.

Jadag namanya. Kata Jadag kepada pewarta, kejadian itu biasa saja. Turah dan Jadag dikisahkan tinggal di kampung yang terbiasa dengan berbagai keterbatasan. Rumah kumuh, kesulitan air bersih, krisis listrik, produktivitas rendah, hingga kematian. Meski begitu, ada satu kondisi yang coba didobrak Jadag si tukang mabuk-mabukan. Dia merasa hidupnya dan warga Tirang diperalat tuan tanah bernama Darso. Jadag pun berusaha mengobarkan revolusi.

Diskusi

Film Turah yang kemarin saya tonton, sebenarnya bukan diawali adegan mayat bayi mengambang. Saya telat datang sekitar 20 menit, dan adegan itulah yang pertama kali ditonton. Selama sekitar satu jam kemudian, karya produksi Four Colours Films itu pun tamat. Sesi diskusi kemudian dimulai. Datang langsung ke ruang auditorium IFI Bandung, sutradara sekaligus penulis skenario film Turah, Wicaksono Wisnu Legowo. Moderator lalu mengenalkan bahwa film Turah menarik ditonton karena mewakili Indonesia jadi salah satu film peserta kategori Film Berbahasa Asing terbaik di Academy Awards atau Piala Oscar tahun 2018. Selain di ajang prestisius itu, film Turah juga meraih penghargaan di Singapore Internationl Film Festival 2016, hingga Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016.

Tanpa banyak prolog, tanya jawab dimulai. Wisnu menjawab dan menanggapi satu per satu komentar penonton yang hadir ke acara besutan komunitas Layar Kita itu. Beberapa penonton tertarik dengan hal-hal teknis di balik pembuatan film. Naskah film Turah sebenarnya beres ditulis tahun 2014, berdasarkan film pendek yang dibuat Wisnu tahun 2009. Tahun 2016, kisah itu baru dieksekusi jadi film utuh. Lama pengerjaannya sekitar 9 bulan, termasuk 9 hari waktu pengambilan gambar. Lokasi syutingnya betul-betul diambil di Kampung Tirang dalam kondisi yang otentik. Diakui Wisnu, tokoh semacam Jadag, Turah, Pakel dan Darso juga ada di kehidupan nyata. Sosok mereka lalu dihidupkan para aktor yang memang sehari-hari bicara dalam bahasa Jawa Ngapak khas Tegal—bahasa itu pula yang dibawakan sepanjang film, kecuali ketika Jadag diwawancara wartawan soal mayat bayi.

Kisah dalam film yang didasari realita itulah yang kemudian menjadikan Turah disebut-sebut sebagai penanda perkembangan film neorealismo dari Indonesia. Menurut Wikipedia, neorealismo yang aslinya dari bahasa italia bermakna: a national film movement characterized by stories set amongst the poor and the working class, filmed on location, frequently using non-professional actors. Italian neorealism films mostly contend with the difficult economic and moral conditions of post-World War II Italy, representing changes in the Italian psyche and conditions of everyday life, including poverty, oppression, injustice, and desperation.

Film Turah, secara garis besar memang mengandung banyak kata kunci di definisi tadi, sama seperti film Siti dan film Ziarah. Ketiganya kemudian disebut-sebut sebagai pioneer neorealismo Indonesia. Menurut praktisi film senior Ronny P. Tjandra yang hadir di sana, keikutsertaan Turah di perlombaan internasional—yang jadi indikator kualitas film ini—tidak dibarengi dengan penghargaan di ajang perfilman dalam negeri. Turah tidak masuk ke dalam satu pun kategori penghargaan di Festival Film Indonesia. Baik sebagai nominator, apalagi jadi pemenang. Kata Ronny, “pasti ada yang salah di salah satu di antara dua itu—Oscar dan FFI”. Diskusi tentang film Turah, sebenarnya berlangsung lama. Dan bahasannya pun mendalam, sampe ada analisa tentang penggambaran emansipasi perempuan di sosok istri Turah. Saya nggak ngikutin sampai akhir. Windi udah minta dibeliin es teh dari BEC. []

Sunday, March 18, 2018

Tiarap

Masih soal polemik karikatur Majalah Tempo, yang direspon FPI dengan demonstrasi. Seperti yang kita telah ketahui, bahwa demonstrasi berakhir dengan permintaan maaf. Saya baca sebuah komentar di foto instagram Budi Setyarso—pemimpin redaksi Koran Tempo—bahwa seseorang melihat Arif Zulkifli dan Budi, dipaksa meminta maaf. Komentar itu disukai oleh empunya akun instagram @budisetyarso, yang kemudian saya pahami sebagai “ya, memang begitulah kondisinya”. Kisah tentang tekanan terhadap pers dan produk jurnalistik, banyak berasal dari masa orde baru. Wartawan yang mengalami era penuh tekanan itu pasti punya kisah menarik tentang bagaimana mereka sintas. Salah seorang di antara mereka, Karni Ilyas—yang biografinya masih saya baca. Ada sebuah bab yang membahas bagaimana majalah FORUM Keadilan yang dipimpin Karni, selamat dari pembredelan. Saya akan kisahkan garis besarnya untuk kemudian kita bandingkan dengan kondisi kekinian. Pada masa orde baru, operasional media massa harus berlangsung di bawah restu Menteri Penerangan melalui Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP). Surat sakti ini bisa saja dicabut sewaktu-waktu dengan berbagai pertimbangan.
“Awak redaksi Tempo biasa menggunakan istilah ‘tiarap dulu’ bila pemberitaan mereka sedang bikin merah kuping penguasa” (hal. 228)
Majalah FORUM Keadilan, pada tahun 1994 sedang ada dalam incaran pembredelan, artinya SIUPP mereka akan dicabut. Penyebabnya, menurut Karni yang mendapat bisikan dari Gorries Mere—sekarang pensiunan jenderal Polri—ada pejabat kepolisian yang tidak menyukai Karni.
“Jadi waktu itu bukan FORUM lagi target operasi untuk dibredel, tapi sudah saya targetnya” (hal. 231)
Lalu apa yang dilakukan Karni? Ia menghubungi enam jenderal agar mereka menelepon Menteri Penerangan Harmoko untuk mengaku bahwa FORUM adalah majalah milik mereka—padahal sebenarnya satu grup dengan majalah Tempo. Harmoko akhirnya batal menghentikan izin terbit majalah FORUM Keadilan, karena “Harmoko kan nggak berani sama tentara, saya tahu kelemahannya itu”, kata Karni seperti tertulis di halaman 223 buku biografinya.
“Nah ketika kondisi sedang gawat begitu, Tempo bikin laporan tentang kapal selam dari Jerman. Dipakailah kesempatan itu oleh Harmoko untuk menghantam Tempo. Padahal maunya menghajar FORUM…” (hal. 223)
Ilmu Undur-undur Trik penyelamatan yang dilakukan Karni, diakuinya mirip ilmu undur-undur yang diajarkan sang ayah: berhenti bila ada kaki orang, jalan lagi bila halangan sudah berlalu. Jajaran pemimpin Tempo barangkali sedang bersiasat serupa. Meladeni permintaan demonstran ibarat mengulur benang layangan mengikuti arah angin, untuk kemudian menukik memutus senar layangan lain. Yang jelas, sekarang setidaknya mereka-yang-merasa-tersinggung-dengan-gaya-berita-satire-ala-karikatur-Tempo, sedikit terpuaskan. Dan kita pun makin paham bahwa di era pasca reformasi ini, tantangan berkarya jurnalistik bukan lagi berupa pengekangan penguasa, melainkan kebebasan yang kebablasan.
“Adalah tugas kita semua menjaga agar arah reformasi di segala bidang itu tetap bisa positif dan tidak berbalik menjadi negatif. Sebab, kalau itu terjadi, kita semua akan rugi dan kehilangan momentum untuk mempunyai negara demokratis yang berwibawa” (cakum Pendulum, 29 Juni 1998) []

Saturday, March 17, 2018

Karikatur

Kemarin, massa dari FPI mendatangi kantor majalah Tempo. Mereka memprotes pemuatan karikatur yang ditafsirkan sebagai penghinaan. Singkat cerita, pemimpin redaksi Majalah Tempo meminta maaf atas dampak yang ditimbulkan. Ada pro kontra soal permintaan maaf itu. Karena meminta maaf berarti mengikuti kemauan massa atau mob, yang artinya mengarahkan situasi demokrasi menjadi mobokrasi—menurut KBBI: pemerintahan yang dipegang dan dipimpin oleh rakyat jelata yang tidak tahu seluk-beluk pemerintahan. Ada pula yang mengapresiasi langkah Arif Zulkifli yang menekankan permemintaan maaf atas kondisi pasca penerbitan karikatur, bukan pemuatan karikatur di Majalah Tempo edisi 26 Februari 2018. Yang mau saya katakan, kondisi di atas rasanya relevan dengan sejumlah kondisi di buku yang saat ini saya baca. Judulnya Karni Ilyas: Lahir Untuk Berita. Biografi ini sebenarnya terbitan tahun 2012. Di dalamnya, selain menceritakan perjalanan karir 40 tahun sebagai wartawan sang presiden Indonesia Lawyers Club, juga memuat catatan mingguannya yang dulu terkenal rutin dimuat di majalah FORUM keadilan: Catatan Hukum (cakum). Ada beberapa argumen dalam cakum yang mirip dengan kondisi yang dihadapi Tempo—dan media massa lain pada umumnya—terutama ketika berhadapan dengan ketidakpuasan publik atas produk jurnalistik. Dalam sebuah edisi cakum berjudul “Trial By The Press”—media massa yang mengambil alih wewenang hakim dalam persidangan—Karni berkisah tentang pejabat kejaksaan yang tidak nyaman dengan pemberitaan beberapa kasus. Mereka merasa terusik karena nama baik institusinya sedang diusik akibat sejumlah kasus, dari Bank Duta sampai Bappindo-Eddy Tansil. Karni membela diri bahwa kondisi serupa trial by the press yang dikeluhkan, justru terjadi karena pihak yang harusnya memberi klarifikasi malah tidak memenuhi haknya.
“faktor utama penyebab situasi itu terjadi adalah sikap kedua pejabat tersebut yang tetap saja tutup mulut bila dikonfirmasi wartawan” (cakum Trial By The Press, 7 Juli 1994)
Kondisi sebangun nampaknya terjadi dalam kasus yang menjadi latar belakang pembuatan karikatur di Majalah Tempo. Celakanya, seperti yang tertulis dalam cakum berjudul “Pers”, wartawan tak ubahnya setiap hari bertemu buah simalakama.
“Kalau berita yang diturunkan media massa kurang ‘menggigit’, pembaca akan menganggap wartawannya sudah melempem. Tapi, kalau beritanya cukup kritis, banyak pihak akan merasa tersinggung.” (cakum Pers, 25 September 1995)
Padahal,
“...keadaan masyarakat sendiri ikut menentukan lahirnya berita tersebut. Tidakkah, memang, pers sering menerima jeritan masyarakat...” (cakum Pers, 25 September 1995)
Dengan demikian, yang terjadi di kantor Tempo tempo hari kelihatannya timbul karena ketidakpahaman itu. Terlebih, demonstran juga tidak mengerti bahwa pengaduan produk jurnalistik mestinya dialamatkan ke Dewan Pers. Malangnya, polisi tidak mengarahkan mereka ke jalan yang benar, malah memberi izin demo ke kantor media massa. Maka jelas sudah simpulan dari realita pasca karikatur Majalah Tempo:
“Kekuasaan itu tidak hanya harus berarti kekuasaan raja atau presiden, ... kekuasaan kelompok mayoritas, bahkan kekuasaan alat-alat opini publik selama ini. Karena itu, Rendra berkesimpulan, reformasi apa pun juga, termasuk reformasi kekuasaan, tidak ada gunanya bila hukum tidak berada di atas segala-galanya.” (cakum Reformasi, 18 Mei 1998) []

Friday, March 16, 2018

Imigran

Pagi ini saya memandu seorang narasumber untuk diwawancara dalam siaran langsung oleh presenter dari studio di Jakarta. Segmen 2 program Selamat Pagi Indonesia Metro TV bahas tentang imigran di Kalideres Jakarta yang mengganggu warga setempat. Untuk membahasnya, dari Bandung dihadirkan Kepala Humas Dirjen Imigrasi Kementerian Hukum dan HAM, Agung Sampurno—yang kebetulan lagi ada di sini. Nah, sebelum on air, saya dan Pak Agung sempat ngobrol. Dan penjelasannya, kurang lebih juga disampaikan ketika dia diwawancara Sumi dan Iqbal.

Menurut Pak Agung, persoalan imigran sebenarnya dilematis. Di satu sisi, mereka meresahkan masyarakat tuan rumah—seperti yang diberitakan informasi pembuka wawancara. Di sisi lain, nasib malang yang menimpa mereka, memancing simpati juga—diakui warga Kalideres di bagian akhir liputan di atas. Lalu, kenapa mereka datang ke negara kita? Salah satunya, masalah politik di negaranya—ada juga yang karena punya masalah ekonomi.

Saya sempat mengira bahwa Suriah menjadi negara asal sebagian besar pengungsi. Ternyata bukan. Sebagian besar pengungsi berasal dari Afghanistan, negara yang memang sejak puluhan tahun lalu dilanda perang. Dengan posisi geografis yang relatif lebih dekat, mereka kemudian menempati beberapa rumah detensi—Indonesia punya 13 rumah detensi yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Rumah detensi ini sendiri, sebenarnya berfungsi sebagai tahanan bagi orang yang melakukan pelanggaran keimigrasian, tapi sekarang malah fungsinya jadi semacam pengungsian, bagi 13 ribuan imigran yang datang ke Indonesia.

Dilematis

Barangkali satu kata itu yang menggambarkan posisi pemerintah kita menghadapi kedatangan para imigran. Ditjen Imigrasi—sesuai undang-undang nomor 6 tahun 2011—tidak menangani imigrasi. Mereka turun tangan berdasarkan perpres 125 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri, dengan memberi bantuan penampungan di rumah detensi. Dengan demikian, penanganan yang dilakukan jajaran ditjen imigrasi, mempertimbangakn faktor kemanusiaan. Bagaimana pun, imigran juga manusia. Sama halnya dengan imigran dari Indonesia yang masuk ke pegara pengguna tenaga kerja domestik asal Indonesia—jumlahnya seratusan ribu di Arab Saudi, dan ada juga yang masuk secara ilegal.

Solusinya, sebenarnya ada di tangan negara maju yang meratifikasi perjanjian penampungan imigran. Misalnya tetangga dekat kita: Australia. Sayangnya, negeri wool itu nampaknya juga kesulitan menangani pengungsi. Kondisi mereka di Pulau Manus mengenaskan. Di Nauru juga begitu. Christmas Island—yang katanya keliatan dari pantai selatan Sukabumi—kata Pak Agung mau dijadiin pulau berbasis turisme. Sekarang, yang bisa dilakukan Indonesia, paling melobi negara-negara yang sudah meratifikasi konvensi penampungan imigran, untuk mau mewadahi saudara kita yang malang tadi. Karena, meskipun jumlah imigran pencari suaka di Indonesia lebih sedikit dibanding negara tetangga—di Malaysia ada 110 ribu orang—tetap saja (menurut warga setempat yang merasakan) keberadaan mereka meresahkan.

“Jadi inget film District 9”, kata saya ke Pak Agung. “Ada wilayah khusus alien di Afrika Selatan, dan orang yang masuk ke sana ternyata ketularan jadi alien juga”.

“Oh iya, gimana kalo petugas kita yang bantu mereka kena penyakit? Udah ada laporan yang kena sifilis loh”, pembicaraan saya dan Pak Agung terhenti karena wawancara di TV akan dimulai. []

Sunday, January 21, 2018

Bacaan Selama 2017

Mumpung masih Januari, belum telat buat berbagi tentang buku bacaan saya di tahun 2017. Langsung aja, berikut ini tautan menuju ulasannya (klik judulnya. Kalau nggak bisa, berarti saya cuma ngulas singkat di Instagram. Hehe):
 
Buku ini dibeli dari sebuah bazaar buku murah di sebuah toko swalayan sederhana di bogor. Lima ribu rupiah saja harganya. Tapi isinya gak semurah harganya. Seneng rasanya kalo nemu yang kayak gini. Menang banyak. Haha. Oke, intinya di buku ini sepak bola dibahas dari sudut pandang kritis. Bahwa pengelolaan oleh FIFA yang seolah apolitis justru sangat politis, bahwa piala dunia sebenarnya sarana diplomasi di percaturan konflik antar negara, bahwa ada kemenangan dan kekalahan para pemain melawan kehidupan yang lebih besar dibanding pertandingan di lapangan 100x60 meter persegi. Bab terbaik buku ini ada di bagian akhir, tentang Brazil. Ada kisah tentang Garrincha, Heleno, Varela, Socrates. Nama-nama itu berasal dari tahun 50-60an, tapi punya kisah semenarik CR7 atau Messi. Kalau saya bikin jajaran buku pusaka, judul ini masuk salah satunya #soccer #panditfootball
A post shared by rheza ardiansyah (@viewfromhell) on
    • KPK vs Polri
 
A post shared by rheza ardiansyah (@viewfromhell) on
  • Pulang
 
A post shared by rheza ardiansyah (@viewfromhell) on
  • Laut Bercerita
 
A post shared by rheza ardiansyah (@viewfromhell) on
  Sebenarnya, selain enam judul di atas, ada bacaan lain yang saya lahap juga. Misalnya buku puisi Melihat Api Bekerja, komik Cerebral Vortex, buku motivasional 131 Cahaya dari Timur, komik Kiri Kanan Jakarta.  Tahun ini saya juga beli buku puisi Kota Asing buatan Ardi Kresna Crenata, tapi belum tamat. Hehe. Tahun ini saya mau tamatin buku-buku terbeli yang belum sempat disimak. selain juga baca ulang buku seru lain, misalnya Heavier Than Heaven.  Penjelajahan saya tentang dunia peraksaraan nampaknya akan semakin seru, karena di antara yang belum terbaca itu ada buku-bukunya Pak Trias Kuncahyono (wartawan Kompas yang rubrik Kredensial-nya saya baca tiap hari minggu), ada juga buku Timor Timur The Untold Story (makin pengen dikhatamkan setelah nonton film dokumenter Cold Blood), dan buku diskonan lain yang saat ini cuma berjejer di lemari. Haha. Saya ingat seorang kawan dekat (saya gak yakin dia suka kalo namanya disebut di sini) bercerita. Katanya dia bersyukur selamat dari kutukan Club 27. Saya bilang "iya dong, jangan gabung kelompok itu. Hidup ini terlalu indah. Masih banyak lagu bagus yang belum dirilis, film yang belum ditonton dan buku yang belum dibaca". Kamu setuju? []

Monday, January 8, 2018

Kisah Sukarelawan Gunung Guntur

Sore itu, saya tiba di pos ketiga Gunung Guntur bersama Fajri. Kami sampai di sana setelah mendaki selama sekitar dua jam. Di pos terakhir sebelum puncak gunung itu, tiga orang duduk di depan bangunan berbahan kayu (saung). Terlihat akrab, satu di antara mereka menyapa kami. “Nggak bawa cewek nih?” itulah Dipeng, bercanda ke Fajri. Dipeng ini salah seorang sukarelawan yang tinggal di saung pos tiga. Dia tinggal di sana bersama tiga sampai lima orang lain untuk membantu merawat Gunung Guntur. Saya menyalami mereka satu persatu, pria-pria lajang di usianya yang masih berbilang 20 atau 30 tahunan. Mereka menyebut diri sukarelawan karena sehari-hari, mereka mendata nama pendaki agar tetap aman. Kawanan ini juga menyewakan peralatan mendaki dan menjual oleh-oleh aksesoeris khas Gunung Guntur. Saya pun mengenal mereka lebih dalam melalui sebuah perbincangan di kala malam. Ternyata, kawasan Gunung Guntur dilingkupi sinyal ponsel dan radio. Kami duduk melingkar sambil ngemil kuaci. Beda dengan Fajri, saya baru pertama kali ke Gunung Guntur dan pertama kali pula ketemu mereka. Tapi, kami ngobrol nggak canggung. Mereka memperlakukan saya seperti kawan lama. Suara dialog samar terdengar dari kotak radio di dekat tempat simpan matras. Kata Dipeng, radio itu sumber berita buat mereka, selain internet, terutama twitter. Sinyal sih ada, tapi kata Dipeng, yang paling asik tetep ngobrol sama pendaki. “Cuma aneh, anak gunung sekarang nggak kenal Soe Hok Gie,” Dipeng komplain. Gie yang dia maksud, tentu saja si pendaki gunung sekaligus kritikus rezim Soekarno di masa akhir presidensialnya. Lalu Dipeng nanya, saya udah baca bukunya atau belum. Well, saya terus terang belum tamat baca Catatan Seorang Demonstran, padahal punya bukunya. Saya bilang, sekarang lagi namatin buku Laut Bercerita. Novel karangan Leila S. Chudori itu ceritanya tentang aktivis mahasiswa yang berjuang buat sistem demokrasi di Indonesia. Sayangnya, mereka disiksa sama tentara. Pembicaraan tentang politik menggiring kami ke pembicaraan lain yang mungkin terlalu serius, apalagi radio lagi ada dialog tentang pemilihan gubernur Jawa Barat. Sepengamatan saya, ada dua topik yang biasanya asik dibahas laki-laki. Kalau nggak sepak bola, politik. Setuju nggak? Yang jelas malam itu kami lebih banyak ngomongin politiknya. Dipeng cerita tentang program dialog di radio yang dia langgan. Di setiap episode, warga Garut bisa saling mengomentasi sejumlah isu public. Menariknya, pengambil kebijakan dihadirkan langsung. Salah seorang anggota “geng pos III”, Oded, salah satu yang paling aktif. “apalagi kalo bahas soal penambangan pasir,” kata Dipeng. Oded ini orangnya pendiam. Dia biasa dipanggil Haji. Besok paginya, pas saya masih tidur, ada suara orang baca al quran. Pasti itu Kang Oded. Saya jadi kepikir, kok orang-orang ini milih ada di sini ya? Dipeng pernah cerita, waktu dia lagi pulang ke Sumedang, katanya malah nggak bisa lama-lama di bawah. “begitu ditelpon anak-anak kalo di atas butuh bantuan, langsung naik lagi. Kayak ada ikatan batin, padahal ga ada yang maksa juga,”
***
Cita-cita saya mendaki Gunung Guntur akhirnya kesampaian. Setidaknya, saya sampai di puncak kedua dari lima puncak Guntur. Yang paling berjasa buat kesempatan ini sebenarnya Fajri. Sebelumnya, kami merencanakan naik pas weekend. Tapi, dia punya jadwal lain. Fajri ini—dia menyebut dirinya “Juara Adzan”—sebenarnya sukarelawan juga. Dia pernah tinggal di Gunung Papandayan selama dua bulan. Beberapa hari lalu, dia bahkan baru evakuasi pendaki di Gunung Manglayang. Dan besoknya setelah dari Guntur ini, dia harus ke Pangandaran buat kasih pelatihan penyelamatan diri di alam liar. Begitulah, kisah para sukarelawan menikmati hari mereka. []