Tuesday, July 31, 2018

Semiotika

Saya datang ke Spasial sekitar jam 19:45 hari Minggu lalu. Tadinya, saya malah akan hadir di sana sejak jam 16, sebelum akhirnya tahu bahwa Semiotika naik panggung jam 20. Band post-rock asal Jambi itu lagi sering saya dengar. Makanya pas mereka mampir ke Bandung dalam rangkaian tur pra-acara Soundrenaline, saya sempatkan nonton langsung. Biar merasakan musik mereka secara lebih hidup.

Trio Bibing-Riri-Gembol langsung membunyikan instrumen begitu set alat mereka siap. Tanpa perkenalan, tanpa judul lagu.

“Soalnya kita juga kebanyakan kalau live pun kadang-kadang jarang bilang ini lagu apa,” Bibing sempat jawab pertanyaan saya soal judul lagu. Setelah mereka tampil. “Kita nutupin mata, terserah kalian mau gimana, kalian mau moodnya gimana pas degerin musik kita, terserah. Jadi judul-judul itu ya itu dari kita, dari sudut pandang kita.”

Sejak dibentuk tahun 2014, Semiotika sudah buat satu album berjudul Ruang (2015) dan satu minialbum Gelombang Darat (2018). Menariknya, lagu pertama yang mereka rekam ada di minialbum yang dirilis empat tahun kemudian. Judulnya Delusi. “Aransemennya susah.” Kata Bibing soal lagu ketiga yang mereka bawakan juga di Bandung malam itu. Dalam penampilan itu pula, Bibing mengaku bahwa mereka bahagia bisa sepanggung dengan Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS), band post-rock bentukan 2007. Katanya di atas panggung, kalau UTBBYS nggak ada, Semiotika nggak ada juga.
“Aku suka emang kayak instrumental, dari dulu aku suka. Bang Riri ngasih suasana baru. Jadi pas di kedai itu—Bibing dan Gembol mengelola sebuah kedai—kan dari siang sampe malem kan dengerin semua lagu. Cuma yang pasti pas malem-malem, kita lagi beres-beres, nyuci piring, buat mie, itu dengerinnya kebanyakan Under (The Big Bright Yellow Sun), Explosions (In The Sky). Ini band mana ya? Band bandung. Anjir keren. Jadi kayak, pas udah bosen gitu, abis gawean di kedai, ‘ayo ngejam’. Padahal ada band-band sendiri. Gembol ada band hardcore, Riri ada band dub-ska”
Waktu saya dan Bibing bicara soal band yang menginspirasi mereka, saat itu pula obrolan kami terpotong. Didi sang pencabik bass UTBBYS pamit pulang.

“Sukses, sukses!” kata Didi singkat setelah bertanya sampai kapan Semiotika di Bandung.

“Kang. Nuhun. Nuhun nya.” Bibing berbahasa Sunda dengan logat khas orang Sumatera.

“Edankeun!” kata Didi. Bibing membalas dengan meneriakkan kata yang sama. []

Saturday, July 21, 2018

Pop Kosong


Seorang komedian bernama Trevor Noah, punya program bernama The Daily Show yang disiarkan rutin di youtube. Isinya komedi tentang sebuah berita yang sedang hangat buat dibahas. Tanggal 17 Juli lalu, Trevor bahas tentang kemenangan Perancis di piala dunia. Dengan gaya satir dia bilang:
“Africa won the world cup”
Pembawaan komedi seperti ini, ternyata dianggap serius oleh pemerintah Perancis. Duta besar Perancis untuk Amerika Serikat bahkan sampai bikin surat buat Trevor dan mengoreksi opininya di atas dengan penjelasan panjang lebar. Meski begitu, komedian asal Afrika Selatan yang masuk daftar 100 orang berpengaruh tahun 2018 versi majalah Times ini, bisa membalas semua protes yang dilayangkan Perancis. Sepertinya, candaan Trevor menyinggung dubes Gerard Araud karena semboyan fraternite, egalite, liberte seakan dimentahkan. Moto kebebasan, keadilan, persaudaraan memang jadi semacam Bhineka Tunggal Ika-nya Perancis sejak tahun 1880. 

Sayangnya, semangat konservatisme mengancam keberagaman di benua biru—seperti halnya virus penyeragaman merongrong toleransi di Indonesia. Menilik kondisi tadi, saya berkesimpulan bahwa, semboyan negara cuma utopia—meskipun setidaknya bisa jadi panduan juga. Dan paradoks itu bukan hanya terjadi di Perancis.
“Anakronisme lain politik Amerika Serikat adalah system electoral college. Di negara kampiun demokrasi terdepan dunia, pemilih tidak pernah bisa secara langsung memilih presiden mereka. Tiap empat tahun di awal bulan November, pemilih mencoblos dalam pilpres sejumlah orang yang akan mewakili satu negara bagian untuk duduk di electoral college yang kemudian mendapat tugas untuk memilih presiden baru.”
Kutipan kalimat di atas bukan saya ambil dari buku bertema utama politik, melainkan musik. Judulnya Pop Kosong Berbunyi Nyaring: 19 Hal yang Tidak Perlu Diketahui Tentang Musik, buatan wartawan The Jakarta Post sekaligus pemilik distributor musik Elevation Records. Kritikan terhadap sistem elektoral Negeri Paman Sam ia tuliskan dalam sebuah bab berjudul “This Heat, Deceit dan Penyakit Demokrasi”. This Heat adalah nama band avant-garde asal London. Deceit judul album terakhirnya—dari dua album dan satu minialbum. Dan kontennya, kritik untuk sang kampiun demokrasi dari lagu-lagu yang lahir di tahun 1981. Menariknya, penulis menganalisa bahwa lirik dari 29 tahun lalu itu masih relevan dengan realita Amerika hari ini.
“Serigala betina (she-wolf) yang disebut di baris terakhir tampaknya mengacu kepada kapitalisme yang menyusui pekerja, dan pada akhirnya membenturkan satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain; white supremacist melawan Black Lives Matter, media di pantai timur melawan redneck Amerika, para feminis progresif pendukung Hillary melawan kaum perempuan kelas pekerja yang memberi apologi bagi misoginisme Trump.”
Selain menganalisa lirik dan musik dengan realita kekinian, pengalaman pribadi penulis juga mewarnai pembahasan tentang sebuah musik. Saya paling suka ketika Taufiq secara sinikal menggambarkan hidup di usia 30an dalam judul The Thistysomethings Are Not Alright—titel ini diberi keterangan Extended Coda karena tidak ada di versi cetakan sebelumnya yang baru memuat 13 naskah. Tidak ada referensi musik yang dinukil di bagian ini, melainkan tawaran bahwa:
“Bagaimana  jika pilihan bagi generasi usia tiga puluhan sekarang adalah untuk berjalan lebih pelan. Bangun lebih siang, membaca buku lebih sering, menikmati lagu, lebih banyak berdiam dan berfikir.”
Selain analisa dan kontemplasi, buku ini tentu saja mengenalkan pembaca ke referensi musikal yang bisa jadi terasa menyegarkan. Namun, menemukan referensi musik di masa kini sudah semudah membuka tab baru di browser bukan? Resensi singkat di bagian punggung buku menuliskan: 
“satu-satunya nilai tambah yang bisa Anda dapatkan dari buku ini adalah bahwa semua pemain kelas bulu yang ditulis di buku ini (kecuali Dylan era akhir 1990an) ditemukan di masa pra-internet.” []

Agus


Saya kenal seorang Agus. Dia teman saya semasa kuliah di periode 2008-2011. Tahun 2012-2013 Agus lanjut jadi asisten dosen di departemen kami. Lima tahun berikutnya Agus tinggal di Amerika Serikat, meraih gelar master dan sekarang menjemput titel doktor.

Lima hari terakhir Agus berkunjung ke Bandung, tempat saya sekarang tinggal bersama anak dan istri. Di hari kedua kunjungannya, saya ajak Agus menjelajah kawasan kota tua. Sore itu kami mulai dari pertigaan jalan braga dan jalan asia afrika. Agus menunggu di seberang Starbucks. Ketika kami duduk berhadapan sekitar 20 menit kemudian di Warkop Purnama, titik tempat dia menunggu terekam dalam sebuah foto bernuansa sepia, ketika jalanan di masa itu lengang dan delman masih melintasi jalan asia afrika ke arah timur—sekarang, arus lalu lintas di jalan asia afrika dibuat searah ke barat, dan tentu saja tidak ada lagi delman. Kota Bandung beruntung masih punya beberapa warisan peninggalan masa lalu. Dan kisah dari berbagai lokasi bersejarah itulah yang saya kenalkan ke agus dalam tiga hingga empat jam setelahnya.

Di warung kopi yang semula bernama Chang Chong Se itu, saya dan agus ngobrol lama. Ditemani roti srikaya—yang saya paksa Agus buat nyicip—kami bicara banyak hal. Dari presiden sampai dosen. Dari buku The Broken Ladder—tentang kesenjangan ekonomi—hingga kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia. Dari film The Death of Stalin sampai Buffalo Boys. Sebagai kawan lama, tentu saja pembicaraan tentang masa lalu juga kami ungkit. Agus masih tertawa lepas ketika saya ceritakan ulang soal egosentrismenya sebagai anak bungsu. Dan agus sempat bikin kaget karena mengingat bahwa saya pernah berniat untuk melarang istri bekerja ketika menikah kelak. Saat itulah saya sadari bahwa, kami berubah.

***
Saya dan Agus sama-sama suka film. Katanya, dia selalu ceritakan ke teman-temannya di Amerika tentang film yang pernah kami buat bertiga, bersama Metha. Saya dan Agus juga suka bertukar referensi film. Selama di Amerika sana, Agus sulit buat nonton film Indonesia. Saya ceritakanlah bahwa Pengabdi Setan memang seseru Hereditary. Bahwa akhir-akhir ini banyak film nasional yang menarik. Dari Kulari ke Pantai sampai Buffalo Boys. Judul terakhir itu yang semalam saya tonton.
Buffalo Boys bercerita tentang tiga orang pria Jawa yang kembali ke kampung halamannya setelah diungsikan ke alam liar benua amerika tahun 1860. Ketiga orang tadi kemudian membawa bekal kemampuan bertarung ala wild west ke east indie, untuk membalas dendam ke bangsa penjajah.

Kalau dikait-kaitkan, Agus ini Buffalo Boys juga. Seorang yang lahir di Jawa Barat merantau ke pesisir timur Pennsylvania. Seperti trio Jamar, Suwo dan Arana, Agus pulang sementara dari negara barat ke belahan bumi timur dengan oleh-oleh khasnya. Sepertinya, anugerah terbesar Agus setelah dia berjuang di masa menjadi asisten dosen, bukan cuma gelar akademik di Amrik. Keleluasaan berpikir. Dan keberanian mengambil keputusan. Mungkin itu yang paling dia nikmati saat ini, di negeri yang mendewakan kata freedom. Apakah kebebasan dan keberanian Agus (akan) subur juga di Indonesia? Tidak ada jaminan demikian. Mungkin kenyataan itu yang mendorong Agus buat balik lagi dan tinggal di sana. Bisa sampai lima tahun ke depan, bisa juga lebih lama dari itu. []

Wednesday, July 11, 2018

Kaka Dani


Saya membaca Suku Dani alias Kaka Dani di film Kulari ke Pantai, sebagai simbolisasi asing sekaligus ke-kita-an Papua. Maksudnya begini.
Jreng, jreng, jreng.
"Sa punya cerita..."

Kaka Dani di film Kulari ke Pantai diperankan oleh pria bernama asli Suku Dani, yang uniknya fasih berbicara dengan logat khas Papua. Dalam sebuah dialog, ia bercerita tentang dirinya sendiri di kehidupan nyata: lahir dan besar di Papua—tepatnya lahir di Jayapura dan besar di Wamena. Makanya, ketika diajak berbahasa Inggris oleh Happy, dia bilang:
“Ade, sa pake bahasa inggris itu kalo di amerika sana.”

Nah di kehidupan luar layar film, Suku Dani memang sekolah di Amerika, tepatnya di Atlanta. Bahkan ketika syuting, Dani sambil mengerjakan skripsinya. Fakta-fakta itu, bikin saya mikir bahwa kehadiran Dani dari Papua ini menyiratkan simbol bahwa Papua dianggap asing—tampak ketika ia diajak bicara bahasa asing oleh ‘orang indonesia’. Padahal dia orang Papua, bahkan minta diajak berbahasa Indonesia. Dalam dialog di atas, saya juga berpikir bahwa “Amerika” yang ia maksud—jika dikaitkan dengan penguasaan sumber daya alam di sana—juga menyuarakan simbol tersendiri. Saya jadi ingat buku Semua Untuk Hindia.

Semua Untuk Hindia

Akun instagram penjual buku online aebookstore menulis bahwa:
“’endorsement’ Ariel Heryanto atas buku ini melalui kuliah umumnya tentang peran gerakan kiri terhadap kemerdekaan Indonesia memang tidak salah tempat.”

Saya setuju dengan itu. Buktinya, saya langsung cari bukunya meskipun sebelumnya pernah baca juga pujian untuk kumpulan cerpen karangan Iksaka Banu itu di ulasan-ulasan koran. Apalagi setelah saya baca cerpen berjudul Teh dan Pengkhianat di Koran Tempo. Nafsu membaca Semua Untuk Hindia menggebu-gebu—oke ekspresi ini berlebihan. Sayangnya, ekspektasi saya sedikit patah karena membaca kata pengantar bikinan Nirwan Dewanto di buku yang sama. Dia membocorkan ending kisah berjudul “Gudang 012B”. Akhirnya, saya baca dari belakang. Mirip cara kita nonton film Memento (Christopher Nolan, 2000).

Setelah baca tulisan Iksaka Banu soal kehidupan prakemerdekaan, saya jadi berpikir tentang Indonesia jika tanggal 17 Agutus 1945 proklamasi tidak pernah terjadi. Bisa jadi saya punya teman main kelereng bernama Ujang, dengan mata biru dan rambut pirang. Atau cinta monyet saya mungkin seorang gadis berbahasa sunda bernama Beatrice, tentu saja deskripsi fisik serupa “Ujang-Ujangan” tadi. Meskipun, konsekuensinya bisa saja berujung seperti romansa Soekarno dan Rika Meelhuysen. Atau malah jika “Indonesia tidak merdeka”, saya bakal punya bupati bernama khas eropa yang menganggap warga berkulit cokelat bukan manusia yang setara. Sekali lagi, saya musti setuju dengan pendapat Ariel Heryanto tentang Semua Untuk Hindia:
Sejak terbitnya karya Buru oleh Pramoedya A. Toer di tahun 1980-an, inilah karya sastra Indonesia yang pertama dan mungkin satu-satunya yang secara radikal menjungkir-balik sejarah nasional.

Oke mari sekarang kita kembali ke film Kulari ke Pantai. Intinya, saya senang berkenalan dengan Suku Dani. Dia memenuhi imajinasi saya bahwa Indonesia bisa lebih beragam dan seru dengan kehadiran orang kaukasian. Saya juga bahagia dengan fakta bahwa dari Bali ada seorang remaja bule berbahasa Indonesia berusia 16 tahun berprofesi sebagai surfer professional bernama Kailani Johnson—yang kemudian diidolakan tokoh Sam di dalam film itu.

Kini, rasanya saya akan cukup percaya diri untuk menyanggah pesan perpisahan wartawan bernama Maria Geertruida Welwillend alias Geertje. Dalam cerpen berjudul Selamat Tinggal Hindia—tulisan pertama dalam buku Semua Untuk Hindia—ia menulis sebuah pesan perpisahan:
“selamat tinggal Hindia Belanda, selamat datang Repoeblik Indonesia”

Jika kehidupan beragam kita tidak diracuni ketakutan tentang asing dan aseng, “Geertje” tidak perlu pergi dari nusantara dengan hanya meninggalkan pesan melalui tulisan dari lipstik. []