Saturday, March 16, 2019

Wonder


Tadi pagi saya nonton film Wonder. Kebetulan tayang di Fox Movies. Waktu film ini ada di bioskop, saya nggak sempat nonton, padahal banyak ulasan bagus. Ternyata memang iya. Film ini kalau menurut istilah Joko Anwar, menghangatkan. Ceritanya tentang seorang anak bernama Auggie yang menderita penyakit langka. Via sang kakak, menjelaskan bahwa kondisi yang dialami adiknya terjadi akibat kebanyakan jumlah kromosom di dalam sel si adik. Belakangan saya tahu bahwa kelainannya bernama Edward Syndrome. Kata Via, kondisi Auggie cuma kemenangan dalam sebuah lotere kemalangan.

Meski fokus di sosok Auggie, film Wonder juga mengenalkan tokoh lain di beberapa babak yang dibatasi dengan nama mereka. Via sang kakak, dihadapkan dengan kekecewaannya dalam aktivitas seni peran yang dia ikuti dan persaingan dengan sobat karibnya, Miranda. Tapi kita pada akhirnya paham tentang problema yang juga dihadapi Miranda melalui penuturan yang tetap kronologis.

Lantas bagian mana yang dimaksud dengan “menghangatkan”? Ada beberapa. Misalnya ketika tokoh Jack Will bersedia menemani Auggie yang dijauhi teman-temannya. Karena sindrom yang dideritanya, Auggie memang jadi sasaran empuk perundungan (bullying). Terutama oleh teman sekelasnya yang bernama Julian. Kenapa Julian bisa sedemikian intimidatif? Bagaimana kepala sekolah Tushman memecahkan masalah klasik bullying?

Pada akhirnya film ini mengajak kita untuk memahami bahwa ada suatu kondisi yang membuat seseorang bertindak negatif terhadap orang lain. Dan untuk memahaminya, kita perlu berempati. Kalo kata Miranda, kurang lebih:

Setiap orang berjuang dalam pertarungannya masing-masing.

Wonder bukan cuma mengajak kita berpikir tentang bagaimana baiknya kita berinteraksi dengan kalangan difabel, tapi juga menggambarkan sistem penerimaan yang membuat mereka tetap setara. Auggie yang sebelumnya belajar dengan system homeschooling, pada akhirnya berterima kasih ke ibunya karena ia bisa bersekolah bersama teman-temannya yang “normal”. Mewadahi bakat dan potensi anak berkebutuhan khusus mungkin memang sulit. Tapi dengan pendidikan inklusif yang tepat, keterbatasan mereka pada akhirnya bisa dipandang sebagai keberagaman yang membuat hidup lebih berwarna. []

Friday, November 30, 2018

Sustainability


Dua hari terakhir saya ikut pelatihan tentang menulis berita berbasis data laporan keberlanjutan atau sustainability report alias SR. Apa itu SR? Saya juga baru tau di acara AJI Bandung ini, bahwa SR itu semacam laporan tahunan perusahaan yang berisi tentang catatan pelaksanaan prinsip ramah sosial dan lingkungan, tapi tetap mengutamakan profit. Oke, kalimat pembuka ini bukan awal yang bagus buat menarik kamu melanjutkan baca. Haha. Tapi mungkin kamu juga perlu tau apa yang saya baru tau.

Jadi, sekarang ini kesadaran hidup ramah lingkungan sedang tumbuh—karena planet bumi makin rusak. Kita bisa lihat film dokumenternya Leo diCaprio berjudul Before The Flood. Di film itu, diceritakan bahwa sebagai negara penghasil polutan terbanyak di dunia, Tiongkok sudah mulai menggunakan energi ramah lingkungan. Di India juga gaya hidup hijau mulai dijalani. Pemerintah Amerika juga komitmennya begitu, sebelum Obama diganti Trump. Hehe.

Nah, ada sebuah system pengawasan perusahaan agar ramah lingkungan. Namanya SR tadi. Di Indonesia, hampir 9% perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia sudah menerbitkan laporan keberlanjutan. Laporan semacam inilah yang perlu kita promosikan terus agar nanti di masa depan, prinsip ramah lingkungan jadi pertimbangan sebuah perusahaan untuk didukung publik. Dibeli sahamnya, atau produknya dilanggan misalnya. Bagi wartawan, cara untuk mengarusutamakan ide ini, tentu saja dengan melakukan peliputan. Rancangan peliputan itulah yang saya presentasikan di hari terakhir pelatihan.

Intinya, saya mengajukan usulan peliputan tentang SR bagi perusahaan tekstil. Ide ini berasal dari film dokumenter yang saya tonton semalam. Judulnya: True Cost (2015). True Cost mengungkap harga riil di balik banderol murah busana bermerk yang kita beli. Ternyata, di belakang harga miring baju yang trennya cepat berganti, ada upah buruh yang dipangkas. Belum lagi upah nonfinansial yang harus direlakan.

Upah buruh jadi variabel yang paling memungkinkan dikurangi karena pabrik tekstil berlomba menjual produknya ke merk-merk besar dengan harga murah. Itu jika dapur produksi mereka mau tetap ngebul. Sutradara Andrew Morgan mengenalkan kita ke korban dan pahlawan industri tekstil. Melalui seorang ahli, dia juga menganalisa satu buntut sistem kapitalisme/ konsumerisme ini. Lalu apa solusinya? Yang jelas bukan sistem khilafiyah. Apalagi komunisme. Hehe. []

Wednesday, October 31, 2018

Bana

Belantara internet raya mengantarkan saya ke sebuah nama: Arlian Buana alias Bana. Bukunya berjudul Merry Christmas Felix Siauw. Bisa didownload gratis. Berupa file pdf. Buatan tahun 2012. Buku lama. Tapi gapapalah saya baca juga. Biar plong pas bersihin folder downloads. Tebalnya seratus sekian halaman. Isinya tentang dirinya sendiri dan sejumlah topik pemberitaan nasional. Lantas kenapa bawa-bawa nama Felix Siauw?

Saya bacanya skimming. Di bagian awal, Bana memperkenalkan dirinya sebagai alumni sebuah pesantren—yang juga pernah jadi tempat cendekiawan muslim Komarudin Hidayat mondok. Penulis kemudian kuliah di tempat Komarudin Hidayat jadi rector: UIN Syarif Hidayatullah. Dari situlah dia kemudian bercerita tentang pergaulannya. Dari Putut EA sampai Ariel Noah. Selanjutnya, Bana bahas beberapa topic berdasarkan pengalaman dan paradigma pribadinya. Contoh, soal PKI dan Yahudi. Dia bertanya (ke Bapaknya): “mengapa orang kita tidak membenci Belanda dan Jepang? Mengapa kita lebih membenci PKI dan Yahudi?”

Dengan bahasa ringan ala tulisan mojok.co—salah satu artikelnya juga dikutip—Bana sebenarnya sedang menjelaskan tentang buku John Roosa: Dalih Pembunuhan Massal, film Pengkhianatan G/30/S/PKI, sampai menganalogikan peristiwa itu dengan alur kisah film Game of Thrones. Jawaban pertanyaan di atas, ternyata pertanyaan juga:
“mengapa kita harus memendam kebencian? Untuk apa kita membenci dan bermusuhan, demi siapa?” (hal. 63)
Tapi yang asik dari tulisan geng mojok macam Bana ini, gaya penyampaian opini melalui satir. Contohnya di judul “Menjadi Muslim Pintar bersama Palu-Arit”. Ketika dia menulis:
“Beberapa waktu sebelumnya, pernah pula PKS-P menunjukkan kecerdasan yang jenuin tiada banding. Kira-kira dia mencuit begini: Lihat dong, PKS-P mendapat kunjungan lebih dari empat juta sehari tapi servernya tidak pernah down. Luar biasa. Saya kehabisan kata-kata.” (hal. 114-115)
Fakta-fakta berikutnya setelah paragraf itu, tentu saja menyanggah impresi “luar biasa” dan “kehabisan kata-kata”. Itulah tulisan satir. Inti gagasannya, merujuk ke aksi Gus Dur soal isu ini:
“Maka lihatlah, Gus, jangankan mengobati luka, melihat simbol palu-arit saja kami masih parno. Kami kesulitan bersikap adil, Gus, karena kami lebih senang merawat kebencian seperti hobi kami mengasah batu akik.” (hal. 117)
Felilx Siauw-nya mana? Ada di tulisan berjudul “Menjadi Penggemar Berat Felix Siauw”. Di situ tertulis:
“Berkat perjuangan Ustadz Siauw, Al Quran dan Sunnah telah jadi hukum di negara kita. Indonesia secara resmi sudah menerapkan Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan.” (hal. 121)
Ciri bahwa puja-puji penulis terhadap Siauw berupa satir, ada di kalimat terakhir: “Babi, Nody Arizona membangunkan saya dari mimpi.” Dan pembahasan Felix Siauw tidak berhenti di sana. Masih ada judul lain yang bisa bikin "pengikut" Felix di media sosial blingsatan. []