Showing posts with label wonder. Show all posts
Showing posts with label wonder. Show all posts

Sunday, May 31, 2020

Jalan Terus

Kemarin saya mampir cukup lama di sebuah tweet.
Satu per satu, saya baca juga balasan tweet itu. Menarik melihat judul-judul yang direkomendasikan banyak orang. Ada yang belum saya tonton, dimasukkan ke daftar “My List”, atau yang “rasanya nggak usah ditonton”. Beberapa di antara lainnya, ada juga yang sudah ditonton dan saya lupa gimana sensasi nonton film itu. Lalu saya buka blog ini.

Beberapa posting di blog yang dulunya bernama domain Can I Say Magz ini, memang tentang ulasan film yang saya tonton, tapi bukan sembarang ulasan. Biasanya saya berusaha menambahkan konteks.

Seseorang mendapuk Bukaan 8 sebagai film yang menurutnya “mengajarkan kehidupan”. Film itu bercerita tentang seorang pendengung di Twitter (buzzer) yang berjuang memenuhi kebutuhan kelahiran anak pertamanya. Saya nonton itu sekitar sebulan setelah anak saya lahir. Ketika itu kami sekeluarga terpisah jarak karena saya harus bertugas di Bandung.

Ada pula yang menyebut film Wonder. Saya mengingatnya sebagai pengingat bahwa semua orang punya masalahnya sendiri, seterlihat santai apapun dia. Kesan itu saya rekam pula di sebuah posting. Memang begitulah tujuan saya menulis di sini: mengabadikan kesan.

Yang di luar dugaan: tulisan dibaca banyak orang. Biasanya, satu posting dibaca kurang dari 20 orang. Bukan masalah karena artinya sejumlah itulah orang yang tertarik membaca. Tapi ada satu tulisan yang diakses 593 kali. Tentang film Oeroeg.

Awalnya saya nggak akan nulis soal itu, karena pernah dibagikan di sebuah rangkaian instagram story. Ternyata, banyaknya pengunjung ke posting itu menunjukkan bahwa berbagi hal yang sama—apalagi dari medium berbeda—sah-sah saja. Apalagi punya kedekatan dan aktualitas yang pas: rilisnya trailer film De Oost buatan salah satu dari duo Yellow Claw, Jim Taihutu—yang keturunan Ambon.

Begitu ada tantangan 31 Hari Menulis, saya merasa ini momen tepat buat giat menulis. Katanya kemampuan menulis itu seperti skill menaiki sepeda: harus terus dilatih. Apalagi keseharian saya berkaitan dengan penulisan. Klop.

Lalu, saya menerapkan beberapa kriteria. Satu, tulisan di sini sebisa mungkin harus berkaitan dengan buku, film atau musik. Dua, total katanya setidaknya berjumlah sekitar 300. Tiga, harus ditulis setiap hari. Dan inilah tulisan terakhir dalam serial 31 Hari Menulis.

Meski begitu, saya tetap bertekad menulis rutin. Kalau pun nggak sehari seposting, setidaknya di hari berikutnya ada posting lain yang menambal kekosongan hari tanpa tulisan. Jalan terus! []

Saturday, March 16, 2019

Wonder


Tadi pagi saya nonton film Wonder. Kebetulan tayang di Fox Movies. Waktu film ini ada di bioskop, saya nggak sempat nonton, padahal banyak ulasan bagus. Ternyata memang iya. Film ini kalau menurut istilah Joko Anwar, menghangatkan. Ceritanya tentang seorang anak bernama Auggie yang menderita penyakit langka. Via sang kakak, menjelaskan bahwa kondisi yang dialami adiknya terjadi akibat kebanyakan jumlah kromosom di dalam sel si adik. Belakangan saya tahu bahwa kelainannya bernama Edward Syndrome. Kata Via, kondisi Auggie cuma kemenangan dalam sebuah lotere kemalangan.

Meski fokus di sosok Auggie, film Wonder juga mengenalkan tokoh lain di beberapa babak yang dibatasi dengan nama mereka. Via sang kakak, dihadapkan dengan kekecewaannya dalam aktivitas seni peran yang dia ikuti dan persaingan dengan sobat karibnya, Miranda. Tapi kita pada akhirnya paham tentang problema yang juga dihadapi Miranda melalui penuturan yang tetap kronologis.

Lantas bagian mana yang dimaksud dengan “menghangatkan”? Ada beberapa. Misalnya ketika tokoh Jack Will bersedia menemani Auggie yang dijauhi teman-temannya. Karena sindrom yang dideritanya, Auggie memang jadi sasaran empuk perundungan (bullying). Terutama oleh teman sekelasnya yang bernama Julian. Kenapa Julian bisa sedemikian intimidatif? Bagaimana kepala sekolah Tushman memecahkan masalah klasik bullying?

Pada akhirnya film ini mengajak kita untuk memahami bahwa ada suatu kondisi yang membuat seseorang bertindak negatif terhadap orang lain. Dan untuk memahaminya, kita perlu berempati. Kalo kata Miranda, kurang lebih:

Setiap orang berjuang dalam pertarungannya masing-masing.

Wonder bukan cuma mengajak kita berpikir tentang bagaimana baiknya kita berinteraksi dengan kalangan difabel, tapi juga menggambarkan sistem penerimaan yang membuat mereka tetap setara. Auggie yang sebelumnya belajar dengan system homeschooling, pada akhirnya berterima kasih ke ibunya karena ia bisa bersekolah bersama teman-temannya yang “normal”. Mewadahi bakat dan potensi anak berkebutuhan khusus mungkin memang sulit. Tapi dengan pendidikan inklusif yang tepat, keterbatasan mereka pada akhirnya bisa dipandang sebagai keberagaman yang membuat hidup lebih berwarna. []