Friday, November 30, 2018

Sustainability


Dua hari terakhir saya ikut pelatihan tentang menulis berita berbasis data laporan keberlanjutan atau sustainability report alias SR. Apa itu SR? Saya juga baru tau di acara AJI Bandung ini, bahwa SR itu semacam laporan tahunan perusahaan yang berisi tentang catatan pelaksanaan prinsip ramah sosial dan lingkungan, tapi tetap mengutamakan profit. Oke, kalimat pembuka ini bukan awal yang bagus buat menarik kamu melanjutkan baca. Haha. Tapi mungkin kamu juga perlu tau apa yang saya baru tau.

Jadi, sekarang ini kesadaran hidup ramah lingkungan sedang tumbuh—karena planet bumi makin rusak. Kita bisa lihat film dokumenternya Leo diCaprio berjudul Before The Flood. Di film itu, diceritakan bahwa sebagai negara penghasil polutan terbanyak di dunia, Tiongkok sudah mulai menggunakan energi ramah lingkungan. Di India juga gaya hidup hijau mulai dijalani. Pemerintah Amerika juga komitmennya begitu, sebelum Obama diganti Trump. Hehe.

Nah, ada sebuah system pengawasan perusahaan agar ramah lingkungan. Namanya SR tadi. Di Indonesia, hampir 9% perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia sudah menerbitkan laporan keberlanjutan. Laporan semacam inilah yang perlu kita promosikan terus agar nanti di masa depan, prinsip ramah lingkungan jadi pertimbangan sebuah perusahaan untuk didukung publik. Dibeli sahamnya, atau produknya dilanggan misalnya. Bagi wartawan, cara untuk mengarusutamakan ide ini, tentu saja dengan melakukan peliputan. Rancangan peliputan itulah yang saya presentasikan di hari terakhir pelatihan.

Intinya, saya mengajukan usulan peliputan tentang SR bagi perusahaan tekstil. Ide ini berasal dari film dokumenter yang saya tonton semalam. Judulnya: True Cost (2015). True Cost mengungkap harga riil di balik banderol murah busana bermerk yang kita beli. Ternyata, di belakang harga miring baju yang trennya cepat berganti, ada upah buruh yang dipangkas. Belum lagi upah nonfinansial yang harus direlakan.

Upah buruh jadi variabel yang paling memungkinkan dikurangi karena pabrik tekstil berlomba menjual produknya ke merk-merk besar dengan harga murah. Itu jika dapur produksi mereka mau tetap ngebul. Sutradara Andrew Morgan mengenalkan kita ke korban dan pahlawan industri tekstil. Melalui seorang ahli, dia juga menganalisa satu buntut sistem kapitalisme/ konsumerisme ini. Lalu apa solusinya? Yang jelas bukan sistem khilafiyah. Apalagi komunisme. Hehe. []

Wednesday, October 31, 2018

Bana

Belantara internet raya mengantarkan saya ke sebuah nama: Arlian Buana alias Bana. Bukunya berjudul Merry Christmas Felix Siauw. Bisa didownload gratis. Berupa file pdf. Buatan tahun 2012. Buku lama. Tapi gapapalah saya baca juga. Biar plong pas bersihin folder downloads. Tebalnya seratus sekian halaman. Isinya tentang dirinya sendiri dan sejumlah topik pemberitaan nasional. Lantas kenapa bawa-bawa nama Felix Siauw?

Saya bacanya skimming. Di bagian awal, Bana memperkenalkan dirinya sebagai alumni sebuah pesantren—yang juga pernah jadi tempat cendekiawan muslim Komarudin Hidayat mondok. Penulis kemudian kuliah di tempat Komarudin Hidayat jadi rector: UIN Syarif Hidayatullah. Dari situlah dia kemudian bercerita tentang pergaulannya. Dari Putut EA sampai Ariel Noah. Selanjutnya, Bana bahas beberapa topic berdasarkan pengalaman dan paradigma pribadinya. Contoh, soal PKI dan Yahudi. Dia bertanya (ke Bapaknya): “mengapa orang kita tidak membenci Belanda dan Jepang? Mengapa kita lebih membenci PKI dan Yahudi?”

Dengan bahasa ringan ala tulisan mojok.co—salah satu artikelnya juga dikutip—Bana sebenarnya sedang menjelaskan tentang buku John Roosa: Dalih Pembunuhan Massal, film Pengkhianatan G/30/S/PKI, sampai menganalogikan peristiwa itu dengan alur kisah film Game of Thrones. Jawaban pertanyaan di atas, ternyata pertanyaan juga:
“mengapa kita harus memendam kebencian? Untuk apa kita membenci dan bermusuhan, demi siapa?” (hal. 63)
Tapi yang asik dari tulisan geng mojok macam Bana ini, gaya penyampaian opini melalui satir. Contohnya di judul “Menjadi Muslim Pintar bersama Palu-Arit”. Ketika dia menulis:
“Beberapa waktu sebelumnya, pernah pula PKS-P menunjukkan kecerdasan yang jenuin tiada banding. Kira-kira dia mencuit begini: Lihat dong, PKS-P mendapat kunjungan lebih dari empat juta sehari tapi servernya tidak pernah down. Luar biasa. Saya kehabisan kata-kata.” (hal. 114-115)
Fakta-fakta berikutnya setelah paragraf itu, tentu saja menyanggah impresi “luar biasa” dan “kehabisan kata-kata”. Itulah tulisan satir. Inti gagasannya, merujuk ke aksi Gus Dur soal isu ini:
“Maka lihatlah, Gus, jangankan mengobati luka, melihat simbol palu-arit saja kami masih parno. Kami kesulitan bersikap adil, Gus, karena kami lebih senang merawat kebencian seperti hobi kami mengasah batu akik.” (hal. 117)
Felilx Siauw-nya mana? Ada di tulisan berjudul “Menjadi Penggemar Berat Felix Siauw”. Di situ tertulis:
“Berkat perjuangan Ustadz Siauw, Al Quran dan Sunnah telah jadi hukum di negara kita. Indonesia secara resmi sudah menerapkan Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan.” (hal. 121)
Ciri bahwa puja-puji penulis terhadap Siauw berupa satir, ada di kalimat terakhir: “Babi, Nody Arizona membangunkan saya dari mimpi.” Dan pembahasan Felix Siauw tidak berhenti di sana. Masih ada judul lain yang bisa bikin "pengikut" Felix di media sosial blingsatan. []

Saturday, September 1, 2018

Bahasa


Tengah pekan ini, Bandung diguyur hujan gerimis. Nggak deras banget. Cukup sampai bikin aroma petrichor menguar. Semacam ngemrat kalau istilah bahasa sundanya. Artinya membasahi. Tekniknya dengan menyebar titik air ke sebidang tanah. Bisa disemprot tipis-tipis atau air disebar pakai gayung atau ember. Biasanya objeknya lapangan.

Saya jadi ingat opini Dandhy Laksono, tentang ancaman kepunahan bahasa daerah. Menanggapi berita tentang menteri pendidikan yang berkomentar tentang penyederhanaan bahasa daerah. Salah satu inisiator Alianji Jurnalis Independen itu, menyitir data bahwa 11 bahasa daerah sudah punah dan 16 lainnya terancam. Lalu, dia bercerita tentang nasib Bahasa Dawan berdasarkan pengalamannya mengunjungi kerajaan Boti di NTT.

Baru-baru ini saya lagi bacabuku tentang bahasa. Judulnya Gara-Gara Alat Vital dan Kancing Gigi: Bunga Rampai Bahasa. Penulisnya Gustaaf Kusno, seorang dokter gigi militer. Dia rajin nulis di Kompasiana sampai akhirnya terbitlah buku ini sebagai kumpulan tulisannya di situs blogging itu. Buku terbitan 2013 ini udah dibaca sampai halaman 90 dari hampir 190 halaman. Di dalamnya ada 6 tema besar yang dipecah lagi jadi sekitar 9-10 bab. Saya sendiri sudah khatam baca tulisan-tulisan bertema Serunya Indonesia! dan Asal Bahasa.

Dari buku ini, saya jadi tau sejarah sejumlah kata. Misalnya istilah kongkalikong yang ternyata diserap dari bahasa belanda “konkelen” (bersekongkol). Atau misalnya pengetahuan baru bahwa istilah “hutan” sebenarnya muncul dari nama perusahaan di masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1916 yang memuat kata “houtaankap”, artinya penebangan kayu (hout: hayu, aankap: memangkas).
Buku ini juga senada dengan argumen Dandhy bahwa bahasa itu menyimpan pengetahuan. Bukan cuma alat komunikasi. Kata ngemrat atau emrat di atas misalnya. Maka tepat pula kalau Dandhy bilang:
Bila sebuah bahasa lokal punah, tak ada lagi referensi pengetahuan lokal yang bisa dirujuk []