Showing posts with label buku. Show all posts
Showing posts with label buku. Show all posts

Thursday, January 11, 2024

Jakarta, 31 Desember 2023

 

Jakarta asik juga kalo lagi sepi. Waktu itu Minggu, 31 Desember 2023.

Saya sekeluarga datang ke kawasan Blok M sekitar jam makan siang. Kami langsung ke Futago Ya.

Ini kedai ramen favorit saya dan Windi. Kuahnya enak dan dagingnya empuk.

Selesai makan siang, kami melipir ke seberang: Taman Literasi Martha Tiahahu. Di sana, anak kami senang liat-liat buku di dalam perpustakaan yang adem.

Di dekat situ juga ada lemari buku Jakarta Book Hive. Isinya sedikit dan berantakan, saya lupa bawa beberapa judul buku buat disumbangkan.

Dari selatan Jakarta kami melesat ke arah pusat. Sore itu jalanan lancar. Tipikal gejala sub-urbanisasi.

Istilah itu merujuk ke kondisi ruang sebuah kota yang bergantung ke pembagian waktu. Jakarta lengang banget di satu waktu, tapi padet banget di waktu lain. Menurut Avianti Armand dalam buku “Arsitektur yang Lain”, sub-urbanisasi atau counter-urbanization ibarat “aspirin untuk sakit gigi”.

Dua puluh menitan kemudian kami sampai di Galeri Nasional. Ada dua area pameran yang kami datangi.

Pertama, Ruang Keluarga dan Anak. Ada instalasi lantai berpasir yang diseraki sampah plastik.

Anak kita bisa “pungut” sampah itu dengan scan sebuah barcode di dekatnya. Nantinya, proyektor akan menampilkan hewan laut yang ceritanya hasil daur ulang sampah tadi.

Interaksi serupa juga ada di gedung lain area Galnas. Sebuah imaji hewan bisa muncul setelah kita teriak di sebuah corong. Kami lantas pulang setelah hujan yang datang dari arah Bogor reda.

Malam harinya, kami tidur seperti biasa. Meski nggak nunggu sampai jam 00:01, saya akhirnya kebangun juga.

Dari balik jendela kembang api menyalak bergantian. Lampu mobil yang parkir di bawahnya juga nyala, sebuah false alarm.

Dua jam kemudian saya baru bisa tidur lagi setelah koor lagu tentang patah hati terdengar sayup dinyanyikan dari entah bar sebelah mana. Menara Blok M Square—yang motif kotaknya mirip motif roket di komik Tintin—tetap gelap.

Jakarta, selamat datang di tahun 2024. []

Wednesday, January 10, 2024

Teknoskeptisisme


Selama paruh akhir 2023, isi bacaan, tontonan dan musik yang saya dengar banyak bertema tentang teknoskeptisisme—paham yang meragukan keuntungan teknologi termutakhir. Mari saya ceritakan tentang mereka satu per satu.


Awalnya dari buku. Oleh seorang teman diskusi di English Lab, saya direkomendasikan buat baca Make Time. Dalam buku terbitan 2018 itu Jake Knapp dan John Zeratsky (JZ) kasih tips cara meluangkan waktu (make time) dan kenalkan konsep kolam tak berujung (infinity pool) untuk analogikan distraksi yang mudah diakses via internet. 


Buku itu pula yang mengenalkan saya ke istilah "industri distraksi" sekaligus menganalogikan ponsel sebagai cincin di film Lord of The Rings.


"Terkadang aku merasa ia seperti mata yang terus menatapku... Aku menemukan diriku tidak bisa tidur tanpa dia di sakuku." (Bilbo Baggins)


Halaman terakhir Make Time berisi dereran buku yang jadi acuan ide JZ dan Knapp. Alhasil saya baca Sapiens (2018).


Yuval Noah Harari jadi pemikir superstar gara-gara bukunya itu banjir pujian. Tokoh prestisius global semacam Barrack Obama hingga Bill Gates merekomendasikan buku bersubjudul "Sejarah Ringkas Umat Manusia" itu.


Isinya memang cukup cerdik merangkum sederet alasan kenapa Homo sapiens bisa jadi penguasa planet bumi. Menariknya, dalam wawancara di situs vox, Yuval mengaku kalau seandainya dia nggak rutin meditasi, sebagai profesor ilmu sejarah di Israel, dia akan terus meneliti tentang objek militer di abad pertengahan. "Meditasi" lantas jadi kata kunci yang berkait dengan "teknoskeptisisme" tadi.


Judul lain yang saya lahap dari daftar pustaka Make Time: Deep Work (2016). Buku ini ditulis Cal Newport.


Dalam satu bab khusus, profesor ilmu komputer dari Georgetown University itu mengajak pembaca menimang benefit media sosial yang menurutnya: kurang berfaedah. Akademisi lulusan MIT tahun 2009 itu kasih tips penggunaan notebook (buku tulis dalam arti harfiah) untuk atur fokus harian pembaca. 


Trik "pemenggalan waktu per 15 menit" itulah yang saya pake sampai sekarang—meskipun saya tetap harus juggling dengan komitmen buat disiplian. Dan itu ga masalah. Jangan sampai ilusi kesempurnaan justru jadi distraksi itu sendiri.


Sebetulnya, ada satu lagi buku yang saya baca Juli lalu dan ditulis seorang teknoskeptik lain: Jaron Lanier. Judulnya, Ten Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now. 


Cukup jelas lah ya isinya tentang apa. Jadi mari kita lanjut bahas musik.


Oktober 2023, Saturday Night Karaoke merilis minialbum yang efektif dan efisien: More Chords, Better Points. Isinya lima lagu yang kalo didengar berurutan rasanya akan seperti naik kereta Whoosh dari tengah perjalanan: cepat-cepat-cepat-cepat-pelan.


Yayaya, analoginya aneh. Haha. Poin saya: secara musikal rasanya begitu. 


Secara lirikal, kuartet asal Bandung ini menawarkan nomor bernuansa tragis tapi bisa komedik dalam sekali hentak. Judulnya: Abnormal? Abnormal!!!


Tokoh utama di lagu ini ceritanya muak dengan "unggahan gawai" seseorang yang punya ego tengik dengan membagikan "piagam, properti, teknologi termutakhir, swafoto pretensius di tengah momen plesir". Lebih jauh dari urusan pamer-pameran, lagu ini menggarisbawahi "konsep prestasi" yang di judul sempat diragukan lantas diyakinkan dengan tiga tanda seru: abnormal!!!


Visualisasi abnormalitas tadi lalu saya tonton di film The Truman Show. Film rilisan 1998 itu belum menyebut "unggahan", "distraksi", atau istilah terkait teknologi kiwari di atas. Judul yang dibintangi Jim Carrey ini menampilkan komodifikasi kehidupan personal.


Hari ini bukankah itu yang terjadi? Saat scrolling tentang posting trivial aktivitas harian, di timeline muncul satu-dua iklan yang menyelingi. Kalau kata Superman Is Dead di lagu Citra OD yang dirilis 2006: "privasi hari ini adalah konsumsi".


Kita mungkin sudah merasa maklum. Bagi kreator film itu, nggak. 


Meskipun yaaah, kalau kata Yuval sih harusnya film itu diakhir dengan Truman bebas dari studio televisi dan masuk lagi ke "studio" peradaban global. Dia merujuk ke beberapa hal yang disepakati umat manusia sebagai intersubjektivitas—pembahasan tentang objektif, subjektif dan intersubjektif ada di buku Sapiens.


Teknoskeptisisme yang dikenalkan judul-judul di atas baru beberapa titel yang saya simak tahun lalu. Untuk menutup ulasan ini, saya kutipkan artikel buatan Cal Newport yang dipublikasikan The New Yorker akhir tahun lalu. Dalam sebuah paragraf dia memperhalus kata skeptis menjadi seleksionis:


Techno-selectionists believe that we should continue to encourage and reward people who experiment with what comes next. But they also know that some experiments end up causing more bad than good. 


Techno-selectionists can be enthusiastic about artificial intelligence, say, while also taking a strong stance on settings where we should block its use. They can marvel at the benefits of the social Internet without surrendering their kids' mental lives to TikTok. []


Thursday, September 29, 2022

Trocoh





Oh, trocoh itu artinya bocor. Yang saya maksud, sebuah buku buatan Budi Warsito.


Isinya  esai tentang memorabilia si penulis: buku, film, cerpen, majalah, piringan hitam, dan banyak lagi. Dan perspektifnya unik.


Budi lihai mengolah fakta untuk kemudian dipadu padan dengan pengalaman, lantas disajikan ke dalam sebuah judul artikel barangkali sekitar 200-300 kata tanpa pembatas antar paragraf. Masing-masing mereka dibubuhi musik pengiring, berupa informasi judul lagu dan penyanyinya.


Sejauh 144 dari 275 halaman ini, favorit saya "Empat Menit, Sehat Sempurna". Isinya tentang Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). Waktu sekolah SD di akhir 90an, saya sempat mengalami masa-masa senam sebelum masuk kelas, serupa yang dialami pemilik perpustakaan Kineruku Bandung itu. 


Kedekatan dengan bahasan di judul ini, juga muncul ketika Budi menghadirkan sejarah SKJ yang berasal dari SPI, Senam Pagi Indonesia. Saya pernah tugas di program TV bernama SPI, Selamat Pagi Indonesia. Dan ternyata istilah SPI pernah sepopuler itu, hingga barangkali para senior di Metro TV mempertimbangkan "romantika" supaya penonton dari tahun 1975 bisa merasakan sebuah proximity.


Dalam tulisan yang sama, Budi juga membubuhkan opini jenaka tapi mungkin memang tepat, bahwa "Di negeri yang dipenuhi bakat pelawak ini, kepatuhan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan lelucon. Mungkin SKJ itu memang bukan soal kepatuhan, melainkan tentang bersenang-senang."


Meski begitu, ada pula bahasan yang terlalu jauh. Setidaknya bagi saya. Atau terlalu detil dan trivial sampai saya pikir judul ini bisa diabaikan. 


Pada akhirnya kategori semacam itu tetap saya baca sih, karena toh yang dicari dari membaca buku Trocoh bukan cuma informasi. Saya sedang mengasah skill meracik gagasan dengan bahan baku yang sama seperti buku ini. 


Salah satu cara latihannya, rutin nulis di blog ini. Sama seperti penulis Trocoh konsisten menulis di blognya, budiwarsito.net. []

Saturday, September 24, 2022

Baca Ulang Lalita

Saya baca lagi novel yang pertama kali dibaca 10 tahun lalu. Judulnya Lalita, buatan Ayu Utami. Kamu pernah baca juga?

Buku ini bisa dibilang lanjutan dari kanon Bilangan Fu (2008). Tokoh utama di Lalita, masih trio Marja Manjali, Parang Jati dan Sandi Yuda--baru-baru ini saya baru paham bahwa nama dua pria ini diambil dari pemanjat tebing legendaris. 


Dalam petualangannya kali ini, mereka terlibat intrik dengan seorang perempuan yang namanya jadi judul novel. Nama itu, diambil dari kisah yang tergambar di relief Candi Borobudur: Lalitavistara. 


Melalui kisah tentang Lalita, Jataka, Ansel Eibenschutz dan bahkan tokoh betulan semacam Sigmund Freud hingga Claude Debusy, Ayu Utami menyampaikan gagasan bahwa spiritualisme nusantara ini kaya dan adiluhung. Salah satu buktinya, Candi Borobudur itu tadi.


Usai khatam melahap 243 halaman Lalita, impresi "wow" saya rasanya melebihi sensasi ketika tamat baca pertama kali. Waktu itu saya lagi tugas di biro Yogyakarta Metro TV. 


Saking merasa pentingnya menggaungkan lagi misteri Borobudur tadi, saya sempat usulkan jadi ide liputan. Pada akhirnya ide itu batal dieksekusi.


Karena, sebagai reporter di program berita harian, satu ide liputan harus terpaut ke suatu peg news. Opsi lainnya, ide itu harus berangkat dari satu masalah--begitu kepala biro saya dulu mengajarkan.


Nah satu dekade kemudian, rasa takjub dari Lalita tadi tersalur ke pendalaman referensi bacaan yang dibagikan Ayu Utami. Di bagian Catatan Akhir, si "eks parasit lajang" menyebut titel Borobudur: Golden Tales of the Buddha (John Miksic, Periplus:2000).


Hari itu, berangkatlah saya ke Perpustakaan Nasional. Ternyata yang ada Borobudur: Majestic Mysterious Magnificent. Nama John Miksic tetap ada di buku itu. 


Saya pun baca di tempat meski maunya sih dibawa pulang, dipinjam. Sayang, ukurannya kegedean.


Pada akhirnya, setelah sekalian iseng cari lokasi semua judul yang ada di laman "want to read" akun Goodreads, saya bawa pulang tiga buku. Dua di antaranya malah insidental saya comot di sebuah rak lantai 22. 


Yang satu judulnya Manjali, satu lagi Maya. Mereka berdua ditulis Ayu Utami, masih bagian dari Seri Bilangan Fu. []

Sunday, June 20, 2021

Sebuah Kalimat Pembuka

 Sebuah buku, bisa kita kenang dari kalimat pembuka atau penutupnya. Novel kanon 1984 dimulai dengan "it was a bright cold day in April, and the clocks was striking thirteen". 


Banyak orang meraba makna dan estetika dari susunan kalimat itu. Barangkali karena memang si kalimat pertama, jadi bagian pembuka dari gagasan utama keseluruhan buku. Pantaslah dia dianggap penting.


Baru-baru ini saya terkesan dengan sebuah kalimat pembuka. Dari buku puisi--katakan demikian--berjudul Catatan Najwa 2. Bunyinya begini:


"Jurnalisme menjadi rahmat sekaligus kebahagiaan. Ia memberi begitu banyak: pengalaman hidup, karier, jejaring sahabat dan relasi, penghargaan, mungkin juga popularitas. Untuk semua itu, jurnalisme tidak menuntut banyak, ia mensyaratkan independensi dan objektivitas."


Paragraf itu, memulai rentetan pilihan keberpihakan Najwa Shihab dan timnya atas berbagai isu publik. Semua disampaikan lewat prolog dan epilog dari talkshow Mata Najwa, dengan rima khas pantun dan tingkat sastrawi ala puisi.


Prolog, epilog, pantun, puisi, itu semua label. Intinya, rangkuman hingga ajakan. Dan yang baru-baru ini--baru halaman pertengahan maksudnya--bikin saya terkesan, kalimat satu ini:


"Mengingat adalah aksi politik paling sehari-hari, bahu membahu kita bangun benteng memori. Karena mengingat adalah aksi yang tak bisa disanggah, cara bertahan rakyat melawan kuasa yang pongah." []

Tuesday, June 1, 2021

Surat di Selipan Buku

 Siang itu saya duduk dua jam di perpustakaan ruang terbuka Jakarta Book Hive. Dalam masa itu, ada beberapa orang datang dan pergi. Ada yang nyimpen buku doang, ada yang nyimpen dan ngambil juga--kayak saya. Haha.


Setelah mereka nyimpen buku baru ke rak, saya cek tambahan koleksi di dalam lemari. Ternyata ada buku puisi Catatan Najwa 2.


Ternyata, di dalamnya ada pembatas buku. Sebuah kertas. Begitu dibuka, isinya surat cinta. Atau surat permintaan maaf--katakanlah begitu.


Isinya tulisan tangan, rapi banget. Hurufnya tegak lurus digores pake pensil. 


Si penulis surat, entah laki entah perempuan, minta balikan sama seseorang yang entah pacarnya entah pasangannya berumah tangga. Sentimentil banget.


Saya bisa ngira orang mana yang punya buku ini, tapi itu nggak penting. Persoalan apakah surat ini sengaja dibuang atau nggak sengaja keselip, nggak bisa dipastiin juga.


Yang jelas, pengalaman emosional semacam saat itu berkesan banget. Saya bisa berempati sama ruwetnya hubungan mereka berdua. Semoga mereka bersatu kembali. Amin.

Saturday, May 8, 2021

Buku Pak Celli Dari Gramedia Padjadjaran

 Gramedia Padjadjaran Bogor sudah almarhum. Bagi mereka yang tumbuh dewasa di kota hujan, tempat ini legendaris. 


Beberapa teman saya, sedih lihat pengumuman ini. Ada yang sering pake Gramedia Padjadjaran buat janjian--entah sama pacar, atau sama nonpacar. Haha. Ada juga yang baca gratis disana--jangan-jangan gara-gara kebiasaan ini pengelolanya susah balikin modal usaha.


Saya nggak sempet nanya alasan pastinya, tapi saya sempat tanya satu pertanyaan: ada cuci gudang nggak. Haha. Jawabannya ternyata nggak ada. Artinya nggak ada diskon khusus sebagai tanda perpisahan.


Surprisingly, buku yang saya beli ini, tetep didiskon. Karena ternyata, dibeli dalam periode "promo gedebuk" yang berlaku di semua Gramedia saat itu. Lumayan.


Dari Jokowi ke Harari isinya kumpulan esai buatan Rizal Mallarangeng atau akrab disapa Celli. Dia dikenal sebagai ilmuwan politik lulusan AS. Mantan wapemred Metro TV--yang kini jadi pemred Lampung Post--Abdul Kohar pernah menulis bahwa Celli inilah yang turut berkontribusi dalam tren penghitungan suara quick count di televisi--yang dipelopori Metro TV tahun 2004.


Dalam buku setebal dua ratusan halaman ini, kita bisa mengenal Pak Celli sebagai ilmuwan politik tadi. Dalam sebuah esai yang ditulis untuk Bill Lidle, ia mengisahkan pengalaman akademisnya sejak menempuh strata sarjana di UGM Yogyakarta hingga lulus dari OSU Columbus, Amerika Serikat.


Tulisan itu terasa personal sekaligus bergizi. Ada nukilan tentang pengalaman uniknya batal jadi dosen UGM akibat aktif di kegiatan kemahasiswaan. Ditulisnya bahwa momen itu: penanda zaman. Sebagai akademisi, Dalam judul yang sama, Pak Celli juga menyisipkan gagasan dari buku yang ia baca. Di situlah gizi yang saya maksud--yang dengan berlimpah kita temui pula dalam artikel lain dalam buku ini.


Judul terakhir memang berkisah tentang Bill Lidle--selain tentang Ashadi Siregar di bab yang sama. Meski begitu, Pak Celli menulis topik lain juga. Tentu saja, seperti yang tertulis di judul: dari analisa pidato presiden Jokowi, pembahasan fenomena presiden Trump, hingga resensi dua buku Yuval Noah Harari.


Bahasan-bahasan dalam buku terbitan 2019 ini sebenarnya banyak yang juga bisa dibaca di internet. Saya pernah baca artikel tentang Silicon Valley di situs Qureta. Rasanya ternyata beda. Ketika simak lagi tulisan yang sama di atas kertas, ada semacam ingatan yang terasa lebih melekat. Barangkali itulah keajaiban buku fisik yang nggak bisa digantikan piranti digital.


Menurutku, tulisan Pak Celli tentang Golkar dan Airlangga Hartarto terasa bias.  Kakak mantan menpora Rizal Mallarangeng ini memang punya jabatan di Golkar, sehingga tulisan yang saya maksud terasa kurang introspektif. 


Ada sih, sisi introspeksi soal prahara Setya Novanto dan Idrus Marham, tapi nggak kritisi penyakit korupsi itu sendiri. Airlangga Hartarto, juga terlalu disanjung sebagai technopol untuk konteks pemilihan calon wapres Jokowi di Pilpres 2019. Mungkin karena saya sekarang terganggu dengan gaya "technopol" menko perekonomian itu yang "kok lulusan sekolah yang sama dengan Donald Trump gaya bicara dan kelakuannya begitu?".


Seminggu setelah saya beli di Gramedia Padjadjaran dengan korting setengah harga, buku ini tandas saya baca. Soalnya memang se-nggak bisa berhenti dibaca itu. Gaya bahasanya terasa berrima. Ada kalimat panjang, disambung kata atau kalimat pendek berbahasa inggris. Pak Celli mungkin ingin makna dari gagasannya tidak terdistorsi oleh translasi. 


Selanjutnya, mungkin saya akan beli lagi kalau ada buku kumpulan esai lain yang diterbitkan Pak Celli. Mending baca lewat buku fisik, dibanding baca artikel di website. Dunia digital terlalu bising. []

Saturday, May 1, 2021

Read 9 Summer 10 Autumn After 10 Years

 Pada masanya, novel 9 Summer 10 Autumn jadi salah satu icon tren perbukuan yang didominasi kisah motivasional, semacam Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, dll. Di masa kini, kisahnya tetap terasa dekat.

Iwan Setyawan menceritakan dirinya sendiri. Sudut pandangnya unik: ada dua Iwan. Diri bersi dewasa bergelut dengan tantangan kehidupan di kota big apple, New York. Di sampingnya, ada imaji Iwan kecil yang tumbuh di kota apel, Malang.


Dalam paparan di bagian akhir buku ini, produser film yang disadur dari buku terbitan 2011 ini menulis, bahwa 9 Summer 10 Autumn bercerita tentang keluarga. Intinya memang: bagaimana dinamika relasi orang tua dan anak dalam memperjuangkan kehidupan mereka.


Selain karena kisah keluarga yang bikin hangat tadi, yang bikin saya tertarik baca tulisan Iwan Setyawan ini: kami sama-sama lulusan IPB. Tentu saja beda angkatan dan jurusan.


Dari novel ini pula, saya ketemu satu fakta kecil tentang Krisdayanti. Dia ternyata teman sekolah Iwan. Kata Mas Iwan sendiri: “dari kecil udah kayak artis”.


Sayang, saya belum nonton versi filmnya—yang dirilis tahun 2013. 

Saturday, April 24, 2021

Jobs, Apple, Kematian

Saya baca bab awal dan akhir buku biografi Steve Jobs setebal 600an halaman. Penulisnya Walter Isaacson, yang juga nulis biografi Einstein sampai Leonardo da Vinci.


Di judul pertama buku tentang pendiri Apple ini, Walter cerita tentang permintaan Steve untuk dibuatkan buku biografi tentang dirinya. Dan dia menolak.


Itu tahun 2004. Tahun 2009, istri Steve membocorkan bahwa suaminya punya kanker. Itu sinyal bahwa “sekaranglah saatnya” untuk membuat biografi sang tokoh revolusioner. Dua tahun kemudian, buku ini dirilis.


Penulisnya bilang bahwa Jobs membebaskan dia menulis sesuai apa yang ingin dia tulis, tanpa intervensi sang subjek. Artinya dia bebas menulis dengan (menurut istilah yang dipakai penulis) se-“adil dan transparan” mungkin. Meski begitu, Walter tetap tawadu dengan bilang bahwa dirinya bisa saja terjebak “efek rashomon”—kecenderungan perbedaan kisah karena perbedaan ingatan tiap narasumber.


Bab Pendahuluan berakhir dengan kalimat pancingan yang mengarahkan pembaca mengikuti kisah hidup Steve Jobs secara kronologis. Dimulai dari kisah kedua orang tuanya.


Bab berjudul Warisan, menutup buku. Ada ulasan bahwa konsep Zen sangat berpengaruh terhadap temuan-temuan yang dicetuskan Jobs—sehingga ia berpersona kharismatik dan inspiratif. Meski begitu Zen juga tak mampu membuatnya menahan diri, hingga juga dikenang sebagai (menurut istilah penulis) si bedebah.


Di tengah atmosfer diskursus publik yang tertuju ke “silicon valley”, sepertinya buku ini jadi relevan lagi. Meski sekali lagi, ini biografi salah satu tokoh di balik silicon valley, bukan bahas silicon valley itu sendiri.


Biografi Steve Jobs ditutup dengan perbincangan Walter dan Steve tentang filosofi kematian. Jobs ternyata menerapkan kepercayaannya soal itu dalam desain peranti Apple.


Jika kontemplasi tentang kematian mengakhiri buku tebal ini, maka kematian Steve pulalah yang mengawali penerbitan buku bersampul Jobs menyentuh dagu ini. Ia wafat tanggal 5 Oktober 2011, sementara buku biografinya dirilis 24 Oktober 2011 pula. []

Saturday, April 10, 2021

Dari Buku Humor Belajar Sejarah

 Sebelum jadi presiden, tahun 1986 Gus Dur menulis kata pengantar untuk sebuah buku. Judulnya Mati Ketawa Ala Rusia—kisah menarik di balik penulisan mukadimah buku itu, bisa dibaca lewat link di bio.


Setelah Gus Dur sering kita kenang sebagai kritikus humoris, buku itu jadi semacam pusaka. Bagi saya sendiri, judul buku yang ada kata “Mati Ketawa”-nya jadi menjanjikan sebuah kesegaran. Buktinya, begitu presiden keempat RI itu baca sekilas Mati Ketawa Ala Rusia, tulisan pengantarnya juga otomatis—meski nggak seotomatis itu—menarik dibaca pula.


Tibalah saya pada sebuah pertemuan dengan Mati Ketawa yang satu ini: Ala Nazi. Rusia dan Nazi berbagi satu karakter serupa: diktatoriat. Dan kritik atas pemusatan kekuasaan itu dilawan dengan humor. Bagaimana bisa?


Ternyata memang bisa. Entah siapa penulis kata pengantar yang saya baca—nggak ada byline atau keterangan namanya. Yang jelas bukan Gus Dur. Buku ini terbitan 2014.


Paragraf pertama foreword buku seukuran genggaman tangan itu berisi kutipan kalimat. Bahwa janganlah kita melawan diktator di atas podium. Dia pasti orator ulung, kita bakal keok. Lantas lawanlah dia dengan lelucon. Hitler saja katanya takut dengan humor.


Buku ini isinya kisah-kisah singkat. Persis format lelucon sejenis yang Gus Dur sering bagikan. Googling saja pakai kata kunci “humor gus dur”. Banyak kutipan dongeng lucu dengan format yang punya alur kisah, dan diakhiri kalimat tak terduga. 


Begitu juga cerita-cerita dalam Mati Ketawa Ala Nazi ini. Satu halaman bisa berisi dua sampai empat judul. Saya tergelak di bacaan pertama, tentang presiden Jerman yang pelupa.


Menariknya, saya juga jadi belajar sejarah. Karena memang disediakan konteks informasi tentang humor yang dimaksud. Ada nama Goebels, Gรถring, hingga Hindenburg. Bagi orang awam macam saya, orang yang paling terasosiasi ke Nazi Jerman ya Hitler. Dan ternyata saya jadi lebih paham bahwa Hitler tak berdaya tanpa beberapa nama di atas.


Meski muatan sejarahnya cukup bergizi, tujuan saya beli dan baca buku ini sebenarnya bukan biar hafal nama dan istilah. Saya pengen humoris. Haha. Nggak tau deh, buku ini beneran bisa bantu saya jadi nggak kayak kanebo kering, atau justru bisa jadiin saya jago ngelemesin situasi. Sejauh ini sih belum keliatan efeknya. Buktinya, saya kesulitan nyari kalimat penutup yang kocak buat tulisan ini. Hehe.

Friday, September 25, 2020

Belajar Sejarah Dari "Dari Buku ke Buku"

Mata pelajaran sejarah katanya mau dijadikan mata pelajaran pilihan. Ternyata, mendikbud klarifikasi bahwa itu sumbernya dokumen internal yang isinya “permutasi”—demikian Pak Nadiem menyebut istilah untuk (kurang lebih) “berbagai kemungkinan” penyusunan mata pelajaran. Pada akhirnya, Menteri Nadiem bilang mata pelajaran sejarah bakal tetap ada. 

Di satu sisi, polemik ini menunjukkan bahwa ada masalah komunikasi di Kementerian Pendidikan. Di sisi lain, publik jadi punya perspektif baru soal mata pelajaran sejarah. Tulisan di Tirto ini ditulis seorang mantan guru sejarah SMA Petrik Matanasi. Dia bilang, harusnya mata pelajaran sejarah diajarkan dengan menerapkan tingkat perkembangan siswa. 

Seharusnya di SMA dan SMK pelajaran Sejarah lebih menekankan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, serta ekonomi di dalam dan luar negeri. Semestinya siswa SMA jurusan IPS dan SMK rumpun ekonomi belajar tentang sejarah perekonomian Indonesia dengan, misalnya, menampilkan Hatta sebagai ekonom atau paling tidak menyinggung sejarah kewirausahaan di Indonesia.

Kasus ditutup. Sekarang, saya mau cerita tentang buku sejarah yang baru tamat saya baca. Bulan Agustus lalu, saya pernah ulas singkat sih buku yang judulnya “dari Buku ke Buku” ini. Kali ini, perspektif ulasan saya akan lebih banyak bahas tentang “pentingnya sejarah”.

Polycarpus Swantoro, penulis buku ini, menempuh pendidikan formal bidang sejarah di IKIP Sanatha Dharma Yogyakarta—selain dikenal juga sebagai salah satu dedengkot Kompas Gramedia. Meski buku ini bahas buku-buku bersejarah tentang Nusantara, kisahnya dibungkus dalam judul-judul tematik. 

Pak Swantoro membuka dengan judul Bermula dari Gambar Berwarna. Swantoro kecil terkenang dengan gambar lambang kotapraja Hindia-Belanda tahun 1930-an. Dari sanalah minat studi sejarahnya bermula. 

“’Historia docet’, kata sebuah adagium, ‘sejarah itu mengajar’. Masih ada sebuah adagium lagi yang erat kaitannya dengan sejarah... ‘di masa kini terletak masa lalu, di masa sekarang terkandung masa depan’.” (Hal. 6) 

Bahasan soal sejarah di buku “dari Buku ke Buku” ternyata ada juga yang terkait dengan tulisan di Tirto yang saya kutip di atas. Pak Swantoro mengutip pendapat Denys Lombard, penulis buku Nusa Jawa. Katanya, “ia tidak mengajarkan sejarah sebagai rentetan peristiwa, tetapi sebagai metode.” Dalam tulisan Tirto tadi, Petrik menulis bahwa justru mata pelajaran sejarah sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari saat ini.

Bagi saya, pelajaran Sejarah seharusnya melatih mereka menggali dan mengklarifikasi informasi. Pelajaran Sejarah sebenarnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk melawan hoaks dan disinformasi, karena dalam pembelajaran sejarah sifat kritis seseorang adalah wajib dan sejarawan mesti melakukan kritik sumber ketika meriset dan menulis.

Artikel yang diterbitkan Tirto juga mengkritisi bahwa sejarah yang disajikan di sekolah, terlalu dominan bermuatan politik. Seandainya begitu, mungkin sejarah bakal jadi pelajaran favorit. Setidaknya bagi saya. Sayangnya, kata Pak Swantoro menutup buku yang saya bahas ini: “kata ‘seandainya’ tidak terdapat dalam kamus sejarah kehidupan siapa pun”. []   

Saturday, September 12, 2020

Deugalih Bicara Pendidikan

Saya baru tamat baca buku kumpulan esai buatan Galih Nugraha Su. Dia saya kenal sebagai vokalis Deugalih and Folks. Album Anak Sungai jadi soundtrack keseharian saya di tahun 2015. Sebelumnya, di sekitar tahun 2011 saya pernah nonton kolektif ini di panggung pertunjukan Dago Tea House, Bandung. Sebelum saat itu, Galih ternyata sudah aktif menulis. Di antaranya, tahun 2003-2004 sebagai penulis cerpen di Air Zine. Dalam rentang masa aktifnya, Galih juga mengajar. Buah pikirannya soal pendidikan, dibukukan.


Judul buku ini Pendidikan yang Menjajah. Isinya ada 8 esai yang 7 di antaranya punya subjudul. Dalam buku ini, Galih tidak hanya berbagi pemikiran, tapi juga pengalaman. Tulisan pertama dalam rangkaian tulisan setebal seratusan halaman ini, menceritakan kesan Galih ketika mendampingi ”7 anak yang berjuang dengan dirinya untuk melampaui apa yang disebut keterbatasan, bukan untuk dimaklumi."


Pengalaman sebagai pendidik juga memberi muatan dalam kritik atas jalannya pendidikan di Indonesia. Tulisan yang menurut saya paling kaya, berjudul “Apakah Lagu Anak Masih Diperlukan?”. Titel ini pertama kali dimuat di situs Jurnal Ruang. Di dalamnya, Galih mempertanyakan argumen bahwa anak-anak harus punya “lagu anak”. Paparan ini kaya data. Untuk menjawab pertanyaan di judul tadi, penulis menyandingkan peran macapat dan lagu yang dibawa bangsa Portugis ke Nusantara pada abad ke-15. Suntikan pengalaman yang ia sodorkan sebagai solusi, juga tak luput dituliskan. Galih mengakui bahwa “tulisan ini bertujuan mengembalikan peran rumah dan sekolah menjadi tempat anak berkarya, bereksperimen dan bertualang."


Representasi judul Pendidikan yang Menjajah, juga Galih tampilkan melalui potret kehidupan seorang anak jalanan yang diurus PSK di Bandung tahun 2001. Selain itu, dorongan tentang “pendidikan yang tidak datang melalui mulut yang menasihati mereka dalam bentuk pemerintah, guru, dan orang tua” turut diperlihatkan lewat kondisi pendidikan di wilayah adat. Bahasan yang satu ini dilengkapi argumentasi Cak Nun dan Paulo Freire yang ditulis Galih sebagai: satu pemikiran.


Sayangnya, keputusan Galih untuk menerbitkan buku ini tanpa melalui editor, berdampak ke kualitas tata susun kata. Saya tidak terbiasa membaca paragraf yang diawali angka—seperti tampak di tulisan “Yang Melihat Dunia Dari Teras Rumah”. Di bagian kata pengantar, penulis memang mengakui bahwa absennya editor memang sebuah upaya untuk “tidak bergantung pada industri yang banyak pakem”. Padahal, jika Galih punya semacam sparring partner dalam menyusun buku ini, barangkali judul Homeschooling di Tengah Pandemi akan terasa lebih kaya. Tapi toh itu pilihan penulis sendiri. The medium is the message. Saya masih bisa menangkap pesan yang ingin dia sampaikan. []

Sunday, August 23, 2020

Patung Buddha yang Belum Tuntas

Buku Dari Buku ke Buku sepertinya akan lebih cocok dibaca akademisi di bidang sejarah. Seperti yang saya ulas di posting sebelumnya, gaya penulisan Pak Swantoro melompat-lompat. Apalagi detil sitasi dari sumber asli dipaparkan melimpah dan mentah. Misalnya, teks berbahasa belanda ditulis seadanya. Begitu pula dengan informasi berbahasa inggris. 

“Sebenarnya enggan saya menerjemahkannya, khawatir kalau menjadi padam ‘apinya’. Namun demi pembaca muda yang masih bergulat dengan bahasa inggris, mohon dimaklumi keberanian saya menerjemahkannya.” (Hal. 164)

Meski begitu, fakta dan data yang dipaparkan di dalamnya tetap bisa dipahami, dan menguntungkan. Bayangkan, buku ini kasih kita kesempatan lihat bagian dalam sebuah buku yang dibeli bersama The History of Java seharga 800 dolar AS di Amerika Serikat. Buku yang dimaksud: Antiquarian, Architectural and Landscape Illustrations of the History of Java. Di dalam buku ilustrasi ini, ada visualisasi seorang ningrat bertelanjang dada, keris tersampir di pinggangnya. Ada pula gambar tampak samping ningrat lain, yang dipajang pula di bagian cover buku berisi esai tentang buku koleksi P. Swantoro ini. 


Ada pula salah satu tulisan dalam buku ini, yang membandingkan beberapa buku untuk menjawab misteri keberadaan arca yang belum diukir sempurna di puncak Candi Borobudur. Meskipun foto arca yang dimaksud diperlihatkan, Pak Swantoro mendeskripsikannya melalui kutipan pernyataan Profesor Soekmono, kepala pemugaran Candi Borobudur:


“Dalam literatur mengenai Candi Borobudur, arca itu memang disebut ‘the unfinished buddha’, arca buddha yang belum rampung. ‘Mukanya jelek dan tubuhnya cacad. Keriting rambutnya belum dipahat…” (Hal. 115)


Buku buatan Bernet Kempers berjudul Ageless Borobudur, memaparkan bahwa ada dua pendapat tentang eksistensi The Unfinished Buddha: apakah dia memang bagian dari stupa induk, atau sebaliknya? Pada akhir tulisan, Pak Swantoro menarik kesimpulan berdasarkan tafsir Serat Centhini. Prof Soekmono memaknai bahwa: arca cacad yang bertakhta dalam stupa induk Candi Borobudur adalah pelengkap yang mutlak harus ada untuk menggambarkan kesempurnaan manifestasi Sang Buddha secara keseluruhan. []

Tuesday, August 11, 2020

Buku tentang Buku

Saya sedang baca buku tentang buku. Ini kumpulan tulisan nonfiksi. Bisa dibilang, esai berdasarkan judul buku dan topik tertentu. Penulisnya: P. Swantoro. 

Polycarpus adalah P dalam nama depan Pak Swantoro. Ini perlu disampaikan agar Kamu nggak nyangka bahwa ketika saya sebut nama Pak Swantoro, P di nama depan beliau malah disangka “Pak”. Sebetulnya kalau mau lebih tepat kita bisa sebut beliau dengan panggilan Kek. Almarhum Kek Swantoro, wafat setahun lalu dalam usia 87 tahun.

 

Buku “Dari Buku ke Buku”, jadi warisan salah seorang pendiri Kompas Gramedia ini. Ada 32 judul yang dibundel ke dalam 472 halaman. Salah satu yang barangkali menggambarkan keseluruhan gaya tutur buku ini, bisa ditilik dalam sebuah judul: “Dari Majalah Basis ke Balai Poestaka”.

 

Pembahasan Balai Poestaka, sebetulnya bermula dari “pancingan” di tulisan sebelum judul-yang-juga-mengulas-Majalah-Basis-itu. Kalimat pertama bab kelima ini berbunyi: 

“Di atas sudah saya sebut nama G.Vriens yang menulis laporan tentang meletusnya Gunung Merapi akhir 1930. Nama itu membawa kenangan tersendiri bagi saya.” (hal. 43)

Pada dekade tahun 1930an dunia memang menghadapi resesi ekonomi, justru setelah redanya dampak suram perang dunia pertama. Di pulau Jawa, kondisinya diperparah dengan bencana gunung meletus. Laporan jurnalistik tentang katastropi itulah yang membuat Pak Swantoro tertarik jadi wartawan di Majalah Basis tahun 1957.

 

Lantas, Pak Swantoro “melantur”—demikian dia menyebut dirinya sendiri ketika membelokkan topik bahasan. Pak Swantoro menceritakan Balai Poestaka sebagai salah satu lembaga penerbitan yang berperan mengabarkan pagebluk 1930-an.

 

Fakta unik: Balai Poestaka dibentuk tanggal 15 Agustus 1908. Dan kita sama-sama paham bahwa 37 tahun lebih dua hari kemudian, Indonesia merdeka. Padahal, Balai Poestaka ternyata juga dikenal rajin membendung arus penerbitan buku dan artikel karya para aktivis anti-kapitalis dan anti-kolonialis.

 

Dalam lembar-lembar selanjutnya, saya kemudian membaca kisah tentang Pangeran Diponegoro dan buku Java de Oorlog atau Perang Jawa. Ini masih halaman 80-an. Masih ada 400-an halaman lain yang akan mengenalkan saya ke buku-buku lain yang berkaitan dengan Nusantara dan Indonesia. Dengan membacanya, sejauh ini sih saya suka. []

Sunday, August 9, 2020

Jurnalisme Musik

Sepuluh tahun lalu, profesi ini jadi cita-cita saya: jurnalis musik. Ketika itu, Rolling Stone Indonesia masih ada.  Trax Magazine dan Hai yang legendaris itu juga tetap dicetak. Tiga majalah itu, menurut Idhar Resmadi dalam bukunya Jurnalisme Musik, “memberikan pengaruh sangat penting bagi perkembangan jurnalisme musik di Indonesia setelah reformasi.” Saya berikhtiar untuk bisa menulis di setidaknya satu nama besar itu. Pada akhirnya memang gagal. Saya bikin media sendiri: blog ini.

Keikutsertaan saya menulis musik di blog, bisa dibilang dampak dari berkembangnya media musik di internet, pasca popularitas majalah cetak yang mulai meredup. Dalam buku itu juga, Idhar justru memuji kemunculan blog, webzine, radio streaming dan video sebagai momen “mengembalikan keautentikan penulisan musik oleh orang-orang yang memang antusias dan memiliki renjana (passion) terhadap musik.” Dia menambahkan, penulis musik di webzine biasanya “non-jurnalis”.

 

Kilasan sejarah media musik mengisi bab pertama buku Jurnalisme Musik yang terbit pertama kali tahun 2018. Idhar merunut sejarah perkembangan media musik yang muncul sejak tahun 1940. Ketika itu pemberitaan atau kritik terhadap musik ada dalam majalah Suara NIROM. Nama singkatan itu diambil dari sebutan bagi radio yang populer kala itu: Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschapij.

 

Geliat perkembangan jurnalisme musik memuncak di tahun 1970-an. Ketika itu, Aktuil digdaya. Nama majalah itu sendiri terpengaruh dari majalah asal Belanda, Actueel. Ada beberapa hal fenomenal yang dicatatkan majalah bentukan Denny Sabri—mantan wartawan majalah musik Diskorina yang muncul tahun 1957. Idhar mencatat, pasca Aktuil tutup tahun 1975, “sudah tak ada lagi tulisan-tulisan musik yang kritis terhadap industri atau melakukan propaganda budaya layaknya Aktuil”.

 

Aktuil fenomenal karena pertama, mereka “mampu memberikan opini yang lugas tanpa tedeng aling-aling”.

“Majalah ini pernah merendahkan lagu-lagu Koes Plus meski band itu sangat digemari dan laku di pasaran (Mulyadi, 2009). Aktuil bahkan tak segan menyebut musik pop cengeng atau lagu-lagu easy listening dengan sebutan ‘kue pancongan’, ‘kacang goreng’ atau ‘kuacian’.” (Hal. 13)

Kedua, Aktuil menyulut pertempuran antara penggemar musik rock dan musik dangdut. Nama “dangdut” sendiri awalnya disematkan redaktur Aktuil, Billy Silabumi “untuk menyebut (atau ‘mengejek’) musik melayu yang dianggapnya kacangan”. Dan fakta itu diamini Rhoma Irama. Dalam video wawancara Si Raja Dangdut ketika menghadiri Archipelago Festival tahun 2019, ia paparkan bahwa musik sejenis yang dimainkannya, bernama musik “melayu” atau “orkes melayu”.

 

Ketiga, Aktuil membuat populer kata “belantika”. Kata ini disadur dari Bahasa Sunda “balantik” yang berarti usaha atau dagang. Aktuil memang berkantor di Kota Bandung hingga akhirnya tutup redaksi setelah boncos akibat menggelar konser Deep Purple.

 

Sekarang saya lanjut membaca Bab 02 buku setebal 200-an halaman ini. Setelah sejarah, Idhar mengajak pembaca berkenalan dengan beberapa nama jurnalis musik. Ada pula tabel perbedaan antara “jurnalis umum” dan “jurnalis musik” yang diukur dari berbagai segi. Dalam sesi ini Idhar menjabarkan jurnalisme musik sebagai Perpanjangan Tangan Industri. []

Monday, May 11, 2020

Banksy

Nama Banksy dikenal luhur sebagai seorang street artist. Karyanya bukan hanya ada di Inggris, tapi juga tersebar di berbagai tempat dan wujud. Kerjaan terbarunya, berupa lukisan di atas kanvas yang mengejutkan para petugas medis di Inggris. Sebelum itu, Banksy yang misterius pernah menggelar pameran Dismaland, muncul di film Exit Through The Gift Shop, hingga berkolaborasi dengan sutradara Danny Boyle.

Di tahun 2005, Banksy menulis sebuah buku. Kita bisa baca versi digitalnya. Bebas. Katanya: Copyright is for losers. Judul buku ini: Wall and Piece.

Di dalam lebih dari 200 halaman buku ini, ada beberapa foto dan teks singkat tentang objek yang jadi medium Banksy menyampaikan pesan. Ada monyet, polisi, tikus, sampai instalasi jalanan (street furniture).

Bagi Banksy, graffiti bukan wujud seni paling rendah. Menurutnya, justru dalam graffiti ada pesan antielitisme. Secara sinis dia menulis:
“The people who run our cities don’t understand graffiti because they think nothing has the right to exist unless it makes a profit.”
Graffiti yang dimaksud Banksy, berarti gambar yang dibuat di tembok. Tekniknya bisa macam-macam. Salah satunya stencil. Caranya, cat semprot ditembakkan ke cetakan yang kemudian membentuk wujud gambar tadi.

Ada sebuah pengakuan menarik yang ditulis Banksy. Katanya, dia menggambar stencil tikus (rat) sudah selama tiga tahun terakhir. Lalu ada seseorang yang berkomentar bahwa rat sebenarnya anagram dari art. Banksy sendiri sebenarnya tidak bermaksud demikian, tapi dia pada akhirnya pura-pura berniat begitu.

Kisah lain juga ditulis Banksy, dalam perspektif personal. Dia bercerita tentang hukuman yang dijalaninya ketika berusia 9 tahun karena dituduh melukai seorang teman. Padahal temannya yang jatuh dan luka parah di kepala, limbung sendiri setelah berputar-putar dengan teman lainnya, bukan Banksy. Sedihnya, ibu Banksy justru malah ikut mengamini hukuman yang dia terima.

Banksy juga pernah hampir mati. Ceritanya ketika Israel membangun tembok raksasa untuk membatasi wilayah jajahan mereka di Palestina. Bagi para artis graffiti, tembok raksasa itu tempat liburan menyenangkan.

Suatu ketika pemandunya di sana bilang bahwa Banksy akan aman melukis di tembok dekat pos pengamanan. Setelah 25 menit menggambar dan kembali ke mobil, si pemandu tertawa. Katanya tentu saja di pos pemantauan ada penjaga. Bahkan di sana ada sniper.

Meski juga terkesan sebagai tukang protes, saya menangkap imaji bahwa yang dilakukan Banksy sebenarnya ekspresi kecintaannya terhadap seni. Dia mau, tembok dan jalanan jadi semacam galeri yang mengajak siapa pun untuk ikut bergabung. Katanya:
“Painting something that defies the law of the land is good. Painting something that defies the law of the land and the law of gravity at the time is ideal.” []