Showing posts with label bahasa. Show all posts
Showing posts with label bahasa. Show all posts

Thursday, May 14, 2020

Salah Kaprah

Saya nonton dokumenter belasan menit di Netflix berjudul Zion. Ceritanya tentang seorang difabel yang menemukan makna hidupnya melalui olah raga gulat. Di sangat berprestasi di bidang itu. Padahal sebelumnya, Zion dibuang orang tuanya. Dia juga sempat merasa rendah diri. Karena dia tidak punya tungkai bagian bawah.
Dalam sebuah narasi, diceritakan bahwa selain tidak punya orang tua, Zion juga tidak punya stabilitas dalam hidupnya. Sang narasumber menambahkan:
“That was a recipe for disaster”
Saya tergelak mendengar analogi itu. Bagaimana mungkin kegetiran seseorang diasosiasikan dengan resep. Nyatanya begitulah bangsa mereka berbahasa. Dan itu justru jadi seni penyampaian pesan yang unik. “Resep untuk sebuah bencana”. Cantik sekali.

Saya jadi ingat satu bahasan khusus di buku Gara-Gara Alat Vital dan Kancing Gigi. Buku ini ditulis Gustaaf Kusno terbitan tahun 2014. Isinya beberapa tulisan singkat sekitar tiga halaman tentang keunikan berbahasa bangsa Indonesia.

Ada delapan judul tulisan yang terhimpun dalam bab Salah Kaprah. Seksi ini menghimpun tentang anomali selama kita berbahasa. Tunggu. Saya bilang “seksi” kan tadi. Otakmu menggiring kata itu ke makna “section” atau “sexy”?

Kalau ternyata yang kedua, berarti kondisimu menguatkan analisa Gustaaf soal mudahnya khayalan erotis kita terbangun. Dia mendalami ini dalam tulisan berjudul “Kata ‘Vital’ Dalam Bahasa Kita yang ‘Saru’”.

Gustaaf menjabarkan bahwa ketika dipadankan dengan kata lain semacam “vitalitas”, “alat vital” atau “ukuran vital”, imaji erotis kita biasanya terpancing. Di situlah letak salah kaprahnya. Padahal vital bukan hanya berarti itu.

Penggunaan kata “objek vital” juga dia golongkan salah kaprah pula. Soalnya, sesuatu yang biasanya disebut objek vital justru sebenarnya “objek strategis”. Dia nggak vital-vital amat.

Meskipun begitu, paparan di atas kan pemahaman ahli bahasa. Sementara, sebagai alat komunikasi, kita nggak perlu jadi ahli juga untuk menggunakan bahasa. Saya sendiri lebih setuju ke pendirian (stance) Leila Chudori ketika ngobrol sama Ivan Lanin di podcast Coming Home. Kalau saya nggak salah ingat, Leila berkukuh pakai kata “terlanjur” (yang tidak baku) dibanding (kata baku) “telanjur”.
Kita sudah terlanjur memaknainya begitu. Ya sudah kalau kebanyakan orang lain juga pahamnya begitu, apa mau dikata? []

Saturday, September 1, 2018

Bahasa


Tengah pekan ini, Bandung diguyur hujan gerimis. Nggak deras banget. Cukup sampai bikin aroma petrichor menguar. Semacam ngemrat kalau istilah bahasa sundanya. Artinya membasahi. Tekniknya dengan menyebar titik air ke sebidang tanah. Bisa disemprot tipis-tipis atau air disebar pakai gayung atau ember. Biasanya objeknya lapangan.

Saya jadi ingat opini Dandhy Laksono, tentang ancaman kepunahan bahasa daerah. Menanggapi berita tentang menteri pendidikan yang berkomentar tentang penyederhanaan bahasa daerah. Salah satu inisiator Alianji Jurnalis Independen itu, menyitir data bahwa 11 bahasa daerah sudah punah dan 16 lainnya terancam. Lalu, dia bercerita tentang nasib Bahasa Dawan berdasarkan pengalamannya mengunjungi kerajaan Boti di NTT.

Baru-baru ini saya lagi bacabuku tentang bahasa. Judulnya Gara-Gara Alat Vital dan Kancing Gigi: Bunga Rampai Bahasa. Penulisnya Gustaaf Kusno, seorang dokter gigi militer. Dia rajin nulis di Kompasiana sampai akhirnya terbitlah buku ini sebagai kumpulan tulisannya di situs blogging itu. Buku terbitan 2013 ini udah dibaca sampai halaman 90 dari hampir 190 halaman. Di dalamnya ada 6 tema besar yang dipecah lagi jadi sekitar 9-10 bab. Saya sendiri sudah khatam baca tulisan-tulisan bertema Serunya Indonesia! dan Asal Bahasa.

Dari buku ini, saya jadi tau sejarah sejumlah kata. Misalnya istilah kongkalikong yang ternyata diserap dari bahasa belanda “konkelen” (bersekongkol). Atau misalnya pengetahuan baru bahwa istilah “hutan” sebenarnya muncul dari nama perusahaan di masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1916 yang memuat kata “houtaankap”, artinya penebangan kayu (hout: hayu, aankap: memangkas).
Buku ini juga senada dengan argumen Dandhy bahwa bahasa itu menyimpan pengetahuan. Bukan cuma alat komunikasi. Kata ngemrat atau emrat di atas misalnya. Maka tepat pula kalau Dandhy bilang:
Bila sebuah bahasa lokal punah, tak ada lagi referensi pengetahuan lokal yang bisa dirujuk []