Tuesday, November 29, 2022

Guntur

Seiap kali pulang--dan melewati pusat kota--rasanya selalu ada yang memanggil. Namanya Guntur, satu dari tiga gunung wisata yang ada di Garut. Kamis lalu, kami jumpa lagi.

Saya mendaki gunung berketinggian 2.249 meter di atas permukaan laut itu, hingga bagian dada (atau pusar?). Perlu dua jam lagi untuk sampai di pucuk si gunung beraktivitas vulkanik aktif--setidaknya begitu menurut perkiraan seorang petugas di pos 3.



Di titik peristirahatan (atau pendaftaran pendaki) paling ujung itu, ada seorang penjaga. Dia akan meminta KTP kita untuk dititipkan di sana, lantas menukarnya dengan sebuah kartu. Di bagian belakang kertas berlaminasi itu ada nomor ponsel dan sebuah nama: Mang Oded--mungkin begitu sang penunggu pos akrab disapa.

Di pos itu pula, tahun 2018 saya menginap saat mendaki Guntur untuk kali pertama. Waktu itu saya mencatat pengalaman "mengulur waktu" dengan para relawan pendakian. 

Mereka sekarang absen. Mungkin masih di kaki gunung karena operasional pelayanan pendaki baru akan memuncak keesokan harinya, saat akhir pekan. 

Hari itu, saya benar-benar bertiga: satu orang di pos satu, orang yang diduga bernama Mang Oded di pos 3, dan saya sendiri. Beruntung, perjalanan itu berlangsung sesuai rencana, meski saya menemukan beberapa kejutan.

Saya sempat tersesat di bagian awal pedakian setelah melewati basecamp. Seorang bapak memberi arahan di atas sebuah kertas, tapi saya gagal mengikuti petunjuk itu. Malah saya sempat masuk ke sebuah area berbatu yang berujung buntu.


Setelah putar balilk arah, akhirnya saya menemukan jalur yang betul. Setelah itu, ada lagi kejutan lain. 

Tiga tahun lalu, jalur pendakian yang saya lewati cenderung homogen. Sekarang, saya melintasi sebuah sungai. Seru sekali.

Keseruan lain dari solo hiking kali ini, juga terasa saat turun gunung. Jalur berbatu besar jadi favorit saya karena ada yang bisa dijadikan perosotan. Haha. Posisinya yang curam juga bikin saya harus duduk di atasnya untuk bisa turun, itung-itung istirahat.


Dan puncak dari impresifnya pendakian kali ini, sebenarnya ada di bagian timing. Hujan turun, tepat ketika saya diantar ojek ke rumah makan Ampera di Jalan Cipanas--setelah menempuh masing-masing dua jam naik dan turun.

Setelah kenyang makan, go-car mengantar saya ke kolam renang Sumber Alam. Di sana saya menjadwalkan renang-berendam-mandi cukup hanya 45 menit. Ternyata itu belum cukup. Lebih dari dua jam saya menikmati pemandangan Gunung Guntur dari pusat wisata kolam air panas itu. 



Saya ingat sebuah argumen bahwa humor yang baik punya kadar "bikin ketawa" yang setingkat di bawah "bikin tersinggung". Pendakian yang "berkesan" juga bisa dimaknai demikian, saat dia "setingkat di bawah ancaman hipotermia". []


Tuesday, October 4, 2022

Alfiansyah

Dalam Majalah Tempo terbaru, ada esai Goenawan Mohammad di rubrik Catatan Pinggir. Judulnya "Giosue".


Di esai itu, Pak GM mengulas film Life is Beautiful. Judul aslinya La Vita e Bella.


Giouse yang ia comot jadi judul, berasal dari nama tokoh anak-anak dalam film garapan sutradara Roberto Benigni. Sang sutradara, juga berperan jadi ayah Giosue, bernama Guido.

"Guido bisa menghadirkan di dalam mata anaknya sebuah hidup yang seru, dan anaknya berbahagia." 


Demikian salah satu pendiri Majalah Tempo ini menuliskan sinopsis, dengan sebuah plot twist.

"Tapi bukankah kita tetap mengatakan bahwa Guido tahu dan kita tahu ia berbohong: kamp konsentrasi itu bukanlah tempat di mana la vita e bella?"

Esai Giosue dalam edisi 3-9 Oktober 2022 ini, sebenarnya rilisan ulang dari terbitan 5 April 1999. Filmnya sendiri pertama kali tayang tahun 1997.


Meski begitu, ada sebuah paragraf, yang membuat rubrik mingguan ini rasanya baru ditulis hari Minggu, 2 Oktober 2022.

"Giosue percaya. Tetapi sampai sejauh mana ketidakadilan dan kekejaman, sebagai kenyataan hidup harus ditutup dari mata seorang anak? Sejauh mana cinta mengizinkan kita berdusta dan bohong bisa bersifat protektif? Film La Vita e Bella (Hidup itu Indah) memberi jawaban yang ekstrem: sampai sejauh jauhnya. Bahkan di ambang liang kubur orang banyak."

Setelah membaca bagian di atas, saya membayangkan Giosue sebagai tokoh fiksi pengganti Alfiansyah. Dalam umur 11, ia kehilangan orang tuanya dalam tragedi Stadion Kanjuruhan, Malang Jawa Timur.


Saya membayangkan, dari ayah dan ibunya (Yulianton dan Devi Ratna) ia mewarisi sebuah renjana terhadap sepak bola. Keluarga Aremania ini menaruh passion terhadap sebuah permainan sebelas lawan sebelas di sebuah liga yang dijuduli ABC News In-depth sebagai: the world's most dangerous league.


Judul dari tiga tahun lalu itu mewujud kenyataan pada Sabtu, 1 Oktober 2022. Lebih dari seratus orang meninggal akibat penumpukan massa yang diawali lemparan gas air mata oleh polisi, setelah suporter kecewa dengan kekalahan tim tuan rumah.


Di akhir esainya, Pak Goen membayangkan:

"Terkadang kita ingin ada seorang Guido yang sebaiknya mengelabui kita. Tapi benar perlukah kita akan sebuah dusta yang bisa membuat kita tak putus harap?"

Saya lalu membayangkan, di bulan November nanti, saat Alfiansyah akan berusia 12, apakah ada yang "berdusta atas nama cinta" kepadanya soal penyebab dia jadi yatim piatu? Ataukah dia harus siap menerima fakta tentang "ketidakadilan dan kekejaman, sebagai kenyataan hidup

"? []

Thursday, September 29, 2022

Trocoh





Oh, trocoh itu artinya bocor. Yang saya maksud, sebuah buku buatan Budi Warsito.


Isinya  esai tentang memorabilia si penulis: buku, film, cerpen, majalah, piringan hitam, dan banyak lagi. Dan perspektifnya unik.


Budi lihai mengolah fakta untuk kemudian dipadu padan dengan pengalaman, lantas disajikan ke dalam sebuah judul artikel barangkali sekitar 200-300 kata tanpa pembatas antar paragraf. Masing-masing mereka dibubuhi musik pengiring, berupa informasi judul lagu dan penyanyinya.


Sejauh 144 dari 275 halaman ini, favorit saya "Empat Menit, Sehat Sempurna". Isinya tentang Senam Kesegaran Jasmani (SKJ). Waktu sekolah SD di akhir 90an, saya sempat mengalami masa-masa senam sebelum masuk kelas, serupa yang dialami pemilik perpustakaan Kineruku Bandung itu. 


Kedekatan dengan bahasan di judul ini, juga muncul ketika Budi menghadirkan sejarah SKJ yang berasal dari SPI, Senam Pagi Indonesia. Saya pernah tugas di program TV bernama SPI, Selamat Pagi Indonesia. Dan ternyata istilah SPI pernah sepopuler itu, hingga barangkali para senior di Metro TV mempertimbangkan "romantika" supaya penonton dari tahun 1975 bisa merasakan sebuah proximity.


Dalam tulisan yang sama, Budi juga membubuhkan opini jenaka tapi mungkin memang tepat, bahwa "Di negeri yang dipenuhi bakat pelawak ini, kepatuhan yang dipaksakan hanya akan menghasilkan lelucon. Mungkin SKJ itu memang bukan soal kepatuhan, melainkan tentang bersenang-senang."


Meski begitu, ada pula bahasan yang terlalu jauh. Setidaknya bagi saya. Atau terlalu detil dan trivial sampai saya pikir judul ini bisa diabaikan. 


Pada akhirnya kategori semacam itu tetap saya baca sih, karena toh yang dicari dari membaca buku Trocoh bukan cuma informasi. Saya sedang mengasah skill meracik gagasan dengan bahan baku yang sama seperti buku ini. 


Salah satu cara latihannya, rutin nulis di blog ini. Sama seperti penulis Trocoh konsisten menulis di blognya, budiwarsito.net. []