Thursday, March 7, 2024

Behind The Interview

 This is a story from an interview session with Indonesia’s Culture Director General, Hilmar Farid. Last March my team conducted a chat about the Indonesian Heritage Agency (IHA), which is set to be officially launched on May this year.*

There was an interesting behind the scene story from the occasion. It’s about how Pak Hilmar and I filled the timing gap between the moment when he sat down in front of a SEA Today reporter and the time when our video journalists pressed the record button.

“Eyang datang”, I eavesdropped on a security officer who told his colleague about the attendance of one old man. 

As the man passed through the door where our team set the room as an interview studio, he looked inside. Some minutes later, Pak Hilmar told our team that he had to meet the man. 

“Sebentar ya, ke Pak Wardiman dulu”.

Later after concluding the meeting with the former minister of education, Wardiman Djojonegoro, Pak Hilmar told me that the 89 year-old man is currently focusing on research about panji, a series of stories which were engraved on temples in Indonesia. 

When it comes to panji, my mind recalls a meeting with Lydia Kieven, a researcher who wrote “Menelusuri Figur Bertopi dalam Relief Candi Zaman Majapahit” in 2014. In 2015, I met her in Frankfurt when I was attending the biggest book fair in the world, where Indonesia took a role as guest of honor.

Pak Hilmar nodded to my experience-sharing, and added that recently Kieven was in Indonesia. Fact checked: in 2023 an online news outlet quoted her analysis about a panji on Mirigambar Temple in Tulungagung, East Java. 

It was not surprising that Hilmar Farid has a broad connection to historians, archeologists and a lot of things surrounding those subjects. In fact, the 56-year old had gained a Ph.D. from National University of Singapore’s Cultural Studies in Asia after finishing his bachelor degree in Universitas Indonesia’s Department of History. 

It also made sense that the latest book he read was “Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World”, a book written by David van Reybrouck. “Bagi kita itu bukan hal baru, tapi caranya bercerita menarik”, Pak Hilmar gave me a glimpse of his review.

The book has been translated to English from its original Dutch language. Interestingly, on an episode of SEA Morning Show’s Book Talk segment, Marissa Anita reviewed the book. Hence, although I haven’t read the title we still have similar things to talk about.

Aside from the book, we also talked about a film. I told Pak Hilmar that before I have becoming a producer, as a reporter I wrote the release of a “docugraphic” movie, “Begini Lho Ed!”.

He remembered the title but (understandably) forgot about how I interviewed him as a historian, with his long hair. The hairstyle was so distinctive that prior to taking this picture, I said that Pak Hilmar somehow is a rockstar. [] 

* The IHA interview URL link: https://www.youtube.com/watch?v=StfFs7KFiMU 


Wednesday, February 21, 2024

Atasi Kelangkaan Air di Indonesia, TNI AD Lanjutkan Program “Manunggal Air”

 Hingga tahun 2017, sebanyak 27 juta penduduk Indonesia kesulitan mendapat akses air bersih. Hingga kini, tantangan tersebut masih membayangi keseharian warga di berbagai daerah, termasuk Halmahera Tengah, Maluku Utara.


Mahadiah Abdul Hamid terpaksa menggunakan air dari sumur rumahnya yang terletak di bibir pantai Desa Kipai, Kecamatan Patani. Ibu rumah tangga ini harus terbiasa dengan rasa asin yang sulit hilang, meski ia sudah menambahkan sepotong kayu secang (Biancaea sappan) ke dalam air yang ia rebus.

“Karena kalau saya masak air sumur, itu panci saya banyak garam (mengendap). Sudah banyak itu. Jadi mau bikin bagaimana, terpaksa saya minum. Mau ambil air juga jauh,” keluhnya.

Upaya pemerintah setempat belum cukup untuk mengatasi masalah kelangkaan air di tujuh desa di Patani. Instalasi pipa PDAM dan bak penampung air yang dikelola warga selalu kering saat musim kemarau tiba. 

Bertolak dari kondisi seperti itulah, TNI Angkatan Darat secara resmi memulai gerakan TNI AD Manunggal Air. Kecamatan Patani menjadi lokasi peresmian kegiatan nasional ini, karena di pulau Halmahera itu, TNI AD berkolaborasi dengan sektor swasta dan pemerintah daerah untuk menunjukkan bahwa negara hadir untuk memenuhi kebutuhan warga.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal Maruli Simanjuntak pada Selasa (6/2/2024) dalam wawancara khusus bersama tim liputan SEA Today.

“Jadi, kita mengambil peran ini karena saya pikir kalau pemerintah pusat (yang) membuat, mungkin cost-nya akan mahal. Tapi kalau kami yang mengerjakannya dengan masyarakat, itu jauh nilainya pasti jauh lebih murah. Selain juga kehadiran TNI dengan masyarakat, mereka bisa bekerja bersama di lapangan, menikmati bersama hasil karyanya, saya pikir itu jauh lebih bernilai,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jenderal Maruli juga menegaskan tiga hal yang menjadi fokus utamanya selama menjabat Kasad sejak 29 November 2023. Ketiganya adalah penanaman pohon, pembukaan lahan untuk kebutuhan pangan dan penyediaan air bersih.

Sebelum bersemat bintang empat, penyediaan air bersih telah menjadi perhatian Jenderal Maruli Simanjuntak sejak ia menjadi komandan korem (danrem) Surakarta. “Suatu saat saya lihat di Korem itu masyarakat tidak bisa bertani karena persoalannya air. Ada daerah-daerah yang saluran-saluran airnya rusak. Dan kebetulan saya punya banyak teman-teman akhirnya kita perbaikilah ini saluran-saluran air,” ujarnya dalam wawancara yang digelar pada Senin (5/2/2024) di penerbangan menuju Ternate.

Di hari yang sama, perwira tinggi kelahiran Bandung, Jawa Barat ini, menerima penghargaan dari kesultanan Ternate. Pada Senin (5/2/2024), Jenderal Maruli Simanjuntak dianugerahi gelar Kapita Ahi Besi Malamo (Panglima Besar Angkatan Darat).

Usai memimpin upacara adat penyematan gelar, Yang Mulia Sultan Ternate Hidayatullah Sjah mengungkapkan harapannya. “Semoga kehadiran Bapak Kasad dan Ibu (Ny. Uli Simanjuntak), juga Pangdam, Danrem beserta jajarannya, dapat membawa keberkahan bagi Kesultanan Ternate. Bisa lebih kuat lagi mempertahankan adat istiadat dalam menjaga keutuhan NKRI,” ujar Sultan Ternate seperti dikutip situs resmi TNI Angkatan Darat.

Dalam “Launching Program TNI AD Manunggal Air” di Kecamatan Patani, Halmahera Tengah, Maluku Utara, terdapat enam unit tandon air berkapasitas delapan ribu liter untuk mengairi rumah warga di dekat pantai. Pengelolaannya pun akan dilakukan dengan berkoordinasi bersama pemerintah setempat.

“Dari Desa Kipai juga kami lebih berterima kasih kepada Pak Kasad. Mudah-mudahan program ini bisa berlanjut terus,” ujar Kaur Perencanaan Desa Kipai, Nurdin Safar.

Penyelesaian masalah kelangkaan air juga menjadi perhatian pemerintah pusat. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024, pemerintah menargetkan pemasangan 10 juta sambungan air minum perumahan. []

Saturday, February 17, 2024

Sejarah Rempah Dan Teori Evolusi Berkelindan di Ternate

 Di Kota Ternate, gunung dan laut saling bertemu. Maka tak heran jika di sore hari, warga setempat dan pelancong memadati tempat publik untuk merasakan sejuk angin laut yang berpadu dengan hangatnya sinar matahari hingga ia tertutup Gamalama.


Pucuk gunung setinggi 1.715 meter itu bisa dilihat dari segala arah, termasuk dari sebuah rumah makan dengan menu utama papeda. Bubur berbahan sagu itu jadi makanan utama di Indonesia Timur, termasuk Ternate.


Saya melengkapi sepiring papeda dengan kuah soru. Ini kuah bening yang dilengkapi terong dan ikan tore (Hemiramphus brasiliensis). Selain kuah soru ada pilihan kuah lain yang lebih pedas, kuah kuning.


Sebagai pelengkap papeda, di antara sekian banyak menu yang tersaji di meja, saya memilih gohu. Sashimi khas Maluku ini terasa segar dengan sensasi aftertaste hangat di tenggorokan.


Rasa demikian berasal dari rempah, hasil pertanian yang membuat Kepulauan Maluku jadi wilayah rebutan bangsa eropa di sekitar abad 16 hingga 18. Jejak penguasaan jalur perdagangan rempah itu terlihat di delapan benteng yang tersebar di sekeliling pulau.


Semua benteng itu kini bisa dikunjungi wisatawan. Saya datang ke benteng Tolukko yang didirikan di abad ke-16. Pada sekitar abad ke-17, bangunan ini menjadi lokasi penting untuk mengendalikan perdagangan rempah di perairan antara pulau Ternate, Tidore, Maitara dan Halmahera.


Benteng lain di Kota Ternate berfungsi sebagai kantor pemerintahan dan museum. Selain kantor Dinas Kebudayaan Kota Ternate, di Benteng Oranje juga ada “Museum Sejarah Ternate” yang menampilkan memorabilia kota di Maluku Utara ini dalam berbagai periode.


Di sana, ada sebuah ruangan yang berisi segala hal tentang Alfred Russel Wallace. Ilmuwan asal Inggris Raya ini tinggal di Ternate selama delapan tahun menjelajahi Nusantara dan mengumpulkan lebih dari 125 ribu spesimen.


Alhasil, Wallace merumuskan sebuah garis imajiner yang memisahkan kelompok hewan Asia dan Australia. Peneliti yang hidup selama 90 tahun ini juga dikenal sebagai sosok penting di balik teori evolusi, selain Charles Darwin.


Pada tahun 1858 Wallace menulis “Letters From Ternate” yang berisi temuannya bahwa makhluk hidup berubah untuk menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Setahun setelah itu, Charles Darwin menerbitkan buku “On The Origin of Species”. Gagasan utama dalam buku itu kini dikenal sebagai teori evolusi melalui mekanisme seleksi alam (evolution by means of natural selection).


Saat menuai ide tentang salah satu misteri alam itu, Wallace ditemani seorang Melayu bernama Ali. Usianya 15 tahun saat mulai menemani Wallace selama tiga tahun terakhir masa tinggal sang naturalis di Ternate. Di lorong A. Wallace yang ada di sebuah sudut kota, tergambar mural Ali yang merujuk foto dirinya saat direkam pada Februari 1862 di Singapura–ketika mengantar Wallace pulang ke Inggris dan meninggalkan kepulauan rempah.


Rempah-rempahan (termasuk cengkeh, kayu manis, kemiri, hingga pala) kini tak lagi sebernilai ratusan tahun lalu. Meski begitu, hasil bumi itu tetap menjadi bagian penting dari identitas Ternate dan Kepulauan Maluku.


Sementara, dengan fakta bahwa banyak hal yang bisa dijelajahi dan dipelajari dari pulau ini, tak berlebihan jika saya menarik kesimpulan bahwa Ternate memang kaya. []