Showing posts with label review. Show all posts
Showing posts with label review. Show all posts

Saturday, September 12, 2020

Deugalih Bicara Pendidikan

Saya baru tamat baca buku kumpulan esai buatan Galih Nugraha Su. Dia saya kenal sebagai vokalis Deugalih and Folks. Album Anak Sungai jadi soundtrack keseharian saya di tahun 2015. Sebelumnya, di sekitar tahun 2011 saya pernah nonton kolektif ini di panggung pertunjukan Dago Tea House, Bandung. Sebelum saat itu, Galih ternyata sudah aktif menulis. Di antaranya, tahun 2003-2004 sebagai penulis cerpen di Air Zine. Dalam rentang masa aktifnya, Galih juga mengajar. Buah pikirannya soal pendidikan, dibukukan.


Judul buku ini Pendidikan yang Menjajah. Isinya ada 8 esai yang 7 di antaranya punya subjudul. Dalam buku ini, Galih tidak hanya berbagi pemikiran, tapi juga pengalaman. Tulisan pertama dalam rangkaian tulisan setebal seratusan halaman ini, menceritakan kesan Galih ketika mendampingi ”7 anak yang berjuang dengan dirinya untuk melampaui apa yang disebut keterbatasan, bukan untuk dimaklumi."


Pengalaman sebagai pendidik juga memberi muatan dalam kritik atas jalannya pendidikan di Indonesia. Tulisan yang menurut saya paling kaya, berjudul “Apakah Lagu Anak Masih Diperlukan?”. Titel ini pertama kali dimuat di situs Jurnal Ruang. Di dalamnya, Galih mempertanyakan argumen bahwa anak-anak harus punya “lagu anak”. Paparan ini kaya data. Untuk menjawab pertanyaan di judul tadi, penulis menyandingkan peran macapat dan lagu yang dibawa bangsa Portugis ke Nusantara pada abad ke-15. Suntikan pengalaman yang ia sodorkan sebagai solusi, juga tak luput dituliskan. Galih mengakui bahwa “tulisan ini bertujuan mengembalikan peran rumah dan sekolah menjadi tempat anak berkarya, bereksperimen dan bertualang."


Representasi judul Pendidikan yang Menjajah, juga Galih tampilkan melalui potret kehidupan seorang anak jalanan yang diurus PSK di Bandung tahun 2001. Selain itu, dorongan tentang “pendidikan yang tidak datang melalui mulut yang menasihati mereka dalam bentuk pemerintah, guru, dan orang tua” turut diperlihatkan lewat kondisi pendidikan di wilayah adat. Bahasan yang satu ini dilengkapi argumentasi Cak Nun dan Paulo Freire yang ditulis Galih sebagai: satu pemikiran.


Sayangnya, keputusan Galih untuk menerbitkan buku ini tanpa melalui editor, berdampak ke kualitas tata susun kata. Saya tidak terbiasa membaca paragraf yang diawali angka—seperti tampak di tulisan “Yang Melihat Dunia Dari Teras Rumah”. Di bagian kata pengantar, penulis memang mengakui bahwa absennya editor memang sebuah upaya untuk “tidak bergantung pada industri yang banyak pakem”. Padahal, jika Galih punya semacam sparring partner dalam menyusun buku ini, barangkali judul Homeschooling di Tengah Pandemi akan terasa lebih kaya. Tapi toh itu pilihan penulis sendiri. The medium is the message. Saya masih bisa menangkap pesan yang ingin dia sampaikan. []

Wednesday, August 26, 2020

Jika Illuminati Ada

Wartawan Tirto.id dan The Jakarta Post baru-baru ini berduet menguak skandal pelecehan seksual di dalam institusi keagamaan. Bertahun-tahun sebelum ini, wartawan The Washington Post mendapat hadiah Pulitzer di Amerika Serikat karena mengungkap kasus serupa. Kisah mereka lalu difilmkan dalam judul Spotlight.

 

Film lain yang juga berlatar lembaga kekristenan, ada di film Angels and Demons. Ceritanya tentang pembalasan dendam oleh organisasi rahasia bernama Illuminati.

 

Syahdan, para ilmuwan disebut sebagai illuminatus atau “mereka yang tercerahkan” setelah sejumlah temuan ilmiah, ternyata bertentangan dengan doktrin gereja. Galileo menyatakan bahwa bumilah yang sebenarnya mengelilingi matahari, bukan sebaliknya seperti yang termaktub dalam kitab suci. Atas publikasi itu, Galileo dihukum mati.

 

Nasib serupa juga menimpa empat orang illuminatus lain yang meninggal dalam sebuah tragedi bernama La Purga. Para illuminatus lalu berkumpul dalam organisasi bernama Illuminati. Mereka menjadi organisasi rahasia untuk menghindari penghukuman gereja. Ratusan tahun kemudian, orang-orang yang memilih percaya sains dan menafikan agama itu, membalas dendam.

 

Empat orang kardinal diculik dan diancam pembunuhan. Di dada mereka masing-masing dilesakkan penanda ambigram: earth, fire, air, water. Illuminati malah bertindak lebih katastropik. Mereka mencuri antimateri dari pusat penelitian CERN untuk kemudian membuat ledakan setara sekian kali lipat ton bom atom di Vatikan. Berhasilkah pembalasan dendam ini?

 

Film Angels & Demons diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dan Brown. Serial buku penulis asal Inggris itu bertokoh utama Robert Langdon, ahli simbologi. Dalam The Da Vinci Code dan Inferno yang juga difilman, Langdon diperankan oleh Tom Hanks.

 

Langdon berperan penting dalam teka-teki pencarian lokasi pembunuhan para kardinal, sebelum Hassassin alias pembunuh bayaran tiba di lokasi itu. Ia mengandalkan kode yang ditulis Galileo dalam buku di perpustakaan Vatikan. Galileo sendiri—diinformasikan melalui sebuah dialog—sebenarnya seorang pengamal agama yang taat, selain—sekali lagi—anggota Illuminati.

 

Karena menjadi organisasi rahasia sejak represi dari otoritas keagamaan, Illuminati jadi menarik didalami. “Kerahasiaannya” tadi ternyata terus jadi komoditas. Misalnya jadi inspirasi lagu ini. Kalau pun memang masih ada dan keanggotaannya melekat ketika seseorang lebih mempercayai pembuktian sains dibanding agama, maka jumlahnya barangkali tidak sedikit.

 

Apa pun itu, gambaran serupa di film Angels and Demons tak boleh terjadi. Kepercayaan terhadap sesuatu jangan sampai menjadi pembenaran atas teror dan pembunuhan. []

Monday, August 24, 2020

Allied-Casablanca

Buku Catatan Turis Siluman buatan Agus Dermawan T. memang kaya referensi. Bukan hanya bahas pengalaman penulis menjelajahi banyak lokasi, dia juga memuat informasi lain yang terkait dengan itu. Salah satunya, film yang baru saya tonton ini. Judulnya Allied (2016). Buku yang saya singgung tadi menuliskannya sebagai remake film legendaris berlatar di Maroko berjudul Casablanca.

Allied dibintangi Brad Pitt dan Marion Cotillard yang masing-masing berperan sebagai Max dan Marianne Vattan. Mereka pasangan suami-istri, setelah sebelumnya bertugas di lokasi yang sama: Casablanca. Kisah tentang bagaimana keduanya berpasangan dalam satu keluarga, kira-kira mengambil jatah separuh dari durasi total. Selebihnya, mengungkap bagaimana dilema pasangan agen rahasia di suasana perang dunia kedua.


Di paruh pertama dekade 1940-an, Nazi masih berkuasa. Maroko termasuk salah satu wilayah yang dikuasai Jerman dan sekutunya. Seorang duta besar bertanda lengan lambang swastika ala Nazi dan foto Hitler di ruang kantornya, berkuasa. Dialah sasaran serang kedua pasangan ini. Dan adegan penyerangan si duta besar, jadi satu-satunya momen peperangan khas film Mr & Mrs Smith (2005). Setelahnya, drama lebih kental terasa.


Allied memang menekankan tentang dilema yang dihadapi ketika seseorang harus membunuh pasangannya, jika terbukti si pendamping hidup itu memang penyusup. Serangkaian tes lalu dijalankan. Namanya Blue Dye Operation. Jika hasilnya positif dan ia enggan membunuh pasangannya, mereka berdua akan mati bersama: dibunuh. Dramatisasi plot dilengkapi dengan kehadiran anak pasanan Vattan. Namanya Anna. Penonton juga akan diajak menebak-nebak, kira-kira bagaimana jalan tengah terbaik? 


Saya selalu suka akting Brad Pitt, termasuk dalam film ini. Terlebih, saat dia juga harus berakting jadi seorang pekerja pertambangan di depan si duta besar. Bagian itu termasuk menegangkan. Dia diminta mengocok kartu remi untuk menentukan keputusan apakah layak mereka hadir di acara si duta besar. Bengis dan paranoidnya orang-orang Nazi juga terlihat ketika tokoh Max Vattan diminta menulis rumus kimia untuk fosfor. 


Ada satu dialog yang saya tandai di film ini, karena diulang dalam dua adegan. 


“a husband will offer his cigarette to his wife"

 

Kata Marianne ketika mereka baru bertemu di penugasan yang sama. Kalimat yang sama diucapkan di momen klimaks yang menandai pengungkapan bahwa salah satu di antara mereka harus mati. Kala itu, perempuan memang lazim merokok. Setidaknya demikian yang ditampilkan foto-foto dalam artikel terbitan majalah Life berikut ini. Judul terbitannya “Casablanca and 'Allied': A Real Wartime Couple in Casablanca, 1943".

Sunday, August 23, 2020

Patung Buddha yang Belum Tuntas

Buku Dari Buku ke Buku sepertinya akan lebih cocok dibaca akademisi di bidang sejarah. Seperti yang saya ulas di posting sebelumnya, gaya penulisan Pak Swantoro melompat-lompat. Apalagi detil sitasi dari sumber asli dipaparkan melimpah dan mentah. Misalnya, teks berbahasa belanda ditulis seadanya. Begitu pula dengan informasi berbahasa inggris. 

“Sebenarnya enggan saya menerjemahkannya, khawatir kalau menjadi padam ‘apinya’. Namun demi pembaca muda yang masih bergulat dengan bahasa inggris, mohon dimaklumi keberanian saya menerjemahkannya.” (Hal. 164)

Meski begitu, fakta dan data yang dipaparkan di dalamnya tetap bisa dipahami, dan menguntungkan. Bayangkan, buku ini kasih kita kesempatan lihat bagian dalam sebuah buku yang dibeli bersama The History of Java seharga 800 dolar AS di Amerika Serikat. Buku yang dimaksud: Antiquarian, Architectural and Landscape Illustrations of the History of Java. Di dalam buku ilustrasi ini, ada visualisasi seorang ningrat bertelanjang dada, keris tersampir di pinggangnya. Ada pula gambar tampak samping ningrat lain, yang dipajang pula di bagian cover buku berisi esai tentang buku koleksi P. Swantoro ini. 


Ada pula salah satu tulisan dalam buku ini, yang membandingkan beberapa buku untuk menjawab misteri keberadaan arca yang belum diukir sempurna di puncak Candi Borobudur. Meskipun foto arca yang dimaksud diperlihatkan, Pak Swantoro mendeskripsikannya melalui kutipan pernyataan Profesor Soekmono, kepala pemugaran Candi Borobudur:


“Dalam literatur mengenai Candi Borobudur, arca itu memang disebut ‘the unfinished buddha’, arca buddha yang belum rampung. ‘Mukanya jelek dan tubuhnya cacad. Keriting rambutnya belum dipahat…” (Hal. 115)


Buku buatan Bernet Kempers berjudul Ageless Borobudur, memaparkan bahwa ada dua pendapat tentang eksistensi The Unfinished Buddha: apakah dia memang bagian dari stupa induk, atau sebaliknya? Pada akhir tulisan, Pak Swantoro menarik kesimpulan berdasarkan tafsir Serat Centhini. Prof Soekmono memaknai bahwa: arca cacad yang bertakhta dalam stupa induk Candi Borobudur adalah pelengkap yang mutlak harus ada untuk menggambarkan kesempurnaan manifestasi Sang Buddha secara keseluruhan. []

Saturday, August 22, 2020

Manusia Lawan Hewan

Manusia lawan hewan. Dalam film, mana yang menang? Biasanya, yang pertama. Setidaknya, begitu pula ketika seorang perenang melawan kawanan buaya dalam film Crawl. Percayalah, mengetahui ending film survival semacam ini tidak akan mengurangi ketegangan menyaksikan menit demi menit judul yang saya bahas ini.

Crawl berkisah tentang Haley. Dia nekad menembus jalur terlarang yang berpotensi dilanda badai. Prediksi pun terjadi. Haley terjebak bersama ayahnya di rumah yang semula akan dijual. Lewat dialog di bagian awal film, penonton akan mafhum bahwa ada yang tidak beres dalam relasi ayah dan anak ini.


Kisah bergulir. Badai memburuk. Hujan lebat dan angin kencang merusak kawasan di sekitar rumah, termasuk peternakan aligator. Hewan melata inilah sumber ancaman Haley dan ayahnya. Saya memang bilang manusia menang, tapi nggak bilang manusia yang mana kan?


Crawl disutradarai Alexandre Aja. Dalam salah satu daftar filmografinya, ada judul Piranha yang diproduksi 2010. Nampaknya urusan hewan melawan manusia berlatar alam yang ganas, jadi perhatian khusus sutradara asal Inggris ini. Dalam hal menyisipkan kisah humanis di antara pertarungan itu, rasanya Crawl nggak terasa mulus. Saya teganggu dengan dialog melankolis bahwa ayah Haley ragu menjual rumah mereka. Terutama ketika Haley bilang “this is not home, we are home”—merujuk ke dirinya dan sang adik. Saya sulit membayangkan kalimat melankolis tadi cocok diucapkan dalam situasi genting semacam itu.


Film tentang manusia melawan binatang, yang paling fenomenal barangkali Jurassic Park. Bagi saya, ada dua judul lain: The Shallow dan Grey. Yang pertama, tentang seorang peselancar lawan ikan hiu. Deep Blue Sea dan Jaws boleh dibilang perintis phobia orang awam terhadap hiu. Dan The Shallow ini, menambah satu poin kontribusi. Meskipun kontra narasi soal itu juga banyak dikampanyekan: di dunia nyata, jauh lebih sedikit hiu membunuh manusia dibandingkan sebaliknya.


Sementara, film Grey bercerita tentang duel seorang penyintas kecelakaan pesawat dan sekawanan serigala. Di sini, para canis tadi “akting” nggak kalah meyakinkan. Entah gimana tekniknya. Si tokoh utama yang dimainkan Liam Neeson seakan bertaktik dengan makhluk berintelejensi. Dibanding Crawl dan The Shallow, Grey lebih interpretatif. Penonton akan punya penafsiran sendiri atas pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya bertahta sebagai pemuncak piramida ekologi. []

Tuesday, August 11, 2020

Buku tentang Buku

Saya sedang baca buku tentang buku. Ini kumpulan tulisan nonfiksi. Bisa dibilang, esai berdasarkan judul buku dan topik tertentu. Penulisnya: P. Swantoro. 

Polycarpus adalah P dalam nama depan Pak Swantoro. Ini perlu disampaikan agar Kamu nggak nyangka bahwa ketika saya sebut nama Pak Swantoro, P di nama depan beliau malah disangka “Pak”. Sebetulnya kalau mau lebih tepat kita bisa sebut beliau dengan panggilan Kek. Almarhum Kek Swantoro, wafat setahun lalu dalam usia 87 tahun.

 

Buku “Dari Buku ke Buku”, jadi warisan salah seorang pendiri Kompas Gramedia ini. Ada 32 judul yang dibundel ke dalam 472 halaman. Salah satu yang barangkali menggambarkan keseluruhan gaya tutur buku ini, bisa ditilik dalam sebuah judul: “Dari Majalah Basis ke Balai Poestaka”.

 

Pembahasan Balai Poestaka, sebetulnya bermula dari “pancingan” di tulisan sebelum judul-yang-juga-mengulas-Majalah-Basis-itu. Kalimat pertama bab kelima ini berbunyi: 

“Di atas sudah saya sebut nama G.Vriens yang menulis laporan tentang meletusnya Gunung Merapi akhir 1930. Nama itu membawa kenangan tersendiri bagi saya.” (hal. 43)

Pada dekade tahun 1930an dunia memang menghadapi resesi ekonomi, justru setelah redanya dampak suram perang dunia pertama. Di pulau Jawa, kondisinya diperparah dengan bencana gunung meletus. Laporan jurnalistik tentang katastropi itulah yang membuat Pak Swantoro tertarik jadi wartawan di Majalah Basis tahun 1957.

 

Lantas, Pak Swantoro “melantur”—demikian dia menyebut dirinya sendiri ketika membelokkan topik bahasan. Pak Swantoro menceritakan Balai Poestaka sebagai salah satu lembaga penerbitan yang berperan mengabarkan pagebluk 1930-an.

 

Fakta unik: Balai Poestaka dibentuk tanggal 15 Agustus 1908. Dan kita sama-sama paham bahwa 37 tahun lebih dua hari kemudian, Indonesia merdeka. Padahal, Balai Poestaka ternyata juga dikenal rajin membendung arus penerbitan buku dan artikel karya para aktivis anti-kapitalis dan anti-kolonialis.

 

Dalam lembar-lembar selanjutnya, saya kemudian membaca kisah tentang Pangeran Diponegoro dan buku Java de Oorlog atau Perang Jawa. Ini masih halaman 80-an. Masih ada 400-an halaman lain yang akan mengenalkan saya ke buku-buku lain yang berkaitan dengan Nusantara dan Indonesia. Dengan membacanya, sejauh ini sih saya suka. []

Monday, August 10, 2020

How I Love “Slaughter Beach, Dog”? And why?

Have you ever met someone that you dislike at an initial moments? Yet, you still have to interact with him or her due to any particular circumstances. Unpredictably, you and your colleague are match to each other. Sometimes, that scenario occurs not only in an interpersonal relationship.

Here’s my experience. I got a recommendation from one Twitter account about the best music albums of 2019. One of them was Slaughter Beach, Dog. Personally, I am not very fond of folk music. I still have enough energy to enjoy Rammstein with their latest album which was released on the same year. Recently, I also love the burst of distortion from Four Year Strong’s last album: Brain Pain—“Learn to Love the Lie” is my favorite one. Even so, I don’t know why, I cannot help myself for not to clicking that heart icon of Spotify on the album from Slaughter Beach, Dog: Safe and Also No Fear.

 

Times goes by, and little by little I managed to enjoy those 10 songs. Slaughter Beach, Dog offers an acoustic ambience with the accurate power of drum stroke so much so that it make the songs felt enjoyable. My favorite song is: Black Oak.

 

This is the fourth song on the album. I bet that Black Oak was not the main single from this album. The length maybe too long for some people, but I like it. Imagine that you have to climb steeply on the hill towards the top. Slowly. Instantly after reached the peak, you ought to move downward monotonously. All of those ups and downs analogy of the song happens in 6 minutes and 42 seconds. 

“A looping coda evokes the spaced-out lapse of highway hypnosis, as if the band were cruising those darkened roads themselves.” (Abby Jones, on Pitchfork.com)

After fell in love with the song, album and this band, I searched one or two information about them. From the same article written by Abby Jones, I found out that Slaughter Beach, Dog was a one man show that formed by Jake Ewald. He was the co-front man of Philadelphia based emo/ punk band named Modern Baseball—whom disbanded in 2017.

 

Safe and Also No Fear was his third album. And on this folk-rock album, Ewald includes Modern Baseball’s bassist Ian Farmer. Slaughter Beach, Dog released their latest single on June 5, 2020. The song was entitled: Fair Shot.

 

How to explain my instant likeness to this album? On the same timeline, I read the book of Jurnalisme Musik that was written by Idhar Resmadi. On the section of “How Taste Was Formed?” he cited the analysis from Martin Suryajaya’s book of Sejarah Estetika (2016). Martin wrote that British philosopher David Hume, argued: taste was formed by two steps: perception and affection.

 

Furthermore, Idhar expand his writing by stated that Hume’s opinion is coherent with Immanuel Kant’s argument of taste. Idhar concluded that it would be hard to insist someone about the beauty of one song without let them listen by themselves. []

 

 

Saturday, July 21, 2018

Pop Kosong


Seorang komedian bernama Trevor Noah, punya program bernama The Daily Show yang disiarkan rutin di youtube. Isinya komedi tentang sebuah berita yang sedang hangat buat dibahas. Tanggal 17 Juli lalu, Trevor bahas tentang kemenangan Perancis di piala dunia. Dengan gaya satir dia bilang:
“Africa won the world cup”
Pembawaan komedi seperti ini, ternyata dianggap serius oleh pemerintah Perancis. Duta besar Perancis untuk Amerika Serikat bahkan sampai bikin surat buat Trevor dan mengoreksi opininya di atas dengan penjelasan panjang lebar. Meski begitu, komedian asal Afrika Selatan yang masuk daftar 100 orang berpengaruh tahun 2018 versi majalah Times ini, bisa membalas semua protes yang dilayangkan Perancis. Sepertinya, candaan Trevor menyinggung dubes Gerard Araud karena semboyan fraternite, egalite, liberte seakan dimentahkan. Moto kebebasan, keadilan, persaudaraan memang jadi semacam Bhineka Tunggal Ika-nya Perancis sejak tahun 1880. 

Sayangnya, semangat konservatisme mengancam keberagaman di benua biru—seperti halnya virus penyeragaman merongrong toleransi di Indonesia. Menilik kondisi tadi, saya berkesimpulan bahwa, semboyan negara cuma utopia—meskipun setidaknya bisa jadi panduan juga. Dan paradoks itu bukan hanya terjadi di Perancis.
“Anakronisme lain politik Amerika Serikat adalah system electoral college. Di negara kampiun demokrasi terdepan dunia, pemilih tidak pernah bisa secara langsung memilih presiden mereka. Tiap empat tahun di awal bulan November, pemilih mencoblos dalam pilpres sejumlah orang yang akan mewakili satu negara bagian untuk duduk di electoral college yang kemudian mendapat tugas untuk memilih presiden baru.”
Kutipan kalimat di atas bukan saya ambil dari buku bertema utama politik, melainkan musik. Judulnya Pop Kosong Berbunyi Nyaring: 19 Hal yang Tidak Perlu Diketahui Tentang Musik, buatan wartawan The Jakarta Post sekaligus pemilik distributor musik Elevation Records. Kritikan terhadap sistem elektoral Negeri Paman Sam ia tuliskan dalam sebuah bab berjudul “This Heat, Deceit dan Penyakit Demokrasi”. This Heat adalah nama band avant-garde asal London. Deceit judul album terakhirnya—dari dua album dan satu minialbum. Dan kontennya, kritik untuk sang kampiun demokrasi dari lagu-lagu yang lahir di tahun 1981. Menariknya, penulis menganalisa bahwa lirik dari 29 tahun lalu itu masih relevan dengan realita Amerika hari ini.
“Serigala betina (she-wolf) yang disebut di baris terakhir tampaknya mengacu kepada kapitalisme yang menyusui pekerja, dan pada akhirnya membenturkan satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain; white supremacist melawan Black Lives Matter, media di pantai timur melawan redneck Amerika, para feminis progresif pendukung Hillary melawan kaum perempuan kelas pekerja yang memberi apologi bagi misoginisme Trump.”
Selain menganalisa lirik dan musik dengan realita kekinian, pengalaman pribadi penulis juga mewarnai pembahasan tentang sebuah musik. Saya paling suka ketika Taufiq secara sinikal menggambarkan hidup di usia 30an dalam judul The Thistysomethings Are Not Alright—titel ini diberi keterangan Extended Coda karena tidak ada di versi cetakan sebelumnya yang baru memuat 13 naskah. Tidak ada referensi musik yang dinukil di bagian ini, melainkan tawaran bahwa:
“Bagaimana  jika pilihan bagi generasi usia tiga puluhan sekarang adalah untuk berjalan lebih pelan. Bangun lebih siang, membaca buku lebih sering, menikmati lagu, lebih banyak berdiam dan berfikir.”
Selain analisa dan kontemplasi, buku ini tentu saja mengenalkan pembaca ke referensi musikal yang bisa jadi terasa menyegarkan. Namun, menemukan referensi musik di masa kini sudah semudah membuka tab baru di browser bukan? Resensi singkat di bagian punggung buku menuliskan: 
“satu-satunya nilai tambah yang bisa Anda dapatkan dari buku ini adalah bahwa semua pemain kelas bulu yang ditulis di buku ini (kecuali Dylan era akhir 1990an) ditemukan di masa pra-internet.” []

Thursday, August 11, 2016

Memahami Relasi Media dan Kekuasaan

Saya baru khatam membaca disertasi yang dialihwujudkan ke dalam sebuah bacaan popular. Judulnya Media & Kekuasaan: Televisi di Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto. Buku setebal kurang dari 300 halaman ini ditulis Ishadi SK, seorang praktisi media dan jurnalisme yang berjasa mendirikan jaringan Trans Media dan CNN Indonesia. Subjudul buku keluaran Penerbit Buku Kompas ini gamblang membocorkan konten di dalamnya. Karena ini disertasi, maka hal-hal yang dipaparkan di dalamnya tentu tak jauh dari hal-hal saintifik, untuk meyakinkan bahwa saripati gagasannya sahih karena melalui proses yang teruji. Meski begitu, saya nggak terlalu tertarik membaca (dan membahas) hal-hal akademis tadi. Fokus perhatian saya terhadap buku ini ada di gambaran suasana detik-detik menjelang kejatuhan sang penguasa orde baru, dan kaitannya dengan ihwal kebebasan pers di Indonesia.

Ketika Presiden Soeharto berada di ambang masa jabatannya, Ishadi SK duduk di Kementerian Penerangan, sebagai Dirjen Radio, Televisi dan Film. Dari penggalian fakta dan pemaknaan dari kacamatanya, suasana di balik ruang olah berita (newsroom) didedahkan terbuka. Setelah menjelaskan tentang tinjauan pustaka terhadap newsroom dan produksi di dalamnya dalam dua bab pertama, Ishadi membekali pengalaman pembaca dengan sejarah pendirian stasiun televisi di Indonesia di bab 3. Di bab inilah berbagai konsep pertelevisian diperkenalkan.[1]

Ada televisi pemerintah, televisi swasta dan televisi publik. Televisi pemerintah berarti stasiun atau saluran televisi yang dibiayai negara (penguasa) dan berfungsi mencitrakan pemerintah (tepatnya penguasa). Misalnya TVRI. Jenis kedua adalah televisi yang tunduk ke dalam aturan pasar: televisi swasta didanai pengiklan dengan konten yang sebagian di antaranya menyesuaikan terhadap kebutuhan pendanaan tersebut. Contohnya RCTI, SCTV, Indosiar. Sementara itu kategori terakhir, televisi publik, dipercaya sebagai jenis televisi yang paling ideal. Mesin televisi publik dihidupi iuran pemirsanya, sehingga keberpihakan televisi jenis ini lebih berimbang. Sebagai contoh, di Jerman ada ZDF dan ARD, Kanada punya CBC. Meski tidak menutup total pintu terhadap pengiklan, darah mereka sebagian besar adalah dana iuran pemirsanya. Di Indonesia, jenis televisi itu barangkali contohnya Berita Satu dan CNN Indonesia. Keduanya merupakan kanal berbayar, yang bisa ditonton melalui jaringan TV kabel.

Peran tiga televisi swasta dalam pergantian rezim kekuasaan jadi fokus bahasan buku ini. RCTI, SCTV dan Indosiar, dengan cara masing-masing memakan ibu mereka sendiri: pemerintahan 32 tahun orde baru. Pada mulanya, ketiga pionir stasiun televisi swasta itu diizinkan berdiri untuk menyesuaikan dengan selera pemirsa, seraya menjaga agar fondasi kekuasaan orde baru tetap terjaga. Namun aksi-aksi berani jurnalis di dalamnya berhasil memanaskan tuntutan agar Soeharto turun hingga pada akhirnya rezim kemudian berganti. Kisah-kisah dari ruang newsroom itulah yang paling seru. Bab 4 dan 5 dipenuhi cerita-cerita itu.

Dalam bab berikutnya, Ishadi menganalisa muatan berita yang berisi legitimasi dan delegitimasi kekuasaan orde baru. Maksudnya, sejumlah contoh berita dibandingkan menurut intensi pembuatnya, apakah bertujuan melanggengkan kekuasaan orde baru atau sebaliknya. Di bab terakhir, temuan dan analisa penulis disimpulkan. Ada sejumlah bagian yang saya garisbawahi.
Demikianlah, di era apa pun jurnalis di ruang berita televisi tidak pernah bisa menikmati kemerdekaan secara sepenuhnya. (hal. 253)
Karena itu, jurnalis harus terus meningkatkan visi dan pengetahuannya, serta terus-menerus mengasah hati nuraninya agar dapat terus-menerus memperkuat posisinya berjuang melawan tekanan-tekanan pasar sebagaimana yang dituntut oleh pemilik modal di era market regulations sekarang ini. (hal. 254)
***
[1] Catatan kaki dijabarkan di halaman berbeda. Bagi saya penempatan demikian kurang nyaman karena harus membolak-balik halaman untuk tahu apa yang dijabarkan dalam sebuah penanda. Penjelasan sejumlah catatan betul-betul memperkaya konten utama dan sayang untuk dilewatkan.

Pengalaman Baru Dari Membaca Novel O

“Jangan-jangan dulu kita pasangan kecoak,” saya berkelakar ke Windi. “Jangan-jangan aku dulu kecoak yang namanya Rheza lalu mati dan jadi manusia”. Istri saya itu spontan mengerlingkan mata, menunjukkan ekspresi bermakna “yang bener aja!”

Alternatif pemikiran demikian saya pungut dari novel buatan Eka Kurniawan berjudul O. Buku berjudul satu huruf itu berkisah tentang seorang monyet bernama Entang Kosasih yang sesumbar ingin menjadi manusia. Monyet tunangannya, O, menyusul sang kekasih yang ia percayai telah mewujud menjadi seorang kaisar dangdut. O berusaha menjadi manusia pula dan menagih janji calon suaminya untuk menikah pada bulan ke sepuluh.

Meski sedemikian sederhana, tuturan kisah yang dipaparkan dalam novel setebal 470 halaman ini sungguh kompleks. Banyak sekali tokoh di dalamnya. Dari pawang topeng monyet bernama Betalumur, anjing Kirik, pasangan polisi Joni Simbolon dan Sobar, ular sanca Boboh, dan banyak nama lain yang bukan cuma hadir sekelebat. Peran dan sejarah mereka didedahkan dalam 16 bab. Menariknya, pemenggalan bab dan subbab di dalamnya tidak kronologis dan seakan tidak koheren. Setelah menyimak kisah tentang si bocah Uyung misalnya, kita akan dihadapkan ke kisah Dara yang jadi cemceman polisi Sobar. Padahal cerita tentang Dara tidak berkaitan dengan kejadian yang menimpa Uyung. Meski begitu, toh pada akhirnya pembaca akan memandang sebuah alur secara holistik. Inilah pengalaman baru membaca novel yang ditawarkan O.

Selain memahami sebuah cerita dengan teknik yang unik, novel O juga berisi kritikan tentang berbagai hal. Dari konsep samsara (siklus hidup dan mati), kritik terhadap pemerintahan orde baru, pemaknaan ulang konsep cinta monyet, hingga satir tentang kehidupan manusia urban.
Semua manusia dan binatang dan benda-benda dan kenangan dan harapan berebut untuk hidup di kota ini. Mereka hanya perlu saling memakan. (hal. 42)
Sinisme tentang kredo homo homini lupus (seorang manusia adalah serigala bagi manusia lainnya) juga tampak di kutipan berikut ini:
“Saudaraku,” kata si pawang kepada para penonton. “Begitulah umat manusia di zaman sekarang, seperti dipertunjukkan oleh monyet-monyetku. Kita akan menindas manusia yang lain, secepat kesempatan itu datang.” (hal. 280)

Bagian Terbaik
Dari seluruh naskah buku kelima Eka Kurniawan ini, yang paling saya suka Bab 12. Di bagian ini ketegangan pelampiasan dendam Rudi Gudel atas kematian Jarwo Edan berselang-seling dengan kisah tentang orang-orang yang ada di kondisi itu. Selain keseluruhan bab ini, yang paling saya suka dari O adalah sensasi kepikiran tentang konsep moksa. Di dalam O memang nggak ada istilah moksa sih, tapi penemuan terhadap kata itu dan maknanya, membuat saya mengingat O sebagai sebuah novel yang seakan menginformasikan bahwa ada kepercayaan tentang mati yang juga disertai dengan lenyapnya jasad. Dan itu pernah dipercaya ada oleh masyarakat dahulu.

Soal hal yang mengganjal, barangkali saya perlu merujuk ke sebuah adegan di halaman 341. Di sana dikisahkan Rosalina membantu Entang Kosasih menghajar preman. Dalam imaji saya, itu terkesan klise. Terlalu sinetron aja gitu. Penggunaan istilah sinetron barangkali berlebihan, terutama merujuk ke bagian akhir novel yang tidak berujung semudah ditebak itu. Bukankah penutup yang sedikit menggantung selalu lebih terasa mengesankan? []

Monday, January 4, 2016

Sabda Charlie Chaplin Dalam Film Ngenest

Ngenest bagi saya dengan baik menghadirkan sebuah realita dalam bingkai tawa. Penonton akan ditarik ke masa lalu kala peranakan tionghoa mendapat perlakuan berbeda dari warga negara mayoritas di negara Indonesia tercinta ini. Satir itu segar menghentak sejak adegan pertama. Seorang anak hendak masuk kelas barunya, lalu ia diledek dengan sebutan "cina" saat menyebut kelas tujuannya. Bertubi-tubi, kegetiran yang lucu (atau kelucuan yang getir) serupa terus dihadirkan menyindir kenyataan yang memang demikian pernah terjadi. Itu mengingatkan saya ke pernyataan charlie chaplin, bahwa hidup adalah tragedi ketika dipandang dalam komposisi close up, namun justru komedi kala dilihat dalam adonan visual long-shot.

Film ini disutradarai seorang komika Ernest Prakasa. Ia pula yang menjadi bintang utama plus penulis skenario. Ernest jugalah yang menulis buku trilogi yang jadi pijakan kisah berdurasi sekitar 90 menit itu. Ia berperan sebagai dirinya sendiri dan beradu akting dengan Morgan Oey yang menjadi Patrick, sahabat Ernest sejak kecil. Deretan dialog di film ini pun mengalir sedemikian khas Ernest Prakasa. Simak ketika tokoh patrick memaparkan "filosofi tokay", yang mengingatkan saya ke gaya materi dan pembawaan komika juara 2 kompetisi komedi tunggal Kompas TV tahun 2011 itu. Ernest tanpa risih membahas hal yang mestinya dirasa menjijikan. Tanda tangan Ernest pun tampak di adegan yang serupa dengan sebuah bit tentang aktivitas seksual dengan istrinya. Meski mengandung materi yang biasanya dicerna penonton dewasa, kategori film ini digolongkan ke dalam kelas penonton 13+. Saya merasa itu kurang tepat. 

Yang juga perlu diapresiasi dari film ini, adalah dukungan akting para komika rekan seprofesi Ernest. Mereka juga tampil dengan gaya khas masing-masing. Awe dan Adjis Doa Ibu bagai punakawan di kisah pewayangan. Selipan keseharian mereka sebagai teman kos Ernest mampu menjaga ritme kisah dalam rangkain kejenakaan yang konstan. Tengok pula Ge Pamungkas. Juara 1 kompetisi Stand Up Comedy Indonesia kompas TV tahun 2012 itu sekali lagi membuktikan kebolehannya dalam seni peran. Setelah sebelumnya tampil di film Negeri Van Oranje sebagai seorang kikuk yang jenaka, di sini ia menjadi rekan kerja Ernest yang polos, ceplas ceplos dan bicara dengan rahang bawah terdorong ke depan. Saya jadi ingat sosok Don Corleone di film Godfather. Marlon Brando harus menggunakan alat penahan yang diselipkan di sela gusinya agar bentuk mukanya "melorot". Ge mengakali diri demiki karakter yang diperankannya tanpa alat apa-apa. Itu terlihat di skena penutup ketika kemeriahan pasca pengambilan gambar diperlihatkan. Dalam hal ini, Ge benar-benar berakting. 

Pada akhirnya, wujud karya baru Ernest Prakasa ini mengingatkan saya bahwa karakter pekerja seni dewasa ini tidak hanya didefinisikan dalam satu perimeter. Ernest tak hanya bisa disebut komika, tapi juga sutradara, penulis buku, juga penggubah skrip film. Pandji Pragiwaksono (kenapa dia gak diajak main film juga ya?) menyebut generasi demikian dengan nama vincinian. Sekali lagi Ernest mengingatkan, bahwa untuk sintas dan naik kelas, generasi hari ini mungkin perlu menjadi Vincinian. []

Tuesday, December 1, 2015

Apa yang Menarik dari Film yang Sebagian Besar Berlatar di Dalam Mobil?


Djenar Maesa Ayu datang lagi. Ia dikenal pada awal tahun 2000an setelah menerbitkan kumpulan cerpen pendobrak tata kelaziman berjudul Mereka Bilang Saya Monyet (yang kemudian difilmkan). Kali ini Djenar menghadirkan karya melalui media berbeda: film berjudul Nay. Nay adalah sebuah film nyaris monolog yang dibintangi Sha Ine Febriyanti. Lalu apa yang menarik dari film yang sebagian besar adegannya direkam di dalam mobil?

  1. Konsep dan format seperti demikian terhitung orisinil untuk film Indonesia.
    Meskipun pada 2013 film asal Inggris yang dibintangi Tom Hardy berjudul Locke sudah melalukan hal serupa. Bahkan tampak seperti sumber inspirasi Nay (kalau istilah jiplakan dirasa terlalu kasar). Serupa dengan Locke yang rilis duluan, Nay menampilkan gejolak batin seseorang tentang sebuah kejadian. Memang latar belakang kedua tokoh berbeda, jalinan konflik pun demikian tak sama. Tapi cara Nay mengungkap masa lalunya, serupa dengan yang dilakukan Locke. Ya, ternyata tidak terlalu baru, tapi tidak salah juga toh melihat film layar lebar pertama Ine Febriyanti.
  2. Film bioskop pertama Ine Febriyanti.
    Sha Ine Febriyanti jadi tokoh utama dalam film Nay. Di dalamnya, ia adalah seorang perempuan matang yang dihadapkan pada kondisi dilematis antara menyambut tawaran kenaikan jenjang karier atau meneruskan menghidupi jabang bayi yang baru ia kandung, dari seorang yang bukan suaminya. Lapis demi lapis adegan kemudian mengungkap masa lalu Nay hingga akhirnya ia mengambil sebuah keputusan. Pergolakan batin tersebut berhasil digambarkan oleh Ine Febriyanti, aktris teater dan sinetron yang mengawali karier sebagai model. Yang menarik, ini film layar lebar pertamanya sejak pertama kali masuk blantika seni peran tahun 1990an. Menjalani pengalaman pertama itu, sang ibu dua anak mengalami sejumlah tantangan, salah satunya jeda pengambilan gambar. “Memulai pengambilan gambar lagi supaya nyambung dengan adegan sebelumnya kadang enggak mudah,” cetusnya dalam sebuah wawancara. 
  3. Dokumentasi Jakarta.
    Katanya film itu cerminan kebudayaan dan kondisi suatu masyarakat pada saat tertentu. Dalam Nay, kita akan temui permasalahan khas ala orang urban. Selain itu, kondisi jalanan Jakarta juga mungkin akan jadi kenangan tersendiri bagi warganya berpuluh tahun mendatang. Kalau suatu hari nanti ada yang tanya, film apa yang di dalamnya tergambar suasana pembangunan jalur MRT di Jakarta (misalnya)? Salah satu jawabannya ya film Nay ini. []


Sunday, October 11, 2015

Perbedaan Film Everest dan Buku Into Thin Air


“Jangan baca bukunya”, Kang Edy langsung melarang saya membaca buku yang terkait dengan film yang baru saya tonton. “Ya pasti lu bilang ‘kok gini?’, ‘kok gitu?’”, ujarnya melengkapi. Buku yang menurut Kang Edy jangan saya baca adalah Into Thin Air, sebuah memoar perjalanan pendakian ke puncak tertinggi dunia: gunung Everest.

Buku yang ditulis tahun 1997 itu memang jadi salah satu acuan pembuatan film Everest (2015). Rupanya, Kang Edy menilai isi film dan buku sumbernya, ternyata berbeda. Perbedaan yang paling kentara, adalah peran sang penulis buku: Jon Krakauer. Wartawan dengan spesialisasi kepenulisan bidang aktivitas alam bebas itu, dalam versi bukunya, berperan lebih besar. Ia tidak hanya memasangkan tali pendakian ketika tali yang dibawa seorang Sherpa telat datang, akibat kendala yang dihadapi seorang pendaki wartawan perempuan. Bagi kamu yang sudah nonton filmnya, tentu ingat adegan itu. Nah, buku Into Thin Air, adalah kesaksian Krakauer yang menjadi bagian dari rombongan dua tim pendaki gunung Everest: kelompok Adventure Consultant dan Mountain Madness.

Cara Hidup di Mars ala The Martian

Apa judul film yang menyatukan keseruan di tiga film—Gravity, Interstellar dan Prometheus—sekaligus? Jawabannya: The Martian. Film ini berkisah tentang seorang astronot yang tertinggal di planet mars dan dikira meninggal. Di sana ia berusaha untuk terus hidup selama berbulan-bulan. Saya membandingkannya dengan tiga film di atas karena memang ada sejumlah kemiripan, selain karena ketiganya berkisah tentang perjalanan ke luar angkasa. Jatuh bangun perjuangan tokoh utama menyelamatkan diri, tentu sebangun dengan yang terjadi di Gravity. Bedanya, film ini tidak hanya mengandalkan acting Matt Damon sepanjang film, tapi ada juga tokoh lain. Pengemasan The Martian juga berbalut humor yang segar.


Thursday, October 1, 2015

3 Cara Menonton Film 3

Anggy Umbara menunjukkan produktivitasnya sebagai seorang sineas. Hari ini filmnya yang berjudul 3 (baca: tiga) mulai tayang di bioskop. Padahal tiga bulan sebelumnya (15 Juli lalu), filmnya yang berjudul Comic 8: Casino King juga telah tayang. Perolehan penontonnya pun tidak mengecewakan. Sampai akhir September kemarin, film sekuel bagian pertama itu ditonton lebih dari satu juta dua ratus orang, atau menduduki posisi kedua dalam daftar sepuluh film Indonesia yang paling banyak ditonton tahun ini. Oke lupakan dulu film Comic 8, karena ini waktunya kita bincangkan film terbaru garapan sutradara yang juga memainkan turntable untuk band Purgatory* itu. 



Wednesday, May 27, 2015

Menilai Entrok dan 86

Saya baru khatamkan dua buku novel buatan Okky Madasari: Entrok dan 86. Sebenarnya kedua novel itu sudah saya beli sejak lama. Entrok keluaran 2010, saya beli dua tahunan lalu, sementara 86 sekitar setahun setelahnya. Tapi baru kali ini saya punya mood buat menamatkannya. Lalu saya punya kesan tersendiri setelah dua buku itu habis dilahap. Inilah beberapa hal yang ingin saya bagi tentang kedua novel itu.


Monday, May 18, 2015

Pelajaran Dari Kelas Angkatan 92


Saya baru khatam menonton sebuah film dokumenter, judulnya The Class of 92. Film ini berkisah tentang 6 orang pemain bola tim Manchester United yang direkrut divisi pengembangan pemain baru pada tahun 1992. Mereka adalah David Beckham, Paul Scholes, Ryan Giggs, Gary Neville, Philip Neville dan Nicky Butt. Keenam orang ini, tujuh tahun setelah mereka merumput bersama, meraih gelar treble winner. Gelar itu disematkan bagi tim yang berhasil meraih juara di tiga kompetisi besar.

Friday, May 8, 2015

Mary Jane Veloso dan Film Tentang Hukuman Mati

Kemarahan Jelang Vonis Mati
Tahukah kamu, bahwa dalam proses persidangan di Amerika Serikat, hakim dibantu oleh juri. Sejak tahun 1898, Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa dewan juri harus terdiri dari setidaknya 12 orang. Mereka nantinya berdiskusi untuk memberikan masukan putusan kepada hakim sehingga putusan hakim benar-benar tepat. Para anggota juri adalah warga yang tinggal di daerah yurisdiksi pengadilan. Mereka memantau jalannya sidang sejak awal. Semua keterangan saksi, tuntutan jaksa dan pembelaan pengacara juga disimak untuk jadi bekal mereka merumuskan rekomendasi kepada hakim. Sebuah rekomendasi tim juri baru bisa diputuskan jika semua anggota setuju atas sebuah pendapat. Pada tahun 1970, Mahkamah Agung menyatakan bahwa angka 12 orang juri tersebut adalah kecelakaan sejarah, sehingga selanjutnya jumlah juri hanya 6 orang agar pengambilan keputusan lebih efektif dan efisien. Tantangan untuk bersatu suara dalam sebuah tim juri, tergambar menarik di film rilisan tahun 1957 berjudul 12 Angry Men.


Twelve Angry Men berkisah tentang perdebatan tim juri untuk memutuskan apakah mereka akan merekomendasikan ke hakim bahwa seorang pria 18 tahun benar-benar bersalah atas pembunuhan ayahnya. Jika mereka merekomendasikan bahwa anak itu memang bersalah, maka ia lebih rentan berakhir di kursi listrik untuk dihukum mati. Pengambilan keputusan tersebut sangat penting karena selain menentukan hidup atau matinya seseorang, terpidana yang dibincangkan ini usianya masih muda, meski pun memang sudah cukup dewasa. Saya jadi ingat kasus Yusman Telaumbanua, seorang terpidana mati pembunuhan asal Nias, Sumatera Utara. Ada simpang siur tentang usia Yusman. Sebuah dokumen menyatakan bahwa ia divonis mati ketika masih berstatus anak-anak. Sementara data lain justru menunjukkan bahwa usianya sudah 18 tahun ketika divonis, sehingga putusan itu wajar karena Yusman sudah dewasa. Baiklah kita lupakan dulu kisah Yusman.

Thursday, May 7, 2015

Menonton Novel Tanpa Huruf R

Saya baru menyaksikan film Novel Tanpa Huruf R. Diarahkan oleh Aria Kusumadewa, film buatan tahun 2004 ini punya identitas khas ala sutradaranya, seperti yang saya juga saksikan di film Kentut buatan orang yang sama. Novel Tanpa Huruf R mengisahkan tentang Drum dan ayahnya yang jadi korban selamat kerusuhan di Ambon pada awal tahun 2000an. Mereka kemudian tumbuh dekat dengan kekerasan, atau brutalitas. Ayah Drum bekerja sebagai tukang jagal sapi. Otomatis ia familiar dengan terpaan darah dan kematian, termasuk dengan kematian ayahnya ketika Drum dewasa. Drum dan Talang, seorang tuna rungu dan tuna wicara yang dikenalnya sejak kecil kemudian tumbuh bersama di kawasan pantai. Drum pun menulis sebuah novel berjudul Kejet-Kejet. Novel itu menarik perhatian seorang mahasiswa bernama Sunyi untuk membahas novel itu dalam sebuah karya tulis. Dari situlah kemudian konflik berkembang. Sunyi kemudian tahu bahwa Drum punya sebuah kebiasaan aneh yang mungkin berkaitan dengan proses kreatif kepenulisannya.


Bagi saya, ini film naratif yang merespon tren kekerasan yang memang marak di periode waktu itu. Dalam sebuah tugas peliputan, saya pernah berjumpa Hary Sudwijanto, yang saat itu menjabat posisi direktur resor kriminal umum polda Kalbar. Pak Hary berkisah tentang riset ilmiahnya pada awal tahun 2000an. Ia meneliti tentang cara media memaparkan kekerasan yang sedemikian vulgar. Ingatkah kamu dengan tayangan Buser? Sergap? Patroli? Atau program lain semacamnya? Kala itu program berita kriminal tayang di siang hari, dengan tampilan gambar yang dramatis: pengejaran penjahat, tampakan mayat dan darah, dll. Ternyata, "gambar bagus" itu memang sengaja dibuat, direkayasa. Misalnya ketika polisi menangkap seorang penjahat, maka ia akan memanggil wartawan. Para mat kodak itu tentu ingin mendapat gambar dramatis agar menarik perhatian penonton. Maka polisi dengan sengaja melepas si penjahat, lalu ditembaklah si penjahat yang lari. The more it bleeds, the more it leads. Demikian mantra layar kala itu yang juga senada dengan figur di film Nightcrawler. Mengerikan bukan? Karenanya, sekarang metode tersebut tak lagi digunakan karena tentu menentang HAM juga. Di film Novel Tanpa Huruf R, fenomena itu disindir dengan caranya tersendiri. 


Tapi ada beberapa hal yang saya pertanyakan dari film yang didominasi lagu Slank berjudul Bulan Bintang itu. Misalnya adegan Drum yang tiba-tiba tertawa setelah memberi sebatang rokok kepada seseorang di jalan. Drum lalu tertawa terbahal setelah itu. Apa maksudnya? Talang yang dikisahkan tak bisa mendengar pun, toh bisa menoleh ketika namanya dipanggil Drum. Sayang sekali detil kecil itu harus muncul. Tapi secara keseluruhan ini film yang tentu penuh makna. Novel Tanpa Huruf R adalah potongan pemberi makna terhadap suatu fenomena. [rhezaardiansyah]