Showing posts with label bogor. Show all posts
Showing posts with label bogor. Show all posts

Friday, April 21, 2023

Pura





 
Dalam kolom Cari Angin yang terbit dalam sebuah edisi Koran Tempo, Putu Setia mengulas tentang toleransi. Ia menulis bahwa pembuatan aturan yang kaku untuk pendirian rumah ibadah justru memunculkan situasi intoleran, karena bias mayoritas.

Dalam esai yang sama, pendeta Hindu bernama Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda  itu menyebut dua pura besar yang didirikan di daerah mayoritas muslim. Pertama, Pura Mandhara Giri Semeru Agung di Lumajang, Jawa Timur. Saya pernah ke sana saat dulu membuat liputan booming wisata pendakian ke gunung Semeru pasca populernya film 5cm.

Pura kedua yang ia sebut sebagai contoh bagus toleransi beragama, ada di kaki gunung Salak, Bogor. Sebagai warga kota hujan, saya merasa harus mengunjungi pura bernama Parahyangan Agung Jagatkartta itu.

Suatu pagi, saya bertolak dari pusat kota setelah solat subuh. Perlu waktu sekitar 45 menit menuju lokasi yang sudah ditandai di aplikasi Google Maps.

Perjalanan menuju titik setinggi 800 meter di atas permukaan laut itu melintasi kondisi jalan yang cukup nyaman untuk dilalui dengan mobil jenis sedan. Ada beberapa jalan rusak, tapi tidak sampai merusak kendaraan jika saat menyetir kita bisa menyesuaikan kecepatan.

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta berdiri di atas lahan seluas 2,5 hektar. Untuk masuk, kita perlu memakai kain khusus. "Bisa beli di atas," kata Pak Sugeng, seorang petugas kebersihan.

Pak Sugeng dengan ramah menceritakan tentang kawasan pura. Katanya, dia bisa mengantar saya untuk menjelajahi titik lain di dekat situ.

Saya sebetulnya tertarik dengan ajakan Pak Sugeng untuk menambah dua jam kunjungan demi menjelajahi kawasan Ciapus itu. Sayangnya, saya sedang puasa dan akan butuh minum kalau ikuti ajakannya. Saat saya tanya kontak Pak Sugeng untuk lain kali janjian, dia bilang "nggak punya handphone, nggak bisa mencetnya".

Pada akhirnya, saya duduk-duduk saja di tangga dan pinggiran gerbang masuk sambil berjemur. Sempat pula saya jalan kaki ke arah ujung jalan. Ada tempat wisata Kampoeng Salaka kalau kita terus menerabas jalan.

Setelah puas menikmati suasana, saya bertolak pulang dan pamit ke Pak Sugeng. Katanya, kalau mau diantar ke tempat yang dia janjikan di lain hari, saya cukup datang sekitar jam 10 pagi. Dia janji mau memperlihatkan tempat petilasan Prabu Siliwangi. "Ada lima," katanya meyakinkan. []


Saturday, May 16, 2020

Cigombong

Beberapa hari terakhir ada dua berita tetang Cigombong yang saya tonton. Kedua video itu mengingatkan saya ke momen kunjungan di sana tahun 2016 lalu. Saat saya dan istri liburan jelang kelahiran anak kami.

Dalam liputan BBC Indonesia tentang sejarah jalur kereta Priangan, saya baru tahu kali ini bahwa ternyata area Cigombong sedemikian bersejarah. Stasiun Cigombong menyajikan pemandangan indah ke arah gunung gede-pangrango.

Waktu itu, saya dan istri diajak kawan kuliah, Rajib, datang ke satu lokasi. Tempat itu biasa dipakai kumpul anggota karang taruna setempat. Kalau malam, kata Rajib mereka biasa langsung dinaungi bintang. Ketika siang, pandangan kita diapit gunung gede-pangrango dan gunung salak di kedua arah cakrawala.

Saat babymoon kala itu, kami menginap di hotel lido. Penginapan di samping danau itu ternyata juga bersejarah. Para meneer belanda dulu berwisata di daerah itu. Ketika menginap, suasana oldies memang kental terasa.

Malam harinya, saya dan istri datang ke acara diskusi yang dimoderatori Rajib. Kami berdiskusi tentang kampung wisata. Rajib menutup acara dengan pembacaan puisi. Dia memilih puisi Widji Thukul, Peringatan. Kata “lawan!” yang ia lantangkan, ditujukan ke proyek pembangunan yang mengancam kampungnya.

 Beberapa hari lalu, Washington Post memberitakan ketakutan Rajib.
Sejumlah kawasan di Cigombong, rencananya akan dibangunkan fasilitas rekreasi: lapangan golf, hotel, panggung musik. Beberapa wahana ini akan menjual nama Trump—pengusaha real estate yang sekarang jadi presiden AS.

Masalahnya, ada satu blok pemakaman yang dibongkar tanpa izin warga setempat. Di lain pihak, MNC selaku perusahaan rekanan Trump Residences mengaku lahan pemakaman itu miliknya dan sudah ada izin relokasi. Cigombong nampaknya sudah ada di ambang perubahan. []

Tuesday, April 28, 2015

Menyaksikan Bangkitnya Bogor Kreatif

Hari sabtu lalu saya datang ke sebuah acara peluncuran kembali komunitas Bogor Kreatif. Komunitas itu aktif di pengolahan daur ulang barang bekas untuk dijadikan kreasi baru yang lebih bernilai. Mereka punya galeri yang berlokasi di Jalan Tentara Pelajar Bogor. 


Sebenarnya komunitas itu sudah ada sejak tiga tahun lalu, tapi dimeriahkan kembali biar orang-orang tahu ada komunitas semacam itu. Kalau bermain-main ke galerinya, kita bisa lihat sejumlah koleksi unik, seperti koper yang terbuat dari kertas tebal, sampai buku yang membahas Bogor di tahun 1800an.


Yang juga menarik di acara malam itu, adalah sejumlah penampil di panggung kecilnya. Berikut ini foto dan video penampil yang sempat saya abadikan. Video penampilan asphoria kepotong karena memori handphone gak cukup pas rekam lagu ketiga. Waktu rekam lagu kedua, malah kepencet tombol lain jadi video keputus. Hehe. [rhezaardiansyah]


Nonton adopta live. Band post rock keren dari bogor. Musiknya mirip lagu2 moonlit sailor
Menyaksikan dangdut didendangkan orkes pemuda madu. Vokalisnya gimbal, pemain bass nya sipit, pemain gitarnya pakai efek musik metal, pemain tamtamnya rancang menabuh alatnya. Jadi inget drummer forgotten. Si pemain tamtam dan drummer konsentrasi dengan alatnya saat main. Indah sekali. Aku mau bisa bermain tamtam, dan memainkan musik dangdut 
Fan pakai helm skate untuk menghormati pembuatan skate park di bogor dan menghindari kejahatan begal

Wednesday, December 25, 2013

New Album: Finding Nadia - April Is Our December (2013)


Selamat hari natal, hari kelahiran Sang Juru Selamat. Momen kelahiran Kristus hari ini juga menjadi selebrasi kelahiran album baru Finding Nadia. Paket karya Finding Nadia kali ini bertajuk April Is Our December. Ada sembilan lagu yang dipasang di album pamungkas ini. Ya, setelah rilisan ini, Finding Nadia membubarkan diri.

April 2008, empat orang mahasiswa baru sebuah universitas di Bogor sepakat dengan sebuah nama band, Finding Nadia. Nama itu berawal dari inspirasi yang hadir dari sejumlah band emo/screamo yang hanya berkesan feminin di nama. Keempatnya lalu setuju meminjam nama seorang mahasiswi yang mereka kenal di sebuah kegiatan kampus. Jadilah Finding Nadia setelah awalan kata kerja ditambahkan sebagai pelengkap. Finding Nadia kemudian menjadi lima, setelah seorang drummer masuk. Empat bulan kemudian, mereka menjajal panggung pertama di sebuah gig bertajuk "Kota yang Hilang".

Dalam menjalankan Finding Nadia, para personilnya seringkali kesulitan menemukan irisan waktu di sela aktivitas primer mereka. Buntutnya, baru dua tahun setelah ada, album perdana Finding Nadia tercipta dengan judul "A Huge Difference Between Zero and The Number After". Kendala serupa tetap bersama mereka, meski sejumlah panggung sempat menjadi ajang presentasi karya Finding Nadia. Sejak 2012, Finding Nadia yang saat itu hingga kini kembali berempat, berkumpul lagi dan mengolah tabungan karya mereka. Mengenang April sebagai bulan kelahiran, album "April Is Our December" akhirnya dirilis.

Pencapaian progresif seorang kreator, terjadi ketika mereka menggubah karya yang berbeda dengan kreasi sebelumnya, namun tetap terhubung benang merah yang sama. Ikhtiar itu dilakukan Finding Nadia di album keduanya ini. Sembilan lagu dihimpun dari rentang masa tiga tahun proses kreatif. "Pagi Ini di Semester Akhir" sempat dirilis sebagai single. Pun demikian dengan "Tak Kan Pernah Sama" yang sempat muncul dalam wujud akustik. Sementara "Sejak Dekade Terakhir" berasal dari rilisan lama proyek Various Flames, "Tell You Something" ditarik dari album pertama dengan menghadirkan Rizka Zahra Tamira sebagai modifikator sektor vokal. Sisa lima lagu lain tercipta spesial untuk album penutup ini. Mereka adalah "Anthem of Birth", "Hollow Lines", "It Ain't Over 'Till It's Over", "Don't Climb the Wall, Walk Through It!" dan "Run Something New". Seluruh materi album direkam secara swadaya di sebuah ruang rekaman yang juga seadanya. Rekaman momen-momen selama proses vokalisasi sengaja dimasukkan di ujung dua lagu, sebagai perwakilan serupanya gambaran suasana saat Finding Nadia terbentuk, hingga kini terpisah. Semoga rilisan terakhir Finding Nadia ini menjadi hadiah natal yang berkesan. -r.ardiansyah-

track list:

1. Anthem of Birth
2. Pagi ini di Semester Akhir
3. Hollow Lines
4. It ain't Over 'till It's Over
5. Tak Kan Pernah Sama
6. Don't Climb the Wall, Walk Through It!
7. Sejak Dekade Terakhir
8. Tell You Something
9. Run Something New

Download link:
APRIL IS OUR DECEMBER (26 MB)

Finding Nadia:

Rona Jutama Yonanda
Rheza Ardiansyah
Raden Achmad Fauzan Alfansuri Rahili
Mohamad Iqbal Panggarbesi

Release date: December 25th, 2013

Copyright: FINAD 2013

http://soundcloud.com/findingnadia

http://twitter.com/finding_nadia

https://www.facebook.com/FindingNadiaMusic

Thursday, June 7, 2012

Kemegahan Nidji di Malam Penganugerahan IPB


Malam Penganugerahan IPB (MPI) 2012, sukses diadakan pada Minggu (3/6/2012) yang mengusung Tema Alunan Cinta dalam Simfoni Alam membawa warna merah menjadi nuansa utama pada malam tersebut. Pembukaan acara menampilkan Tim Perkusi Flavalicious MAX!! dan berkolaborasi dengan Tim Tari Bendera yang mewakili kesebelas fakultas yang ada di IPB. Hadir secara khusus. Rektor IPB Prof. Dr. Ir. Herry Suhardiyanto M.Sc mengenakan jaket kulit hitam. Celana jeans dan kacamata hitam disambut dengan gemuruh tepuk tangan berhamburan dari penonton yang memenuhi seisi gedung GWW.

Wednesday, June 6, 2012

Endah N Rhesa dan Tangga meriahkan IPB Green Living Movement 2012 #2


Penampilan  performance art Tari Saman dari UKM Gentra Kaheman IPB membuka malam Cultural Performance dan Closing Ceremony acara IPB Green Living Movement 2012 #2. Penonton serentak berteriak ketika Endah N Rhesa, sepasang duo luar biasa ini memasuki panggung dan memainkan lagu pertama mereka yaitu Blue Day. Alunan lagu Tuimbe diaransemen dengan Yamko Rambe Yamko dipersembahkan Endah N Rhesa untuk kawan-kawan di Bagian Timur Indonesia dengan panjatan doa agar mereka mendapat kualitas pendidikan yang setara dengan teman-teman di Pulau Jawa. Seisi penonton GWW berteriak riuh ketika Wish You Were Here dinyanyikan dan dipersembahkan kepada para kekasih yang menjalan Long Distance Relationship (LDR),  juga sederet lagu lainnya yaitu I Don’t Remember, When You Love Someone dan Baby It’s You dibawakan dengan sangat apik oleh Endah N Rhesa pada malam tersebut. Girlband besutan UKM MAX!! IPB yaitu Cherry Max pun dengan sangat cantik mewarnai panggung Cultural Performance dan Closing Ceremony.



Saturday, May 12, 2012

Panggung Mahasiswa Ladang Seni IPB 9/5/2012

Panggung Mahasiswa (9/5/2012) kali itu sedikit berbeda. Acara dilaksanakan di pelataran Stevia. Katanya sih untuk mencari suasana baru. Kalau menurut saya, lebih asik karena bisa ditonton langsung bagi mahasiswa IPB yang lalu lalang di sekitar Stevia. Acara dimulai pukul setengah 8. Cuaca yang sedikit mendung bikin malam itu terasa dingin. Zeta sebagai MC menyapa penonton yang sudah hadir di Stevia. Performer Panggung Mahaisswa kali itu ada Rhesa, Michelle, Rendra, Zeta feat. Bejo, beserta teman-teman dari SAPMA S1 IPB. Penonton kelihatan asik hingga akhir acara. Sesekali ikut bernyanyi dengan performer yang sedang tampil. Saat acara bebas, Fajar dan Fahmi bergantian menyanyokan beberapa lagu. Acara yang cukup panjang dan meriah karena performer yang beragam.

Saturday, May 5, 2012

Panggung Mahasiswa Ladang Seni IPB 2/5/2012


Rabu lalu (2/5), seperti biasa Panggung Mahasiswa siap digelar di Stevia pukul 7 malam. Acara ini merupakan persembahan dari Ladang Seni IPB. Komunitas pecinta seni di IPB ini memberikan sarana bagi mereka yang ingin unjuk rasa, eh unjuk kebolehan seninya di lingkungan kampus. Gunanya ya untuk melestarikan keeksisan seniman kampus, juga untuk memperkenalkan kepada massa adanya seniman-seniman kampus. Pukul 18.30 WIB beberapa properti seperti ampli, mic, gitar, kursi-kursi, dan meja sudah diatur. Tampak Zeta dan Fajar sedikit melakukan check sound sambil menyuarakan ajakan bagi teman-teman lain untuk merapat ke Stevia.


Friday, April 27, 2012

Panggung Mahasiswa Ladang Seni IPB 25/4/2012




Fajar (Ladang Seni IPB) dan Rheza (Can I Say) sedikit jamming sebelum acara Panggung Mahasiswa dimulai. "Ayo Fajar, kita ajak teman-teman kita yang masih di luar untuk datang ke Stevia untuk nonton Panggung Mahasiswa. Caranya, mari kita bernyanyi untuk menarik perhatian mereka!" Semangat sekali Rheza malam itu. Minggu sebelumnya, hujan turun sangat lebat, hal ini sebagai salah satu alasan mengapa penonton yang datang untuk menyaksikan acara musik gratis ini sangat sedikit. Rheza dan Fajar, lalu diikuti Fahmi sedikit melakukan check sound untuk menarik perhatian masa Panggung Mahasiswa (25/4). Rheza sebagai Editor In Chief Can I Say juga aktif kumpul-kumpul bersama Komunitas Ladang Seni IPB ini. Namun sejak doi lulus, waktunya memang terbatas.




Sunday, January 22, 2012

Legendary

Belajar berorganisasi hingga mengeksekusi sebuah kegiatan sudah mulai ditanamkan di sekolah sejak tingkat dini. Namun agar berhasil menyusun hingga merampungkan sebuah gelaran spektakuler, perlu upaya tambahan, terlebih jika organisator tadi adalah siswa SMA. Para siswa SMA Regina Pacis Bogor mampu menunjukkan bahwa menggelar sebuah acara kolaborasi seni hingga olah raga yang besar bukan hal yang tak mungkin mereka lakukan. Melalui acara Legendary (Leading Generation through Education, Sports, and Arts in Diversity), mereka memuktikannya. Kegiatan itu merupakan rangkaian kegiatan yang puncaknya dihelat di Bogor Lakeside pada 21 Januari 2012 dengan pagelaran panggung seni serta penyerahan penghargaan.


Thursday, November 10, 2011

RASSA Produksi Ke-17


Komunitas adalah salah satu organ yang menjaga nadi seni selalu teraliri darah apresiasi. Selama tiga tahun terakhir, langit berkesenian Bogor, khususnya di kampus IPB meriah dengan berbagai acara bentukan Komunitas Wahana Telisik Seni dan Sastra. Komunitas yang penggiatnya kebanyakan berstatus mahasiswa di kampus pertanian itu rutin menggelar Ruang Apresiasi Seni dan Sastra (RASSA). Hingga sehari sebelum hari pahlawan diperingati, RASSA sudah digelar sebanyak 17 kali. Di RASSA edisi mutakhir tadi, suasana terasa lebih spesial karena di dalamnya juga dimeriahkan dengan prosesi peringatan hari jadi komunitas WTS yang harus diselebrasi tanggal 28 Oktober, bertepatan dengan peringatan hari sumpah pemuda. Malam itu RASSA juga mengapresiasi dua puisi dan sebuah film berjudul Life Is Beautiful.




Thursday, October 20, 2011

Rolling Stone Music Biz Hadir di IPB

Di interval awal masa ujian tengah semester, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) kedatangan tamu istimewa dari Rolling Stone dan timnya yang singgah dalam rangka roadshow Music Biz on Campus. Sebelumnya tim Rolling Stone Indonesia telah meninggalkan jejak di Universitas Atmajaya dan Universitas Sriwijaya. Di Music Biz edisi IPB ini, empat orang pembicara didatangkan. Mereka adalah Glenn Fredly, Andi /RIF, EQ Puradiredja, dan Saktimulya Murti. Diskusi bersama ketiga tokoh dunia musik negeri itu dipandu oleh penulis buku Rolling Stone Music Biz sendiri, Wendi Putranto. Executive editor salah satu majalah raksasa itu membuka acara dengan pengakuannya yang tidak ditutup-tutupi. Selain untuk menyelamatkan mahasiswa IPB dari konsumsi musik haram, wartawan yang pernah menjadi ketua senat itu juga hendak memprovokasi agar para mahasiswa pengusung panji pertanian juga ada yang berprofesi sebagai musisi. Penuturan itu spontan diiringi riuh tepungan tangan audiens.

Monday, October 17, 2011

Musik Into The Morning Sky Terbit dari Amerika

Keberadaan penghuni skena musik bawah tanah semakin tak bisa dipandang sebelah mata. Sebuah kongsi musikal bernama Into The Morning Sky berhasil menorehkan prestasi sebagai satu-satunya band asal Indonesia yang karyanya ikut serta dalam album kompilasi Ear Infection Compillation Volume 1. Album kompilasi yang terdiri dari 42 lagu itu terbit dari California, USA. Nomor bertajuk The Foremost terpilih untuk menempati salah satu ruang di album kompilasi yang bisa diunduh gratis itu. Saat ditemui di ruang produksinya, Fanfan sang gitaris band asal Kota Hujan itu menuturkan proses yang dilalui band yang terbentuk di Bogor pada Maret 2011 itu hingga terpilih sebagai salah satu pengisi Ear Infection. "Sekitar 3 bulan yang lalu pihak pengurus kompilasi ngirim email ke Jumpingdew," demikian gitaris yang juga pemilik Jumpingdew Blog Zine itu memulai pemaparan. Jumpingdew diminta memberi referensi band untuk disertakan di album kompilasi dengan kriteria musik turunan punk. Fanfan kemudian mempromosikan beberapa band yang sebelumnya telah dirilis dan direview di Jumpingdew ke kotak masuk panitia album kompilasi, hingga akhirnya Into The Morning Sky tadilah yang terpilih sebagai band yang lolos seleksi. Dalam press releasenya, pihak pengelola kompilasi menyatakan bahwa Ear Infection terdiri dari musik yang beragam, mulai dari punk hingga screamo. Paket karya yang juga dipadati musisi asal Amerika Serikat hingga Switzerland itu pertama kali dirilis tanggal 16 Oktober 2011 lalu. Artinya, Ear Infection masih hangat dan siap untuk disantap melalui tautan ini.


Tuesday, September 20, 2011

Stand Up Nite Bogor

Stand up comedy akhir-akhir ini mendapat sorotan perhatian tersendiri. Berbagai event open mic digelar, comic-comic baru pun lahir dan memperkaya varian seni mengundang tawa ini. Bogor tak mau ketinggalan. Bertempat di cafe O-Lounge Bogor pada tanggal 18 September lalu, stand up show digelar sebagai tema acara rutin yang memang selalu digelar disana, Bogor Rendezvous. Berikut beberapa foto dan video yang menggambarkan meriahnya gelaran tersebut.



Wednesday, July 13, 2011

Fusion Music Festival 2011 (Hari Pertama)

Tanggal 9 dan 10 Juli tahun ini akan menjadi hari bersejarah di masa depan nanti. Sebuah panggung apresiasi karya musik telah digelar di tanggal itu. Fusion Music Festival 2011 namanya. Dengan jargon 'When All The Vibes Meet', acara ini berani tampil sebagai pioneer festival musik yang tidak hanya terdiri dari satu jenis musik tertentu. Mari, saya ceritakan bagaimana suasana hari pertama Fusiomusic Fest 2011.

Free Play diberi kehormatan untuk membuka festival. Dengan karya instrumentalnya yang melenakan, Free Play adalah salah satu musisi independen Bogor yang perlu diikuti dan dinikmati pergerakannya. Simak foto dan video penampilan mereka di bawah ini.



Monday, May 23, 2011

Naif di SMAN 1 Bogor

Ini adalah kali kedua saya menyaksikan Naif di Bogor. Sebelumnya saya puas menghabiskan beberapa jam dengan cukup intim bersama band ini di gelaran A Mild As You Like It. Pengalaman impresif itu saya tuangkan dalam posting yang bisa teman-teman tengok disini. Kemarin, Naif kembali menggoyang Bogor di SMAN 1 Bogor. Saya datang saat Naif ada di sesi akhir penampilannya. Satu hal yang saya sesalkan adalah, saya gagal merekam sebuah lagu Naif berbau reggae yang menceritakan tentang penampilan mereka di SMA itu yang sudah tiga kali. Saya akan sangat sumringah jika ada audiens lain yang berhasil mengabadikannya dan membagi tautannya ke saya melalui blog ini. Hehe. Meski demikian, saya menemukan diri berada dalam sebuah realita baru dalam cara menikmati sebuah pertunjukan musik. Jika biasanya puncak kenikmatan sebuah konser bagi saya adalah meleburkan keringat di atas atau bibir panggung, maka sekarang kenikmatan lain yang juga saya rasakan adalah saat mengabadikan momen-momen memorabel si penguasa panggung. Orgasme pertunjukan yang saya ceritakan terakhir tertuang dalam foto-foto di bawah ini. Selamat menyimak :)



Monday, April 18, 2011

Naif di A Mild As You Like It Bogor

Hari sabtu itu harinya musisi. Boleh lah istilah itu kita setujui, hari sabtu kan memang biasa digelar berbagai event apresiasi seni (musik khususnya). Menghadiri sebuah pagelaran musik, tentu menjadi hal yang sangat penting. Apalagi tujuannya kalau bukan mengapresiasi, berekspresi dan terinspirasi buat bikin karya yang lebih kreatif. Untuk menjaga siklus kreatifitas itu terus bergulir, saya cukup aktif memburu berbagai panggung, bahkan untuk beberapa event, saya dan Fan rela bolak-balik Bogor-Bandung. Betul, bolak-balik Bogor-Bandung bukan berarti ga cinta gig lokal, tapi di Bogor setau saya kok jarang ya ada acara beginian, ya jadinya Bandung pun diladeni. Tapi sekarang (bahkan mungkin sejak dulu. cuma gue aja yang baru ngeh :p) Bogor udah punya acara rutinan, diantaranya ada Bogor Rendezvous yang rutin dibuka tiap 2 minggu di O-Lounge, ada juga MKKK yang diadakan di Cafe Kebun Kita, dll.

Sabtu ketiga di bulan April 2011, Bogor kedatangan tamu spesial. Sebuah band legendaris asal ibu kota tampil di kota hujan. Ya, mereka adalah Naif. Kuartet pria yang bermusik sejak 1994 itu tampil dalam event A Mild As You Like It. Saya berkesempatan menyaksikan aksi mereka, bahkan mengikuti sesi check sound-nya, bahkan ngobrol sama David, bahkan makan pecel lele bareng Jarwo. Beneran, Fajar Enda Taruna si gitaris gondrong yang kharismatik itu, makan pecel bersama saya. Ga percaya? Kalau begitu saya ceritakan kronologi kejadiannya yah. Mari simak!