“Bandung emang ga ada matinya”
Rasanya
tak berlebihan kalimat itu terlontar bagi sang kota kembang. Bandung
memang selalu hidup, terlebih apresiasi seni dan industri kreatifnya,
karenanya tak heran banyak musisi yang lahir dari ibu kota tanah sunda
itu. Bukti tingginya penghormatan karya seni itu terlihat dari frekuensi
penyelenggaraan pentas seni (pensi) disana. Setidaknya 2 minggu
terakhir ini ada 2 gelaran seni yang telah dan akan saya hadiri. Event
yang saya singgahi sabtu lalu adalah sebuah event bertajuk Bandoengsche
(baca: bandungs). Bandoengsche adalah poin akhir rangkaian acara yang
digelar oleh Permib, Perhimpunan Mahasiswa IT Telkom Bandung. Acara yang
digelar sejak awal waktu ashar itu diramaikan dengan lantunan melodi
beberapa musisi yang diantaranya adalah Deu Galih and Folks, Polyester
Embassy, CUTS, hingga Sarasvati. Sekarang mari kita ulas para musikus
yang turut andil dalam Bandoengsche.Band pertama yang resmi menginjak panggung Bandoengsche adalah Raspberry. Kuartet classic rock itu tampil dalam naungan rambut gondrong dan tubuh yang dibalut kemeja a la penganut grunge.
