Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Tuesday, August 6, 2019

Bandung

Menyusuri sore kota bandung
Mampir di lobi tobucil
Potong arah ke saparua 
Mampir toko buku gramedia

Sore ini kelihatannya biasa
Bisa gabung sparko sehatkan raga
Tapi memang sebenarnya berbeda
Besok bandung sudah tak ada

Belok ke jalan trunojoyo 
Cari toko otong koil kongko
Malah masuk pots meets pop
Batal beli celana cino

Tanjakan tipis di kabar kampus
Hajar gigi tiga sepeda
Muncul di jalur kawasan dago
Niat sikat diskonan di jongko

Lintas gempol pelajar mengobrol
Ingat pernah ajak windi-aksara
Cari hunian sementara
Buat satu tahun hidup bersama

Friday, May 10, 2019

Journalism


As a news editor, everyday I receive at least 13 news to be broadcasted on news program called Buletin Jawa Barat. In some news—especially about disaster, or traditional culture preservation—sometimes written that government should take responsibility to fix it. Partially, it is true. Holistically, it was not only government’s responsibility. I’ll decipher it to you.

Last April, I met the governor of West Java, Ridwan Kamil. He said that his leading style uses principle called ABCGM. Ridwan named it as pentahelix principle. It contains 5 sectors that contributed to social condition: Academics, Bussiness, Community, Government, Media. So much so that collaboration become stronger, there was held a monthly meeting between Government and Media—whom I am part of the media industry.

In one session of question and answer, a TV journalist asked Ridwan Kamil to prepare one Skype team to accommodate live interview request from his central office. Ridwan knew that condition, for he was the media darling. He said, press often asks a direct comment of several governmental issues. Even though he delegated his team. Media crew always said, “it’s a different taste if the song is not sang by the singer”. 

There was also one interesting statement from the governor. He asked by the online journalist for not to publish his program through social media at the first place. Jokingly said, Ridwan chuckled about “how his follower on instagram would have an updates?”

Competition of journalism, still defined as the race of being the first one in informing news to audience. Yet social media challenged it. In one interview, a journalist from Philipines, Maria Ressa, said that the function of media (and journalist) as gatekeeper has now been outdated. People can instantly get the information from their social media account. The gate is not kept anymore.

Even so, right after the meeting ends, I have a chat with Ridwan Kamil. I asked him one question: how could journalism be survive? He said in this age of flooding information, the key is accuracy. Now, he prioritize that a source of information should come from the media. He also remind, that one way to determine whether some information is hoax or not, is by check it on the big (or mainstream) media. If it was not appeared, then it could be a false news. []

Wednesday, April 10, 2019

Apartment



This month is the last month I live here. I’ve been lived in this apartment since the end of 2017, along with the coming of my wife and daughter—after we’ve been separated for 6 months since February 2017. There are several things that I love about this place.

First, the location. In some cloudy (and moody) days, I go to my office riding bicycle. It was fun because I roll downward. I can come to my workplace tidily. On the road, I also enjoy Bandung’s natural scenery. Even in the near peak of the day, I still can hear cicada sings a monotonous voice from the upper tree of Merdeka Street. So does when I cycling to the opposite direction. Consciously I can hear the sound of afternoon bugs on the streets of Wastukancana, on the vicinity of SKMN 1 Bandung. Sometimes, it needs the same time allocation to go back and forth between my office and my apartment. In those 15-20 minutes of go-home-biking, I also burn some calories. It was just feel fresh whenever I came to my room.

Number 2, the facility. Actually it was not the first class apartment in town. My wife and I, once visited another building that serves room allowance a half of my monthly income—which is very expensive because when we live there, what would we eat? Nevertheless, apartment that I’m living in, provides monkey’s howl in the morning. It is because the zoo only separated by the thin river on the valley. Let alone the fresh air provided by the forest in the same area.

For this several days remaining, I try to maximize another facility in this apartment: swimming pool. This morning, I read a book entitled A Simple Life written by Desi Anwar. She wrote about her art teacher and her healthy lifestyle. She said every morning, her teacher always spend less than an hour to go to swim. It makes her looks fine.

The story motivates me to be like her. Even though I cannot swim for that long—I usually swim for 10 minutes—I still be able to manage my morning to get wet. Though it is surely cold. You know what, when my whole body got sunk, I feel my left hand’s palm got the most drastic temperature. I guess it is because that part is the most gadget friendly part of another. While swimming, I also scream underwater to get my voice getting heavier.

Beside maximize swimming chance in my last days, I also use my free time to join a sport club named Sparko or Spartan Komando. At least 4 days in a week, I do some stretches with them. Hopefully, right when I moved back to Jakarta, I can be the better TV journalist. Or I also hope, there comes another experience in a new position—or workplace. []


Tuesday, July 31, 2018

Semiotika

Saya datang ke Spasial sekitar jam 19:45 hari Minggu lalu. Tadinya, saya malah akan hadir di sana sejak jam 16, sebelum akhirnya tahu bahwa Semiotika naik panggung jam 20. Band post-rock asal Jambi itu lagi sering saya dengar. Makanya pas mereka mampir ke Bandung dalam rangkaian tur pra-acara Soundrenaline, saya sempatkan nonton langsung. Biar merasakan musik mereka secara lebih hidup.

Trio Bibing-Riri-Gembol langsung membunyikan instrumen begitu set alat mereka siap. Tanpa perkenalan, tanpa judul lagu.

“Soalnya kita juga kebanyakan kalau live pun kadang-kadang jarang bilang ini lagu apa,” Bibing sempat jawab pertanyaan saya soal judul lagu. Setelah mereka tampil. “Kita nutupin mata, terserah kalian mau gimana, kalian mau moodnya gimana pas degerin musik kita, terserah. Jadi judul-judul itu ya itu dari kita, dari sudut pandang kita.”

Sejak dibentuk tahun 2014, Semiotika sudah buat satu album berjudul Ruang (2015) dan satu minialbum Gelombang Darat (2018). Menariknya, lagu pertama yang mereka rekam ada di minialbum yang dirilis empat tahun kemudian. Judulnya Delusi. “Aransemennya susah.” Kata Bibing soal lagu ketiga yang mereka bawakan juga di Bandung malam itu. Dalam penampilan itu pula, Bibing mengaku bahwa mereka bahagia bisa sepanggung dengan Under The Big Bright Yellow Sun (UTBBYS), band post-rock bentukan 2007. Katanya di atas panggung, kalau UTBBYS nggak ada, Semiotika nggak ada juga.
“Aku suka emang kayak instrumental, dari dulu aku suka. Bang Riri ngasih suasana baru. Jadi pas di kedai itu—Bibing dan Gembol mengelola sebuah kedai—kan dari siang sampe malem kan dengerin semua lagu. Cuma yang pasti pas malem-malem, kita lagi beres-beres, nyuci piring, buat mie, itu dengerinnya kebanyakan Under (The Big Bright Yellow Sun), Explosions (In The Sky). Ini band mana ya? Band bandung. Anjir keren. Jadi kayak, pas udah bosen gitu, abis gawean di kedai, ‘ayo ngejam’. Padahal ada band-band sendiri. Gembol ada band hardcore, Riri ada band dub-ska”
Waktu saya dan Bibing bicara soal band yang menginspirasi mereka, saat itu pula obrolan kami terpotong. Didi sang pencabik bass UTBBYS pamit pulang.

“Sukses, sukses!” kata Didi singkat setelah bertanya sampai kapan Semiotika di Bandung.

“Kang. Nuhun. Nuhun nya.” Bibing berbahasa Sunda dengan logat khas orang Sumatera.

“Edankeun!” kata Didi. Bibing membalas dengan meneriakkan kata yang sama. []

Monday, June 5, 2017

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Ramadan di Pavilion 19

Malam itu saya lagi makan capcay, sambil nonton B-roll film Wonder Woman. Dua buah apel yang baru dibeli juga udah siap disikat setelah mangkok ini kosong. Di tengah situasi itu datanglah seorang pria, Ian namanya. Ia dan istrinya, Diana, pemilik tempat ini. Empat malam terakhir saya memang nginap di Pavilion 19. Tempat ini sebenarnya rumah biasa, tapi ada dua kamar yang disewakan melalui Airbnb. Pavilion 19 punya daya tarik tersendiri karena desain kamarnya yang unik. Satu kamar bernuansa terbuka dengan halaman luar berrumput hijau, kamar lain berdesain interior kekinian. Orang yang ada di balik kreasi ini adalah Diana, yang sehari-hari menjadi desainer interior. Suaminya seorang arsitek. Maka demikianlah, Pavilion 19 pun disewakan sejak setahun lalu. Di Pavilion 19, saya tinggal di kamar yang memiliki halaman terbuka. Awalnya, tempat ini teras rumah biasa. Sebagian luas lahannya lalu ditutupi lantai kayu buat jadi teras lain yang baru. Teras lamanya, dibangun ulang sehingga jadi kamar. Sebenarnya ruangannya nggak terlalu luas, tapi pas. Ada kursi single di sebelahnya yang secara estetik senada sama bantal di kasur. Secara fungsi, kursi ini juga klop dengan aktivitas saya di pagi menuju siang. Bagian atap teras ditutupi bahan transparan, jadi kalau siang kita duduk di sana bisa kepanasan. Nah kursi itulah yang saya gunakan buat baca-baca santai sambil selonjorin kaki ke kasur sambil pintu kamar dibuka, angin bebas masuk. Nggak butuh AC selain memang gak ada alat itu pula. Coba Windi dan Aksara jadi ikut, makin lengkap lah itu baca sambil liatin Windi nemenin Aksara tidur siang. “Gara-gara proyek ya?” Ian nebak. “Gara-gara proyeknya ada masalah. Hahaha” saya jawab sambil ketawa. Sebagai sesama arsitek, Ian pasti paham dengan kondisi Windi itu. Tadinya saya dan keluarga kecil kami, memang mau pemanasan tinggal di Bandung di penginapan ini. Rencananya, dalam waktu dekat Windi dan Aksara akan menemani saya kerja di ibu kota Jawa Barat ini. Pavilion 19 dipilih sebagai perkenalan sama suasana Bandung sekaligus menikmati desainnya yang khas. Kami beruntung diberi izin buat menginap. Padahal, nggak semua calon klien Ian dan Diana diizinkan tinggal di sini loh. Ternyata mereka hanya terima pasangan yang sudah menikah, itu pun belum tentu semua dikasih. Dan kebanyakan, tamunya berasal dari luar negeri. Yang paling sering sih dari Malaysia. Apalagi kalau bukan bulan puasa, di depan rumah ini ada orang jualan nasi uduk. Bagi orang Malaysia, itu semacam nasi lemak yang biasa mereka santap di kampung halamannya. Ada juga kisah pasangan kakek-nenek yang traveling keliling dunia pakai sepeda. Mereka nginapnya di Pavilion 19. Selain mereka, di kamar lain ada seorang turis dari Arab Saudi yang tinggal selama sebulan. Jamal namanya. Saya sempat liat orangnya di saf pertama ketika solat taraweh. Lalu ketemu dia besok paginya dan ngobrol. Katanya di Arab panas. Enak di sini adem. Kata Ian, Jamal ini kalau hujan malah hujan-hujanan. Saking senengnya. Padahal badannya gede. Jauh dari imaji bahwa yang suka hujan-hujanan biasanya anak kecil. Diana lalu gabung. Dia keluar dari pintu di belakang tempat saya duduk, masih dengan kemeja putih dan kalung berwarna cerah yang tergantung. Diana baru pulang dari Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sebelum saya menginap di sini, dia sempat kirim SMS juga soal itu. Rupanya memang begitulah tradisi jika kita menggunakan jasa Airbnb. Pengalaman traveling bisa lebih lengkap dengan obrolan bersama host rumah yang kita singgahi. Diana sebenarnya nggak duduk dan ngobrol lama. Dengan ramah, dia bertanya tentang kesan saya tinggal di rumahnya. “Sesuai ekspektasi”, kata saya. “Tapi ada kayak bekas bulu kucing di bantal satunya, jadi saya balik”. Diana langsung menanggapi bahwa nanti akan diganti. Kata Ian, itu karena setelah dibersihkan pintu kamarnya kebuka jadinya kucing masih bisa masuk. Obrolan sama Ian malam itu lalu berlanjut lebih lama. Kemeja hijau tuanya mengesankan sensasi formal dari persona Ian. Dia baru pulang dari 347, perusahaan yang awalnya distro, sekarang udah berkembang merambah banyak bidang, meski tetap bernyawa desain. Rupanya Ian ini teman dekat para petinggi 347. Saya sendiri tadinya mau main ke sana, setelah lihat di instagram Sir Dandy bahwa ia akan tampil di perayaan dua dekade salah satu perintis industry distro itu. Rencana itu lalu batal dan di sinilah saya saat itu. Ngobrol sama ayah dua anak ini tentang banyak hal. Dari hiu paus di Gorontalo, tempat hiking asik di Bandung, program-program televisi sampai buku-buku yang kami baca. Nggak kerasa udah hampir jam 11 malam. Sebelum kembali ke ruangan masing-masing, saya diizinkan lihat koleksi buku di lantai satu rumah mereka. Kebanyakan majalah desain. Di lantai dua, kata Ian buku agama lebih banyak. Dari rak buku di lantai bawah itu, saya pinjam dua buku. “Saya selesaikan sampai sahur!” Janji yang tentu saja sulit ditepati. Waktu sahur tiba, jam 3 Ian bangunkan saya. Ia bawakan sekotak menu. Sebenarnya ada dua kotak, satu lagi buat Jamal di kamar seberang. Menu sahur malam itu rendang, lengkap dengan perkedel, sambal cabe ijo, sayur dan kerupuk. Di hari lain menunya ganti lagi, tapi dengan kualitas dan variasi serupa. Tadi malam misalnya, saya dikasih ayam goreng kremes plus kerupuk, sambal dan sayur kacang yang kuahnya manis. Di malam pertama, menunya lebih mengejutkan lagi. Pasalnya Ian sempat ngira saya nggak puasa. Jadinya belum disediakan makanan dari catering. Alhasil ketika jam 3 pagi saya ngetok rumahnya, dia cuma bisa janjikan roti, dan saya oke-oke saja. Beberapa saat kemudian justru menu rumahan yang disajikan. Ramadan di Pavilion 19, ada enaknya ada enggaknya. Tergantung sih, apakah Anda melihat fasilitas ini kelebihan atau kekurangan. Yang saya maksud, lokasinya yang tepat ada di sebelah mesjid. Bayangkan, suatu malam di masjid itu penceramahnya pidato bergaya Soekarno. Benar-benar mirip Bung Karno sampe saya rekamin suaranya buat dikirim ke Windi. Untung kontennya nggak radikal. Di kesempatan lain lebih selow sih khatib nya. Tapi ya tetep aja namanya pake pengeras suara, dan itu tepat di sebelah kita tinggal, buat yang nggak biasa rasanya mungkin mengganggu. Ian menceritakan pengalaman seorang traveler bule yang kaget dengan tradisi khas Indonesia ini. Katanya mereka kebangun saking kencengnya suara adzan subuh. Ian lalu jelaskan bahwa itu adzan, panggilan solat. “Emang ada yang dateng?” Mereka nanya. Hehe. Kita tahu bahwa tentu saja ada yang datang, dan itu luar biasa buat orang Eropa. Ian lalu sediakan penutup kuping di ruangan, dan peringatkan calon tamunya sebelum mereka memesan melalui airbnb. Bagi saya, lokasi yang berdekatan dengan masjid justru menguntungkan. Saya bisa solat berjamaah di kamar, toh instruksi gerakannya tetep kedengeran. Dengerin tausiah pun bisa sambil ngapa-ngapain. Pagi ini beberapa jam lagi saya check out. Ada pesan dari Diana masuk ke akun Airbnb saya. Ia berterima kasih atas kunjungan ini, meski juga menyayangkan Windi dan Aksara ga bisa gabung. Katanya, saya dapat diskon 10% untuk kunjungan berikutnya. Hehehe. Lumayan. Semoga ada kesempatan lain buat tinggal di sini sesuai rencana awal. Bersama keluarga. [] [envira-gallery id="1777"]

Sunday, December 8, 2013

The Sigit Detournement, Naik Hajinya Para Insurgent Army

Oleh: Rifki Maulana

Source: @Thesigit
Mungkin agak sedikit telat untuk menulis review konser yang berlangsung 26 Oktober 2013, tapi tidak ada salahnya menulis telat daripada tidak menulis sama sekali. Dua puluh enam Oktober 2013 mungkin akan dikenang sebagai naik hajinya para insurgent army, karena selain itu konser tunggal untuk launching album detourn the sigit, pada hari itu juga adalah hari jadi 10 tahun band tersebut berkarir. Saya yakin the sigit sudah cukup layak diberikan predikat legenda hidup musik indie Indonesia.

Sunday, April 8, 2012

We Are The In Crowd - Best Intentions Southeast Asia Tour 2012



"On a brighter, way more Interesting note...Indonesia,You're ours tonight! :D"
-Tay Jardine via @TayJardine

We Are The In Crowd was coming to Indonesia!!
Yap, Kamis 5 April 2012 lalu We Are The In Crowd (WATIC) datang ke Indonesia dalam Best Intentions Southeast Asia Tour 2012. Tidak seperti konser lainnya, konser WATIC diadakan tidak di Jakarta melainkan di Bandung, tepatnya di Dago Tea House. Konser yang dipromotori oleh PLAN and PLAY ini terkesan emang lebih private. Malam sebelumnya band yang terdiri dari Tay Jardine, Cameron Hurley, Jordan Eckes, Mike Ferri, dan Rob Chianelli ini sempat diwawancara di salah satu radio di Bandung. Berikut hasil liputan jurnalis Can I Say sepanjang hari mulai dari sebelum hingga saat konser berlangsung.

Tuesday, February 14, 2012

The Glorious ZOIZ



F2WL (From 2 With Love), sebuah pentas seni penuh cinta yang diselanggarakan oleh siswa SMAN 2 Bandung pada tanggal 11 Februari 2012 di Sabuga (Sasana Budaya Ganesha), Bandung. Acara yang sebelumnya sudah dipersiapkan dengan sangat matang ini mengambil tema Zoiz: Our Year, Our Season. Penulisan ZOIZ yang berasal dari angka tahun 2012 yang merupakan tahun penuh dengan isu tentang keadaan bumi yang semakin memburuk. Bazar dan pentas seni yang digelar para siswa SMAN 2 Bandung ini juga memiliki misi untuk melestarikan bumi dengan memperlihatkan suasana hijau yang nyaman. Oleh karena itu, acara ini mendapat support penuh dari warga Bandung.

Monday, February 28, 2011

Konser Tunggal Koil

Lazimnya, sebuah konser digelar akhir pekan. Selain memungkinkan dihadiri lebih banyak orang, malam hari weekend juga dirasa lebih nyaman diisi dengan aktivitas hiburan. Entah apa yang melatarbelakangi pemilihan hari untuk pelaksanaan konser ini, namun malam jumat itu rasanya tak terasa beda dengan akhir pekan dalam hal jumlah audiens hingga animo penonton. Konser tunggal Koil seakan menjadi alat uji kesetiaan Killer untuk mengapresiasi musisi acuan mereka. Bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), konser tunggal grup musik rock asal kota kembang itu sukses digelar. Acara dimulai sekitar pukul 19.45, meleset kurang lebih 45 menit dari jadwal yang dipublikasikan. Otong vokalis Koil melalui akun twitternya @midiahn pernah mengajukan semacam retorika, “siapa sebenarnya yang menyatakan bahwa ini adalah konser tunggal?”. Pernyataan itu tervisualisasi dengan penampilan vokalis 70’s Orgasm Club di awal acara. Ia tampil solo menyanyikan beberapa lagu yang diiringi gitar akustik yang dimainkannya sendiri. Usai hidangan pembuka itu, barulah kuartet rocker itu memulai goresan sejarah. Rangkaian lagu mereka lantunkan, tentu dengan kejutan lagu lama yang jarang dibawakan di atas panggung. Kejutan lainnya adalah hadirnya Risa Saraswati sebagai backing vocal di beberapa lagu. Penyanyi yang juga berkarya di proyek solonya yang bernama Sarasvati itu ternyata berulang tahun di malam itu. Tampil di konser tunggal Koil pasti menjadi hadiah dengan kesan tersendiri bagi eks-vokalis Homogenic itu.

Bukan Koil namanya jika tidak berbagi rezeki. Di kesempatan berbahagia itu, mereka membagi 2 sepatu boots kepada dua orang Killer yang beruntung tiket pre-sale-nya terpilih Leon dari toples undian. Angkuy, salah satu personel duo Bottlesmoker bahkan menilai Visual: A+ | Lighting: A+ | Audio: A | Crowd: A | Concept: Ultra A double + | Perform: A+. Agar meriahnya konser itu tergambar jelas, nanti kita tengok visualisasinya melalui foto-foto yang saya ambil dari shaf terdepan. Di akhir acara, Adam Vladvamp berhasil saya ajak diskusi. Berikut ulasan pembicaraan saya dengan bassis Koil yang juga bermusik di Kubik itu.

Tuesday, February 22, 2011

Bandoengsche

“Bandung emang ga ada matinya”
Rasanya tak berlebihan kalimat itu terlontar bagi sang kota kembang. Bandung memang selalu hidup, terlebih apresiasi seni dan industri kreatifnya, karenanya tak heran banyak musisi yang lahir dari ibu kota tanah sunda itu. Bukti tingginya penghormatan karya seni itu terlihat dari frekuensi penyelenggaraan pentas seni (pensi) disana. Setidaknya 2 minggu terakhir ini ada 2 gelaran seni yang telah dan akan saya hadiri. Event yang saya singgahi sabtu lalu adalah sebuah event bertajuk Bandoengsche (baca: bandungs). Bandoengsche adalah poin akhir rangkaian acara yang digelar oleh Permib, Perhimpunan Mahasiswa IT Telkom Bandung. Acara yang digelar sejak awal waktu ashar itu diramaikan dengan lantunan melodi beberapa musisi yang diantaranya adalah Deu Galih and Folks, Polyester Embassy, CUTS, hingga Sarasvati. Sekarang mari kita ulas para musikus yang turut andil dalam Bandoengsche.

Band pertama yang resmi menginjak panggung Bandoengsche adalah Raspberry. Kuartet classic rock itu tampil dalam naungan rambut gondrong dan tubuh yang dibalut kemeja a la penganut grunge.