Adalah seorang pria, namanya Mark David Chapman. Hobinya bermusik, dan menggemari benda-benda seni. Di kamarnya terpampang poster seorang pria, setia mengiringi hobinya menikmati obat bius dan ganja. Kegemaran tadi serupa dengan yang juga sering dilakukan pria di poster kamarnya, John Lennon.
Chapman adalah seorang impostor John Lennon. Ia asosiasikan dirinya bak juru vokal band The Beatles itu. Lalu tibalah suatu hari. Chapman menjadi religius, bahkan fanatis terhadap kristianitas. Ia lalu marah dengan opini bahwa The Beatles mengalahkan popularitas tuhannya. Chapman kemudian memutuskan satu pilihan tindakan: menyarangkan empat peluru ke tubuh John Lennon, setelah meminta tanda tangan sang idola.
Saya kembali duduk di depan layar raksasa. Pertarungan Electro dan Spiderman membelokkan alur pikiran saya tentang kisah tragis John Lennon. Melihat kisah Max Dillon dalam film The Amazing Spiderman 2, mengingatkan saya ke sosok Chapman di atas. Meski tak se-Chapman itu, Max dikisahkan awalnya menggandrungi si muka jaring, bahkan ia pernah diselamatkan Peter Parker bertopeng. Arah dukungan berubah ketika kemarahan Electro ke Spiderman pecah akibat kesalahan seorang polisi yang ia kira melukai atas perintah Spidey.