Monday, March 17, 2014

300: Rise of an Empire (Perang di Lautan Darah)


Menyaksikan film 300: Rise of an Empire, seakan memasuki mimpi buruk. Yunani kala itu begitu suram. Ditambah suasana invasi kerajaan Persia dan tumpahan darah perangnya, film itu cukup kuat menghadirkan peradaban lampau yang menyeramkan. Saya sebenarnya ketinggalan 10 menit pertama. Tapi toh saya tetap bisa mengalir dalam alur cerita yang menjadi prekuel sekaligus sekuel film 300 itu. Dikisahkan kerajaan Persia pimpinan raja Xerxes ingin menginvasi Yunani, termasuk Athena dan Sparta. Sparta yang dikenal dengan manusia beringasnya seperti dikisahkan di film pertamanya yang keluar 2007, menyerang penjajah dengan 300 pasukan dan gagal karena pengkhianatan. Beda dengan film pertama yang fokus di para Spartan, kali ini film didominasi pertempuran orang Athena pimpinan Temistokles.

Temistokles adalah jenderal yang berhasil membunuh raja Darius, pimpinan Persia sebelum digantikan Xerxes. Ia memanah dari jarak jauh hingga Darius tewas. Dalam menghadapi invasi kedua Persia ke kotanya, Temistokles berhadapan dengan Artemisia, seorang panglima perang berdarah dingin yang menjadikan dendam pribadi sebagai motifnya menyerang Yunani. Artemisia sebenarnya orang Yunani, tapi keluarganya dibantai tentara sipil. Ia pun tumbuh bersama dendam, setelah seorang Persia menyelamatkan dan melatihnya bertarung. Perang antara pasukan pimpinan Temistokles dan Artemisia inilah inti kisah Rise of an Empire.

Artemisia dan Temistokles banyak bertarung di laut. Pertempuran kedua armada pun menjadi daya tarik tersendiri di film ini. Bagaimana Temistokles berstrategi dengan armadanya, bagaimana kuat dan banyaknya tentara Artemisia, tergambar indah dalam banyak gerak lambat. Kemana para Sparta? Ada. Mereka menolak bergabung dengan Athena karena merasa Sparta adalah wilayah terpisah yang merdeka. Para orang Athena yang rata-rata petani dan pujangga, kemudian harus bertarung tanpa bantuan para manusia brutal dari Sparta. Mampukah mereka menghalau Artemisia dan rajanya Xerxes?
(rhezaardiansyah)

Regenerasi ARTE

Rangkaian acara pameran seni ARTE hadir lagi. Kali ini ia datang dengan tema re:generation. Ada empat interpretasi dari tema ini. Pertama, karya-karya yang ditampilkan mewakili kondisi generasinya saat ini. Kedua, ada juga yang memaparkan kemungkinan yang terjadi di masa depan dengan karyanya. Ketiga, sejumlah karya memperlihatkan adanya jarak antar generasi. Lalu yang terakhir, ada juga yang berupaya mengenang masa lalu. Dari 400 karya yang masuk, telah lolos seleksi 72 diantaranya. Mereka lahir dari 57 orang seniman. Berikut ini akan saya ceritakan beberapa karya yang bisa saya bahas.
Seorang komikus bernama Azer menampilkan karya melalui goresan tinta diatas kertas yang berisi kritikan tentang sejumlah hal. Misalnya, tentang media sosial yang justru membuat seseorang antisosial. Ada juga tentang nostalgia super hero masa kecil yang dikaitkan dengan teknologi terkini. Azer juga menampilkan fenomena sosial yang tak hanya berkaitan dengan media sosial. Goresannya sederhana, minim warna, tapi sarat makna.
The Bomber's Heart. Demikian saya melihat karya The Popo Bertajuk D.O.A. Entah berarti doa entah maknanya dead or alive (you always be in my heart dad). Tahun lalu ayah Ryan "Popo" Riyadi berpulang. Sejumlah karya visual bernafas kenangan bersama ayah pernah ia produksi. Kali ini ia melakukannya lagi di ARTE. Ada lima adegan unik seorang ayah dan anak khas The Popo. Yang juga menyentil hati, di satu bagian Popo menuliskan kutipan kalimat ayahnya, "Tuhan memberikan surga-Nya lebih dulu di dunia kepada saya yaitu anak-anak saya".

Monday, March 10, 2014

Jejak Brutalitas Konser Teenage Death Star

Konser pertama Teenage Death Star di tahun 2014 baru dihelat. Saya beruntung jadi salah satu yang ada di tengah teriakan, lembab keringat dan bentur-gesekan rianya suasana pesta itu. Penampilan Teenage Death Star kali ini bertempat di IFI Bandung. Dua band pembuka menghangatkan amplifier. 


Yang pertama Jenny Be Good. Empat orang personilnya perempuan semua. Musik yang mereka mainkan ada nuansa blues/rock n roll. Cukup atraktif, menghibur, komunikatif. Beberapa kali tawa saya tersungging mendengar candaan si mojang dengan logat sundanya yang kental.


Band kedua namanya Zaggle Griff. Kuartet pejantan ini terdengar bermusik rock alternatif. Ada nuansa emo/shoegaze/post-rock juga. Tapi entahlah apa itu nama tepatnya. Mereka ditanggapi dingin, karena mereka juga berlaku dingin diatas panggung. 


Akhirnya, yang ditunggu-tunggu tiba juga. Teenage Death Star naik akhirnya panggung. Band bentukan 2002 ini langsung menggeber lagu-lagu di dari album Long Way To Nowhere, album penuh mereka satu-satunya. Sebenarnya TDS punya minialbum yang dirilis berbentuk kaset dan CD yang jadi bonus Majalah Cobra edisi perdana. Minialbum itu isinya rekaman selama akhir tahun 80an. Tapi mereka tak membawakan satu pun lagu dari sana. Lupa kata Alvin sang gitaris. Saat itu katanya terlalu banyak drugs. Haha. Tapi toh meskipun lagu yang dinyanyikan itu-itu juga, penampilan mereka tetap asik.


Berikut kamu bisa tonton sendiri suasana konsernya melalui video di bawah. Disana terlihat suasana saat lagu Absolute Beginner Terror disuguhkan. Tanpa babibu, panggung langsung rusuh. Stage diving langsung menyambut. Ya karena mungkin itu lagu terakhir, jadi suasana sudah benar-benar panas. Entah kaki siapa yang ada diatas kepala. Entah siapa lagi yang pakai topeng singa itu. Semua chaos. Saya lalu terlempar keatas panggung yang tingginya cuma selutut, lalu sadar di sebelah saya Iyo bermain bass dengan ugal-ugalan. Dia seakan lupa bahwa perban masih menempel di jidat kirinya. Iyo atau Satrio ini kepalanya dihajar oknum polisi karena dia melanggar aturan jam malam di Bandung. Lalu sadarlah saya sudah diatas. Di pojok sana Sir Dandy sudah bertolak pinggang, pasrah mikrofonnya dikuasai seorang fotografer perempuan. Pandangan saya kembali ke massa di bibir panggung, lalu reff tiba. Dengan kamera dalam posisi merekam, saya terjun bebas. Jelas saya tersungkur, lalu seseorang membangunkan, entah siapa. Rusuh lagi. 

Lagu terus mengalun. Sir Dandy nampaknya malas menyanyi, atau lupa liriknya. Lalu Iyo menunjuk seseorang di hadapan saya yang menundukkan kepala di lantai panggung. Semua lalu meneriakinya. Dia sadar, lanjut nyanyi lagi dengan muka meringis dan mata tertutup. Hahaha. Gila. Sekali lagi, saya naik panggung dan loncat. Lagu tiba di interval akhir. Alvin dengan gaya superman-nya melompat ke bawah panggung. Semua menangkap dia. Iyo tak mau kalah dengan Alvin. Dia dibopong umatnya. 

"We want more! We want more!" teriakan menagih encore terlontar. Tak ada yang menggubris. Lampu panggung mati. Tunggu dulu, bukan berarti tak ada apa-apa lagi di panggung. Iyo mengajak tos orang-orang yang tersisa. Dia bilang yang mau berfoto bisa naik panggung. Saat semua sudah siap diatas, yang mengajak hilang. Haha.

Dalam video di bawah ini saya sertakan juga foto-foto selama pertunjukan berlangsung. Ada visualisasi kegilaan Alvin ber-stage diving bersama gitarnya, Sir Dandy berguling-guling, Sir Dandy tampil sendirian sebagai Sir Dandy bersama "Anggur Merah" dan "Chris John"-nya, dan tentu saja yang paling epik adalah tampakan ketika semua personil Teenage Death Star menyerahkan senjatanya masing-masing untuk dimainkan penonton. Kecuali Firman di kursi drum, semua personil TDS cuma jadi penari di lagu All That Glitters Are Not Gold.

Kamu yang ketinggalan kesempatan bergila ria bersama Teenage Death Star, masih bisa hadir di panggung TDS berikutnya di Jakarta tanggal 22 Maret. Fuck Skill, Let's Rock! (rhezaardiansyah)