Wednesday, April 10, 2019

Apartment



This month is the last month I live here. I’ve been lived in this apartment since the end of 2017, along with the coming of my wife and daughter—after we’ve been separated for 6 months since February 2017. There are several things that I love about this place.

First, the location. In some cloudy (and moody) days, I go to my office riding bicycle. It was fun because I roll downward. I can come to my workplace tidily. On the road, I also enjoy Bandung’s natural scenery. Even in the near peak of the day, I still can hear cicada sings a monotonous voice from the upper tree of Merdeka Street. So does when I cycling to the opposite direction. Consciously I can hear the sound of afternoon bugs on the streets of Wastukancana, on the vicinity of SKMN 1 Bandung. Sometimes, it needs the same time allocation to go back and forth between my office and my apartment. In those 15-20 minutes of go-home-biking, I also burn some calories. It was just feel fresh whenever I came to my room.

Number 2, the facility. Actually it was not the first class apartment in town. My wife and I, once visited another building that serves room allowance a half of my monthly income—which is very expensive because when we live there, what would we eat? Nevertheless, apartment that I’m living in, provides monkey’s howl in the morning. It is because the zoo only separated by the thin river on the valley. Let alone the fresh air provided by the forest in the same area.

For this several days remaining, I try to maximize another facility in this apartment: swimming pool. This morning, I read a book entitled A Simple Life written by Desi Anwar. She wrote about her art teacher and her healthy lifestyle. She said every morning, her teacher always spend less than an hour to go to swim. It makes her looks fine.

The story motivates me to be like her. Even though I cannot swim for that long—I usually swim for 10 minutes—I still be able to manage my morning to get wet. Though it is surely cold. You know what, when my whole body got sunk, I feel my left hand’s palm got the most drastic temperature. I guess it is because that part is the most gadget friendly part of another. While swimming, I also scream underwater to get my voice getting heavier.

Beside maximize swimming chance in my last days, I also use my free time to join a sport club named Sparko or Spartan Komando. At least 4 days in a week, I do some stretches with them. Hopefully, right when I moved back to Jakarta, I can be the better TV journalist. Or I also hope, there comes another experience in a new position—or workplace. []


Saturday, March 16, 2019

Wonder


Tadi pagi saya nonton film Wonder. Kebetulan tayang di Fox Movies. Waktu film ini ada di bioskop, saya nggak sempat nonton, padahal banyak ulasan bagus. Ternyata memang iya. Film ini kalau menurut istilah Joko Anwar, menghangatkan. Ceritanya tentang seorang anak bernama Auggie yang menderita penyakit langka. Via sang kakak, menjelaskan bahwa kondisi yang dialami adiknya terjadi akibat kebanyakan jumlah kromosom di dalam sel si adik. Belakangan saya tahu bahwa kelainannya bernama Edward Syndrome. Kata Via, kondisi Auggie cuma kemenangan dalam sebuah lotere kemalangan.

Meski fokus di sosok Auggie, film Wonder juga mengenalkan tokoh lain di beberapa babak yang dibatasi dengan nama mereka. Via sang kakak, dihadapkan dengan kekecewaannya dalam aktivitas seni peran yang dia ikuti dan persaingan dengan sobat karibnya, Miranda. Tapi kita pada akhirnya paham tentang problema yang juga dihadapi Miranda melalui penuturan yang tetap kronologis.

Lantas bagian mana yang dimaksud dengan “menghangatkan”? Ada beberapa. Misalnya ketika tokoh Jack Will bersedia menemani Auggie yang dijauhi teman-temannya. Karena sindrom yang dideritanya, Auggie memang jadi sasaran empuk perundungan (bullying). Terutama oleh teman sekelasnya yang bernama Julian. Kenapa Julian bisa sedemikian intimidatif? Bagaimana kepala sekolah Tushman memecahkan masalah klasik bullying?

Pada akhirnya film ini mengajak kita untuk memahami bahwa ada suatu kondisi yang membuat seseorang bertindak negatif terhadap orang lain. Dan untuk memahaminya, kita perlu berempati. Kalo kata Miranda, kurang lebih:

Setiap orang berjuang dalam pertarungannya masing-masing.

Wonder bukan cuma mengajak kita berpikir tentang bagaimana baiknya kita berinteraksi dengan kalangan difabel, tapi juga menggambarkan sistem penerimaan yang membuat mereka tetap setara. Auggie yang sebelumnya belajar dengan system homeschooling, pada akhirnya berterima kasih ke ibunya karena ia bisa bersekolah bersama teman-temannya yang “normal”. Mewadahi bakat dan potensi anak berkebutuhan khusus mungkin memang sulit. Tapi dengan pendidikan inklusif yang tepat, keterbatasan mereka pada akhirnya bisa dipandang sebagai keberagaman yang membuat hidup lebih berwarna. []

Friday, November 30, 2018

Sustainability


Dua hari terakhir saya ikut pelatihan tentang menulis berita berbasis data laporan keberlanjutan atau sustainability report alias SR. Apa itu SR? Saya juga baru tau di acara AJI Bandung ini, bahwa SR itu semacam laporan tahunan perusahaan yang berisi tentang catatan pelaksanaan prinsip ramah sosial dan lingkungan, tapi tetap mengutamakan profit. Oke, kalimat pembuka ini bukan awal yang bagus buat menarik kamu melanjutkan baca. Haha. Tapi mungkin kamu juga perlu tau apa yang saya baru tau.

Jadi, sekarang ini kesadaran hidup ramah lingkungan sedang tumbuh—karena planet bumi makin rusak. Kita bisa lihat film dokumenternya Leo diCaprio berjudul Before The Flood. Di film itu, diceritakan bahwa sebagai negara penghasil polutan terbanyak di dunia, Tiongkok sudah mulai menggunakan energi ramah lingkungan. Di India juga gaya hidup hijau mulai dijalani. Pemerintah Amerika juga komitmennya begitu, sebelum Obama diganti Trump. Hehe.

Nah, ada sebuah system pengawasan perusahaan agar ramah lingkungan. Namanya SR tadi. Di Indonesia, hampir 9% perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia sudah menerbitkan laporan keberlanjutan. Laporan semacam inilah yang perlu kita promosikan terus agar nanti di masa depan, prinsip ramah lingkungan jadi pertimbangan sebuah perusahaan untuk didukung publik. Dibeli sahamnya, atau produknya dilanggan misalnya. Bagi wartawan, cara untuk mengarusutamakan ide ini, tentu saja dengan melakukan peliputan. Rancangan peliputan itulah yang saya presentasikan di hari terakhir pelatihan.

Intinya, saya mengajukan usulan peliputan tentang SR bagi perusahaan tekstil. Ide ini berasal dari film dokumenter yang saya tonton semalam. Judulnya: True Cost (2015). True Cost mengungkap harga riil di balik banderol murah busana bermerk yang kita beli. Ternyata, di belakang harga miring baju yang trennya cepat berganti, ada upah buruh yang dipangkas. Belum lagi upah nonfinansial yang harus direlakan.

Upah buruh jadi variabel yang paling memungkinkan dikurangi karena pabrik tekstil berlomba menjual produknya ke merk-merk besar dengan harga murah. Itu jika dapur produksi mereka mau tetap ngebul. Sutradara Andrew Morgan mengenalkan kita ke korban dan pahlawan industri tekstil. Melalui seorang ahli, dia juga menganalisa satu buntut sistem kapitalisme/ konsumerisme ini. Lalu apa solusinya? Yang jelas bukan sistem khilafiyah. Apalagi komunisme. Hehe. []