Saturday, January 16, 2021

Isolasi

Tahun 2020 ibarat sebuah kamar. Kita dipaksa memasukinya ketika pingsan. Seseorang lalu masuk ke kamarmu dan bilang bahwa dunia di luar tidak lagi aman. Kita dipaksa mendekam di dalamnya. Sampai vaksin ada, dan cukup banyak orang punya kekebalan dari virus corona.

Itu pula yang dialami Michelle. Tokoh yang diperankan Mary Elizabeth Winstead ini lalu memaksa keluar. Seeing is believing. Dia tidak percaya udara terkontaminasi sebelum membuktikannya sendiri. Upayanya seringkali gagal. Ia menerima kenyataan harus tinggal di bunker bersama dua orang lain. Bedanya dengan analogi tahun 2020 tadi, kepastian Micehlle keluar, entah sampai kapan.


Michelle yang saya ceritakan, ada di film 10 Cloverfield Lane. Hingga sekitar satu jam durasi bergulir, kita dibuat bertanya soal kebenaran klain Howard—pensiunan marinir yang menyelamatkan Michelle dan bilang soal bahayanya kondisi di luar tadi. Dalam rentang waktu itulah kesabaran penonton diuji. Tergantung apa motivasimu. Bisa karena ponten di IMDB/ Rotten Tomatoes yang bagus, boleh pula karena aktris kesayangmu beraksi di sini. Yang terakhir itu alasan saya sebenarnya. Haha.


Terlepas dari itu, gambaran depresif suasana isolasi, kurang lebih mewakili rasa serupa kala kita (harusnya) membatasi akses ke luar ruangan. Atau lebih tepatnya, membatasi interaksi dengan orang lain. Jika di luar kamera, ancamannya wabah covid-19, maka dalam kisah ini penonton dibuat bertanya-tanya. Apakah benar serangan negara adidaya lain, ataukah invasi makhluk luar angkasa, bahkan jangan-jangan malah Si Howard itulah ancaman yang semula dicitrakan penyelamat. Atau ada musabab lain? Tokoh Emmet? Simak sendiri, dan nikmati tiap teka-teki di dalamnya! []


Friday, January 1, 2021

Yes

Film terakhir yang saya tonton tahun 2020 berasal dari tahun 2008, judulnya Yes Man. Dibintangi Jim Carrey, drama komedi ini berkisah tentang seorang bankir yang bosan dengan kesehariannya. Suatu ketika, pria bernama Carl ini bertemu dengan seorang kawan lama. Si sohib ini menawarkan sebuah seminar motivasional. SIngkat kisah, Carl ikutan. Di acara itu, peserta disemangati untuk selalu bilang “yes” ke semua pertanyaan.


Sepanjang film, kita disajikan lawakan khas Jim Carrey yang ekspresif, konyol dan nelongso. Di awal, pilihan untuk mengikuti arahan si motivator, ternyata berbuah sial. Ada tunawisma minta tumpangan, dia kasih. Si tunawisma pinjam ponsel, dikasih juga. Uangnya diminta si tunawisma, Carl bilang “yes”. Alhasil, dia repot sendiri ketika dia butuh semua itu. Tanpa Carl sadari, ada keuntungan yang dia nikmati sendiri dari runtutan kata “yes” tadi.


Saya tertarik nonton ini karena dengar impresi Mizter Popo, salah seorang podcaster pembimbing kelas podcast Siberkreasi yang saya ikuti. Katanya, film ini sama berpengaruhnya dengan film The Secret Life of Walter Mitty—kisah petualangan seorang petugas arsip foto. Podcaster yang terkenal lewat kisah horornya itu memang punya pengalaman personal soal film Yes Man. Katanya, gara-gara bilang “yes” ke banyak hal, dia justru jadi punya akses ke berbagai kesempatan, termasuk terkenal sebagai podcaster kayak sekarang. 


Saya sendiri pernah punya pengalaman unik soal kata “yes”. Sumbernya bukan film ini, melainkan kutipan kalimat dari Richard Branson. Pengusaha pemilik kelompok usaha Virgin itu pernah bilang, bahwa jika kita diminta melakukan sesuatu padahal kita nggak bisa melakukannya, kayakan “yes”. Lantas belajarlah melakukan hal baru itu sembari praktik. Terdengar mudah. Nyatanya, nggak semulus itu juga. Haha.


Nasib saya di percobaan pertama, berbanding terbalik dengan kesuksesan Mizter Popo. Sementara pria bernama Rizky Ardi Nugroho itu melejit dari kegiatan isengnya, saya malah mendapat kesan kurang memuaskan ketika mengamalkan arahan Pak Branson. Saya malah jadi inget quote lain: “leadership is the art of saying no”.


Intinya, saya menangkap kesan bahwa Yes Man mendorong penontonnya untuk terbuka dengan hal baru. Sambil tentu saja mempertimbangkan konsekuensi dari kata “yes” atas pertanyaan tertentu. Meskipun, dalam kasus film Yes Man, susah juga memperkirakan bahwa skill berbahasa Korea, menerbangkan pesawat sampai memiliki nama Carl (bukan Karl), ternyata bisa juga berujung masalah. Namanya juga film. [] 

Saturday, December 26, 2020

Konser Virtual

 

Di masa pandemi ini saya cuma "datang" ke dua konser. Pertama, helatan Here Comes The Sun yang disiarkan lewat kanal goplay alias loket dot com. Saya tulis alias karena memang saya nontonnya lewat saluran yang disebut terakhir--ada gangguan dengan akun goplay saya waktu itu.*


Konser itu kurang berkesan buat saya. Ada sesi dialog di jeda antar penampil, dan obrolannya garing banget. Saya bilang ke istri: mungkin ini yang namanya generation gap. Saya tergolong makhluk milenial angkatan akhir, dan para penampil di konser virtual itu rata-rata (atau bahkan mungkin semuanya) masuk golongan generasi Z. 


Musiknya juga terkesan gitu-gitu aja. Sulit sih buat mendeskripsikan musik versi "nggak gitu-gitu aja" versi saya, karena toh personal banget. Kamu mungkin puas dengan malam di perpotongan Oktober-November itu, dan semoga demikian. Lebih dari urusan impresi pascakonser, saya tetap bahagia merasakan pengalaman hadir di moshpit virtual. Dan jadi bagian dari kesuksesan Loket Dot Com bersama label rekaman Sun Eater. Selamat!


Oke saya ralat kalimat pertama dalam tulisan ini. Saya cuma datang ke satu konser. Pertunjukan kedua saya lewatkan, biasa ada urusan keluarga. Haha. Pertunjukan yang dimaksud: INF IN-GAME CLUB.


Sederhananya, ini konser perayaan kematian fitur Adobe Flash Player. Saya nggak bakal bahas detil soal software itu. Yang jelas, pertunjukan musik ini menarik karena penonton yang bayar tiket, bisa masuk ke ruang virtual di dalam game bernama Habbo Wiki. Di sana, kita bisa punya avatar dan bertingkah seolah-olah ada di arena festival betulan. 


Well, setidaknya begitu yang terlihat dari dokumentasi kegiatan yang dipublikasikan di akun YouTube Indonesian Netaudio Forum. Karena saya batal datang, saya nggak bisa benar-benar menceritakan impresi serunya mengakali pandemi dengan cara yang satu ini. Sebelumnya, ternyata pernah ada konser serupa. Duo Rabu sempat publikasikan dokumentasi penampilan mereka.


Karena Flash Player yang jadi mesin penggerak game tadi ditutup per akhir tahun ini, mungkin helatan semacam ini nggak bakal ada lagi. Setidaknya yang pakai platform SWGBBO. Di tahun mendatang, saya menantikan pengalaman baru menikmati musik, yang tentu saja menyesuaikan dengan ketersediaan vaksin dan/ atau obat covid-19. Selama masa itu pula, sepertinya konser oflline bakal makin nggak relevan bagi saya buat mengapresiasi seni olah suara. []


*Loket dot com diakuisisi GoPlay. Kisah yang saya alami membuktikan bahwa kondisi itu ideal karena ketika satu saluran tersumbat, ada backup yang bisa nutupin. Menurut VP marketing Gojek Entertainment, Ario Adimas, loket dot com sukses menutup 2020 dengan target finansial terpenuhi. Rahasianya, mereka merespon pandemi dengan cepat: fokus ke penyelenggaraan online event. Nah, konser yang saya tonton itulah salah satu produknya.