Showing posts with label covid-19. Show all posts
Showing posts with label covid-19. Show all posts

Saturday, January 16, 2021

Isolasi

Tahun 2020 ibarat sebuah kamar. Kita dipaksa memasukinya ketika pingsan. Seseorang lalu masuk ke kamarmu dan bilang bahwa dunia di luar tidak lagi aman. Kita dipaksa mendekam di dalamnya. Sampai vaksin ada, dan cukup banyak orang punya kekebalan dari virus corona.

Itu pula yang dialami Michelle. Tokoh yang diperankan Mary Elizabeth Winstead ini lalu memaksa keluar. Seeing is believing. Dia tidak percaya udara terkontaminasi sebelum membuktikannya sendiri. Upayanya seringkali gagal. Ia menerima kenyataan harus tinggal di bunker bersama dua orang lain. Bedanya dengan analogi tahun 2020 tadi, kepastian Micehlle keluar, entah sampai kapan.


Michelle yang saya ceritakan, ada di film 10 Cloverfield Lane. Hingga sekitar satu jam durasi bergulir, kita dibuat bertanya soal kebenaran klain Howard—pensiunan marinir yang menyelamatkan Michelle dan bilang soal bahayanya kondisi di luar tadi. Dalam rentang waktu itulah kesabaran penonton diuji. Tergantung apa motivasimu. Bisa karena ponten di IMDB/ Rotten Tomatoes yang bagus, boleh pula karena aktris kesayangmu beraksi di sini. Yang terakhir itu alasan saya sebenarnya. Haha.


Terlepas dari itu, gambaran depresif suasana isolasi, kurang lebih mewakili rasa serupa kala kita (harusnya) membatasi akses ke luar ruangan. Atau lebih tepatnya, membatasi interaksi dengan orang lain. Jika di luar kamera, ancamannya wabah covid-19, maka dalam kisah ini penonton dibuat bertanya-tanya. Apakah benar serangan negara adidaya lain, ataukah invasi makhluk luar angkasa, bahkan jangan-jangan malah Si Howard itulah ancaman yang semula dicitrakan penyelamat. Atau ada musabab lain? Tokoh Emmet? Simak sendiri, dan nikmati tiap teka-teki di dalamnya! []


Friday, July 24, 2020

Hospital

Yesterday was the first time I came to one hospital in Serpong, for I am living here since August last year. Formerly, I always go to hospital for averagely six months. The mission is: removing ear wax.

 

Ear wax was a natural substance that produced by our ears to prevent dangerous materials getting in to the ear lobe. At some range of time, it needs to be cleaned—or have been cleaned by its natural mechanism. In my case, one should be taken out manually.

 

Before I decided to went to the hospital (about a month ago), I tried to get my ears clear by myself. I bought an ear oil, and it worked. Nevertheless, it wasn’t enough to get all the wax out of my ears. Subsequently, in this pandemic situation, I decided to go.

 

When I was arrived at this hospital, the situation was quite deserted. I mean, there were lack of people inside the lobby. I didn’t need to wait for such a long time to register. So did when I wait for a doctor’s calling.

 

Before entering the doctor’s room, I’ve got several screening. Of course, covid-19 symptom’s confirmation has been asked—including some steps of hand-washing, temperature measuring, and confirmation-form filling. One screening that I’ve been through was the blood pressure test. The result: my blood pressure was categorized as low.

 

As I entered doctor’s room, I sense that she was a communicative kind of person. She hardly stop speaking, but I guess that was still tolerable. I was asked whether I always wear a headset or not. The answer was of course: yes. About six hours a day, I told her. Then, the doctor said that the maximum duration of using headset was actually only one hour, for about 60 decibel of sound volume. While the maximum amount of sound volume in iphone was 102 decibel.

 

Long story short, my ears were fully functioning. In a while, I asked doctor about how to increase my blood pressure. Because even though I work out routinely lately, the number was quite dissapointing. At the end of our consultation, she answered that sometimes, we have to ignore the number. As long as our body felt fine, the number wouldn’t matter. Just keep thankful of what God gives us. She concluded. []

Thursday, June 4, 2020

Black swan


Lets talk about this animal: black swan. Have you seen one? I have, once. In Perth. Swan river became the habitat of black swan—one of Western Australia’s tourism object. It became attractive because commonly, we know swan for its white feather. Most people don’t anticipate the existance of swan with nonwhite feather.

On his book entitled The Black Swan, Nassim Taleb use the phrase to explain one phenomena in terms of management. In this video, The Swedish Investor made a good summary. They associate it with how turkey bird facing thanksgiving.

Firstly, they thought that humans are so kind that they fed turkey bird everyday. Even more, humans built fence to keep them save. Unbeknownst, thanksgiving day has coming. The turkey became dinner menu.

That’s the point of what Nassim Taleb called The Black Swan problem. Need another example? Earlier this year, Indonesian government gave a financial stimulus towards tourism industry. By being so, Jokowi’s cabinet hoped that foreign tourist would became easily came to Indonesia.

Unfortunately, they didn’t realize that the calling to foreign tourist could also spread the new kind of coronavirus, the SARS CoV-2 as we know it today. Subsequently, we realize that The Black Swan problem could be defined as a risk that we only know when it has been happened.

The same situation appeared as it described on the film of Black Swan. This 2010 produced movie, tells about how obsession of perfection triggered a halucination in one ballet dancer. This dancer named Nina Sayers, wanted to be appointed as a main dancer on the story of Swan Lake.

Swan Lake itself, was actually a ballet composition created by Pyotr Ilyich Tchaikovsky in 1876. Black Swan was an interpretation of Swan Lake. Almost all music scoring in this film, came from Tchaikovsky’s composition.

Meanwhile, the ballet performance tells about a girl who gets turned into a swan, and she needs love to break the spell. Sadly, her prince falls for the wrong girl. At the end of the story, she kills herself.

The plot in Black Swan, focused on Nina’s obsession to get perfection on the stage. Both as a white swan and as the black one. Through the film, we can see how she got depressed and hallucinated. Even so, at the end of her performance, she got a great appreciation.

“Perfect. I was perfect.” Nina whispered as she closed her performance. []


Tuesday, May 19, 2020

Konser

Kamu sudah baca esai buatan Dave Grohl? Vokalis Foo Fighters itu menulis sesuatu tentang pertunjukan musik di masa “new normal”. Judulnya "The Day the Live Concert Returns". Melalui kisah yang dituturkan mantan drummer Nirvana itu, saya ingin sekaligus mengenang masa-masa menyenangkan ketika menikmati musik dari (istilah yang dipakai Grohl) “flesh, rather than as a one-dimensional image”.

Tulisan Dave rasanya bertekstur. Banyak deskripsi yang relate banget ke pengalaman konser yang sering kita jumpai. Dan di masa tanpa konser fisikal selama dua bulanan terakhir, mengingat suasana di depan panggung, cukup menyenangkan.

Kata Dave, rahasia magisnya suasana itu ada di koneksi antara penampil dan penonton. Di paragraf berikutnya, Dave mengenang momen ketika dia nonton konser U2. Dia menekankan sensasi menikmati “a massive production” konser Elevation Tour tahun 2001.

Bagi saya, rasa serupa ini barangkali ada di penampilan 30 Seconds To Mars tahun 2011 di festival Java Rockin Land. Serupa deskripsi Dave, saya juga menikmati “the lights to go out so that I could lose myself in a magnificent, state-of-the-art rock show”. Meskipun, kalau kamu ingat juga momen itu, Jared Letto memang menyebalkan ketika dia menolak permintaan foto seorang fans wanita yang ia ajak sendiri ke atas panggung (bahkan menarik rambutnya. Ya kan? Ingatan saya mulai samar).

Kamu barangkali menemukan sensasi yang sama di konser Linkin Park atau Metallica ketika mereka memanaskan stadiun Gelora Bung Karno. Atau mungkin menikmati magisnya penampilan Sigur Ros dengan musik post-rock-nya. Bisa jadi malah penampil lokal semacam Senyawa yang Kamu saksikan di Gedung Kesenian Jakarta itu yang justru paling membius. Yang pasti, Dave kasih kita satu rahasia. Bukan dia yang bilang sih, tapi Bruce Springsteen—musisi yang ia kagumi.

Kata Bruce dalam sebuah kertas yang ditulisinya sendiri buat Dave: “when you look out at the audience, you should see yourself in them, just as they should see themselves in you.”

Lantas, Dave menutup dengan paragraf yang banyak menggunakan kata “we”. Katanya, 
“my songs would only be sound. But together, we are instruments in a sonic cathedral, one that we build together night after night. And one that we will surely build again.” []

Friday, April 17, 2020

AntiSuperman

Kisah superman menampilkan utopia atau gambaran ideal kehadiran alien yang jadi penyelamat manusia. Namanya juga fiksi, kita bebas berfantasi. Tapi, kalau mau realistis, makhluk ekstraterestrial itu bakal sulit kita temukan—kalau ga mau pesimistik bilang nggak ada.

Misalnya, astrofisikawan Stephen Hawking yang bilang bahwa memang ada planet sejenis bumi di tata surya lain, tapi kecil kemungkinan adanya kehidupan lain di sana. Lagipula, kalau pun ternyata ada, tempat itu terlalu jauh untuk kita tuju—setidaknya menurut teknologi tercanggih hari ini. Dan lagi, kalau pun kita berhasil ngontak “mereka”, yakin mereka bakal jadi sahabat kita?

Gambaran itulah yang bisa kita tonton di film Brightburn (2019). Ceritanya mirip kisah Superman di desa Smallvile, ketika bayi Clark Kent ditemukan dari dalam pesawat sampai tumbuh ke masa remaja awal. Kekuatannya juga sama: mata membakar, gerak cepat, terbang, kebal peluru. Bedanya, dia bukan melindungi. Hanya menjalankan instingnya untuk mengikuti seleksi alam: melestarikan jenis spesiesnya sendiri.

Di sebuah adegan, tokoh bernama Brandon Breyer sedang belajar di kelas tentang perbedaan lebah dan tawon. Ketika gurunya bertanya, Brandon menjelaskan bahwa yang satu membuat sarang, sementara yang lain menyerang, demi sarang.

Ms. Espenschied : And that is what we call a hive. Wasps and bees, both members of the insect family, both with two pairs of wings, both with stingers. Can anyone tell me difference between them? Mr. Breyer?
Brandon Breyer : Uh, well, um, bees are pollinators, and wasps are predators.
Ms. Espenschied : Good, good. Anybody else?
Brandon Breyer : And wasps are more aggressive, more dangerous. One species, the Polistes sulcifer, is what's called a brood parasite, they've lost the ability to make nests, so they use brute force to make other wasp species to raise their young. And they make them feed their babies things like beetle larvae and maggots.

Sepanjang film bergulir, Brandon kemudian menjadi tawon predator. Dia memodifikasi topeng yang membentuk moncong serangga itu. Dia membunuh, untuk kemudian mungkin (spesiesnya) menjajah.

Familiar dengan skenario itu? Dalam buku Guns, Germs and Steel (1997), Jared Diamond merangkum peradaban manusia yang melibatkan tiga unsur tadi: bedil, kuman dan baja. Kuman yang dimaksud, merujuk ke wabah bawaan penjajah Eropa ke benua Amerika. Warga setempat tidak punya kekebalan terhadap kuman itu, sehingga tumbang.

“Sebagai contoh, suatu wabah cacar meluluhkan bangsa Aztek setelah gagalnya serangan pertam aorang Spanyol pada 1520 dan menewaskan Cuitlahuac, kaisar Aztek yang sempat menggantikan Montezuma untuk waktu yang singkat.” (Hal. 84)

Lantas, dalam wabah covid-19 ini, beberapa orang percaya bahwa virus menjadi mekanisme alam untuk memulihkan kondisi bumi. Padahal, nggak begitu.

Memang jalanan lebih lengang dan emisi berkurang, tapi—berdasarkan catatan sejarah—itu hanya sementara. Menurut liputan ini, sampah medis naik berkali lipat, energi listrik lebih banyak dipakai, dan pertemuan untuk bahas kerjasama global mengatasi masalah lingkungan, justru jadi tertunda. Kuncinya, kita sadar seberapa ramah lingkungan perilaku kita, dan berusaha terus meningkatkan kualitasnya.

Cara pandang terhadap manusia dan lingkungan yang seakan bijak tadi, bisa menghilangkan empati kita. Tulisan ini dengan telak menunjuk ketimpangan ekonomi sebagai buntut dari banyak meruginya manusia akibat wabah corona baru. Dengan sarkas, Raka Ibrahim mengutip:

“Kata sebuah anekdot, pemeriksaan COVID-19 paling masuk akal bagi orang miskin adalah bersin ke muka konglomerat, lalu tunggu hasil tesnya.”

Lalu solusi agar manusia bahagia bersama bagaimana? Filsuf Martin Suryajaya punya analisanya. Menurutnya, dunia pasca-covid19 akan dihadapkan ke dua pilihan: sosialisme atau barbarisme. Gagasan Martin lalu punya tandingan—atau sebutlah penjabaran lebih teknis.

Ardy Syihab mengkritisi sosialisme yang diceritakan Martin sebagai “lamunan indah menuju tidur yang nyenyak”. Paragraf terakhirnya berbunyi begini:

Krisis ekonomi selalu melahirkan peluang. Ketimbang sebatas membayangkan apa yang terjadi hingga lagi-lagi tersalip di tikungan terakhir, lebih bijak jika secara aktif mengkonsolidasikan kekuatan kolektif dan menggalang solidaritas untuk mengubah haluan ekonomi yang masih terjerembap dari konsep kuno kapitalisme menjadi dunia baru yang cerah bernama sosialisme. Sedari yang terdekat, kemudian terus menigkat. []