Wednesday, August 26, 2020

Jika Illuminati Ada

Wartawan Tirto.id dan The Jakarta Post baru-baru ini berduet menguak skandal pelecehan seksual di dalam institusi keagamaan. Bertahun-tahun sebelum ini, wartawan The Washington Post mendapat hadiah Pulitzer di Amerika Serikat karena mengungkap kasus serupa. Kisah mereka lalu difilmkan dalam judul Spotlight.

 

Film lain yang juga berlatar lembaga kekristenan, ada di film Angels and Demons. Ceritanya tentang pembalasan dendam oleh organisasi rahasia bernama Illuminati.

 

Syahdan, para ilmuwan disebut sebagai illuminatus atau “mereka yang tercerahkan” setelah sejumlah temuan ilmiah, ternyata bertentangan dengan doktrin gereja. Galileo menyatakan bahwa bumilah yang sebenarnya mengelilingi matahari, bukan sebaliknya seperti yang termaktub dalam kitab suci. Atas publikasi itu, Galileo dihukum mati.

 

Nasib serupa juga menimpa empat orang illuminatus lain yang meninggal dalam sebuah tragedi bernama La Purga. Para illuminatus lalu berkumpul dalam organisasi bernama Illuminati. Mereka menjadi organisasi rahasia untuk menghindari penghukuman gereja. Ratusan tahun kemudian, orang-orang yang memilih percaya sains dan menafikan agama itu, membalas dendam.

 

Empat orang kardinal diculik dan diancam pembunuhan. Di dada mereka masing-masing dilesakkan penanda ambigram: earth, fire, air, water. Illuminati malah bertindak lebih katastropik. Mereka mencuri antimateri dari pusat penelitian CERN untuk kemudian membuat ledakan setara sekian kali lipat ton bom atom di Vatikan. Berhasilkah pembalasan dendam ini?

 

Film Angels & Demons diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Dan Brown. Serial buku penulis asal Inggris itu bertokoh utama Robert Langdon, ahli simbologi. Dalam The Da Vinci Code dan Inferno yang juga difilman, Langdon diperankan oleh Tom Hanks.

 

Langdon berperan penting dalam teka-teki pencarian lokasi pembunuhan para kardinal, sebelum Hassassin alias pembunuh bayaran tiba di lokasi itu. Ia mengandalkan kode yang ditulis Galileo dalam buku di perpustakaan Vatikan. Galileo sendiri—diinformasikan melalui sebuah dialog—sebenarnya seorang pengamal agama yang taat, selain—sekali lagi—anggota Illuminati.

 

Karena menjadi organisasi rahasia sejak represi dari otoritas keagamaan, Illuminati jadi menarik didalami. “Kerahasiaannya” tadi ternyata terus jadi komoditas. Misalnya jadi inspirasi lagu ini. Kalau pun memang masih ada dan keanggotaannya melekat ketika seseorang lebih mempercayai pembuktian sains dibanding agama, maka jumlahnya barangkali tidak sedikit.

 

Apa pun itu, gambaran serupa di film Angels and Demons tak boleh terjadi. Kepercayaan terhadap sesuatu jangan sampai menjadi pembenaran atas teror dan pembunuhan. []

Tuesday, August 25, 2020

Mengenang Film Bong

Agustus tahun lalu, Parasite tayang. Waktu itu saya masih tugas di Bandung. Di sana, ada komunitas Layar Kita yang rutin putar film-film “aneh”. Ketika Parasite diputar di bioskop, Memories of Murders dipertontonkan di Museum Konferensi Asia-Afrika—tempat para pegiat Layar Kita biasa nonton bareng.

 

Saya melewatkan Memories of Murders, soalnya belum paham bahwa sutradara Bong Joon-ho, film-filmnya sepenting itu. Singkat kisah, hari itu saya hanya nonton Parasite dan sangat terkesan. Barulah setelah itu nyesel nggak datang ke acara Layar Kita.

 

Sebenarnya ketika Snowpiercer tayang, saya sempat nonton. Sayangnya saya belum sedetil saat ini soal kru di balik sebuah film bagus. Barulah setelah nonton Parasite tadi saya sadar bahwa dua film ini lahir dari sineas yang sama. Perkenalan saya dengan film lain Bong Joon-ho berlanjut.

 

Ada dua film Bong yang bisa kita tonton di Netflix. Pertama, Okja. Film ini secara telanjang memperlihatkan kritik terhadap kapitalisme yang mengeksploitasi hewan. Bong nampaknya seorang penganut teori pertentangan kelas. Lihat saja Snowpiercer yang menceritakan tentang sebuah kereta di akhir zaman yang mengelilingi dunia tanpa henti. Di dalamnya ada manusia yang menjalani hidup berdasarkan urutan gerbong tempat mereka tinggal. Konflik hadir ketika seorang penghuni gerbong buncit menerobos ke depan. Momen ini bisa ditafsirkan sebagai “upaya membuat masyarakat tanpa kelas”.

 

Lantas pertentangan serupa hadir pula dalam Parasite. Bahwa “peradaban manusia berlangsung melalui pertentangan antara kelas proletar dan kaum borjuis”, ada di dalam judul ini. Meski begitu, tafsirnya sebenarnya nggak tunggal. Tiap orang bisa punya pemahaman masing-masing atas kisah dalam Parasite. Yang jelas, ada meme kutipan wawancara Bong Joon-ho dengan kalimat:

 

“Essentially, we all live in the same country... called Capitalism.”

 

Film Bong kedua yang ada di Netflix: The Host. Film ini ternyata berkisah lebih dari fantasi kehadiran monster di sungai Han kota Seoul. Tulisan ini membedah simbol-simbol dalam film The Host sehingga penulisnya, Anthony Kao berkesimpulan bahwa siapa pun yang peduli dengan Korea musti nonton The Host.

 

Kao menulis bahwa pertama, penonton bisa merasakan sentimen anti Amerika Serikat. Ada penggambaran ilmuwan perusak lingkungan yang membuat monster terbentuk. Penggunaan gas Agent Orange juga membuat kita mengingat bahwa AS punya dosa terhadap warga Vietnam ketika mereka menyerang negara bergaya pemerintahan “komunisme” itu dengan gas yang sama. Alasan kedua dan ketiga, soal kondisi ekonomi dan makna Han sebagai nama sungai tempat tinggal si monster. []

Monday, August 24, 2020

Allied-Casablanca

Buku Catatan Turis Siluman buatan Agus Dermawan T. memang kaya referensi. Bukan hanya bahas pengalaman penulis menjelajahi banyak lokasi, dia juga memuat informasi lain yang terkait dengan itu. Salah satunya, film yang baru saya tonton ini. Judulnya Allied (2016). Buku yang saya singgung tadi menuliskannya sebagai remake film legendaris berlatar di Maroko berjudul Casablanca.

Allied dibintangi Brad Pitt dan Marion Cotillard yang masing-masing berperan sebagai Max dan Marianne Vattan. Mereka pasangan suami-istri, setelah sebelumnya bertugas di lokasi yang sama: Casablanca. Kisah tentang bagaimana keduanya berpasangan dalam satu keluarga, kira-kira mengambil jatah separuh dari durasi total. Selebihnya, mengungkap bagaimana dilema pasangan agen rahasia di suasana perang dunia kedua.


Di paruh pertama dekade 1940-an, Nazi masih berkuasa. Maroko termasuk salah satu wilayah yang dikuasai Jerman dan sekutunya. Seorang duta besar bertanda lengan lambang swastika ala Nazi dan foto Hitler di ruang kantornya, berkuasa. Dialah sasaran serang kedua pasangan ini. Dan adegan penyerangan si duta besar, jadi satu-satunya momen peperangan khas film Mr & Mrs Smith (2005). Setelahnya, drama lebih kental terasa.


Allied memang menekankan tentang dilema yang dihadapi ketika seseorang harus membunuh pasangannya, jika terbukti si pendamping hidup itu memang penyusup. Serangkaian tes lalu dijalankan. Namanya Blue Dye Operation. Jika hasilnya positif dan ia enggan membunuh pasangannya, mereka berdua akan mati bersama: dibunuh. Dramatisasi plot dilengkapi dengan kehadiran anak pasanan Vattan. Namanya Anna. Penonton juga akan diajak menebak-nebak, kira-kira bagaimana jalan tengah terbaik? 


Saya selalu suka akting Brad Pitt, termasuk dalam film ini. Terlebih, saat dia juga harus berakting jadi seorang pekerja pertambangan di depan si duta besar. Bagian itu termasuk menegangkan. Dia diminta mengocok kartu remi untuk menentukan keputusan apakah layak mereka hadir di acara si duta besar. Bengis dan paranoidnya orang-orang Nazi juga terlihat ketika tokoh Max Vattan diminta menulis rumus kimia untuk fosfor. 


Ada satu dialog yang saya tandai di film ini, karena diulang dalam dua adegan. 


“a husband will offer his cigarette to his wife"

 

Kata Marianne ketika mereka baru bertemu di penugasan yang sama. Kalimat yang sama diucapkan di momen klimaks yang menandai pengungkapan bahwa salah satu di antara mereka harus mati. Kala itu, perempuan memang lazim merokok. Setidaknya demikian yang ditampilkan foto-foto dalam artikel terbitan majalah Life berikut ini. Judul terbitannya “Casablanca and 'Allied': A Real Wartime Couple in Casablanca, 1943".