Tuesday, September 15, 2020

Teori Hawking Untuk Membunuh Tuhan

Bulan September ini film The Theory of Everything bisa ditonton melalui Netflix. Film ini merupakan biopik seorang astrofisikawan kenamaan dunia: Stephen Hawking. Stephen sendiri masih hidup di usia kepala tujuh saat film ini dirilis, tahun 2014. Ia mangkat empat tahun setelahnya. Bagi saya, film ini membantu mendekatkan sosok humoris ini. Nada pemikirannya sudah terasa cair dalam dua buku yang saya baca: A Brief Answer To The Big Question dan The Grand Design. 

Dalam buku yang saya sebut pertama, Stephen menulis kata pengantar dengan menukil bahwa “Eddie Redmayne memerankan versi tampan dari diri saya”. Tampaknya, Redmayne juga berhasil memerankan versi komikal yang sama dengan Hawking versi asli. 

Film The Theory of Everything berujung di momen ketika Stephen menerbitkan buku fenomenal A Brief History of Time. Buku yang diluncurkan tahun 1988 itu ia tulis bersama sahabatnya: Kip Thorne. Stephen dan Kip pernah bertaruh: langganan majalah pria dewasa Penthouse. 

Stephen kemudian mengidap kelainan otot. Beruntung kemampuan berpikirnya tetap sehat. Dia juga terus mencari sebuah teori “elegan dan sederhana” yang ia yakini bisa menjelaskan alam semesta. Namanya: The Theory of Everything. Teori tentang segala ini disampaikan sejak awal film. Ketika dia pertama jumpa dengan Jane yang lalu jadi istrinya. 

Soal teori yang dia cari itu, sempat dibahas juga dengan seorang pendeta—yang kemudian jadi suami sang istri. 
“Kamu katanya punya teori bagus yang menjelaskan awal mula semesta?” 
“Oh, itu tesis doktoralku.” 
“Jadi kamu nggak percaya lagi adanya penciptaan?” 
“’Percaya’ itu nggak relevan di dalam fisika.” 
Di bagian selanjutnya, Jane menjelaskan lebih detil. 
“Ide besar Stephen yang baru: jagad raya nggak punya batas. Nggak ada batas, nggak ada awal.” 

Jane lebih lanjut menerangkan bahwa ketika mencari “teori segala”, Tuhan harus mati. 
“Dua pilar utama dari fisika: teori kuantum dan teori relativitas. Masalahnya, dua teori itu nggak bisa berlaku di aturan yang sama.” 

Dialog di meja makan itu juga menjelaskan kuotasi Einstein soal “dadu dan Tuhan”. Stephen menanggapi: "tapi Dia ngelempar sampe kita nggak bisa nemu lagi dadu itu". 

Pertanyaan soal Tuhan ternyata jadi penutup film juga. Di momen tanya jawab soal bukunya, Hawking menjawab diplomatis: 
“Jelas-jelas kita ini primata unggul di dalam planet kecil yang mengelilingi matahari berukuran sedang, di dalam galaksi yang jumlahnya ada 100 triliunan lagi. Tapi, sejak awal peradaban, manusia terus berusaha mencari penjelasan soal pengaturan dunia. Dan untuk upaya itu, manusia nggak punya batasan. Di mana ada kehidupan, selalu ada harapan.” []



No comments:

Post a Comment