Showing posts with label netflix. Show all posts
Showing posts with label netflix. Show all posts

Wednesday, February 22, 2023

Privasi

Dear david bermula dari Laras, seorang siswi berprestasi. Dia ketua OSIS, sumber kebanggaan sekolah, juara lomba kepenulisan.

Sebagai penulis, Laras punya saluran rahasia. Sebuah blog, ia isi fantasi romantik-erotik dengan objek teman sekelas bernama David.

Laras tentu berupaya mempertahankan citra baik yang selalu melekat dalam dirinya, demi terus mendapat keringanan biaya sekolah dan lancar mengejar cita-cita masuk UI. Sialnya, laras gagal logout dari komputer sekolah dan seseorang menyebarkan cerpen dari dalam akunnya. 

Peristiwa itu mengenalkan privasi kepada sasaran utama penonton ini, remaja. Apakah sikap sekolah berlebihan? Apa Laras sudah sebaiknya melindungi diri?

Dalam Dear David, kepala sekolah memimpin orkestra infiltrasi ke ruang privasi murid atas nama kondusivitas. Seorang siswa berbisik ke laras, "lo kan ketua osis, harusnya lo bisa berbuat lebih". Mereka memprotes perampasan ponsel.

Di luar film, negara juga masuk ke ranah privat warganya. Masih ingat skandal Aipda Ambarita? Dia merazia handphone sembarang orang demi konten, padahal salah.

Satu lagi yang lebih anyar: putusan MK tentang pernikahan beda agama. Pelapor uji materi undang-undang merasa dirugikan karena menurut sebuah pasal dalam peraturan yang lahir di tahun 1974, sepasang calon suami-istri harus punya agama yang sama saat menikah.

Editorial Majalah Tempo menilai, itu bentuk pengaturan berlebihan negara kepada warganya, karena sudah masuk ranah privat. Seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia, dua dari sembilan hakim MK sendiri mengakui bahwa perlu ada perbaikan tentang aturan itu, dimulai dari pihak pemerintah dan DPR. 

Mengenal privasi, baru satu dari bahasan lain yang bisa kita baca atau renungkan dari film Dear David. Hal lainnya: bullying, pengaruh media sosial ke kehidupan nyata, kesehatan mental, inklusivitas dan (ehem) cinta segitiga. []


Sunday, May 16, 2021

Satu Keluarga vs Banyak Robot

Sony Pictures Animation makin bahaya. Pada tahun 2020, film Love Hair yang diproduksi studio ini memenangkan Oscar.

Dua tahun sebelumnya, film Spiderman: Into The Spider-verse banyak dipuji juga karena animasinya nggak menghilangkan sensasi baca komik. Dan tahun ini, sensasi itu pula yang muncul di film The Mitchells vs The Machines.

Film ini terinspirasi dari kisah nyata. Sebagaimana dipaparkan melalui akun YouTube Netflix Film Club, tokoh sang ayah yang antiteknologi memang sosok ayah si penulis cerita, Mike Rianda.

Film ini sendiri mengisahkan keluarga Mitchells melawan robot berbasis kecerdasan buatan. Para mesin itu "sakit hati" akibat ulah manusia. Si robot Pal yang jadi otak koloni robot, lantas punya satu pertanyaan filosofis: "kasih tau gue, kenapa manusia musti tetep ada?".

Sampai akhir kisah, pertanyaan itu nggak punya jawaban memuaskan. Dan itu justru jadi muatan filosofis film berdurasi hampir dua jam ini.

Tapi ini film keluarga, janganlah dipikirin soal itu. Nikmati aja cerita sama visualisasinya.
Saya haqqul yakin kalo satu frame aja difreeze lalu dijadiin artwork, kok memang layak. Karena memang seindah itu.

Yang juga menyenangkan dari film ini, ada referensi silang ke beberapa fakta dan unsur budaya pop lain. Robot Pal Max mirip stormtroopers, meski sebenarnya bentuk mereka meniru robot asimo--yang produksinya dihentikan tahun 2018 demi menghindari katastropi yang digambarkan film ini.

Tokoh "start-up guy" pencipta Pal juga merujuk pendiri Facebook. Nama tokoh itu: Mark.

Sektor musik juga jadi daya tarik tersendiri. Ada lagu Sigor Ros di bagian akhir. Bagi beberapa orang, itu cocok karena nuansanya pas. Buatku, Hoppipola jadinya terlalu generik.

Saya lebih suka membayangkan visualisasi lagu itu bukan untuk film ini, melainkan bagi dokumenter Heima. Yang dengan puitis menampilkan bentang alam Islandia itu.

Ke depannya, saya jadi lebih antisipatif sama rilisan Sony Pictures Animation. Kira-kira mereka lagi bikin animasi seseru apa lagi ya? []

Saturday, October 3, 2020

Dilema Sosial

Pagi ini saya papasan sama petugas renovasi rumah tetangga. Turun dari motor, dia lanjut menyesap rokok yang udah nyala sejak kendaraannya belum dimatikan. Kepada istri yang lagi jalan bareng, saya cerita bahwa momen adiksi kuli tadi ngingetin ke film yang baru-baru ini saya tonton: The Social Dilemma. 

Film produksi Netflix ini memaparkan analisa bahwa sosialisasi di media sosial ternyata bikin kita asosial. Kebanyakan narasumber yang muncul selama hampir dua jam durasi: mantan eksekutif perusahaan digital besar. Sesekali, kutipan pernyataan menyelingi paparan mereka. Salah satu yang saya ingat: 

Hanya ada dua industri yang pakai kata “user” ke konsumennya: drugs and social media. 

Dalam dokumenter ini, media sosial memang diposisikan serupa candu—dan tentu saja industri. Untuk mempermudah pemahaman penonton, ada ilustrasi yang memperkuat pemaparan para narasumber. Dalam ilustrasi ini, sebuah keluarga menghadapi keseharian di tengah adiksi media sosial. Orang tua berusaha bikin disiplin, si anak nggak bisa nahan pegang handphone. Pada akhirnya anak remaja ini menggantungkan penerimaan terhadap diri sendiri, berdasarkan respon orang atas citra yang dia tampilkan di media sosial. 

Balik lagi ke renungan saya soal rokok tadi. Tembakau hisap itu bikin kecanduan seseorang, sehingga dia jadi konsumtif (atas produk rokok itu). Ketika konsumtif, kebanyakan orang akan berhenti di sana. Di lain pihak, adiksi media sosial bikin kita jadi konsumen sekaligus produsen. Dalam sudut pandang tertentu, bisa dibilang kita sebenarnya ikut sekalian “bekerja” buat si perusahaan media sosial. Tanpa dibayar. Kalau belum nyampe level influencer yang postingnya dibayar, netizen macam ini bisa dibilang buruh gratisan.

Meskipun kesan distopia terasa dominan, toh kita sama-sama mafhum juga bahwa media sosial punya manfaat yang nggak kalah besar. Rokok aja bermanfaat kok. Setidaknya bagi ahli hisap yang merasa pikirannya lebih “plong”. Kadang sosial media bikin “nyesek”, ketika dia jadi bahan perbandingan antara hidup bahagia orang lain dengan hidup kita. Di sisi sebaliknya, barangkali justru itu jadi sumber motivasi. Dan motivasi itulah yang bikin hidup kita makin hidup. Kamu setuju nggak? []  

Tuesday, September 15, 2020

Teori Hawking Untuk Membunuh Tuhan

Bulan September ini film The Theory of Everything bisa ditonton melalui Netflix. Film ini merupakan biopik seorang astrofisikawan kenamaan dunia: Stephen Hawking. Stephen sendiri masih hidup di usia kepala tujuh saat film ini dirilis, tahun 2014. Ia mangkat empat tahun setelahnya. Bagi saya, film ini membantu mendekatkan sosok humoris ini. Nada pemikirannya sudah terasa cair dalam dua buku yang saya baca: A Brief Answer To The Big Question dan The Grand Design. 

Dalam buku yang saya sebut pertama, Stephen menulis kata pengantar dengan menukil bahwa “Eddie Redmayne memerankan versi tampan dari diri saya”. Tampaknya, Redmayne juga berhasil memerankan versi komikal yang sama dengan Hawking versi asli. 

Film The Theory of Everything berujung di momen ketika Stephen menerbitkan buku fenomenal A Brief History of Time. Buku yang diluncurkan tahun 1988 itu ia tulis bersama sahabatnya: Kip Thorne. Stephen dan Kip pernah bertaruh: langganan majalah pria dewasa Penthouse. 

Stephen kemudian mengidap kelainan otot. Beruntung kemampuan berpikirnya tetap sehat. Dia juga terus mencari sebuah teori “elegan dan sederhana” yang ia yakini bisa menjelaskan alam semesta. Namanya: The Theory of Everything. Teori tentang segala ini disampaikan sejak awal film. Ketika dia pertama jumpa dengan Jane yang lalu jadi istrinya. 

Soal teori yang dia cari itu, sempat dibahas juga dengan seorang pendeta—yang kemudian jadi suami sang istri. 
“Kamu katanya punya teori bagus yang menjelaskan awal mula semesta?” 
“Oh, itu tesis doktoralku.” 
“Jadi kamu nggak percaya lagi adanya penciptaan?” 
“’Percaya’ itu nggak relevan di dalam fisika.” 
Di bagian selanjutnya, Jane menjelaskan lebih detil. 
“Ide besar Stephen yang baru: jagad raya nggak punya batas. Nggak ada batas, nggak ada awal.” 

Jane lebih lanjut menerangkan bahwa ketika mencari “teori segala”, Tuhan harus mati. 
“Dua pilar utama dari fisika: teori kuantum dan teori relativitas. Masalahnya, dua teori itu nggak bisa berlaku di aturan yang sama.” 

Dialog di meja makan itu juga menjelaskan kuotasi Einstein soal “dadu dan Tuhan”. Stephen menanggapi: "tapi Dia ngelempar sampe kita nggak bisa nemu lagi dadu itu". 

Pertanyaan soal Tuhan ternyata jadi penutup film juga. Di momen tanya jawab soal bukunya, Hawking menjawab diplomatis: 
“Jelas-jelas kita ini primata unggul di dalam planet kecil yang mengelilingi matahari berukuran sedang, di dalam galaksi yang jumlahnya ada 100 triliunan lagi. Tapi, sejak awal peradaban, manusia terus berusaha mencari penjelasan soal pengaturan dunia. Dan untuk upaya itu, manusia nggak punya batasan. Di mana ada kehidupan, selalu ada harapan.” []



Saturday, June 6, 2020

Sokola Rimba


I am keen on Riri Riza’s movie. I guess, there were only about 2 out 20 of his films that I have missed to watch. Those are: Eliana Eliana and Atambua 39o Celcius. Before this day, the list are longer as Sokola Rimba was included on it. And now, I have watched one.

Sokola Rimba told about the life of Suku Anak Dalam, through the struggling of an environmental activist, Butet Manurung. Butet worked at a local NGO to accompany the jungle people facing the modernity.

She taught kids reading and counting. Her motivation, simply to make them be able to read the contract of land expansion. Commonly, people of Suku Anak Dalam didn’t understand the dealings. So much so that their compensation was only a few number of daily needs. Hence, their land of living were squeezing and converted to palm plantation.

One day, Butet was comatosed due to the hard way to reach jungle. She helped by a boy from the downstream of Makekal river. His name was Nyungsang Bungo. Actually, Bungo wanted to learn reading and counting as another kid of different Suku Anak Dalam tribe has had. Unfortunately, there was a belief that pencils brought misery. This dillema was also faced by Butet.

This movie was inspired by the real life of Butet. Though has done a helpful act to save the people of Suku Anak Dalam in Jambi South Sumatera, Butet felt powerless. She cannot stop the moving process of deforestation. On the other hand, forest was the only place where Suku Anak Dalam could extend their future.

There was a tradition of Melangun. It means moving from one place to another in the jungle. Suku Anak Dalam held Melangun only if one or some of their community member has died. If their explorable land had been converted to a monocultured jungle, their life would be hard. The Anak Dalams wouldn’t had a chance to gather food. On the other hand, their existence could prevent deforestation as their way of life was very ecologically sustainable.

Through this film, Riri Riza showed us one method that had been pioneered by Garin Nugroho. In the book entitled Membaca Film Garin, Philip Cheah stated that Garin Nugroho was made the first movie in Indonesia that was starred by a local actor and actress. The film was Surat Untuk Bidadari.

In that book, there was also information about Garin’s head of production, whom he was still at the age of 25 while making Surat Untuk Bidadari. His name was Rivai Riza, or we known him nowadays as Riri Riza.

According to his experiences of directing local people on “local tasted films”, Riri Riza was quite successful in delivering the message. The way Bungo told their tradition of honey hunting, was exhiliriating. I love the cartoon visualization on that part of the movie. And the decision to let Bungo dubb a certain substory, means that Jakartans movie maker, passed the microphone to the primary source of information. And that act of saying opinion was always be relevant up until this kind of circumstances. []
t

Wednesday, June 3, 2020

Death Note


Some people love to play with death. In a particular case, through moving pictures. Specifically, the disturbing one. I remember the time when I was active in an internet forum called KasKus. I mean, active as a passive reader.

There was a specific forum named Disturbing Picture. It contains so many images that arouse our disgusting feeling. Even so, many people are active on this particular forum. Maybe, for them this “disturbing” word means: beautiful.

For me, showing disturbing picture is one type of art. As long as it performed in a fictional sphere. And one fiction film that I like to watch about it: ABC of Death.

ABC of Death was an omnibus. It contains many short films that the title of each shorts, started with the alphabet from A to Z. The movie entitled “Q”, was directed by Adam Wingard. He also made one slasher movie in the omnibus of VHS. And recently, I watched his film on Netflix: Death Note.

Originally, Death Note was a manga created by Japanese writer: Tsugumi Ohba. The comic then illustrated by Takeshi Obata, and became popular for its thrilling storyline. On 2017, Adam Wingard directed one of the movie adaptation.

Adam Wingard’s Death Note tells about Light Turner—whom originally named Light Yagami. One day, he found a book that was fell from the sky on a stormy day. Later he realized that it was belongs to Ryuk, the god of death. Ryuk wants to play a life and death game with this book.

There was a number of things that made this 2017 movie adaptation received many negative reviews. Some say, Light character became different from the original one. On the manga or Japanese live action version, Light depicted as a genius, dominant and manipulative person. Hence, on this Netflix produced adaptation, he became a clumsy one, and dependant to his lover. Not to mention the white washing issue in this version of the movie.

Even so, we can still enjoy the cinematography. Adam Wingard knows how to frame a picture beautifully. I like the way he put the camera not in a straight position on some acts. Beside it, they way Adam killed his character through hand stroke in the note of death, was mesmerizing.

The brutal way of decapitation in the beginning of the movie, has the same amount of beauty with the coherence of musical background in the suicide of FBI agents. Although, the use of old music felt sugarcoated. I didn’t enjoy the way Adam close this movie with The Power of Love. Those Air Supply song was just unfit to the tense of the ending.

As a conclussion, I didn’t feel regret to watch this movie. Yes, there were some critics on the production, but I would rather accept it as one way people respond to how Death Note translated in their own style. Me myself, am waiting to the sequel of the 2016 produced Death Note adaptation: Light Up The New World. []

Saturday, May 30, 2020

Kosong

Masa pandemi yang memaksa kita #dirumahaja, bikin ada semacam ruang kosong di keseharian. Kamu merasa begitu? Saya sih, iya. Ada semacam jeda yang kita sadari. Nggak ngapa-ngapain. Kerjaan beres, rumah bersih, makan udah, mau tidur nggak ngantuk, baca bosen, nonton males, keluar jelas berisiko. Tapi saya jadi bisa merasakan Ma.

Dalam sebuah ulasan, Insider menguak sisi eksotis dari film Hayao Miyazaki, Spirited Away. Menurut analisa itu, ada satu hal yang membuat spesial kartun pemenang Best Animated Feature di Academy Award alias Oscar 2003 ini. Dalam rangkaian adegannya, ada sesuatu bernama Ma, bermakna kekosongan.

Sebenarnya, definisi literal Ma menurut sang sutradara: jeda waktu di antara tepukan tangan. Maksud dia, kalau film diisi ruang momen, bangunan tensi jadi punya dimensi lebih luas. Kadang itu berupa adegan makan nasi sambil nangis, sesuatu yang nggak berkonsekuensi signifikan di film Spirited Away. Dan durasi totalnya bisa 6 menit sendiri buat momen semacam ini dari keseluruhan 2 jam 5 menit.

Pemanfaatan konsep Ma, kayaknya juga dipake di sebuah film yang—secara nggak sengaja—saya tonton semalam: The World of Married Couple. Film idola sejuta kaum ibu itu bercerita tentang pecahnya kehidupan rumah tangga akibat orang ketiga.

Cerita semalam: tokoh suami duduk dan makan mie. Sumpitnya berbahan besi. Panci buat masak mie tadi dibawa ke meja makan, dialasi potongan kayu. Mie disantap, setelah disajikan dulu ke piring kecil. Ini bukan adegan biasa.

Hal ringan sesederhana makan mie aja, bisa jadi media promosi budaya Korea. Istri saya target korbannya. Cara dia makan samyang, kurang lebih persis kayak di film itu. Bagi saya yang nggak ngerti konteks keseluruhan adegan makan mie, potongan itu kosong-kosong saja. Ma.

Bagi istri saya, ternyata pemaknaannya nggak berhenti di situ. Ketika lagi nikmat makan mie tadi, si suami dikasih kimci sama istri (muda)nya. Orang Korea ternyata memang biasa menyantap mie yang digabung potongan sawi putih dingin. Kalau kimcinya ketinggalan dimakan, berarti ada yang salah. Di situlah poin utamanya. Adegan makan berkait ke alur kisah berikutnya.

Dengan Ma tadi, film Spirited Away bisa jadi terasa bertele-tele. Adegan makan mie juga terasa trivial. Nggak penting-penting amat. Tapi buat orang-orang yang bisa menikmati sensasi Ma, bisa jadi itu penting—dalam istilah film Hayao Miyazaki: magical. Sama halnya dengan Ma di keseharian kita—jika memang kita mau menyebutnya demikian. Lagipula, yang bikin kita menjadi manusia justru kan pencarian makna. Ma itu mungkin salah satu sarananya. []

Thursday, May 28, 2020

Los Angeles

Di Los Angeles Amerika sana, ada dua orang seniman yang dihormati banyak artis. Namanya Estevan Oriol dan Mark Machado alias Mr. Cartoon. Keduanya terkenal karena memberi sentuhan artistik khas Amerika Latin di kota yang namanya aja udah latin banget. Arti Los Angeles: The Angels.

Estevan banyak bantu beberapa band dari LA sebagai fotografer. Dia juga bikin logo kelompok hiphop Cypress Hill. Singkatnya, dia ikut membentuk wajah skena hiphop West Coast.

Selain musik rap, musisi lain dari California juga ikut dia bangun. Misalnya, Blink-182. Video musik Always disutradarai Estevan. Melibatkan beberapa teman tongkrongannya dan bertempat di sejumlah lokasi ikonik khas LA—misalnya viaduct yang dipakai ketika adegan dikejar polisi.

Kontribusi Estevan di Blink-182 bukan cuma di sana. Foto yang muncul di cover belakang album Greatest Hits, dipotret Oriol. Dia juga ikut ketika trio pop-punk itu jalan-jalan ke pangkalan militer AS di timur tengah. Lewat film dokumenter berdurasi satu setengah jam ini, kita bisa simak footage plus wawancara Travis dan Mark.

Selain Estevan, ada satu sosok lain yang juga selalu jadi penyerta karya seniman-seniman LA. Nama populernya Cartoon. Travis terlihat bangga ada tato nama belakangnya di bagian kepala. Rajah itu dibuat Cartoon. Begitu pula dengan Mark yang di masing-masing pergelangan lengannya ditulisi tato tulisan Jack dan Skye. Masih buatan pria bernama asli Mark Machado itu.

Cartoon awalnya fokus melukis graffiti. Lama-lama, medianya pindah ke kulit. Dan bukan kulit sembarang orang. Dari Eminem sampai (almarhum) Kobe Bryant bangga pernah ditato Cartoon. Kobe bahkan bercerita. Suatu ketika dia berkunjung ke Tiongkok. Di sana, ada yang nyadar bahwa satu tato di tangannya pasti buatan Cartoon—which is true.

LA Originals juga memperlihatkan bahwa budaya hiphop, lowrider hingga dandanan khas Chicano, juga “laku” di negara lain, misalnya Jepang dan Jerman. Di bagian akhir film yang kaya footage dari tahun 90an ini, graffiti artist Shepard Fairey berujar tentang relevansi seni Chicano:
“with all the racism, xenophobia that’s going on in the US, for Chicano art to just be pushed as hard as possible, wether it’s a direct political message or just as a style, is a great thing.” []

Wednesday, May 27, 2020

Kesuburan


Saya nonton ulang film besutan sutradara Joko Anwar: Modus Anomali. Waktu pertama kali tayang tahun 2011, saya nonton di bioskop. Rasanya menegangkan. Film itu memang minim dialog dan banyak menampilkan momen diam—suasana yang dalam film Hayao Miyazaki bernama Ma: “kekosongan”.

Sejak awal film kita diajak bertanya tentang siapa dan kenapa si tokoh utama diteror. Lantas di pertiga akhir film, perlahan penonton dibuat paham tentang semua pertanyaan di awal. Brilian—dan “sakit”.

Hal menarik lain dari film ini, tentu saja tentang keterkaitannya dengan film lain. Joko anwar dikenal punya cinematic universe-nya sendiri. Dan semuanya dikenal punya pesan eksistensial soal kelahiran. Coba lihat. Di semua filmnya, ada cerita tentang kehamilan—entah itu digambarkan dengan hampir melahirkan di dalam taksi, sampai lewat cerita tentang kesuburan melalui aliran sesat.

Tokoh utama dalam film Modus Anomali—yang cuma dikasih keterangan “man” di bagian credit title—muncul lagi di akhir film Pintu Terlarang. Film rilisan 2009 itu sendiri diadaptasi dari novel yang ditulis Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama.

Doa Ibu

Saya belum baca Pintu Terlarang, tapi sudah baca novel Sekar Ayu Asmara yang lain: Doa Ibu. Novel terbitan tahun 2009 ini bercerita tentang dua kisah.

Pertama, tentang pelukis bernama Ijen yang mengalami sejumlah kejadian ganjil. Seorang pengantin wanita yang juga sahabatnya, menghilang ketika dia ada di pelaminan. Sahabat Ijen yang lain pun mengalami nasib yang sama.

Kisah kedua, tentang seorang ibu bernama Madrim. Suaminya baru meninggal, dan setelahnya dia baru mengetahui bahwa sang suami punya istri kedua. Ternyata, sebuah rahasia juga dipendam Madrim. Tanpa diduga, rahasia itu berkaitan dengan eksistensi Ijen. Mereka berdua lalu bertemu dalam sebuah momen yang sureal.

Novel ini enak dibaca karena kalimat terakhir di tiap bab langsung tersambung dengan kejadian di awal bab berikutnya. Sehingga sekuensial, padahal itu dua cerita berbeda. Sekar Ayu Asmara dan Joko Anwar mempertanyakan makna kelahiran dan kehadiran anak melalui karya mereka. []

Monday, May 25, 2020

Babi

Kritik sosial Bong Joon-ho dalam filmnya, selalu menarik diikuti. Setelah sebelumnya saya bahas itu di film Parasite dan The Host, kali ini saya mau bicara tentang Snowpiercer dan Okja.

Serupa Parasite, Snowpiercer bercerita tentang pertentangan kelas sosial. Alkisah, di akhir zaman ada sebuah kereta yang berputar mengelilingi sejumlah area planet bumi. Di dalamnya, koloni manusia terakhir menjalani hidup.

Tokoh utama kita—yang diperankan Chris Evans—menghuni gerbong buncit. Kondisi di sana memprihatinkan. Citra kemiskinan lekat dengan para penghuninya. Lantas jagoan kita ingin merangsek ke lokomotif.

Sepanjang perjalanan, dia mendapati kondisi yang ternyata berbeda-beda. Semakin maju, kehidupan terlihat semakin nyaman. Begitu sampai di bagian depan, ternyata memang semuanya diatur by design.

Pengelolaan kelas gerbong dan manusia yang menempatinya, ibarat trik spesies kita mengorganisasi diri. Ketimpangan tidak terelakkan akibat keserakahan.

Keserakahan pula yang memutus hubungan Okja dan Mija. Okja ini babi, tapi bukan babi biasa. Dia hewan sumber pangan hasil rekayasa genetika. Karena produk pangan yang berasal dari Genetically Modified Organism (GMO) tidak disukai pasar, peternak Ojka menyembunyikan fakta asal-usul hewan ternaknya.

Di sisi lain, kawanan organisasi Animal Liberation Front turun tangan demi membebaskan Okja. Aksi mereka menghibur. Para anggotanya harus memegang prinsip tanpa kekerasan dan bertindak atas dasar izin (consent).

Sekali lagi, Bong menyisipkan kritik untuk kapitalisme yang buta rasa. Ketika ditanya kenapa Mirando ingin membunuh Okja, jawabannya:
“Well, we only can sell the dead ones.” []

Sunday, May 24, 2020

Monster

Suatu hari ketika Parasite tayang di bioskop, saya lagi tugas di Bandung. Ketika itu, komunitas Layar Kita bikin screening film Memories of Murder. Sebenarnya, hari itu momen yang pas buat saya binge-watch dua film masterpiece Bong Joon-ho. Sayang, saya melewatkan Memories of Murder.

Waktu itu saya belum kepikir sebegitu pentingnya film-film Bong Joon-ho. “Penting” untuk melihat berbagai hal “berat” ditampilkan dalam sebuah cerita menghibur. Parasite dipuji karena mengejawantahkan pertentangan antar kelas—sebuah teori yang berusaha menjelaskan bagaimana peradaban bekerja.

Dalam Parasite, keluarga Kim yang miskin menjadi parasit bagi keluarga Park—dalam analisa lain, justru Park yang jadi parasit bagi Kim. Demi sintas menjalani hidup dan mengalami momen kebersamaan yang lebih mewah. Biasanya, mereka memandang ke luar jendela rumah yang separuh tenggelam. Menyaksikan pemabuk kencing sembarangan. Kali ini, ketika rumah inang mereka kuasai, pemandangan ke luar jendela lebih indah: taman serba hijau.

Ternyata, di dalam rumah yang mereka jajah, ada parasit lain. Kedua kubu ini lalu berseteru. Kondisinya bukan lagi pertentangan antar kelas, tapi perseteruan dalam kelas sosial yang sama.

Pertimbangan estetis dan filosofis itulah yang membuat kita mafhum ketika Parasite jadi film terbaik dalam perhelatan Oscar. Saya lalu berusaha nonton film-film Bong yang lain. Kali ini, The Host.

The Host berkisah tentang seekor monster yang hidup di sungai Han. Secara konotatif, munculnya monster ini bisa dikaitkan dengan pencemaran lingkungan yang ditampilkan di adegan pembuka.

Selain itu, bisa juga kita maknai si monster adalah pagebluk yang menggelayuti bangsa Korea Selatan. Itu tercermin ketika seorang warga yang hendak bunuh diri dengan terjun dari jembatan, bicara tentang “sesuatu yang gelap di dalam air”. Keputusasaan dipersonifikasi ke sosok monster.

Kehadiran monster ini, membuat sebuah keluarga miskin pemilik warung di tepi sungai Han terseret masalah. Park Gang-du—yang diperankan Song Kang-ho—harus menjalani prosedur medis yang nantinya jadi twist utama isu antiAmerika di film ini.

Tokoh Park Nam-il juga menggambarkan kritik sosial tersendiri tentang nasib sial pejuang demokrasi Korea Selatan. Anak yang semula diharapkan paling sukses karena lulus sarjana dan ketika mahasiswa ikut menumbangkan diktator, justru jadi pemabuk. Meskipun di akhir, botol soju yang selalu dia bawa ada gunanya juga. Adegan pertemuannya dengan Fat Guevara si aktivis yang jadi “budak korporat”, sarat sinisme.

Sebuah tulisan, sesumbar bahwa jika kita ingin paham kondisi sosiologis masyarakat Korea Selatan, film The Host wajib ditonton. Sebagian kecil pembacaan di atas saya kutip dari tulisan itu.

Setelah The Host, saya lagi nonton film Bong yang juga tersedia di Netflix. Judulnya Okja. []

Saturday, May 23, 2020

Kapitalisme

Bagaimana kapitalisme bekerja? Film The Platform menjelaskan. Tentu saja secara simbolik (dan belum tentu benar). Judul aslinya El Hoyo. Mari, kita baca kira-kira apa maksud beberapa adegannya. Jangan lupa, dalam tulisan ini akan ada banyak spoiler.

The Platform bercerita tentang sebuah penjara dengan desain vertikal. Jumlah tingkatnya sampai angka 300. Setiap hari, tiap sel yang dihuni dua orang akan mendapat kiriman makanan. Meja makanan itu bergerak tegak lurus juga. Dan tiap tahanan akan menerima makanan sisa penghuni di atasnya.

Beruntunglah mereka yang secara acak menempati lantai atas. Sebaliknya, sial banget kalau mereka bangun di lantai buncit. Tokoh utama kita, namanya Goreng. Sepanjang film, dia merasakan hidup di papan tengah, papan bawah, hingga papan atas.

Ketika menempati bagian tengah, Goreng berpasangan dengan seorang tahanan senior—yang dalam dua kali pemindahan lagi, akan bebas. Di bulan berikutnya, mereka pindah ke lantai bawah. Satu-satunya cara bertahan di bagian itu: jadi kanibal.

Kapitalisme bermakna, pengaturan masyarakat berdasarkan kepemilikan modal. Dalam film The Platform, tiap napi berhak memiliki satu barang yang mereka pilih untuk dibawa sebelum memasuki penjara. Goreng, bawa buku. Sementara teman sekamarnya bermodal pisau. Tebak siapa yang selamat di lantai 200an? Ternyata, Goreng.

Dia diselamatkan Miharu, seorang perempuan yang menjelajah tiap lantai demi mencari anaknya. Dalam kesempatan lain, Goreng berpasangan dengan tahanan lain yang selama 25 tahun bekerja untuk “administrator”, pengurus penjara vertikal. Namanya Imoguiri.

Imoguiri berkisah bahwa Miharu tidak mungkin punya anak—karena seseorang berusia di bawah 16 tahun dilarang menghuni penjara itu. Sebelum masuk ke El Hoyo, Miharu terobsesi jadi model. Goreng sendiri, masuk penjara (atau skema kapitalisme) demi mendapat “acredited diploma”.

Imoguiri ibarat pihak yang berwenang mengatur kapitalisme. Dalam hal ini negara—meskipun varian lain kapitalisme sebenarnya ingin mengenyahkan campur tangan negara terhadap pasar. Negara hanya tahu bahwa, tidak mungkin ada penderitaan semenyiksa Miharu: selain harus bertahan hidup, juga perlu mencari anaknya.

Nyatanya, kaum marjinal semacam Miharu memang ada. Mereka yang harus tinggal di gerobak. Miharu ada di dalam orang yang harus bertahan di kota, meskipun modal hidup mereka habis—karena dampak pandemi corona baru misalnya.

Para administrator atau koki mungkin merasa sistem kapitalisme atau penjara vertikal memang sistem terbaik. Buktinya, tiap kali meja kembali ke atas, makanan habis. Serupa halnya dengan keyakinan bahwa kapitalisme sukses menurunkan kemiskinan absolut. Padahal bukan berarti tidak ada yang dikorbankan.

Imoguiri kemudian menggagas solidaritas antar napi. Dia minta agar tahanan di bawah makan secukupnya, sesuai porsi yang sudah dia siapkan. Nggak ada yang nurut. Sampai Goreng mengancam akan mengotori makanan dari atas. Hasilnya manjur, tapi cuma mempan di satu tingkat di bawah Goreng dan Imoguiri.

Kisah berlanjut. Goreng kemudian berbagi ruang dengan Baharat. Mereka membentuk metafora pemerintah yang kita kenal dengan nama komunisme—sebenarnya lebih tepat disebut Marxisme-Leninisme.

Goreng dan Baharat naik meja, ikut turun ke tiap lantai. Barang siapa yang makan berlebihan atau menolak puasa demi menyisihkan makanan untuk lantai bawah, dihajar tongkat besi. Nyatanya, begitulah pemerintahan Uni Soviet bekerja.

Dalam buku Dari Mao ke Marcuse, Franz Magnis-Suseno mencatat jumlah kematian akibat pemerintahan komunis mencapai 60 juta jiwa, selama 74 tahun. Pemerintahan totaliter semacam itu berdalih bahwa mereka akan membagi sumber daya secara adil ke semua warga. Padahal bohong.

Goreng dan Baharat sampai di lantai dasar. Ada satu menu yang mereka sisihkan untuk dikirim balik ke dapur di lantai 0 agar dibaca sebagai sebuah pesan: bahwa ada yang tidak beres karena “tumben makanan nyisa”.

Ternyata, di sana mereka menemukan anak Miharu. Goreng dan Baharat pun sadar bahwa sebenarnya, anak Miharu itulah si pesan utama. Mereka berharap administrator akan sadar bahwa kapitalisme semacam yang mereka jalani tidak demikian sempurna. Meskipun dalam sebuah dialog, Imoguiri pernah berujar:
“The administration has no conscious.” []

Friday, May 22, 2020

Black Mirror

Black Museum

Saya baru nonton satu episode serial Black Mirror. Judulnya Black Museum. Ceritanya tentang seorang remaja yang mengunjungi museum terpencil. Pengelolanya seorang ahli (atau makelar) teknologi. Teknologi yang berujung petaka.

Garis merah temuannya, berkaitan dengan rasa sakit. Seorang dokter menjajal transmitter rasa sakit sehingga dia bisa langsung mengobati sumber penyakit si pasien. Lama-lama, dia ketagihan.

Dalam subkisah lain, seorang tahanan menjalani proses pemindahan diri (kesadaran) ke dalam wujud hologram. Setelah hidup abadi dalam citra digital, dia menjadi objek eksploitasi para masokis. Cerita berakhir dengan terungkapnya motif kunjungan si remaja di awal.

Cermin Gelap

Rangkaian judul Black Mirror menjadi cermin gelap yang memberi kita ancang-ancang sebelum teknologi berakibat buruk. Dalam judul lain, Nosedive, kehidupan yang bergantung ke impresi media sosial digambarkan.

Seorang perempuan terobsesi dengan citra diri positif di mata orang sekitarnya. Biar dia bisa beli apartemen mewah yang ujung-ujungnya dipakai buat mencitrakan dirinya yang sok glamor juga. Semua demi citra.

Barangkali judul terakhir itu yang paling lekat dengan aktivitas kita. Kita yang cuma 37 persen populasi manusia. Survey We Are Social menunjukkan bahwa 63 persen atau 4,8 milyar orang, tidak aktif di media sosial.

Dalam kisah Nosedive, rencana si tokoh utama akhirnya ambyar. Ternyata tidak semua hal harus diukur dari rangking media sosial. Pengejaran kesempurnaan profil itu, justru bikin frustrasi.

Realitas Media Sosial

Ada satu kisah yang pernah saya tonton di BBC Reel yang visual dan kisah personalnya bikin kita mikir lagi ketika lihat diri kita atau seseorang di media sosial. Ceritanya, si perempuan ini terobsesi dengan hidup seorang model yang terlihat sempurna. Nyatanya, di luar citra media sosial, sang model juga manusia biasa. Ada masalah juga.

Tayangan lain yang juga baru saya tonton, berisi tips agar media sosial menyehatkan. Terutama saat masa PSBB kayak sekarang. Seorang model, Naomi Shimada ingatkan penonton videonya bahwa kita bukanlah medsos kita.

“It is not more important than you. Not posting doesn’t mean you not exist.” []

Thursday, May 21, 2020

Informasi

Tindakan atau keputusan yang kita ambil, berkaitan dengan informasi yang kita terima. Nyatanya, hari-hari ini informasi tadi bisa dikendalikan. Tahun 2016, warga yang ikut pemilu di AS dibombardir informasi yang mengarahkan mereka ke satu keputusan: memilih Donald Trump sebagai presiden.

Bagaimana skema itu bekerja? Film The Great Hack menjabarkannya. Sejumlah pemilik akun media sosial facebook, mengisi kuesioner. Biasanya, kuis psikologis semacam itu dianggap asik-asikan aja. Nanti mereka akan digolongkan ke kategori tertentu berdasarkan hasil tes itu. Lalu tentu saja: dipamerkan di wall.

Yang tidak mereka sadari, alat identifikasi preferensi politik itu difasilitasi sebuah perusahaan bernama Cambridge Analitica. Berdasarkan data tadi, laman Facebook responden akan disodori informasi yang mengarahkan mereka ke dua tindakan utama: mendukung Trump jadi presiden dan setuju Brexit—Britain Exit, keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa.

The Great Hack menayangkan testimoni mantan karyawan Cambridge Analitica. Pengakuan mereka dikonfirmasi ke CEO CA: Alexander Nix. Sayangnya dia menolak diwawancara untuk film ini. Meski begitu, ada rekaman suara, transkrip pengiriman email hingga video dari kamera tersembunyi yang mengonfirmasi aksi Cambridge Analitica.

Kondisi itulah yang diwanti-wanti sejarawan Yuval Noah Harari sebagai kondisi bernama digital dictatorship. Yang dia maksud, propaganda melalui media sosial, bisa mengarahkan kita melakukan sesuatu sesuai arahan si diktator (Google dan Facebook)—tanpa kita sadari. Karena ternyata, situasi di atas memperkuat argumennya pula perihal predikat manusia sebagai hackable animal.

Meski menyebut manusia sebagai animal—dalam konteks biologi—dalam buku Homo Deus, Yuval sebenarnya lebih banyak menekankan bahwa makhluk hidup—termasuk manusia—sejatinya adalah algoritma, sehimpun tahapan kerja. Dia menyandingkan kita serupa dengan mesin, yang berfungsi dengan arahan berurutan—input masuk, diproses, keluar output.

Gagasan bahwa makhluk hidup adalah benda mati—atau sebaliknya—pernah juga dilontarkan Kevin Kelly, seorang tech journalist. Di tahun 2011, dia mempresentasikan argumen bahwa kini, muncul kingdom ketujuh.

Kingdom yang ia maksud, berkaitan dengan sistem penggolongan makhluk—taksonomi. Lazimnya, ada 6 kingdom yang kita pelajari di sekolah:
  1. Animalia (hewan),
  2. Plantae (tumbuhan),
  3. Monera (sel tanpa membran inti),
  4. Protista (sel dengan membran inti),
  5. Fungi (jamur),
  6. Virus.

Kingdom ketujuh, bernama technium. Singkatnya, semua teknologi buatan manusia, bisa digolongkan ke sini. Dari tulang yang dimodifikasi jadi alat, sampai pesawat antariksa. Dari Turing Machine sampai Artificial Intelligence (AI).

Dalam novel Origin, Dan Brown mengutip kekhawatiran Kelly tentang punahnya spesies Homo sapiens karena teknologi. Yuval—sekali lagi—membuka kemungkinan Homo sapiens punah dan digantikan spesies lain bernama Homo deus.

Sejauh ini, yang membedakan animalia dan technium (manusia dan AI) ada di satu aspek: kesadaran atau consciousness. Sederhananya, ketika kita sadar dengan konsekuensi atas tindakan dan memutuskan berdasarkan pengalaman, saat itulah kita memanfaatkan kesadaran. Bukan cuma mengolah input sehingga output menjadi sesuatu yang terjadi secara mekanistik. Video ini menjelaskan konsep kesadaran dengan relatif mudah dipahami dalam tiga menit pertama.

Maka, kala kita menerima informasi dan terdorong untuk melakukan sesuatu, tak ada salahnya kita gunakan kemanusiaan kita: eling lan waspodo.