Wednesday, February 22, 2023
Privasi
Sunday, May 16, 2021
Satu Keluarga vs Banyak Robot
Saturday, October 3, 2020
Dilema Sosial
Pagi ini saya papasan sama petugas renovasi rumah tetangga. Turun dari motor, dia lanjut menyesap rokok yang udah nyala sejak kendaraannya belum dimatikan. Kepada istri yang lagi jalan bareng, saya cerita bahwa momen adiksi kuli tadi ngingetin ke film yang baru-baru ini saya tonton: The Social Dilemma.
Film produksi Netflix ini memaparkan analisa bahwa sosialisasi di media sosial ternyata bikin kita asosial. Kebanyakan narasumber yang muncul selama hampir dua jam durasi: mantan eksekutif perusahaan digital besar. Sesekali, kutipan pernyataan menyelingi paparan mereka. Salah satu yang saya ingat:
Hanya ada dua industri yang pakai kata “user” ke konsumennya: drugs and social media.
Dalam dokumenter ini, media sosial memang diposisikan serupa candu—dan tentu saja industri. Untuk mempermudah pemahaman penonton, ada ilustrasi yang memperkuat pemaparan para narasumber. Dalam ilustrasi ini, sebuah keluarga menghadapi keseharian di tengah adiksi media sosial. Orang tua berusaha bikin disiplin, si anak nggak bisa nahan pegang handphone. Pada akhirnya anak remaja ini menggantungkan penerimaan terhadap diri sendiri, berdasarkan respon orang atas citra yang dia tampilkan di media sosial.
Balik lagi ke renungan saya soal rokok tadi. Tembakau hisap itu bikin kecanduan seseorang, sehingga dia jadi konsumtif (atas produk rokok itu). Ketika konsumtif, kebanyakan orang akan berhenti di sana. Di lain pihak, adiksi media sosial bikin kita jadi konsumen sekaligus produsen. Dalam sudut pandang tertentu, bisa dibilang kita sebenarnya ikut sekalian “bekerja” buat si perusahaan media sosial. Tanpa dibayar. Kalau belum nyampe level influencer yang postingnya dibayar, netizen macam ini bisa dibilang buruh gratisan.
Meskipun kesan distopia terasa dominan, toh kita sama-sama mafhum juga bahwa media sosial punya manfaat yang nggak kalah besar. Rokok aja bermanfaat kok. Setidaknya bagi ahli hisap yang merasa pikirannya lebih “plong”. Kadang sosial media bikin “nyesek”, ketika dia jadi bahan perbandingan antara hidup bahagia orang lain dengan hidup kita. Di sisi sebaliknya, barangkali justru itu jadi sumber motivasi. Dan motivasi itulah yang bikin hidup kita makin hidup. Kamu setuju nggak? []
Tuesday, September 15, 2020
Teori Hawking Untuk Membunuh Tuhan
“Kamu katanya punya teori bagus yang menjelaskan awal mula semesta?”“Oh, itu tesis doktoralku.”“Jadi kamu nggak percaya lagi adanya penciptaan?”“’Percaya’ itu nggak relevan di dalam fisika.”
“Jelas-jelas kita ini primata unggul di dalam planet kecil yang mengelilingi matahari berukuran sedang, di dalam galaksi yang jumlahnya ada 100 triliunan lagi. Tapi, sejak awal peradaban, manusia terus berusaha mencari penjelasan soal pengaturan dunia. Dan untuk upaya itu, manusia nggak punya batasan. Di mana ada kehidupan, selalu ada harapan.” []
Saturday, June 6, 2020
Sokola Rimba
Wednesday, June 3, 2020
Death Note
Saturday, May 30, 2020
Kosong
Thursday, May 28, 2020
Los Angeles
“with all the racism, xenophobia that’s going on in the US, for Chicano art to just be pushed as hard as possible, wether it’s a direct political message or just as a style, is a great thing.” []
Wednesday, May 27, 2020
Kesuburan
Monday, May 25, 2020
Babi
“Well, we only can sell the dead ones.” []
Sunday, May 24, 2020
Monster
Saturday, May 23, 2020
Kapitalisme
“The administration has no conscious.” []
Friday, May 22, 2020
Black Mirror
“It is not more important than you. Not posting doesn’t mean you not exist.” []
Thursday, May 21, 2020
Informasi
- Animalia (hewan),
- Plantae (tumbuhan),
- Monera (sel tanpa membran inti),
- Protista (sel dengan membran inti),
- Fungi (jamur),
- Virus.