Showing posts with label arsitektur. Show all posts
Showing posts with label arsitektur. Show all posts

Sunday, January 14, 2024

Arsitektur yang Nggak Penting

Awalnya dari buku yang saya bawa pulang dari media gathering di kediaman dubes Belanda di menteng. Saidah Boonstra menulis detil ornamen yang ada di sana dan menjadikan rumah yang direnovasi tahun 2020 itu seakan galeri milik bersama yang bebas dikunjungi publik.

Lantas saya baca ulang “Arsitektur Yang Lain”, sekumpulan esai arsitektur yang ditulis Avianti Armand. Vivi, demikian dia akrab dipanggil, mengkritik praktik arsitektur berdasarkan pengalamannya sebagai arsitek.

Kritiknya juga lahir dari pengamatan ke suasana kota, bukan cuma ”bangunan” sebagai objek arsitektur. Sebagai sastrawan, peraih Kusala Sastra Khatulistiwa ini juga menulis dengan gaya penulisan kisah fiksi—coba simak judul 2046.

Dari buku itu, saya jadi lihat beberapa hal dari sudut pandang arsitektur. Misalnya saat lewat di depan gedung Sekolah Vokasi IPB.

Dari pinggir jalan, kampus IPB Gunung Gede itu terlihat khas. Arsitek yang mendesain bangunannya terasa sadar tentang “form follows function”.

Jendela terlihat berderet, seakan siap menyalurkan aliran oksigen ke dalam ruangan dari rerimbun yang menaungi gedung bertulisan SV IPB di bagian atas pintunya—terasa redundant karena di pagar yang berbatasan dengan trotoar juga ada tulisan yang lebih besar: SEKOLAH VOKASI IPB. Di atas deretan jendela yang tertutup itu, ada sebuah kotak mesin AC.

Saya nggak masuk ke gedung yang mungkin terasa “sejuk mekanik” alih-alih “sejuk organik” itu. Bagaimana pun, kecurigaan saya mungkin tidak tepat karena arsitektur sebenarnya bukan cuma tentang “melihat desain” bangunan, tapi juga “mengalami ruang” yang terbentuk dari desain itu.

Saya punya pengalaman merasakan (kalo kata anak lenskep) ”feel of the land” di gedung lain, IPB Baranangsiang.

Di beberapa kesempatan, anggota kelompok paduan suara Agriaswara latihan vokal dipandu pelatih (waktu itu Arvin Zeinullah) di gedung yang berbatasan langsung dengan lapangan di samping mall Botani Square. Dinding ruang kelas itu punya jendela berupa kisi-kisi vertikal meninggi.

Plafonnya menjulang, cocok dengan susunan bangku yang meninggi ke belakang mirip amfiteater. Barangkali, dua hal itulah beberapa faktor yang bikin suhu ruangan tetap nyaman meskipun nggak ada AC di sana.

Entah gimana kondisinya sekarang. Mungkin kisi-kisi itu ditutup juga kayak gedung sekolah vokasi tadi. Atau mungkin masih original karena Bogor rasanya memang masih adem-adem aja.

Atau mungkin “arsitektur” sudah nggak penting lagi. Bisa jadi “pengalaman tentang ruang” (termasuk mengalami fluktuasi suhu udara di berbagai kondisi cuaca) nggak lebih penting dibanding suhu dingin konstan yang mudah diciptakan lewat sekali tekan tombol AC. []


Thursday, January 11, 2024

Jakarta, 31 Desember 2023

 

Jakarta asik juga kalo lagi sepi. Waktu itu Minggu, 31 Desember 2023.

Saya sekeluarga datang ke kawasan Blok M sekitar jam makan siang. Kami langsung ke Futago Ya.

Ini kedai ramen favorit saya dan Windi. Kuahnya enak dan dagingnya empuk.

Selesai makan siang, kami melipir ke seberang: Taman Literasi Martha Tiahahu. Di sana, anak kami senang liat-liat buku di dalam perpustakaan yang adem.

Di dekat situ juga ada lemari buku Jakarta Book Hive. Isinya sedikit dan berantakan, saya lupa bawa beberapa judul buku buat disumbangkan.

Dari selatan Jakarta kami melesat ke arah pusat. Sore itu jalanan lancar. Tipikal gejala sub-urbanisasi.

Istilah itu merujuk ke kondisi ruang sebuah kota yang bergantung ke pembagian waktu. Jakarta lengang banget di satu waktu, tapi padet banget di waktu lain. Menurut Avianti Armand dalam buku “Arsitektur yang Lain”, sub-urbanisasi atau counter-urbanization ibarat “aspirin untuk sakit gigi”.

Dua puluh menitan kemudian kami sampai di Galeri Nasional. Ada dua area pameran yang kami datangi.

Pertama, Ruang Keluarga dan Anak. Ada instalasi lantai berpasir yang diseraki sampah plastik.

Anak kita bisa “pungut” sampah itu dengan scan sebuah barcode di dekatnya. Nantinya, proyektor akan menampilkan hewan laut yang ceritanya hasil daur ulang sampah tadi.

Interaksi serupa juga ada di gedung lain area Galnas. Sebuah imaji hewan bisa muncul setelah kita teriak di sebuah corong. Kami lantas pulang setelah hujan yang datang dari arah Bogor reda.

Malam harinya, kami tidur seperti biasa. Meski nggak nunggu sampai jam 00:01, saya akhirnya kebangun juga.

Dari balik jendela kembang api menyalak bergantian. Lampu mobil yang parkir di bawahnya juga nyala, sebuah false alarm.

Dua jam kemudian saya baru bisa tidur lagi setelah koor lagu tentang patah hati terdengar sayup dinyanyikan dari entah bar sebelah mana. Menara Blok M Square—yang motif kotaknya mirip motif roket di komik Tintin—tetap gelap.

Jakarta, selamat datang di tahun 2024. []

Monday, May 18, 2020

Abstract

Sekali lagi: Netflix. Yang gratisan. Bisa ditonton melalui YouTube. Judul serialnya Abstract. Bahasannya tentang makna “desain” dalam berbagai bidang. Yang saya tonton: arsitektur dan fotografi.

Arsitektur

Bidang rancang bangun disampaikan melalui karya seorang arsitek dari Denmark: Bjarke Ingels. Di usia 40 tahun, dia memimpin sebuah perusahaan konsultan arsitektur dengan desain inovatif.

Melalui film ini, kita diajak melihat beberapa karya Bjarke. Mulai dari ruang publik di tepi pantai Copenhagen yang ia beri nama Maritime Youth House. Area terbuka ini berupa lantai kayu yang menaungi bagian tanah yang dibiarkan natural. Desain ini memenangi sebuah penghargaan.

Bjarke juga merancang hunian bernama The VM House. Dari udara, bentuknya memang terlihat seperti huruf V dan M yang disusun vertikal. Developer (pengembang yang mendanai proyek) bangunan ini, memercayakan pembangunan VM House karena Bjarke menjanjikan biaya konstruksi murah. Rahasianya, tiap unit apartemen dibuat sedemikian rupa hingga koridor utama, ada di setiap tiga lantai, bukan tiap lantai.

Bagi Bjarke, arsitektur itu ibarat film Inception. Film arahan Christopher Nolan itu menggambarkan berbagai hal yang bisa dilakukan seseorang di dunia mimpi. Menurutnya, seperti itulah arsitektur berfungsi. Kaitan Inception sebagai pembuka film, ditutup dengan sebuah pertanyaan di akhir dokumenter 44 menit ini:
“I never dream about my work, actually. Interestingly enough.”
Fotografi

Seorang fotografer naik perahu di Yunani. Dia memotret sang nelayan. Atau mungkin kapten kapal itu. Kameranya analog. Sang fotografer pun mengarahkan ekspresi wajah subjek foto. Seakan-akan fokusnya hanya tertuju ke bagian wajah. Setelah itu, hamburan foto wajah tokoh prominen bergantian membuka kisah.

Hari itu, mantan sekretaris negara AS Jenderal Colin Powell datang ke sebuah studio. Di tempat itulah Platon biasa memotret tokoh publik. Mereka biasa didudukkan di sebuah bangku.
“Gadafi sat on that box, and Putin.”
Platon dikenal dengan karakter fotonya yang menonjolkan ekspresi wajah. Pengarah fotografi dari Time Magazine menjelaskan bahwa fotonya selalu tentang cahaya dan mata.
Ekspresi itu ia rekam melalui obrolan selama proses pemotretan. Kita bisa melihat bagaimana Platon mengajak Colin berbicara soal pernikahan sang jenderal. Hingga orang yang akan dia foto terbuka soal kisah privatnya.
“By the time my son was ten years old, I’d been away three years of his life. Two years in Vietnam and a year in Korea.”
Cara yang sama dijalani Platon saat dia memotret di luar studio. Penonton diajak melihat perjalanan ke Kongo, bertemu dokter Denis Mukwege. Ahli ginekologi ini membuka praktik bagi para ibu korban perkosaan. Di momen inilah Platon menyampaikan gagasannya soal kekuatan desain:
“The power of the content, that’s the whole point of design.”
“You’re looking for a moment, when you feel you’re as close to the soul as possible. That’s what good design is.” []