Showing posts with label garin nugroho. Show all posts
Showing posts with label garin nugroho. Show all posts

Saturday, June 6, 2020

Sokola Rimba


I am keen on Riri Riza’s movie. I guess, there were only about 2 out 20 of his films that I have missed to watch. Those are: Eliana Eliana and Atambua 39o Celcius. Before this day, the list are longer as Sokola Rimba was included on it. And now, I have watched one.

Sokola Rimba told about the life of Suku Anak Dalam, through the struggling of an environmental activist, Butet Manurung. Butet worked at a local NGO to accompany the jungle people facing the modernity.

She taught kids reading and counting. Her motivation, simply to make them be able to read the contract of land expansion. Commonly, people of Suku Anak Dalam didn’t understand the dealings. So much so that their compensation was only a few number of daily needs. Hence, their land of living were squeezing and converted to palm plantation.

One day, Butet was comatosed due to the hard way to reach jungle. She helped by a boy from the downstream of Makekal river. His name was Nyungsang Bungo. Actually, Bungo wanted to learn reading and counting as another kid of different Suku Anak Dalam tribe has had. Unfortunately, there was a belief that pencils brought misery. This dillema was also faced by Butet.

This movie was inspired by the real life of Butet. Though has done a helpful act to save the people of Suku Anak Dalam in Jambi South Sumatera, Butet felt powerless. She cannot stop the moving process of deforestation. On the other hand, forest was the only place where Suku Anak Dalam could extend their future.

There was a tradition of Melangun. It means moving from one place to another in the jungle. Suku Anak Dalam held Melangun only if one or some of their community member has died. If their explorable land had been converted to a monocultured jungle, their life would be hard. The Anak Dalams wouldn’t had a chance to gather food. On the other hand, their existence could prevent deforestation as their way of life was very ecologically sustainable.

Through this film, Riri Riza showed us one method that had been pioneered by Garin Nugroho. In the book entitled Membaca Film Garin, Philip Cheah stated that Garin Nugroho was made the first movie in Indonesia that was starred by a local actor and actress. The film was Surat Untuk Bidadari.

In that book, there was also information about Garin’s head of production, whom he was still at the age of 25 while making Surat Untuk Bidadari. His name was Rivai Riza, or we known him nowadays as Riri Riza.

According to his experiences of directing local people on “local tasted films”, Riri Riza was quite successful in delivering the message. The way Bungo told their tradition of honey hunting, was exhiliriating. I love the cartoon visualization on that part of the movie. And the decision to let Bungo dubb a certain substory, means that Jakartans movie maker, passed the microphone to the primary source of information. And that act of saying opinion was always be relevant up until this kind of circumstances. []
t

Sunday, April 19, 2015

Guru Bangsa Tjokroaminoto: Biopik yang Musikal dan Wayangesque


Saya terkesan sekali dengan film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Filmnya bagus. Jalannya cerita meliuk indah, gambarnya bagus, akting para pemeran tokoh-tokoh di dalamnya pun jempolan. Tak sia-sia, saya menghabiskan lebih dari dua jam setengah hingga lewat tengah malam demi film besutan Garin Nugroho itu.

Guru Bangsa Tjokroaminoto dimulai dengan adegan berwarna hitam putih di penjara yang mengurung guru para pendiri bangsa itu selama enam bulan. Tjokro sedang diinterogasi seorang Belanda, dan seorang sekutunya. Dengan keangkuhan yang elegan, ia menolak diatur. Tjokro pun memperkenalkan diri dengan tatapan tajam ke arah penonton. Ialah Tjokroaminoto, seorang bangsawan yang menolak tunduk di hadapan dominasi bangsa kolonial. 


Tidak ada bahasa tubuh yang menunjukkan bahwa dia rendah atau merendah. Demikian pernyataan yang saya ingat diucapkan Reza Rahadian ketika tampil di acara Mata Najwa. Dan bahasa tubuh itu, berhasil ia tampilkan selama 160 menit film diputar. Itu dikuatkan dengan pernyataan cicit sang guru bangsa, yang juga hadir di acara yang sama. Tjokro selalu berpenampilan rapi, untuk menunjukkan bahwa ia dan bangsa tetamu dari Eropa itu juga setara. Kala difoto, kakinya mengangkat seolah menantang. Dan memang begitulah ia, menantang. 

Suatu ketika Tjokro pernah bekerja untuk seorang Belanda. Sang tuan marah karena pribumi pembawa cangkir teh tak menggunakan sarung tangan. Tjokro memberontak dengan pola yang selalu ia lakukan jika menghadapi kondisi serupa: meminta lawannya duduk. Dan si rival menurut. Lalu dengan kata-katanya yang bulat ia kukuhkan kemenangan. Indah sekali. Jurus serupa juga tampak ketika Tjokro menghadapi seorang pendatang dari Yaman yang tak pro pribumi. Jurusnya sama: meminta lawannya duduk, jadikan dia memandang dengan tengadah, dan taklukkan mereka dengan kata-kata.


Di balik sikap keras yang melekat pada Tjokroaminoto, ada kesan egaliter, romantis, juga filosofis. Lihat bagaimana ia menyikapi Semaoen yang sudah jarang ikut kegiatan Syarikat Islam. Rasakan juga bagaimana Tjokoro bercanda tentang kapas dengan istrinya. Lalu ikut larutlah dalam pertanyaan "apakah ini hijrahku?" yang selalu mengiringi jalannya film itu. 

Dari segi pemeranan, film ini juga apik. Soeharsikin, istri Tjokroaminoto berhasil diperankan Putri Ayudya yang sukses memerankan sosok perempuan jawa dengan berbagai laku lampahnya. Semaoen juga diperankan secara brilian oleh Tanta Ginting, yang dalam film Soekarno memerankan Sjahrir. Murid-murid Tjokro lain juga begitu terasa hidup dengan perannya masing-masing.


Film Guru Bangsa Tjokroaminoto, adalah film biopik yang musikal dan wayangesque. Sebuah krikit menyayangkan sisipan musik yang dinyanyikan Reza Rahadian dan Putri Ayudya. Bagi saya, justru itu memperkaya gaya penyampaian dan penggambaran film itu. Nyanyian tadi, seakan mengatakan "dan demikian suasana riuh riang mengiringi perjalanan waktu di rumah peneleh" atau semacamnya. Visualisasi dan personalisasi ala wayang, juga menambatkan kesan yang sama.

Simaklah Stella yang diperankan Chelsea Islan. Ia bagaikan dalang yang menjembatani adegan dan memuatkan konteks. Sama halnya dengan Stella yang fiktif, Bagong pun demikian. Inilah nampaknya tanda tangan sineas yang pernah membidani film Opera Jawa yang kolosal itu. Bagong bertingkah ala Stella, bahkan berdampingan. Tengok juga tampakan ketika Tjokro dan Samanhudi diarak pendukungnya. Mereka bergerak menyamping dari kanan ke kiri layar. Lalu muncullah Sneevlit dari arah berlawanan. Persis cara wayang muncul dalam sebuah pementasan.


Kalau pun saya harus menyisipkan kritik, barangkali keberadaan Reza Rahadian yang terlalu jago beraktinglah yang saya ada-adakan. Secara gestur ia berhasil menampilkan nilai sifat Tjokro. Tapi saya berandai-andai, alangkah lengkapnya jika hidung Reza dibuat lebih kecil sehingga lebih menyerupai Tjokro. Meski demikian, secara keseluruhan tetap saja ini film penting yang akan sangat sayang sekali kalau kamu tak tonton. Mumpung masih ada layar bioskop yang menayangkan, saran saya: segeralah tonton! [rhezaardiansyah]