Showing posts with label lola amaria. Show all posts
Showing posts with label lola amaria. Show all posts

Monday, June 11, 2018

Lima


Beberapa waktu lalu, Lola Amaria diwawancara di Eagle Awards selama sekitar satu jam. Ia berkisah berbagai hal. Dari tentang visinya berkesenian melalui film, hingga mengutarakan mimpinya berkolaborasi dengan Salahuddin Siregar, seorang sineas dokumenter. Saat ini, hasil kolaborasi itu sudah bisa disaksikan melalui film LIMA.

Film LIMA berkisah tentang drama kehidupan sebuah keluarga di Kota Bandung yang mencerminkan implementasi Pancasila, dasar negara Republik Indonesia. Pengulas film di akun Twitter @djaycoholyc, menganalisa kaitan antarkisah dalam film LIMA, berdasarkan desain poster film:
Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa Lambangnya adalah Bintang. Di #FilmLima dipasang adalah foto Maryam, Ibu dari Fara, Aryo dan Adi. Beliau dipasang di tengah-tengah sebagai core dari film ini. Sama seperti lambang Pancasila. Sila pertama berkaitan erat dengan agama.
Sila-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Gambar Rantai diwakili Bi Ijah, pembantu paling loyal di keluarga Maryam. Dan bi Ijah benar-benar dimanusiakan oleh keluarga ini meski statusnya sebagai pembantu
Sila-3: Persatuan Indonesia Pohon Beringin digambarkan oleh Adi, bontot yang mampu memeprsatukan keluarga dengan cara dia yang kadang tak biasa.
Sila-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan Ada Fara di situ, Fara itu jago dalam berdebat untuk mendapatkan hasil ideal sesuai kemampuan bukan karena titipan.
Sila-5: Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia Aryo ada di sila ini. Bersikap adil sebagai anak tengah, tidak memihak namun tetap memegang teguh prinsip dia.
Waktu itu saya menonton film LIMA di bioskop Ciwalk. Dalam penayangan jam 21:20 itu, seisi studio cuma ada tiga orang, termasuk saya. Satu orang ternyata nggak datang, karena pas beli tiket saya bisa lihat ada 3 titik berwarna merah di bangku penonton. Menurut akun instagram @film_indonesia, sampai tanggal 10 Juni, LIMA ditonton 78 ribu lebih orang.

Sekadar memberi gambaran, saya coba bandingkan jumlah penonton LIMA dan Dilan 1990. Jika dibandingkan dengan film Dilan 1990—yang menyandang predikat film terbanyak ditonton di tahun 2018—raihan penonton film LIMA sangat sedikit. Dilan yang sudah disaksikan 6 juta lebih orang, di hari ke-10 penayangannya sudah ditonton 3 juta orang. Padahal, film LIMA cukup seru dan penting—bukan berarti Dilan tidak. Selain karena misinya dalam menggambarkan penerapan pancasila tanpa terkesan berceramah, LIMA juga menurut saya cukup artistik.

Alur kisahnya pun tetap berdasar ke kejadian nyata. Ketika nonton film Bulan di Atas Kuburan (2015), saya sangsi dengan realita tentang sopir taksi bernama Sabar yang diperankan Tio Pakusadewo, dibakar massa karena kecelakaan lalu lintas. Siapa sangka, dua tahun setelahnya seorang pria di Bekasi dibakar karena dituduh mencuri. Realita ini pula yang melatari salah satu fragmen kisah Adi di film LIMA.

Meski begitu, perihal kesesuaian dengan realita ini juga dikritisi Leila S. Chudori dalam majalah Tempo edisi 17 Juni 2018. Menurutnya:
“Persoalan tingkah laku anak-anak pembantu juga terselesaikan dengan happy ending yang hampir muskil mengingat berkali-kali rakyat kecil divonis hukuman berat untuk kesalahan yang kecil.” []

Thursday, May 7, 2015

Menonton Novel Tanpa Huruf R

Saya baru menyaksikan film Novel Tanpa Huruf R. Diarahkan oleh Aria Kusumadewa, film buatan tahun 2004 ini punya identitas khas ala sutradaranya, seperti yang saya juga saksikan di film Kentut buatan orang yang sama. Novel Tanpa Huruf R mengisahkan tentang Drum dan ayahnya yang jadi korban selamat kerusuhan di Ambon pada awal tahun 2000an. Mereka kemudian tumbuh dekat dengan kekerasan, atau brutalitas. Ayah Drum bekerja sebagai tukang jagal sapi. Otomatis ia familiar dengan terpaan darah dan kematian, termasuk dengan kematian ayahnya ketika Drum dewasa. Drum dan Talang, seorang tuna rungu dan tuna wicara yang dikenalnya sejak kecil kemudian tumbuh bersama di kawasan pantai. Drum pun menulis sebuah novel berjudul Kejet-Kejet. Novel itu menarik perhatian seorang mahasiswa bernama Sunyi untuk membahas novel itu dalam sebuah karya tulis. Dari situlah kemudian konflik berkembang. Sunyi kemudian tahu bahwa Drum punya sebuah kebiasaan aneh yang mungkin berkaitan dengan proses kreatif kepenulisannya.


Bagi saya, ini film naratif yang merespon tren kekerasan yang memang marak di periode waktu itu. Dalam sebuah tugas peliputan, saya pernah berjumpa Hary Sudwijanto, yang saat itu menjabat posisi direktur resor kriminal umum polda Kalbar. Pak Hary berkisah tentang riset ilmiahnya pada awal tahun 2000an. Ia meneliti tentang cara media memaparkan kekerasan yang sedemikian vulgar. Ingatkah kamu dengan tayangan Buser? Sergap? Patroli? Atau program lain semacamnya? Kala itu program berita kriminal tayang di siang hari, dengan tampilan gambar yang dramatis: pengejaran penjahat, tampakan mayat dan darah, dll. Ternyata, "gambar bagus" itu memang sengaja dibuat, direkayasa. Misalnya ketika polisi menangkap seorang penjahat, maka ia akan memanggil wartawan. Para mat kodak itu tentu ingin mendapat gambar dramatis agar menarik perhatian penonton. Maka polisi dengan sengaja melepas si penjahat, lalu ditembaklah si penjahat yang lari. The more it bleeds, the more it leads. Demikian mantra layar kala itu yang juga senada dengan figur di film Nightcrawler. Mengerikan bukan? Karenanya, sekarang metode tersebut tak lagi digunakan karena tentu menentang HAM juga. Di film Novel Tanpa Huruf R, fenomena itu disindir dengan caranya tersendiri. 


Tapi ada beberapa hal yang saya pertanyakan dari film yang didominasi lagu Slank berjudul Bulan Bintang itu. Misalnya adegan Drum yang tiba-tiba tertawa setelah memberi sebatang rokok kepada seseorang di jalan. Drum lalu tertawa terbahal setelah itu. Apa maksudnya? Talang yang dikisahkan tak bisa mendengar pun, toh bisa menoleh ketika namanya dipanggil Drum. Sayang sekali detil kecil itu harus muncul. Tapi secara keseluruhan ini film yang tentu penuh makna. Novel Tanpa Huruf R adalah potongan pemberi makna terhadap suatu fenomena. [rhezaardiansyah]