Showing posts with label film indonesia. Show all posts
Showing posts with label film indonesia. Show all posts

Saturday, June 22, 2024

Membaca Makna Joko Anwar's Nightmares and Daydreams

 
Joko Anwar's Nightmares and Daydreams (2024) adalah kisah tentang pertentangan kelas sosial. Fiksi sains, thriller, hingga gore horror jadi pembungkusnya.

Dalam serial yang pertama kali tayang sejak 14 Juni ini, penghuni kelas ekonomi marjinal jadi tokoh utama dalam lima dari tujuh episode. Dua lainnya menggambarkan kelas menengah yang pada akhirnya bersatu dengan kaum miskin tadi untuk melawan golongan super berkuasa.

Episode pertama yang berjudul Old House berkisah tentang seorang sopir taksi bernama Panji. Suatu hari tokoh yang dimainkan Ario Bayu ini mengantar perawat panti jompo yang dihuni para orang kaya. Anehnya, pengelola rumah besar itu menerima klien baru secara cuma-cuma.

Panji dan istrinya meninggalkan ibu mereka yang pikun di panti jompo tadi untuk menghindarkan putra mereka dari bahaya. Ayah satu anak itu lantas menyesal dan berusaha menjemput sang ibu.

Setelah masuk sembunyi-sembunyi, Panji melawan kekuatan yang mengeksploitasi masa muda. Sejenis makhluk aneh berjari empat menghisap vitalitas kaum miskin demi keabadian sang kaya. Itu pertentangan kelas pertama.

Episode kedua berjudul The Orphan, bercerita tentang pasangan pemulung Iyos dan Ipah. Diperankan oleh Yoga Pratama dan Nirina Zubir, mereka berjuang untuk keluar dari jerat kemiskinan melalui kejadian mistik: mengadopsi anak ajaib berjari empat.

Dalam satu adegan, Ipah diusir dari dalam restoran mewah yang menunya ingin dia cicipi. Benturan kelas sosial memang nampak di sana, tapi episode ini terasa lebih menekankan keserakahan.

“Greed is good” kata ekonom. Episode The Orphan lantas menunjukkan batasannya.

Episode ketiga berjudul Poems and Pains mengenalkan nama bagi kaum berkuasa melalui sebuah kata yang lebih mudah diterima dibanding mengenalkan mereka kepada penonton sebagai oligark: agarthan. Tokoh Rania yang diperankan Marissa Anita bisa berpindah badan. Gambaran kota tempat mereka berasal tergambar saat dia merasuki Adrian.

Meski episode tiga menampilkan Agarthan dalam wujud serupa manusia, episode setelahnya hanya tampak melalui pengerahan aparat. Berlatar di Jakarta Utara tahun 1985, Agartha sebagai sebuah “nafsu mengeksploitasi” pada akhirnya melahirkan “antibodi”, entitas yang dipilih “supreme being” untuk menjaga kemanusiaan.

Tahun 1997 terjadi resesi ekonomi. Seorang mantan petugas karcis bioskop bernama Bandi berjuang untuk bertahan hidup di sebuah rumah susun bersama istrinya, Dewi.

Memerankan Bandi yang terjebak dalam sebuah mesin waktu, Kiki Narendra bak Jack Nicholson yang hadir ke pesta di ballroom hotel Overlook dalam film The Shining. Kurun yang baginya terasa beberapa jam ternyata berlangsung selama dua tahun. 

Adegan itu bisa jadi mengacu ke “penghisapan” yang dikendalikan kaum super kaya alias agarthan. Istri Bandi sendiri menyaksikan itu meski gagal menyelamatkan sang suami.

Pada akhirnya Dewi yang diperankan Sita Nursanti menjadi oposan agarthan. Ia punya kekuatan khusus, sebagaimana terlihat dalam episode keenam berjudul Hypnotized. 

Dewi dan kelompoknya merekrut Ali, seorang teknisi elektronik yang buta warna. Kesulitan finansial akibat kelainan itu, membuat Istri Ali yang diperankan Poppy Sovia mencuri dari supermarket. 

Pada pangkal kisah, sosok yang diperankan Fachri Albar ini lolos proses seleksi Dewi karena dia berhasil “ambil kendali”. Salah satu kendali itu: menentang tindakan pencurian oleh Ningsih.

Di penghujung episode berjudul PO BOX, kekuasaan agarthan ditunjukkan melalui kuasanya menghilangkan manusia. Haydar Salishz yang memerankan Adrian tampil lagi sebagai agarthan berkedok menteri.

Bersama kawanannya, ia hendak menyantap mata Valdya, calon antibodi baru. Ini metafora untuk sebuah tindakan eksploitasi.

Beruntung rombongan antibodi datang menyelamatkan. Kaum miskin superpower pada akhirnya bertarung melawan golongan berkuasa, secara harfiah.

Secara kiasan, pertarungan proletar dan borjuis akan berlanjut di season 2 setelah anggota antibodi terakhir yang diperankan Asmara Abigail mau bergabung dan berujar: “let’s kick their ass”.[]


Wednesday, October 4, 2023

Sherina


Petualangan Sherina 2 dikemas sedemikian sederhana. Karakter protagonis-antagonis dipisahkan ke dalam spektrum yang hitam-putih. 

Dulu Kertarajasa, kini Syailendra. Kita bisa rasakan posisi mereka dalam kisah ini sejak kemunculan pertama. 

Meski bersegmentasi "semua umur" sekuel ini terasa lebih tepat ditujukan bagi penonton film pertama. Penonton yang berusia dewasa diajak menengok lagi masa anak-anak, saat Petualangan Sherina mempengaruhi gelagat anak tahun 2000an.

Saat itu saya masih SD. Begitu pula istri saya yang mengaku banyak terinspirasi gaya sherina: cokelat M & M's, bekal sekolah, you name it. Dua puluh tiga tahun kemudian, kami melihat Sherina yang sama, tampil dalam kemasan kisah serupa.

Sherina kecil dan dewasa harus menghadapi perbedaan realita dengan ekspektasi. Jika Sherina 2000 sedih dan gundah karena tak ingin pergi berpisah dengan temannya di Jakarta, maka Sherina 2023 digambarkan marah karena peliputan ke Davos batal. Sherina yang sudah jadi reporter televisi malah ditugaskan ke hutan Kalimantan.

Bandung dan Palangka Raya bagi Sherina kecil dan dewasa terasa sama saat dia melintasi rimbun pohon yang tampak serupa. Ia menatap ke luar jendela mobil dalam komposisi visual yang mirip.

Kejutan: Sherina kecil bertemu Sadam di Bandung, Sherina dewasa jumpa Sadam di Palangka Raya. Mereka kadang kompak, tapi beberapa kali juga beda pendapat saat menghadapi tokoh antagonis pemburu satwa liar.

Riri Riza dan Mira Lesmana, sebagai duet sutradara dan produser, kini menawarkan gagasan konflik pelestarian orang utan. Dua puluh tiga tahun lalu, isu yang mereka sodorkan berupa perebutan lahan. 

Saat pencaplokan wilayah masih relevan di saat ini, mungkin masalah pelestarian hewan juga akan tetap penting disampaikan di masa depan nanti. Mereka sedang menandai zaman.

Penanda era lain yang juga tampak sengaja disisipkan, terlihat ketika Sherina diminta segera pulang ke Jakarta untuk meliput konferensi pers Presiden Jokowi. Dua puluh tiga tahun dari sekarang, penonton film ini akan punya sebuah konteks menarik saat menilik lagi kondisi yang dihadirkan dalam jagat Petualangan Sherina 2. 

Di luar hal-hal simbolik itu, Petualangan Sherina 2 sesederhana surat cinta buat inner child kita. Sherina dan Sadam terlihat bersenang-senang dengan karir dan tantangan kerja di dalamnya. Hingga di usianya yang kepala tiga, mereka belum menikah dan itu nggak apa-apa. 

Dalam beberapa hal, film ke-25 rumah produksi Miles Film ini nampaknya ingin membuat generasi 2000an sumringah, serupa ekspresi Sherina ketika dihadiahi tas lama. []

Friday, March 17, 2023

Class Struggle


A philosopher once said that human history was moved by class struggle. It means that there is one dominant class who always try to dominate another subordinated class. On the other side, the latter one fights for their domination as well.


The idea can be found in some movie titles. Elysium (2013) explicitly confronts the rich and the poor in a futuristic context. Meanwhile Parasite (2019) depicts the fight in recent era.


Lately, I found another film that projects similar idea: The Womb (2022) or locally entitled Inang. At the glance it may seems mereley a horror movie. 


Inang tells the story of one poor women named Wulan, who found support to take care of her pregnancy. Then, she met a couple of rich family who provides her the needs. And unbeknownst of Wulan, the dangers are facing her.


The plot clearly place Wulan as protagonist and the couple on the opposite. As we follow the storyline, the antagonistic acts of both elders reveal some horrific premise—of which I cannot tell you more. 


Before we delve deeper on class struggle in the movie context, here's an interesting facts in regards to why the riches are tend to be vilaineous. The reason is that they have "privilege".


It was based on a research conducter by Paul K. Piff and his team from University of California. They show that there is a correlation between social class and ethics. The title of publication paper, cites its conclussion: higher social class predicts increased unethical behavior.


Another research conducted by Michael Krauss shows that the rich tends to look things from personal perspective. Exploitation to another social class (the poor) was emerged from disempathatetic behavior that was combined with provilege to access resources.


However in the movie, we cannot really examine how can the couple get the financial resource since the moviemaker behind The Womb, chose to only show them on some characteristics that was in-line with the storyline. In facing the ridiculous situation, we must suspend our disbelief. And in terms of film study, "suspension of disbelief" is important to enjoy the movie.


To that end, The Womb was implicitly implement the formula that had also been planted to some titles in Indonesian history of cinema. In Sri Asih (2022), the antagonistic rich real estate businessman exploits the poor slum area residents.


Both of them, introduces us to the theory of class struggle through the medium of film.

Wednesday, February 22, 2023

Privasi

Dear david bermula dari Laras, seorang siswi berprestasi. Dia ketua OSIS, sumber kebanggaan sekolah, juara lomba kepenulisan.

Sebagai penulis, Laras punya saluran rahasia. Sebuah blog, ia isi fantasi romantik-erotik dengan objek teman sekelas bernama David.

Laras tentu berupaya mempertahankan citra baik yang selalu melekat dalam dirinya, demi terus mendapat keringanan biaya sekolah dan lancar mengejar cita-cita masuk UI. Sialnya, laras gagal logout dari komputer sekolah dan seseorang menyebarkan cerpen dari dalam akunnya. 

Peristiwa itu mengenalkan privasi kepada sasaran utama penonton ini, remaja. Apakah sikap sekolah berlebihan? Apa Laras sudah sebaiknya melindungi diri?

Dalam Dear David, kepala sekolah memimpin orkestra infiltrasi ke ruang privasi murid atas nama kondusivitas. Seorang siswa berbisik ke laras, "lo kan ketua osis, harusnya lo bisa berbuat lebih". Mereka memprotes perampasan ponsel.

Di luar film, negara juga masuk ke ranah privat warganya. Masih ingat skandal Aipda Ambarita? Dia merazia handphone sembarang orang demi konten, padahal salah.

Satu lagi yang lebih anyar: putusan MK tentang pernikahan beda agama. Pelapor uji materi undang-undang merasa dirugikan karena menurut sebuah pasal dalam peraturan yang lahir di tahun 1974, sepasang calon suami-istri harus punya agama yang sama saat menikah.

Editorial Majalah Tempo menilai, itu bentuk pengaturan berlebihan negara kepada warganya, karena sudah masuk ranah privat. Seperti dilaporkan oleh CNN Indonesia, dua dari sembilan hakim MK sendiri mengakui bahwa perlu ada perbaikan tentang aturan itu, dimulai dari pihak pemerintah dan DPR. 

Mengenal privasi, baru satu dari bahasan lain yang bisa kita baca atau renungkan dari film Dear David. Hal lainnya: bullying, pengaruh media sosial ke kehidupan nyata, kesehatan mental, inklusivitas dan (ehem) cinta segitiga. []


Sunday, January 22, 2023

Autobiography

The award-winning film "Autobiography", is finally coming back home after concluding a series of screenings in more than 20 film festivals. The title refers to the life experiences of its 2022 Citra award-winning scriptwriter, Makbul Mubarak--who also direct the movie.


He said that the idea of "Autobiography" came from his childhood. His parents were civil servants, and the 31-year-old moviemaker lived in some circumstances where power was given naturally for symbols of nation. 

Some influential figures, trapped (or overuse) in the powerful situation. So much so that it led to violence. One question emerged inside Makbul's head as to where would power violation ends?

The answer, lies at the end of the movie. The final scene depicts Mubarak's take on which side he stands on. Or, if he chose the opposite side of the finale, I guess we still can read the whole movie as a precaution of the famous quotation by Lord Acton:

"Power tends to corrupt, absolute power corrupts absolutely."

Unfortunately, at some point the portrait of fictional story in Autobiography can easily be found in real life in Indonesia--a nation where militarism holds power for several decades. You might have experienced one. 

Makbul himself had experienced an uncomfortable story of how several influential figures can easily misuse their abilities. As he told Koran Tempo the January 22 edition, Mubarak shared his past story of being accused stealing from a shop. Unbeknownst, the authority took advantage of his powerless position and took money from the young man.

In the universe of "Autobiography", such power relation has special place to let the story rolls out. We will see Kevin Ardilova who plays as Rakib. He becoma a personification of ourselves--through some cinematography techniques (mise en scene). A Polish cinematographer beautifully arranged a myriad of eary shots and combined with works of Philippinos editor and French sound editor, then make viewers feel like it was truly terrifying to work for a powerful military retired general named Purnawinata who was played by Arswendi Bening Swara.

Purna was on his path toward residential election. As he was away from his family, the ex-war veteran chose Rakib taking role of being his caretaker. 

Rakib was treated as his long-awaited son by the father of three daughter. On the contrary, on the visit to jail, Purna said to Rakib's father that he felt satisfied with Rakib's service. The relationship was mutual as Rakib found an ideal father figure in Purna's attitude. Until one moment moves the story.

"Autobiography" was also shows us another issues that follows militarism. Natural exploitation was told as a background, delivered side by side with the negligence of one's source of life. On another part of the movie, impunity also can be seen. 

The movie also shed a light on another note that needs to be taken more seriously. Military power has its own strength and weakness that affects a wider part of society. []

Sunday, September 18, 2022

Jenis-Jenis Penonton "Mencuri Raden Saleh"

Tahun 2005, Joko Anwar merilis film Janji Joni. Dibintangi Nicholas Saputra, tokoh Joni ngajak kenalan seorang cewek. Si Nona, baru mau kasih nama kalau Joni kerja lancar di hari itu: nganterin roll film dari satu bioskop ke bioskop lain tanpa ganggu pemutaran. 


Nah, si pacar Nona yang diperankan Mariana Renata itu, cuma mau nonton pemutaran film yang mulus tanpa cela--plus penayangan perdana. Namanya Otto, diperankan Surya Saputra. 


Malam itu--saat saya dan Windi nonton film Mencuri Raden Saleh--saya merasa jadi Otto yang menurut 10 golongan penonton film versi Joni, masuk kategori terakhir. 


Di film Janji Joni, Otto hampir ga dapet tiket nonton gara-gara pacarnya telat. Kami telat juga. Kalau Otto nitip beliin tiket ke orang di antrian depan, saya dan Windi harus sabar nunggu petugas datang di loket pembelian popcorn.


Pada akhirnya, kami masuk pas adegan lukisan Widayat berjudul Hutan Rimba sedang dilelang. Beda sama Otto, kursi saya dan Windi ada di posisi bagus: paling atas dan kursi khusus buat berdua tanpa sekat--well done CGV.


Sayangnya, kami melewatkan adegan pembuka. Di film dokumenter "Blue Print: Making of Mencuri Raden Saleh", adegan pembuka sedemikian spesial karena kamera dioperasikan sebuah robot berlengan.


Sebagai analog Otto si penonton rewel di film Janji Joni, saya tentu merasa kurang puas. Apalagi, dari atas baris A keliatan penonton jenis "pembajak" dan penonton jenis "ponsel". Golongan pertama motret ke arah layar, kelompok terakhir buka chat sampe silau keliatan di pojokan mata.


Melihat gangguan semacam itu, untungnya saya nggak kepancing buat protes kayak Si Otto. Saya malah ternyata masuk ke golongan penonton "pacaran". 


"Kosan kamu dulu di Jalan Raden Saleh kan?" Saya inget tempat ngapel.

"Iyah," kata Windi.


Atau justru tipe keenam: kritikus film.


"Product placement. Not bad lah ya," saya nyeletuk pas Gofar ngemil cokelat di bengkel.


Soal kritik-mengkritik ini, kami sepakat "Mencuri Raden Saleh" menyenangkan. Setidaknya, saya dan Windi masih bahas film ini sampe sekitar dua hari kemudian. Salah satunya ngomongin apakah adegan mobil turun dari bukit buatan CGI, atau diambil drone camera. []

Wednesday, June 8, 2022

Film Statement Ngeri-Ngeri Sedap

 Sekilas tak ada yang salah dari karakter Pak Domu. Dalam film Ngeri-Ngeri Sedap, Arswendi Bening Swara memerankan sosok ayah berwatak keras dan teguh terhadap warisan adatnya. 


Ayah dari anak bernama Domu ini keukeuh, keturunannya harus menikah dengan sesama suku batak. Ia pun masih terkungkung dalam stereotip bahwa kesuksesan perantau dari Sumatera Utara seakan hanya bisa diukur saat mereka menjalani karir di bidang hukum.


Maka, murkalah ia kala Domu si sulung hendak menikah dengan perempuan sunda, dan Gabe malah bekerja sebagai pelawak. Ia pun kecewa, saat Sahat si bungsu malah menetap di Jogja selepas lulus kuliah. Menurut adat, anak bungsu harusnya ada di rumah orang tua untuk kemudian mewarisi peninggalan ayah-ibunya.


Lain halnya dengan Mak Domu. Ibu empat anak ini lebih kompromistis dengan aturan adat. Menurut tokoh yang diperankan Tika Panggabean ini, yang penting kerinduan ke tiga anak lelakinya bisa dibayar tuntas. Selama tinggal di sebuah rumah tepian Danau Toba, ia dan suami ditemani satu-satunya anak perempuan mereka, Sarma.


Pak Domu dan Mak Domu, tiba di satu momen saat pertengkaran jadi satu-satunya cara supaya anak-anak mereka yang merantau bisa pulang. Dari pertengkaran inilah, kisah bergulir mengungkap beberapa hal, dari relevansi adat sampai gaya pengasuhan anak.


"Tanpa adat pun kita tetap bisa hidup," sanggah Sahat saat diminta pulang untuk menghadiri upacara adat Sulang Sulang Pahompu. Tradisi itu bertujuan merayakan pernikahan yang tertunda akibat salah satunya kendala ekonomi. Opung Domu yang diperankan Rita Matu Mona, menekankan bahwa kehadiran cucu jadi syarat utama upacara itu.


Namun, saat ketiga anak lelaki pulang dan hadir di acara tadi, mereka pun dihadapkan ke tuntutan adat lain. Momen saat para komika Boris Bokir, Lolox dan Indra Jegel bersikeras, melontarkan kontra argumen hingga menyatakan pasrah, jadi momen komikal. Unsur komedi, memang bercampur padu dalam takaran dan timing yang tepat selama sekitar dua jam durasi film.


Pun demikian dengan kutipan dialog yang dihadirkan berulang tapi sarat makna. 

"Makanan Mamak memang paling enak sedunia."

"Tapi bukan itu yang membuatmu pulang kan?"


Sarma alias anak kedua yang diperankan Ghita Bhebhita, jadi karakter paling kurang diantisipasi dalam film perdana rumah produksi Imajinari ini. Ia memegang peran sentral dalam menghadirkan plot twist tentang trik menghadirkan abang dan adiknya. Lewat nasib yang ia jalani, Sarma pula yang menghujamkan panah ke jantung budaya patriarki.


Pada dasarnya, tradisi batak dan keindahan bentang alam Danau Toba dalam Ngeri-Ngeri Sedap, ibarat cangkang. Di dalam inti skenario yang ditulis dan disutradarakan Bene Dion Rajagukguk ini, ada pernyataan atau film statement yang ditujukan bagi semua anak dewasa dan semua orang tua—yang tak punya batasan usia untuk terus belajar menjadi ayah dan ibu.


Beberapa pesan, tidak cukup diekspresikan dalam kata atau kalimat. Seperti salah satunya Ngeri-Ngeri Sedap ini, ada gagasan yang perlu dipahami saat ia berwujud kisah. []

Wednesday, August 11, 2021

Film Tentang Hoaks di Tahun 1982

 


Judulnya memang seakan-akan ini film tentang suasana di hari pembalasan. Orang baik akan sukses melintas titian serambut dibelah tujuh, atau sebaliknya. Ternyata, tidak ada akhirat di film ini, melainkan sebuah "tanah jahanam".


Saya sebut "tanah jahanam" karena kampung itu dikisahkan sarat dengan prasangka. Ada seorang gadis yang dituduh kerasukan setan.


Padahal dia gila gara-gara difitnah. Nasib buruk si gadis berkaitan dengan seorang ahli agama yang ternyata tak sebaik ajarannya. 


Ke sanalah Ibrahim datang. Dia seorang guru mengaji. Alih-alih ditakuti murid semacam ahli agama tadi, Ibrahim justru disukai.


Meski begitu, dia punya tantangan lain. Pertama, menyadarkan penduduk kampung agar jangan termakan hoaks--tentu saja istilah itu nggak ada di film produksi tahun 1982 ini. Kedua, sesuai judul film, Ibrahim harus selamat dari fitnah yang menimpa dirinya sendiri.


Isu simpang siur informasi, rupanya relevan sampai hari ini. Kita mudah ambil contoh soal ini: dari peristiwa di sekitar momen pemilihan umum, hingga pengelolaan pandemi covid-19.


Dalam konteks kala itu, saya lebih suka mengaitkan makna bahwa persekusi terhadap si gadis yang dituduh kerasukan tadi, rupanya kritik atas pelabelan komunis di masa ketika Presiden Soeharto berkuasa. Selama 30 tahun itu, mayoritas penduduk Indonesia saling curiga. 


Ratusan ribu hingga jutaan orang kemudian meninggal tanpa melewati pengadilan, cuma gara-gara sebuah tuduhan yang belum tentu betul. Dan kalau pun betul, masa iya pembunuhan musti jadi ujungnya.  


Titian Serambut Dibelah Tujuh juga menyisipkan sentilan soal kepemimpinan. Ada seorang karakter kakek pengembara yang muncul di awal dan akhir kisah. 


Ia sempat memperingatkan bahwa warga kampung yang akan didatangi Ibrahim ibarat layangan putus. Sementara di akhir, Ibrahim diingatkan si kakek tentang memanfaatkan kepercayaan warga buat si guru ngaji. Sekali lagi, di masa ketika kritik harus dibuat sesubtil mungkin, rasanya di sanalah beberapa hal menemukan makna. []

Sunday, June 20, 2021

Ali dan Judi Memburu Mimpi

Saya pengen nangis, cuma malu. Soalnya nonton bareng istri. Haha. Sedih sih kisah si Ali ini. 


Dia ditinggal ibu sejak kecil, demi mimpi sang ibu. Ketika ayahnya meninggal, Ali remaja nekat ke New York buat ketemu ibunya.


Di kota terpadat se-Amerika Serikat itu, Ali ketemu empat orang tante-tante yang tinggal di rumah yang dulu ditempati sang ibu. Ratu-Ratu Queens di judul film, merujuk ke geng perantau di "kecamatan" Queens ini.


Singkat cerita, Ali dan ibunya ketemu. Kami nonton sejak malam, cuma kepotong di bagian itu. Tepat ketika Ali berdiri di pintu depan rumah baru ibunya, bawa sekotak rendang--simbol "keluarga" yang dimunculkan sejak awal film.


Pagi ini, film kami lanjutkan dengan pertanyaan tentang penerimaan ibunya. Ali diakui nggak ya? Dan sepanjang film, hal sederhana tentang pengakuan itulah yang dicari Ali, atau siapa pun yang merasa udah nggak punya siapa-siapa.


Kedekatan film ini dengan banyak orang, keliatan lewat komentar-komentar di medsos. Sutradara Yosep Anggi Noen pernah ngalamin kisah "tanda alam" lewat stiker random yang dia liat di tempat umum. Mirip cerita Ali yang diliatin stiker "You Belong Here".


Papin alias Pinot, yang ngerjain departemen animasi di film ini, waktu pertama kali ke New York juga merespons kota itu dengan doodle. Pun begitu dengan karakter Ali yang suka ngegambar.


Selain tentang pencarian ibu yang jadi TKW, film ini juga tentang "judi memburu mimpi". New York--atau kota atau kabupaten manapun--sepertinya memang lumrah menyimpan kisah-kisah pertaruhan. Modal mewujudkan mimpi dibayar di muka--bagi ibu Ali, dia seharga suami dan anak. Soal berhasil atau nggak, itu lain soal.


Rilisan teranyar Palari Films ini cocok buat kamu yang meresapi kisah-kisah di akun Instagram Humans of New York. Cuma kali ini lebih mendalam, lewat seorang penghuni baru imajinernya yang bernama Ali. []

Wednesday, May 27, 2020

Kesuburan


Saya nonton ulang film besutan sutradara Joko Anwar: Modus Anomali. Waktu pertama kali tayang tahun 2011, saya nonton di bioskop. Rasanya menegangkan. Film itu memang minim dialog dan banyak menampilkan momen diam—suasana yang dalam film Hayao Miyazaki bernama Ma: “kekosongan”.

Sejak awal film kita diajak bertanya tentang siapa dan kenapa si tokoh utama diteror. Lantas di pertiga akhir film, perlahan penonton dibuat paham tentang semua pertanyaan di awal. Brilian—dan “sakit”.

Hal menarik lain dari film ini, tentu saja tentang keterkaitannya dengan film lain. Joko anwar dikenal punya cinematic universe-nya sendiri. Dan semuanya dikenal punya pesan eksistensial soal kelahiran. Coba lihat. Di semua filmnya, ada cerita tentang kehamilan—entah itu digambarkan dengan hampir melahirkan di dalam taksi, sampai lewat cerita tentang kesuburan melalui aliran sesat.

Tokoh utama dalam film Modus Anomali—yang cuma dikasih keterangan “man” di bagian credit title—muncul lagi di akhir film Pintu Terlarang. Film rilisan 2009 itu sendiri diadaptasi dari novel yang ditulis Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama.

Doa Ibu

Saya belum baca Pintu Terlarang, tapi sudah baca novel Sekar Ayu Asmara yang lain: Doa Ibu. Novel terbitan tahun 2009 ini bercerita tentang dua kisah.

Pertama, tentang pelukis bernama Ijen yang mengalami sejumlah kejadian ganjil. Seorang pengantin wanita yang juga sahabatnya, menghilang ketika dia ada di pelaminan. Sahabat Ijen yang lain pun mengalami nasib yang sama.

Kisah kedua, tentang seorang ibu bernama Madrim. Suaminya baru meninggal, dan setelahnya dia baru mengetahui bahwa sang suami punya istri kedua. Ternyata, sebuah rahasia juga dipendam Madrim. Tanpa diduga, rahasia itu berkaitan dengan eksistensi Ijen. Mereka berdua lalu bertemu dalam sebuah momen yang sureal.

Novel ini enak dibaca karena kalimat terakhir di tiap bab langsung tersambung dengan kejadian di awal bab berikutnya. Sehingga sekuensial, padahal itu dua cerita berbeda. Sekar Ayu Asmara dan Joko Anwar mempertanyakan makna kelahiran dan kehadiran anak melalui karya mereka. []

Saturday, July 21, 2018

Agus


Saya kenal seorang Agus. Dia teman saya semasa kuliah di periode 2008-2011. Tahun 2012-2013 Agus lanjut jadi asisten dosen di departemen kami. Lima tahun berikutnya Agus tinggal di Amerika Serikat, meraih gelar master dan sekarang menjemput titel doktor.

Lima hari terakhir Agus berkunjung ke Bandung, tempat saya sekarang tinggal bersama anak dan istri. Di hari kedua kunjungannya, saya ajak Agus menjelajah kawasan kota tua. Sore itu kami mulai dari pertigaan jalan braga dan jalan asia afrika. Agus menunggu di seberang Starbucks. Ketika kami duduk berhadapan sekitar 20 menit kemudian di Warkop Purnama, titik tempat dia menunggu terekam dalam sebuah foto bernuansa sepia, ketika jalanan di masa itu lengang dan delman masih melintasi jalan asia afrika ke arah timur—sekarang, arus lalu lintas di jalan asia afrika dibuat searah ke barat, dan tentu saja tidak ada lagi delman. Kota Bandung beruntung masih punya beberapa warisan peninggalan masa lalu. Dan kisah dari berbagai lokasi bersejarah itulah yang saya kenalkan ke agus dalam tiga hingga empat jam setelahnya.

Di warung kopi yang semula bernama Chang Chong Se itu, saya dan agus ngobrol lama. Ditemani roti srikaya—yang saya paksa Agus buat nyicip—kami bicara banyak hal. Dari presiden sampai dosen. Dari buku The Broken Ladder—tentang kesenjangan ekonomi—hingga kumpulan cerpen Semua Untuk Hindia. Dari film The Death of Stalin sampai Buffalo Boys. Sebagai kawan lama, tentu saja pembicaraan tentang masa lalu juga kami ungkit. Agus masih tertawa lepas ketika saya ceritakan ulang soal egosentrismenya sebagai anak bungsu. Dan agus sempat bikin kaget karena mengingat bahwa saya pernah berniat untuk melarang istri bekerja ketika menikah kelak. Saat itulah saya sadari bahwa, kami berubah.

***
Saya dan Agus sama-sama suka film. Katanya, dia selalu ceritakan ke teman-temannya di Amerika tentang film yang pernah kami buat bertiga, bersama Metha. Saya dan Agus juga suka bertukar referensi film. Selama di Amerika sana, Agus sulit buat nonton film Indonesia. Saya ceritakanlah bahwa Pengabdi Setan memang seseru Hereditary. Bahwa akhir-akhir ini banyak film nasional yang menarik. Dari Kulari ke Pantai sampai Buffalo Boys. Judul terakhir itu yang semalam saya tonton.
Buffalo Boys bercerita tentang tiga orang pria Jawa yang kembali ke kampung halamannya setelah diungsikan ke alam liar benua amerika tahun 1860. Ketiga orang tadi kemudian membawa bekal kemampuan bertarung ala wild west ke east indie, untuk membalas dendam ke bangsa penjajah.

Kalau dikait-kaitkan, Agus ini Buffalo Boys juga. Seorang yang lahir di Jawa Barat merantau ke pesisir timur Pennsylvania. Seperti trio Jamar, Suwo dan Arana, Agus pulang sementara dari negara barat ke belahan bumi timur dengan oleh-oleh khasnya. Sepertinya, anugerah terbesar Agus setelah dia berjuang di masa menjadi asisten dosen, bukan cuma gelar akademik di Amrik. Keleluasaan berpikir. Dan keberanian mengambil keputusan. Mungkin itu yang paling dia nikmati saat ini, di negeri yang mendewakan kata freedom. Apakah kebebasan dan keberanian Agus (akan) subur juga di Indonesia? Tidak ada jaminan demikian. Mungkin kenyataan itu yang mendorong Agus buat balik lagi dan tinggal di sana. Bisa sampai lima tahun ke depan, bisa juga lebih lama dari itu. []

Wednesday, July 11, 2018

Kaka Dani


Saya membaca Suku Dani alias Kaka Dani di film Kulari ke Pantai, sebagai simbolisasi asing sekaligus ke-kita-an Papua. Maksudnya begini.
Jreng, jreng, jreng.
"Sa punya cerita..."

Kaka Dani di film Kulari ke Pantai diperankan oleh pria bernama asli Suku Dani, yang uniknya fasih berbicara dengan logat khas Papua. Dalam sebuah dialog, ia bercerita tentang dirinya sendiri di kehidupan nyata: lahir dan besar di Papua—tepatnya lahir di Jayapura dan besar di Wamena. Makanya, ketika diajak berbahasa Inggris oleh Happy, dia bilang:
“Ade, sa pake bahasa inggris itu kalo di amerika sana.”

Nah di kehidupan luar layar film, Suku Dani memang sekolah di Amerika, tepatnya di Atlanta. Bahkan ketika syuting, Dani sambil mengerjakan skripsinya. Fakta-fakta itu, bikin saya mikir bahwa kehadiran Dani dari Papua ini menyiratkan simbol bahwa Papua dianggap asing—tampak ketika ia diajak bicara bahasa asing oleh ‘orang indonesia’. Padahal dia orang Papua, bahkan minta diajak berbahasa Indonesia. Dalam dialog di atas, saya juga berpikir bahwa “Amerika” yang ia maksud—jika dikaitkan dengan penguasaan sumber daya alam di sana—juga menyuarakan simbol tersendiri. Saya jadi ingat buku Semua Untuk Hindia.

Semua Untuk Hindia

Akun instagram penjual buku online aebookstore menulis bahwa:
“’endorsement’ Ariel Heryanto atas buku ini melalui kuliah umumnya tentang peran gerakan kiri terhadap kemerdekaan Indonesia memang tidak salah tempat.”

Saya setuju dengan itu. Buktinya, saya langsung cari bukunya meskipun sebelumnya pernah baca juga pujian untuk kumpulan cerpen karangan Iksaka Banu itu di ulasan-ulasan koran. Apalagi setelah saya baca cerpen berjudul Teh dan Pengkhianat di Koran Tempo. Nafsu membaca Semua Untuk Hindia menggebu-gebu—oke ekspresi ini berlebihan. Sayangnya, ekspektasi saya sedikit patah karena membaca kata pengantar bikinan Nirwan Dewanto di buku yang sama. Dia membocorkan ending kisah berjudul “Gudang 012B”. Akhirnya, saya baca dari belakang. Mirip cara kita nonton film Memento (Christopher Nolan, 2000).

Setelah baca tulisan Iksaka Banu soal kehidupan prakemerdekaan, saya jadi berpikir tentang Indonesia jika tanggal 17 Agutus 1945 proklamasi tidak pernah terjadi. Bisa jadi saya punya teman main kelereng bernama Ujang, dengan mata biru dan rambut pirang. Atau cinta monyet saya mungkin seorang gadis berbahasa sunda bernama Beatrice, tentu saja deskripsi fisik serupa “Ujang-Ujangan” tadi. Meskipun, konsekuensinya bisa saja berujung seperti romansa Soekarno dan Rika Meelhuysen. Atau malah jika “Indonesia tidak merdeka”, saya bakal punya bupati bernama khas eropa yang menganggap warga berkulit cokelat bukan manusia yang setara. Sekali lagi, saya musti setuju dengan pendapat Ariel Heryanto tentang Semua Untuk Hindia:
Sejak terbitnya karya Buru oleh Pramoedya A. Toer di tahun 1980-an, inilah karya sastra Indonesia yang pertama dan mungkin satu-satunya yang secara radikal menjungkir-balik sejarah nasional.

Oke mari sekarang kita kembali ke film Kulari ke Pantai. Intinya, saya senang berkenalan dengan Suku Dani. Dia memenuhi imajinasi saya bahwa Indonesia bisa lebih beragam dan seru dengan kehadiran orang kaukasian. Saya juga bahagia dengan fakta bahwa dari Bali ada seorang remaja bule berbahasa Indonesia berusia 16 tahun berprofesi sebagai surfer professional bernama Kailani Johnson—yang kemudian diidolakan tokoh Sam di dalam film itu.

Kini, rasanya saya akan cukup percaya diri untuk menyanggah pesan perpisahan wartawan bernama Maria Geertruida Welwillend alias Geertje. Dalam cerpen berjudul Selamat Tinggal Hindia—tulisan pertama dalam buku Semua Untuk Hindia—ia menulis sebuah pesan perpisahan:
“selamat tinggal Hindia Belanda, selamat datang Repoeblik Indonesia”

Jika kehidupan beragam kita tidak diracuni ketakutan tentang asing dan aseng, “Geertje” tidak perlu pergi dari nusantara dengan hanya meninggalkan pesan melalui tulisan dari lipstik. []

Wednesday, June 13, 2018

Sunya


Sekitar seminggu sebelum Aksara lahir, saya dan Windi nonton sebuah film. Judulnya Sunya. Film ini diputar di sebuah bioskop bernama Kinosaurus di kawasan Kemang Jakarta. Untuk masuk ke sana, kita harus melewati toko buku Aksara. Dari situlah ide nama anak kami lahir. Meski di awal saya bicara soal Aksara, tulisan ini bukan tentang dia, melainkan Sunya dan buku berjudul Kumpulan Budak Setan.

Sunya
Film Sunya dibuat oleh sutradara Hary Dagoe Suharyadi. Itu pengalaman pertama saya nonton film sineas yang ternyata sudah buat film sejak lama dan karyanya diputar di festival film internasional. Misalnya film Happy Ending yang tayang di Toronto World Wide Film Festival 1996 di Kanada—dan ditampilkan juga pada momen penayangan Sunya di Kinosaurus waktu itu.
Sunya berkisah tentang seorang pria bernama Bejo, yang mencari tahu penyebab neneknya sulit meninggal dan harus menahan sakit di usia tua. Bejo kemudian menelusuri penyebabnya, dan ternyata berkaitan dengan masa lalu Bejo.
Meski tampak sederhana, alur kisah film ini sebenarnya kompleks. Banyak tampilan simbolik semacam tarian, renungan, hingga adegan panas. Bahkan aktrisnya, mengaku nggak ngerti film itu tentang apa.
"Ini pertama kalinya saya nonton film ini. Sebelumnya deg-degan dengan hasilnya, karena saya aslinya bukan aktris, tapi penari. Tapi setelah menonton, saya malah makin nggak ngerti apa maksud film ini," ujar Astri sambil tertawa malu. (Liputan6.com)
Saya duga, dia nggak baca cerpen yang jadi inspirasi film ini dibuat. Sunya disadur dari salah satu kisah di buku Kumpulan Budak Setan berjudul Jimat Sero buatan Eka Kurniawan. Titel keempat dari 12 cerita di dalam buku itu, punya garis merah serupa. Jika Bejo di Sunya seorang pemuda desa, di Jimat Sero, tokoh utama—yang berkisah dengan subjek “aku”—seorang eksekutif dengan karir cemerlang plus pacar anak bos bernama Raisa.
Selebihnya, rasanya kisah Jimat Sero dan Sunya sama. Rohman menitipkan jimat ke Bejo, lalu jimat itu jadi semacam kunci agar Bejo dan Rohman saling terhubung. Dan itu pula yang terjadi dengan nenek Bejo, kakek Bejo dan ayah Rohman.

Kumpulan Budak Setan
Selain Jimat Sero, kisah-kisah di buku Kumpulan Budak Setan juga menghimpun hasil imajinasi lain Eka Kurniawan. Intan Paramaditha dan Ugoran Prasad juga bergabung dengan Eka untuk proyek yang diinisiasi tahun 2009 ini. Masing-masing penulis mengarang 4 cerita yang mengandung unsur lendir dan mistik. Dan fiksi-fiksi ini, ode buat Abdullah Harahap. Siapa Abdullah Harahap? Bab pertama buku ini menjelaskannya.
Ia menulis novel horor “picisan”, diramu dengan seks, di tahun 1970-1980-an. Anda dapat menemukan novelnya saat berjalan-jalan di toko buku kecil , pasar loak atau stasiun kereta. Status “picisan” Abdullah Harahap mencerminkan status genre horror yang identik dengan estetika rendah dan karenanya berada di luar khazanah sastra. (Hal. x)
Trio pengarang Kumpulan Budak Setan, terasa punya ciri khas nuansa cerita berbeda. Goyang Penasaran buatan Intan dan Topeng Darah bikinan Ugo, terasa paling vulgar. Istri saya sampai mengernyit ketika dibacakan satu dua kalimat. Sementara Eka, terasa seperti dengan sengaja menempatkan klimaks di akhir cerita. Dan itu seru. []

Monday, June 11, 2018

Lima


Beberapa waktu lalu, Lola Amaria diwawancara di Eagle Awards selama sekitar satu jam. Ia berkisah berbagai hal. Dari tentang visinya berkesenian melalui film, hingga mengutarakan mimpinya berkolaborasi dengan Salahuddin Siregar, seorang sineas dokumenter. Saat ini, hasil kolaborasi itu sudah bisa disaksikan melalui film LIMA.

Film LIMA berkisah tentang drama kehidupan sebuah keluarga di Kota Bandung yang mencerminkan implementasi Pancasila, dasar negara Republik Indonesia. Pengulas film di akun Twitter @djaycoholyc, menganalisa kaitan antarkisah dalam film LIMA, berdasarkan desain poster film:
Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa Lambangnya adalah Bintang. Di #FilmLima dipasang adalah foto Maryam, Ibu dari Fara, Aryo dan Adi. Beliau dipasang di tengah-tengah sebagai core dari film ini. Sama seperti lambang Pancasila. Sila pertama berkaitan erat dengan agama.
Sila-2: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Gambar Rantai diwakili Bi Ijah, pembantu paling loyal di keluarga Maryam. Dan bi Ijah benar-benar dimanusiakan oleh keluarga ini meski statusnya sebagai pembantu
Sila-3: Persatuan Indonesia Pohon Beringin digambarkan oleh Adi, bontot yang mampu memeprsatukan keluarga dengan cara dia yang kadang tak biasa.
Sila-4: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan Ada Fara di situ, Fara itu jago dalam berdebat untuk mendapatkan hasil ideal sesuai kemampuan bukan karena titipan.
Sila-5: Keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia Aryo ada di sila ini. Bersikap adil sebagai anak tengah, tidak memihak namun tetap memegang teguh prinsip dia.
Waktu itu saya menonton film LIMA di bioskop Ciwalk. Dalam penayangan jam 21:20 itu, seisi studio cuma ada tiga orang, termasuk saya. Satu orang ternyata nggak datang, karena pas beli tiket saya bisa lihat ada 3 titik berwarna merah di bangku penonton. Menurut akun instagram @film_indonesia, sampai tanggal 10 Juni, LIMA ditonton 78 ribu lebih orang.

Sekadar memberi gambaran, saya coba bandingkan jumlah penonton LIMA dan Dilan 1990. Jika dibandingkan dengan film Dilan 1990—yang menyandang predikat film terbanyak ditonton di tahun 2018—raihan penonton film LIMA sangat sedikit. Dilan yang sudah disaksikan 6 juta lebih orang, di hari ke-10 penayangannya sudah ditonton 3 juta orang. Padahal, film LIMA cukup seru dan penting—bukan berarti Dilan tidak. Selain karena misinya dalam menggambarkan penerapan pancasila tanpa terkesan berceramah, LIMA juga menurut saya cukup artistik.

Alur kisahnya pun tetap berdasar ke kejadian nyata. Ketika nonton film Bulan di Atas Kuburan (2015), saya sangsi dengan realita tentang sopir taksi bernama Sabar yang diperankan Tio Pakusadewo, dibakar massa karena kecelakaan lalu lintas. Siapa sangka, dua tahun setelahnya seorang pria di Bekasi dibakar karena dituduh mencuri. Realita ini pula yang melatari salah satu fragmen kisah Adi di film LIMA.

Meski begitu, perihal kesesuaian dengan realita ini juga dikritisi Leila S. Chudori dalam majalah Tempo edisi 17 Juni 2018. Menurutnya:
“Persoalan tingkah laku anak-anak pembantu juga terselesaikan dengan happy ending yang hampir muskil mengingat berkali-kali rakyat kecil divonis hukuman berat untuk kesalahan yang kecil.” []

Monday, May 7, 2018

Rumah, Musim Hujan, Kejawen

Semalam saya baru nonton film Rumah dan Musim Hujan. Film ini sempat tayang di bioskop awal tahun 2018 dengan judul Hoax. Judul internasionalnya One Day When The Rain Falls, karena memang berkisah tentang suatu malam di bulan ramadhan, ketika hujan turun mengiringi kisah sebuah keluarga.

Film ini dibuka dengan santap buka puasa yang dihadiri seorang ayah dan anak-anaknya. Kisah kemudian bercabang setelah ketika anak sang bapak yang masing-masing diperankan Tora Sudiro (Raga) dan Tara Basro (Ade), pamit ke rumahnya masing-masing. Vino G. Bastian yang memerankan Ragil, kemudian tinggal di rumah bersama bapaknya yang dimainkan Landung Simatupang. Sutradara Ifa Isfansyah, menampilkan Rumah dan Musim Hujan dalam balutan horror dan drama.

Kisah intinya, tentang kepercayaan penganut kejawen, bahwa seseorang lahir bersama tiga saudara lainnya: plasenta, air ketuban, dan ari-ari. Ketiga saudara kembar itu raganya mati, tapi jiwanya ada dan selalu menemani seorang bayi hingga ia tumbuh dan menjalani hidup, bahkan kadang hadir ketika wetonnya tiba, alias si orang itu berulang tahun menurut penanggalan tradisi jawa. Kepercayaan ini digambarkan dengan mendebarkan ketika Ade terlibat teka-teki sosok asli sang ibu (Jajang C. Noer). Sementara itu, dialog yang saling sulam juga mengalir saling melengkapi informasi dari tiga subkisah.

Konsep kelahiran bersama tiga kembar tadi dikisahkan Raga ketika pulang bersama pacar barunya, Sukma (Aulia Sarah). Raga dan Sukma lalu terlibat patgulipat perebutan perhatian dengan mantan pacar Raga: Sari. Bagian ini, bernuansa lebih ringan dan jenaka. Gong besar penanda klimaks film ini, ada di akhir kisah. Ragil yang ternyata menyembunyikan sebuah rahasia, memperlihatkan makna di balik penyesalan sang ayah yang mengaku salah memberi nama.

Saya sebenarnya baru sadar setelah tanya ke istri saya yang keturunan Jawa. Nama ragil artinya bungsu, padahal Ragil masih punya adik bungsu perempuan. Jika dikaitkan dengan rahasia yang disembunyikan Ragil, penyesalan sang ayah ternyata beralasan. Namun, pada akhirnya semua tampak baik-baik saja. Sahur tiba, Ragil menyiapkan empat piring di meja makan. []

Tuesday, March 20, 2018

Turah dan Neorealismo

Sinopsis

Tepat ketika saya masuk ke ruang auditorium, layar di latar panggung menampilkan sesosok bayi muncul mengambang. Badannya pucat. Seorang pria menyaksikan tubuh tak bernyawa itu dari daratan. Dialah Turah, warga kampung Tirang di Tegal Jawa Tengah, yang kemudian langsung menguburkan jabang bayi. Polisi lalu datang mendalami kasus mayat bayi, lengkap dengan rombongan wartawan. Para awak media itu lalu mewawancarai warga Tirang lain yang selalu tampil telanjang dada.

Jadag namanya. Kata Jadag kepada pewarta, kejadian itu biasa saja. Turah dan Jadag dikisahkan tinggal di kampung yang terbiasa dengan berbagai keterbatasan. Rumah kumuh, kesulitan air bersih, krisis listrik, produktivitas rendah, hingga kematian. Meski begitu, ada satu kondisi yang coba didobrak Jadag si tukang mabuk-mabukan. Dia merasa hidupnya dan warga Tirang diperalat tuan tanah bernama Darso. Jadag pun berusaha mengobarkan revolusi.

Diskusi

Film Turah yang kemarin saya tonton, sebenarnya bukan diawali adegan mayat bayi mengambang. Saya telat datang sekitar 20 menit, dan adegan itulah yang pertama kali ditonton. Selama sekitar satu jam kemudian, karya produksi Four Colours Films itu pun tamat. Sesi diskusi kemudian dimulai. Datang langsung ke ruang auditorium IFI Bandung, sutradara sekaligus penulis skenario film Turah, Wicaksono Wisnu Legowo. Moderator lalu mengenalkan bahwa film Turah menarik ditonton karena mewakili Indonesia jadi salah satu film peserta kategori Film Berbahasa Asing terbaik di Academy Awards atau Piala Oscar tahun 2018. Selain di ajang prestisius itu, film Turah juga meraih penghargaan di Singapore Internationl Film Festival 2016, hingga Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016.

Tanpa banyak prolog, tanya jawab dimulai. Wisnu menjawab dan menanggapi satu per satu komentar penonton yang hadir ke acara besutan komunitas Layar Kita itu. Beberapa penonton tertarik dengan hal-hal teknis di balik pembuatan film. Naskah film Turah sebenarnya beres ditulis tahun 2014, berdasarkan film pendek yang dibuat Wisnu tahun 2009. Tahun 2016, kisah itu baru dieksekusi jadi film utuh. Lama pengerjaannya sekitar 9 bulan, termasuk 9 hari waktu pengambilan gambar. Lokasi syutingnya betul-betul diambil di Kampung Tirang dalam kondisi yang otentik. Diakui Wisnu, tokoh semacam Jadag, Turah, Pakel dan Darso juga ada di kehidupan nyata. Sosok mereka lalu dihidupkan para aktor yang memang sehari-hari bicara dalam bahasa Jawa Ngapak khas Tegal—bahasa itu pula yang dibawakan sepanjang film, kecuali ketika Jadag diwawancara wartawan soal mayat bayi.

Kisah dalam film yang didasari realita itulah yang kemudian menjadikan Turah disebut-sebut sebagai penanda perkembangan film neorealismo dari Indonesia. Menurut Wikipedia, neorealismo yang aslinya dari bahasa italia bermakna: a national film movement characterized by stories set amongst the poor and the working class, filmed on location, frequently using non-professional actors. Italian neorealism films mostly contend with the difficult economic and moral conditions of post-World War II Italy, representing changes in the Italian psyche and conditions of everyday life, including poverty, oppression, injustice, and desperation.

Film Turah, secara garis besar memang mengandung banyak kata kunci di definisi tadi, sama seperti film Siti dan film Ziarah. Ketiganya kemudian disebut-sebut sebagai pioneer neorealismo Indonesia. Menurut praktisi film senior Ronny P. Tjandra yang hadir di sana, keikutsertaan Turah di perlombaan internasional—yang jadi indikator kualitas film ini—tidak dibarengi dengan penghargaan di ajang perfilman dalam negeri. Turah tidak masuk ke dalam satu pun kategori penghargaan di Festival Film Indonesia. Baik sebagai nominator, apalagi jadi pemenang. Kata Ronny, “pasti ada yang salah di salah satu di antara dua itu—Oscar dan FFI”. Diskusi tentang film Turah, sebenarnya berlangsung lama. Dan bahasannya pun mendalam, sampe ada analisa tentang penggambaran emansipasi perempuan di sosok istri Turah. Saya nggak ngikutin sampai akhir. Windi udah minta dibeliin es teh dari BEC. []

Monday, November 20, 2017

Fenimisme Dalam Marlina

Saya selalu menyesal setelah nonton film yang resensinya sudah saya baca. Ada sensasi kaget yang kurang mengejutkan karena si resensi bocorkan beberapa alur kisah, meskipun bocoran itu penting juga buat meyakinkan saya untuk memutuskan nonton sebuah film atau nggak. Dalam hal menyaksikan film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak, sebaiknya sebelum nonton saya cukup tau bahwa ini film garapan Mouly Surya dan juara di sejumlah kompetisi film internasional. Itu aja sebenarnya udah menarik. Sama satu lagi: film ini bicara tentang feminisme. Pesan tentang perjuangan perempuan melawan dominasi laki-laki, pertama tampak di nama Marlina. Sutradara Mouly Surya mengaku terinspirasi dari seorang guru berdisko di ruang guru di luar jam pelajaran, yang videonya kemudian viral. Ketika wartawan mengkalrifikasi, sang guru mengaku yang dilakukannya bukan kesalahan. Dan guru itu bernama: Marlina. Barangkali kisah itulah yang melahirkan adegan ketika Novi menawarkan agar Marlina ke gereja dan melakukan pengakuan dosa. Marlina tentu saja menolak, karena dia merasa tidak berdosa. Marlina tidak berdosa. Dia cuma membela diri dari tujuh lelaki yang memburunya, atau tepatnya mengeksploitasi keperempuanan Marlina: memperkosa dan merampas semua tabungan ternaknya. Marlina ternyata bisa membela diri dan menuntut keadilan. Perjalanan tentang pelaporan ke kantor polisi itulah yang jadi kisah dominan di film ini. Adegan pertama tentang Marlina yang didatangi gerombolan Markus, mengingatkan saya ke pemaparan ini. Intinya, menurut opini di link tadi, yang dilakukan para laki-laki sebenarnya bukan karena faktor moral atau didikan, tapi memang system kehidupan yang dominan bergaya patriarki. Lalu kisah Marlina menggambarkan tentang upaya tokoh utama menggedor dominasi itu. Dia berusaha setara dengan pria. Tapi usahanya sayangnya nggak berhasil. Dia (dan Novi si ibu hamil) harus terjebak ke dalam lingkar labirin yang sama: nurut ketika diminta laki-laki, diintimidasi, berontak dan menyelamatkan diri, lalu memperjuangkan keadilan. Apakah di dunia nonfiksi kondisi perjuangan kesetaraan gender seperti demikian? []

Wednesday, October 18, 2017

Makin Paranoid

Saya sekeluarga baru pindah dari tempat tinggal lama. Sebenarnya kamar itu nyaman. Desainnya minimalis, fasilitasnya cukup lengkap pula. Sayang, rumah di lokasi strategis itu dijual. Pemilik baru nggak lagi mengontrakkan kamar yang pernah kami tempati. Beberapa lama kemudian, saya berpikir tentang untung juga pindah dari sana. Bagus sih bagus, tapi ada suasana aneh. Saya dan Windi pernah melihat kursi Aksara goyang sendiri. Di malam hari, kursi yang sama bergetar. “Tadi kesenggol,” saya menghibur istri. Tapi anak selugu apa pun rasanya akan sulit menerima penjelasan bahwa tombol ON si kursi cuma butuh kesenggol biar nyala. Nggak lama setelah itu, film Pengabdi Setan dirilis. Waktu itu saya mengincar nonton di penayangan perdana. Teman lama sudah diajak dan janjian buat nonton di bioskop 4DX. Biar sensasinya maksimal. Rencana itu lalu batal, dan berpindah ke hari lain dengan jenis ruang bioskop yang biasa aja. Sesuai dugaan, Pengabdi Setan versi baru ini ternyata setraumatik versi aslinya. Dulu waktu seusia SMP, saya pernah nonton film Pengabdi Setan dan sampai sekarang ada tiga adegan yang kebayang terus:
  1. Si tokoh utama menemukan pocong di kamarnya. Begitu muka si pocong keliatan, ternyata itu dia sendiri.
  2. Kecelakaan motor menabrak truk sampai pengemudinya masuk ke bak truk itu.
  3. Pintu kebuka sendiri, piano bunyi sendiri, tuts pianonya ada yang mencet tapi pemain musiknya gak keliatan.
Akibatnya, waktu itu saya takut tidur di kamar sendiri karena ruangan tempat tokoh Tomi ketemu pocong bermuka dirinya sendiri, mirip suasana kamar saya. Setelah nonton Pengabdi Setan versi Joko Anwar, efek sampingnya lebih ke kebayang-bayang sosok ibu. Ayu Laksmi sukses menampilkan ibu yang menakutkan. Saya aja nonton sampe siapin jari tangan di posisi mata sama telinga biar gak terlalu parah efeknya. Jempol di samping kepala, empat jari lain di pipi. Selain soal keseraman suasananya, Pengabdi Setan juga menampilkan gaya perfilman ala Joko Anwar. Film dia, selalu bikin kepikiran kok bisa keren gitu ya twist-nya. Modus Anomali misalnya. Sebenarnya kan itu kisah sederhana tentang orang yang hobi membunuh dan menakuti diri sendiri. Gaya penyampaiannya yang bikin kita mikir itu yang seru. Pintu Terlarang juga begitu. Ternyata semuanya ada di dunia yang ada dalam kepala tokoh Gambir. Dalam hal Pengabdi Setan, naik turun emosi tentang terror hantu tampil intens. Ada bumbu komedinya juga. Selain itu, tiap film ada keterkaitannya. Coba simak bagian akhir ulasan ini. Sebenarnya, untuk yang baru punya pengalaman misterius semacam saya, film ini kurang tepat. Karena bikin makin paranoid. Apalagi, di tempat tinggal saya yang baru, tiap sekitar magrib suka ada suara mirip kereta kuda kayak lewat di sebelah ruangan. Singkat dan samar-samar sih, tapi tetap jelas terdengar. Padahal itu di lantai 5. Mungkin suara mesin yang rutin bunyi. Semacam alarm. Begitu sih cara saya menghibur diri. []

Tuesday, May 30, 2017

Kedekatan Cek Toko Sebelah

Akhirnya, film yang paling kami tunggu-tunggu sepanjang 2016, tayang juga. Waktu nonton Ngenest kami puas sih. Jadi ketika Ernest Prakasa mau bikin Cek Toko Sebelah, kami ga sabar nonton. Dan memang seru. Film dimulai dengan perkenalan toko dan para tokoh di sekitarnya. Ada Afuk sang juragan toko sembako—diperankan secara apik oleh aktor Malaysia Chew Kin Wah. Dia punya anak bungsu namanya Erwin (Ernest Prakasa), seorang karyawan perusahaan multinasional dengan karir bagus. Anak sulungnya Yohan (Dion Wiyoko). Dia beda sama adiknya karena alasan yang akan kita tahu di sepanjang film. Ketika Yohan pinjam uang ayahnya dan berjanji mengembalikan, kata Afuk “ga usah janji kalau gak yakin bisa nepatin.”

Bagi saya, ini bukan adegan asing. Di dalam blognya, Ernest pernah berkisah tentang dia waktu masih kecil. Kala itu, ia pernah rewel dan dijanjikan ibunya akan dibelikan sesuatu kalau Ernest kecil berhenti merengek. Ernest menurut, tapi hadiah yang dijanjikan nggak dikasih. Di situlah ayahnya menegur sang ibu. Saya masih ingat kata-katanya: “setiap perkataan adalah janji.” Dialog di atas, saya yakin cara Ernest membumikan momen penting itu. Nilai-nilai kekeluargaan memang kental terlihat di film berdurasi hampir dua jam itu.

Di akhir film, Ernest bahkan berfoto bareng dan mencantumkan kredit khusus bagi kedua orang tuanya. Tema ini membuat Cek Toko Sebelah dekat dengan semua orang. Siapa sih yang nggak punya kedekatan dengan ibu. Apalagi ketika dia udah nggak ada. Jadinya, momen ini paling menyentuh. Terus, siap-siaplah buat emosi kita dikocok. Dari momen sedih adegan lucu langsung dateng. Dan sekali lagi, itu juga dekat dengan kita. Dengan kami sih khususnya. Haha. Misalnya adegan ini. Suatu ketika, Ayu—istri Yohan yang diperankan brilian oleh Adinia Wirasti—bikin kue nastar. Ternyata kuenya pedes. Adegan ini baru saya alami. Ceritanya Windi bikinin pisang goreng. Ternyata pisang gorengnya pedas. Saya juga heran saat itu kenapa pedas, dan gak protes. Haha. Baru saat nonton itu saya tanya ke Windi. Ketauanlah bahwa ternyata bumbu bala-bala yang sebelumnya dia masak, kecampur. Pantesan. Haha.

Yang juga kami nikmati dari film ini, dialognya. Semuanya terasa natural. Mereka seperti (atau nampaknya memang) menjadi diri mereka sendiri. Coba simak pembicaraan ketika Yohan dan teman-temannya lagi main kartu. Pembicaraan di atas meja ini mengalir lembut. Tanpa bermaksud mendikte penonton, dialognya berhasil mengungkap informasi bahwa Yohan DO dari universitasnya. Dia juga pernah “magang” di penjara. Kalau kata istilah mata pelajaran Bahasa Indonesia-nya mah, koherensi antar kalimatnya bagus. Dan bagi orang yang ngerti etika penyusunan gambar, koherensi antar gambar juga bagus. Di sini peran Cesa David Luckmansyah sang video editor perlu diapresiasi, meski ada satu sekuen yang menurut saya bisa lebih smooth (peralihan dari kisah perkenalan Afuk dengan tablet PC). Tapi toh itu pilihan kreatornya. No problemo.

Terakhir, saya membaca Cek Toko Sebelah ini sarat simbol. Sindiran lah. Misalnya tentang toko sembako menolak menjual lahan. Atau becerminlah di cerita kawanan main kartu Yohan yang memasang nukilan ayat suci dan berdoa sebelum berjudi. Ketika kita tertawa, sebenarnya kita menertawai diri sendiri. Sadar atau tidak. Tapi toh kata Charlie Chaplin, hidup itu memang komedi kok, andai kita melihat sebuah fenomena dalam pandangan menyeluruh. Tapi hidup juga tragedi, jika kita melihatnya dalam tatapan close up. Ah sudahlah, saya mulai sok serius. []

* Sebenarnya tulisan ini pertama kali dipublikasikan di sini tahun lalu

Tuesday, March 7, 2017

Mengenang Kelahiran Via Bukaan 8

Akhirnya saat ini tiba juga. Saya menghadapi tantangan yang saya buat sendiri: merasakan seberapa kangen sama anak-istri yang enggak tinggal bareng. Sebulan terakhir kami memang terpisah. Saya di Bandung, Windi dan Aksara—yang baru lahir—di Bogor. Tiap pagi, Windi selalu kirimi saya foto atau kadang video kondisi teraktual anak kami. Hampir tiap jam, kami juga berkirim pesan. Sekedar tanya “lagi apa?”. Hingga pada suatu ketika, tayanglah film Bukaan 8. Saya akan mengenang momen-momen kelahiran Aksara melalui film ini. Bukaan 8 adalah kisah tentang seorang keluarga muda yang ada di tahap krusial mereka: kelahiran anak pertama. Sang suami bernama Alam yang diperankan Chicco Jericho berpasangan dengan Mia, sosok yang dimainkan Lala Karmela. Intinya, film ini berkisah tentang lika-liku proses kelahiran anak pertama dengan sapuan warna karakter Alam yang slengean, dan keluarga Mia yang riweuh. Pilinan kisah di film garapan Angga Sasongko ini diperkeruh dengan macam-macam masalah yang mungkin dihadapi seorang pendengung, buzzer di Twitter. Maka, film ini sekaligus juga berkisah tentang gambaran sebuah profesi yang belum tentu bisa dialami banyak orang. Menarik. Yang menarik dari Bukaan 8, pertama visualisasinya. Di dalam film berdurasi sekitar dua jam ini, tidak sedikit percakapan media social dimunculkan. Dan percakapan itu berhasil ditampilkan dengan menarik. Saya suka bagian ini. Kedua, musiknya. Komposisi kru yang menggarap film ini, kurang lebih sama dengan tim yang mencipta Filosofi Kopi. Sapuan musik pengiring suasana yang digubah Mc Anderson terasa pas. Ada ketukan kick drum dan snare ketika suasana rusuh. Ada lirih melodi ambient ketika drama memuncak. Rasanya pas saja. Pemilihan lagu Payung Teduh yang sebenarnya musik produksi lama yang diolah ulang juga oke-oke saja. Oiya, lagu FSTVLT di awal film juga pas dengan aktivitas netizen di belantara Jakarta:
“hits namun kitsch hujan blitz padahal gulita naik naik ke puncak gunung kasta mati lelah karena terlalu berusaha”
Terakhir, saya tersentak dengan sebuah dialog. Ketika Alam dan seorang mandor ngobrol sambil ngopi. “Anaknya laki-laki atau perempuan?” Tanya sang mandor yang lalu dijawab ketidaktahuan. “Pasti dia bangga karena ayahnya ada pas dia lahir.” Tutupnya. Pernyataan itu rentan mengundang debat, tapi membuat saya bersyukur. Saya beruntung bisa hadir ketika Aksara datang ke dunia. Padahal saat itu handphone koordinasi biro Bandung tetap dibawa. Saya juga harus bersyukur, karena bisa maksain nonton, meskipun kepotong-potong karena harus bolak-balik keluar bioskop buat ngangkat telepon buat koordinasi. Saran saya, segeralah kamu—ayah-ibu baru dan calon orang tua baru terutama—nonton juga. Jumlah layarnya udah makin sedikit. []