Showing posts with label marx. Show all posts
Showing posts with label marx. Show all posts

Saturday, May 23, 2020

Kapitalisme

Bagaimana kapitalisme bekerja? Film The Platform menjelaskan. Tentu saja secara simbolik (dan belum tentu benar). Judul aslinya El Hoyo. Mari, kita baca kira-kira apa maksud beberapa adegannya. Jangan lupa, dalam tulisan ini akan ada banyak spoiler.

The Platform bercerita tentang sebuah penjara dengan desain vertikal. Jumlah tingkatnya sampai angka 300. Setiap hari, tiap sel yang dihuni dua orang akan mendapat kiriman makanan. Meja makanan itu bergerak tegak lurus juga. Dan tiap tahanan akan menerima makanan sisa penghuni di atasnya.

Beruntunglah mereka yang secara acak menempati lantai atas. Sebaliknya, sial banget kalau mereka bangun di lantai buncit. Tokoh utama kita, namanya Goreng. Sepanjang film, dia merasakan hidup di papan tengah, papan bawah, hingga papan atas.

Ketika menempati bagian tengah, Goreng berpasangan dengan seorang tahanan senior—yang dalam dua kali pemindahan lagi, akan bebas. Di bulan berikutnya, mereka pindah ke lantai bawah. Satu-satunya cara bertahan di bagian itu: jadi kanibal.

Kapitalisme bermakna, pengaturan masyarakat berdasarkan kepemilikan modal. Dalam film The Platform, tiap napi berhak memiliki satu barang yang mereka pilih untuk dibawa sebelum memasuki penjara. Goreng, bawa buku. Sementara teman sekamarnya bermodal pisau. Tebak siapa yang selamat di lantai 200an? Ternyata, Goreng.

Dia diselamatkan Miharu, seorang perempuan yang menjelajah tiap lantai demi mencari anaknya. Dalam kesempatan lain, Goreng berpasangan dengan tahanan lain yang selama 25 tahun bekerja untuk “administrator”, pengurus penjara vertikal. Namanya Imoguiri.

Imoguiri berkisah bahwa Miharu tidak mungkin punya anak—karena seseorang berusia di bawah 16 tahun dilarang menghuni penjara itu. Sebelum masuk ke El Hoyo, Miharu terobsesi jadi model. Goreng sendiri, masuk penjara (atau skema kapitalisme) demi mendapat “acredited diploma”.

Imoguiri ibarat pihak yang berwenang mengatur kapitalisme. Dalam hal ini negara—meskipun varian lain kapitalisme sebenarnya ingin mengenyahkan campur tangan negara terhadap pasar. Negara hanya tahu bahwa, tidak mungkin ada penderitaan semenyiksa Miharu: selain harus bertahan hidup, juga perlu mencari anaknya.

Nyatanya, kaum marjinal semacam Miharu memang ada. Mereka yang harus tinggal di gerobak. Miharu ada di dalam orang yang harus bertahan di kota, meskipun modal hidup mereka habis—karena dampak pandemi corona baru misalnya.

Para administrator atau koki mungkin merasa sistem kapitalisme atau penjara vertikal memang sistem terbaik. Buktinya, tiap kali meja kembali ke atas, makanan habis. Serupa halnya dengan keyakinan bahwa kapitalisme sukses menurunkan kemiskinan absolut. Padahal bukan berarti tidak ada yang dikorbankan.

Imoguiri kemudian menggagas solidaritas antar napi. Dia minta agar tahanan di bawah makan secukupnya, sesuai porsi yang sudah dia siapkan. Nggak ada yang nurut. Sampai Goreng mengancam akan mengotori makanan dari atas. Hasilnya manjur, tapi cuma mempan di satu tingkat di bawah Goreng dan Imoguiri.

Kisah berlanjut. Goreng kemudian berbagi ruang dengan Baharat. Mereka membentuk metafora pemerintah yang kita kenal dengan nama komunisme—sebenarnya lebih tepat disebut Marxisme-Leninisme.

Goreng dan Baharat naik meja, ikut turun ke tiap lantai. Barang siapa yang makan berlebihan atau menolak puasa demi menyisihkan makanan untuk lantai bawah, dihajar tongkat besi. Nyatanya, begitulah pemerintahan Uni Soviet bekerja.

Dalam buku Dari Mao ke Marcuse, Franz Magnis-Suseno mencatat jumlah kematian akibat pemerintahan komunis mencapai 60 juta jiwa, selama 74 tahun. Pemerintahan totaliter semacam itu berdalih bahwa mereka akan membagi sumber daya secara adil ke semua warga. Padahal bohong.

Goreng dan Baharat sampai di lantai dasar. Ada satu menu yang mereka sisihkan untuk dikirim balik ke dapur di lantai 0 agar dibaca sebagai sebuah pesan: bahwa ada yang tidak beres karena “tumben makanan nyisa”.

Ternyata, di sana mereka menemukan anak Miharu. Goreng dan Baharat pun sadar bahwa sebenarnya, anak Miharu itulah si pesan utama. Mereka berharap administrator akan sadar bahwa kapitalisme semacam yang mereka jalani tidak demikian sempurna. Meskipun dalam sebuah dialog, Imoguiri pernah berujar:
“The administration has no conscious.” []

Saturday, May 2, 2020

Marx, Newton, Darwin


Dalam salah satu bukunya, filsuf Franz Magnis-Suseno menulis pendapat Friedrich Engels bahwa ada tiga orang yang mendasari pengetahuan manusia tentang alam raya dan dirinya sendiri: Karl Marx, Isaac Newton, dan Charles Darwin.

Marx
“Menurut Engels, seperti Newton menemukan hukum fisika yang mendasari segala gerak dan perkembangan di alam raya, dan seperti Darwin yang menemukan hukum perkembangan segala jenis organisme, Marx menemukan hukum yang terwujud dalam sejarah perkembangan umat manusia.” (Dari Mao ke Marcuse, 2013:18)
Nama Marx dibahas terakhir karena buku yang memuat sitasi itu, memang berisi kritik atas pemikiran Marx. Dalam bagian kata pengantar buku Pemikiran Karl Marx (1993) yang juga ditulis Franz Magnis-Suseno, ia mengakui “tanpa pemikiran Karl Marx, abad ke-20 akan berlangsung sangat berbeda”. Meski begitu, dalam buku yang sama, Romo Magnis menulis kalimat penutup yang merangkum seluruh uraian 270 halaman yang ia tulis:
“Jadi, meskipun banyak dari teori Karl Marx sekarang hanya menarik perhatian secara historis dan tidak lagi secara sistematis, cita-cita emansipasi dan kritik terhadap eksploitasi manusia oleh manusia tampak tetap aktual.” (Pemikiran Karl Marx, 1993: 270)
Irelevansi pemikiran Karl Marx, juga didukung dalam sebuah nukilan kalimat yang ditulis filsuf—yang disebut-sebut paling berpengaruh (atau populer?) di abad ke-21—Yuval Noah Harari dalam bukunya Homo Deus:
“Seandainya Marx hidup lagi hari ini, dia mungkin akan mendesak segelintir muridnya yang masih tersisa untuk mengurangi waktu untuk membaca Das Kapital dan mencurahkan waktu lebih banyak untuk mempelajari Internet dan gen manusia.” (Homo Deus, 2015: 315)
Pada kenyataannya ada juga yang menilai ide sosialisme yang—salah satunya—disuarakan Marx masih tetap penting. Sebuah anekdot berbunyi:
“Jika ketika muda kamu bukan marxis, maka kamu tidak punya hati. Tapi ketika dewasa kamu bukan seorang kapitalis, kamu tidak punya otak.”
Newton

Demikianlah ide dan pemikiran bergulat untuk mengakali atau menjelaskan realita. Pemikiran Marx bukan satu-satunya yang diperdebatkan. Hukum fisika Newton pun pada perjalanannya dalam dimensi waktu, mengalami aktualisasi. Gagasan Newton kini dikenal dengan konsep fisika klasik. Sementara fenomena fisika yang tidak bisa dijelaskan oleh buah pemikiran Newton, bisa dimengerti dengan konsep lain. Misalnya fisika kuantum.

Darwin

Begitu juga dengan teori evolusi yang ditulis Charles Darwin dalam bukunya On The Origin of Species. Saya belum pernah baca bukunya. Meski begitu, baru-baru ini saya nonton film dokumenter produksi HBO berjudul Questioning Darwin.

Film berdurasi hampir satu jam ini, menghadapkan ilmuwan dengan agamawan. Para pemuka gereja dan penganut kristiani yang diwawancara, percaya dengan konsep kreasionisme. Bahwa Tuhan menciptakan makhluk hidup dalam enam hari. Sementara, teori evolusi menyatakan bahwa makhluk hidup berevolusi dalam rentang waktu panjang. Dari satu sel, membelah diri, memperbanyak jumlah, hingga bervariasi menjadi keanekaragaman hayati.

Perdebatan tentang penciptaan itu sebenarnya disajikan membosankan. Terlalu banyak orang bicara. Ilustrasi perjalanan Darwin ke pulau Galapagos memang ada meski tidak banyak. Foto dan kunjungan ke rumah yang pernah ditempati keluarga Darwin juga ditampilkan. Di sanalah ia berkeluarga dengan sepupunya hingga memiliki 10 anak—tiga diantaranya meninggal semasa kecil.

Seorang narasumber berkisah tentang keajaiban yang dirinya alami ketika mengalami kondisi sakit. Doa dan pengobatannya berbuah kesembuhan. Dia lalu mengajak, “I would love to encourage Mr. Darwin and other who feels just like him to try God.”

Penderitaan serupa sebenarnya pernah dialami keluarga Darwin. Putri kesayangannya, Annie Darwin, meninggal di usia 10 tahun karena penyakit TBC. Sejumlah sejarawan mencatat momen itu justru menjadi titik balik kepercayaan Darwin atas Tuhan—meski ada pula yang menyebut bahwa proses kehilangan iman itu gradual dan kompleks.

Di Indonesia, perdebatan serupa pernah terjadi. Seorang edukator biologi, Prasdianto, menulis surat sanggahan setelah seseorang menulis opini tentang pendidikan biologi dan evolusi. Yang membuat dia kesal, tulisan itu tendensius, miskin data dan dimuat di majalah PC Media—majalah komputer. Intinya, Pras menyerang balik tuduhan bahwa “guru biologi memaksakan teori evolusi”, “biolog tidak membaca buku Darwin”, hingga “manusia adalah keturunan monyet”. Tulisan selengkapnya bisa dibaca di tautan ini.

Film Questioning Darwin juga merekam momen ketika ia bersurat dengan seseorang tentang perbedaan morfologi hewan di Galapagos dibanding pulau besar Amerika Selatan. Sejarah mencatat, ia berkorespondensi dengan naturalis lain yang meneliti fenomena serupa di kepulauan nusantara—yang kini jadi wilayah Indonesia. 

Namanya Alfred Russel Wallace. Wallace sendiri—yang saat itu tinggal di Ternate—dikenal dengan garis imajiner yang membatasi dua daratan besar di masa lalu. Teorinya tentang garis Wallace menjelaskan tentang perbedaan jenis hewan di daerah timur Indonesia dan bagian barat.

Terlepas dari pertanyaan tentang peran Wallace dalam teori evolusi dan kepercayaan Darwin atas Tuhan, yang pasti evolusi jadi salah satu cara bagi manusia memahami alam. Teori evolusi—seperti yang ditulis Prasdianto—membuat manusia (harusnya) meruntuhkan keangkuhan dalam mengeksploitasi makhluk lain:
“Jika Copernicus dan Galileo menihilkan bumi sebagai pusat alam semesta, maka Darwin menihilkan manusia sebagai ciptaan spesial.” []