Showing posts with label nirvana. Show all posts
Showing posts with label nirvana. Show all posts

Friday, May 1, 2020

Dekade Pearl Jam


Sekitar satu dekade lalu, saya cukup banyak menghabiskan waktu di perpustakaan LSI IPB. Selain tuntutan menulis skripsi, perpustakaan jadi tempat enak buat akses bacaan menarik. Salah satunya, majalah TEMPO. Dalam suatu edisi, ada ulasan tentang film PJ20. Film dokumenter ini menceritakan perjalanan karir band Pearl Jam selama 20 tahun. Film ini, baru tahun 2020 ini saya tonton.

PJ20
Pearl Jam 20 diceritakan dari sudut pandang Cameron Crowe—wartawan Rolling Stone yang keseruan profesinya ia gambarkan di film Almost Famous. Ia terkesima dengan sensasi musikal di daerah Seattle AS. Salah satu yang menarik perhatiannya, band bernama Mother Love Bone. Sang vokalis Andrew Wood, dikenal sebagai seorang frontman yang kharismatik. Sayangnya, ia meninggal karena overdosis heroin. Tiga anggota band ini kemudian membentuk band baru: Pearl Jam.

Wawancara dalam PJ20 tampil kasual. Ada momen ketika vokalis Eddie Vedder kaget disodori kaset berisi rekaman demo pertamanya. Dia juga sempat memamerkan dinding berisi koleksi foto keluarganya—ayah Eddie ternyata juga pemusik
.
Dalam sesi lain, gitaris Stone Gossard mengajak kita masuk ke sebuah ruangan. Barang di sana terkesan ditata berantakan. Dan di sanalah ia menyimpan piala Grammy. Kisah pun bergulir ke berbagai pencapaian band yang ia bentuk selepas Mother Love Bone.

Bagi saya yang menggemari lagu Daughter, momen paling menarik tampak ketika diperlihatkan kisah di balik layar pembuatan track ketiga dari album kedua Pearl Jam berjudul Vs. (1993) itu. Lagu lain juga ditampilkan tematik. Rekaman live Pearl Jam membawakan “Not For You”—lagu yang menurut Vedder berkisah tentang eksploitasi pemuda—ditayangkan setelah ulasan konflik band itu dengan Ticketmaster.

Pearl Jam pernah terlibat seteru dengan perusahaan pengelola panggung Ticketmaster soal (salah satunya) ketidaksepakatan penerapan harga tiket. Pihak Ticketmaster ingin menarik biaya jasa dari sebuah konser gratis di hari buruh 1 Mei 1992. Mereka lalu pecah kongsi. Setelahnya, Pearl Jam jadi band “indie” ketika menggelar konser.

Selain soal cerita-cerita di atas, PJ20 juga berisi momen kedekatan band ini dengan Nirvana (dan Kurt Cobain). Di hari ketika Kurt tewas akibat bunuh diri pun, Eddie menyampaikan salutasi dari atas panggung.

Lingkungan
Katanya, musik yang kita suka di masa remaja akan kita suka selamanya. Meski sekitar 10 tahun sudah lewat dari masa jayanya, saya ternyata kepincut musik Grunge, termasuk Pearl Jam. Ketika album Riot Act dirilis tahun 2002, lagu I Am Mine dari dalamnya sering saya putar ulang. Waktu itu, saking belum ngerti bahasa inggris, saya sempat bingung ketika melihat kamus dan membaca bahwa “mine” berarti “tambang (minyak/ batu bara)”. Maka I Am Mine berarti Aku Adalah Tambang. Haha.

Itu waktu saya SMP. Beberapa tahun berselang—jelang lulus kuliah—saya masih iseng aktif di kegiatan kemahasiswaan. Kebetulan, aktivitas saya di Koran Kampus mengenalkan saya ke Pak De.

“Saya duduk di depan LSI, yang gondrong.”

Kurang lebih begitu tulisan SMS balasan Pak De yang saya terima ketika dia akan saya wawancara tentang Wahana Telisik Seni dan sastra alias WTS—sengaja S-nya mereka tulis satu. Dari sanalah kemudian, saya ikut aktif di WTS. Ternyata, banyak anak-anak—untuk menghidari istilah “anggota”—WTS yang juga aktif di organisasi lain: UKF atau Uni Konservasi Fauna. Akhirnya, saya ikutan juga.

Waktu itu—entah sekarang—markas UKF ada di sebuah pertigaan kawasan Babakan Lio. Di dalamnya, ada kamar yang penuh berisi buku. Itulah kamar Pak De. Perpustakaan kecil itu pun dia beri nama: Juvenil. Di sana, saya pinjam dan baca beberapa buku. Dari pergaulan itu pula, saya dikenalkan ke film Into The Wild (2007).

Into The Wild
Into The Wild menceritakan kisah Christopher McCandless yang memilih hidup di hutan. Dia meninggalkan kehidupan “normal” yang biasa dijalani seorang warga kelas menengah negara maju setelah lulus kuliah. Melalui film itu, vokalis Pearl Jam Eddie Vedder merilis proyek solo.

Seketika, album itu jadi favorit. Lagu terakhir dalam album berisi 11 lagu ini bahkan memenangkan penghargaan Best Original Song dalam ajang penganugerahan Golden Globe. Judulnya Guaranteed. Ketika mengerjakan album ini, Vedder mengibaratkan tiap komposisi lagu punya karakter warna masing-masing—dan memang terasa begitu.

“I just gave him (sutradara: Sean Penn) 25 minutes of music (durasi total album ini 33 menitan), stuff I felt that were colors on the palette.”

Gigaton
Selang sekian lama, Pearl Jam merilis album berjudul Gigaton. Kata itu kini banyak dipakai untuk berita buruk tentang krisis iklim. Dalam pidatonya di tahun 2015, Obama menyitir data bahwa 75 gigaton (juta ton) es mencair di Alaska dalam setahun. Dari sisi visual, Gigaton juga memajang foto gletser yang direkam biolog Paul Nicklen. Dalam lagu Quick Escape, Eddie menyisipkan sindiran bagi Trump yang meremehkan krisis iklim.

Dalam lagu yang sama, juga ada potongan lirik tentang masa depan distopia. Bahwa kombinasi rumput hijau, langit dan anggur merah hanya mungkin ada di masa lalu.

“Oh, and we think abput the old days
Of green grass, sky and red wine
Should’ve known its so fragile” []

Thursday, August 16, 2018

Grohl

Kamis minggu lalu, Foo Fighters merilis video musik/ dokumenter tentang dave grohl selama 30 menit. Delapan menit awal video itu bercerita tentang 22 menit performa musik yang akan dia tampilkan. Dia lalu mengenalkan anak-anak dari sebuah studio musik bernama Join The Band. Di studio berumur 20 tahun itulah anak Dave belajar main musik. Dia juga mewawancarai pemilik studio dan anak-anak didiknya. Dari perbincangan itu, Dave kemudian merasa melakukan hal yang sama. Memperbaiki diri, mencoba hal baru yang belum pernah dia lakukan. Salah satunya, merekam lagu sepanjang sekitar 23 menit dengan 7 instrumen yang dia mainkan sendiri secara live recording. Jadilah: Play.

Kalau dipecah, lagu Play menurut saya setidaknya bisa jadi tiga sub lagu. Judul pertama bisa ada di interval menit ke-9 sampai 19:11. Potongan kedua di rentang 19:12-23:27. Nah sisanya, masih di hitungan satu sub lagu, meskipun ada bagian melambat jelang akhir durasi. Yang menarik, intro paruh ketiga lagu ini, rasanya mirip intro lagu Smells Like Teen Spirit milik Nirvana.

Dave Grohl memang alumni trio Nirvana, sebagai penggebuk drum. Akhir-akhir ini, saya lagi baca lagi biografi Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal tahun 1994 karena bunuh diri. Di biografi berjudul Heavier Than Heaven itu—dicomot dari nama salah satu tur promo album Nirvana di awal karir—ada kisah tentang pertama kali Dave masuk Nirvana.

Dalam bab berjudul Love You So Much, dikisahkan bahwa kala itu (Mei-Desember 1990), Nirvana gonta-ganti drummer. Dari Chad Channing sampai Dan Peters. Mereka nggak betah di Nirvana karena tabiat gitaris bandnya yang destruktif.
“Sudah menjadi hal umum bagi Kurt saat itu untuk menerjang drum Chad..Di Boston, Kurt malah sempat melemparkan satu teko kaca penuh air ke arah Chad, yang untung saja meleset beberapa inci dari kupingnya.” (hal. 215)
“Show itu menjadi show Dan Peters yang pertama dan terakhir bersama Nirvana meski saat itu dia bermain amat baik. Pendatang baru itu bernama Dave Grohl, 21 tahun, yang aslinya berasal dari Virginia.” (hal. 227)
Buku  Heavier Than Heaven belum khatam lagi saya baca. Sebelum ini, saya khatamkan biografi karangan Charles R. Cross ini tahun 2007 atau 2008. Barangkali kalau dibaca dengan bekal pengalaman dan pengetahuan di usia yang lebih tua 10 tahunan, ada persepsi lain yang muncul dari bacaan satu ini. []