Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Wednesday, January 10, 2024

Teknoskeptisisme


Selama paruh akhir 2023, isi bacaan, tontonan dan musik yang saya dengar banyak bertema tentang teknoskeptisisme—paham yang meragukan keuntungan teknologi termutakhir. Mari saya ceritakan tentang mereka satu per satu.


Awalnya dari buku. Oleh seorang teman diskusi di English Lab, saya direkomendasikan buat baca Make Time. Dalam buku terbitan 2018 itu Jake Knapp dan John Zeratsky (JZ) kasih tips cara meluangkan waktu (make time) dan kenalkan konsep kolam tak berujung (infinity pool) untuk analogikan distraksi yang mudah diakses via internet. 


Buku itu pula yang mengenalkan saya ke istilah "industri distraksi" sekaligus menganalogikan ponsel sebagai cincin di film Lord of The Rings.


"Terkadang aku merasa ia seperti mata yang terus menatapku... Aku menemukan diriku tidak bisa tidur tanpa dia di sakuku." (Bilbo Baggins)


Halaman terakhir Make Time berisi dereran buku yang jadi acuan ide JZ dan Knapp. Alhasil saya baca Sapiens (2018).


Yuval Noah Harari jadi pemikir superstar gara-gara bukunya itu banjir pujian. Tokoh prestisius global semacam Barrack Obama hingga Bill Gates merekomendasikan buku bersubjudul "Sejarah Ringkas Umat Manusia" itu.


Isinya memang cukup cerdik merangkum sederet alasan kenapa Homo sapiens bisa jadi penguasa planet bumi. Menariknya, dalam wawancara di situs vox, Yuval mengaku kalau seandainya dia nggak rutin meditasi, sebagai profesor ilmu sejarah di Israel, dia akan terus meneliti tentang objek militer di abad pertengahan. "Meditasi" lantas jadi kata kunci yang berkait dengan "teknoskeptisisme" tadi.


Judul lain yang saya lahap dari daftar pustaka Make Time: Deep Work (2016). Buku ini ditulis Cal Newport.


Dalam satu bab khusus, profesor ilmu komputer dari Georgetown University itu mengajak pembaca menimang benefit media sosial yang menurutnya: kurang berfaedah. Akademisi lulusan MIT tahun 2009 itu kasih tips penggunaan notebook (buku tulis dalam arti harfiah) untuk atur fokus harian pembaca. 


Trik "pemenggalan waktu per 15 menit" itulah yang saya pake sampai sekarang—meskipun saya tetap harus juggling dengan komitmen buat disiplian. Dan itu ga masalah. Jangan sampai ilusi kesempurnaan justru jadi distraksi itu sendiri.


Sebetulnya, ada satu lagi buku yang saya baca Juli lalu dan ditulis seorang teknoskeptik lain: Jaron Lanier. Judulnya, Ten Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now. 


Cukup jelas lah ya isinya tentang apa. Jadi mari kita lanjut bahas musik.


Oktober 2023, Saturday Night Karaoke merilis minialbum yang efektif dan efisien: More Chords, Better Points. Isinya lima lagu yang kalo didengar berurutan rasanya akan seperti naik kereta Whoosh dari tengah perjalanan: cepat-cepat-cepat-cepat-pelan.


Yayaya, analoginya aneh. Haha. Poin saya: secara musikal rasanya begitu. 


Secara lirikal, kuartet asal Bandung ini menawarkan nomor bernuansa tragis tapi bisa komedik dalam sekali hentak. Judulnya: Abnormal? Abnormal!!!


Tokoh utama di lagu ini ceritanya muak dengan "unggahan gawai" seseorang yang punya ego tengik dengan membagikan "piagam, properti, teknologi termutakhir, swafoto pretensius di tengah momen plesir". Lebih jauh dari urusan pamer-pameran, lagu ini menggarisbawahi "konsep prestasi" yang di judul sempat diragukan lantas diyakinkan dengan tiga tanda seru: abnormal!!!


Visualisasi abnormalitas tadi lalu saya tonton di film The Truman Show. Film rilisan 1998 itu belum menyebut "unggahan", "distraksi", atau istilah terkait teknologi kiwari di atas. Judul yang dibintangi Jim Carrey ini menampilkan komodifikasi kehidupan personal.


Hari ini bukankah itu yang terjadi? Saat scrolling tentang posting trivial aktivitas harian, di timeline muncul satu-dua iklan yang menyelingi. Kalau kata Superman Is Dead di lagu Citra OD yang dirilis 2006: "privasi hari ini adalah konsumsi".


Kita mungkin sudah merasa maklum. Bagi kreator film itu, nggak. 


Meskipun yaaah, kalau kata Yuval sih harusnya film itu diakhir dengan Truman bebas dari studio televisi dan masuk lagi ke "studio" peradaban global. Dia merujuk ke beberapa hal yang disepakati umat manusia sebagai intersubjektivitas—pembahasan tentang objektif, subjektif dan intersubjektif ada di buku Sapiens.


Teknoskeptisisme yang dikenalkan judul-judul di atas baru beberapa titel yang saya simak tahun lalu. Untuk menutup ulasan ini, saya kutipkan artikel buatan Cal Newport yang dipublikasikan The New Yorker akhir tahun lalu. Dalam sebuah paragraf dia memperhalus kata skeptis menjadi seleksionis:


Techno-selectionists believe that we should continue to encourage and reward people who experiment with what comes next. But they also know that some experiments end up causing more bad than good. 


Techno-selectionists can be enthusiastic about artificial intelligence, say, while also taking a strong stance on settings where we should block its use. They can marvel at the benefits of the social Internet without surrendering their kids' mental lives to TikTok. []


Saturday, June 26, 2021

Baru Kenalan Sama Weezer

 


Ketika pop-punk berjaya sebagai genre musik dominan di tahun 90an, saya belum punya cukup modal buat kenalan sama Weezer. Selain nama besar lain semacam Blink-182 dan Green Day, Weezer memang juga dikenal dengan musik catchy yang sejenis kedua band tadi.


Bertahun-tahun berlalu, saya kehilangan alasan buat mencari mereka lagi. Sampai datanglah 2021, ketika kuartet asal California ini merilis album baru.


Judul albumnya Van Weezer, sebuah tanda penghormatan bagi kelompok musik Van Halen. Gitaris band legendaris itu, Eddie Van Halen, belum lama ini berpulang setelah didera sakit.


Selain penggunaan kata "van" dalam album, jejak audio ala Van Halen juga terdengar di track Blue Dream dan I Need Some of That. Maksudku, penggunaan suara 1-2 dalam melodi gitar, meskipun sidik jari Weezer tetap terasa.


Van Weezer punya 10 track yang bernuansa simpel, mudah dinyanyikan dan "lembut". Mungkin bagi beberapa pendengar lama, kesan itu kurang tepat. 


Nyatanya, itu muncul sebagai buah perkenalan pertama saya sama Weezer dalam format album. Sebelum ini, satu-dua lagu hits mereka saya pernah denger.


Karena memang udah klop sama musik semacam ini, di masa depan saya bakal mengantisipasi lagi rilisan baru Weezer. Jika dengan usia setua ini saja mereka bisa semenyenangkan ini, bisa jadi besok-besok mereka tetap akan semuda dulu kayak sekarang. []

Saturday, May 1, 2021

Miles of A Thousand Miles

 Saya tumbuh sebagai remaja di masa ketika Vanessa Carlton lagi naik daun dengan lagu hitsnya: A Thousand Miles—itu tahun 2002. Haha. Lagu itu tentang cinta monyet si penyanyi ke seorang pria—aktor terkenal—yang pada akhirnya nggak pernah dia kasih tau soal rasa sukanya.


Fakta itu ada di tayangan terbaru serial The Story Of dari Vice. Dokumenternya bagus banget.


Sejak awal tayangan, kita diperlihatkan tentang Vanessa yang sejak kecil berbakat seni. Dari seni tari balet lalu geser minat ke olah vokal.


Lalu lagu ciptaannya yang jadi fokus utama episode ini, mengantarkan dia ke seorang produser, Ron Fair. Bagian Ron Fair ngasih arahan ke Vanessa, jadi bagian favorit saya. Benar-benar terasa ketika dia ngetransfer energi ke artis yang dia handle. 


“Nah ini ombaknya udah dateng, ayo surf!” Katanya mengibaratkan lagu jelang reff.


Ada juga Marc Klasfeld, sutradara video musik yang digambarkan Ron sebagai “young, cool, guy with the vision”. Marc menerjemahkan brief dari Ron tentang “taruh Vanessa di belakang piano” dengan “simpan instrumen dan musisinya di atas sebuah mobil yang memperlihatkan beragam suasana”.


Inget video musik lagu Fine Today, yang dinyanyikan Arditho Pramono? Nah konsepnya sama.


Bagi Vanessa, lagu ini kayak esai yang dibuat oleh seorang penulis profesional yang dibuat di masa ketika dia SMA. Dia berterima kasih ke Interlude—judul awal lagu ini yang berarti “permulaan”. Karena dari permulaan itulah Vanessa akhirnya dikenal seperti sekarang. Dan seperti yang ditampilkan bagian akhir tayangan, lagu itu tetap hidup sampai sekarang. []


Sunday, August 9, 2020

Jurnalisme Musik

Sepuluh tahun lalu, profesi ini jadi cita-cita saya: jurnalis musik. Ketika itu, Rolling Stone Indonesia masih ada.  Trax Magazine dan Hai yang legendaris itu juga tetap dicetak. Tiga majalah itu, menurut Idhar Resmadi dalam bukunya Jurnalisme Musik, “memberikan pengaruh sangat penting bagi perkembangan jurnalisme musik di Indonesia setelah reformasi.” Saya berikhtiar untuk bisa menulis di setidaknya satu nama besar itu. Pada akhirnya memang gagal. Saya bikin media sendiri: blog ini.

Keikutsertaan saya menulis musik di blog, bisa dibilang dampak dari berkembangnya media musik di internet, pasca popularitas majalah cetak yang mulai meredup. Dalam buku itu juga, Idhar justru memuji kemunculan blog, webzine, radio streaming dan video sebagai momen “mengembalikan keautentikan penulisan musik oleh orang-orang yang memang antusias dan memiliki renjana (passion) terhadap musik.” Dia menambahkan, penulis musik di webzine biasanya “non-jurnalis”.

 

Kilasan sejarah media musik mengisi bab pertama buku Jurnalisme Musik yang terbit pertama kali tahun 2018. Idhar merunut sejarah perkembangan media musik yang muncul sejak tahun 1940. Ketika itu pemberitaan atau kritik terhadap musik ada dalam majalah Suara NIROM. Nama singkatan itu diambil dari sebutan bagi radio yang populer kala itu: Nederlandsch Indische Radio Omroep Maatschapij.

 

Geliat perkembangan jurnalisme musik memuncak di tahun 1970-an. Ketika itu, Aktuil digdaya. Nama majalah itu sendiri terpengaruh dari majalah asal Belanda, Actueel. Ada beberapa hal fenomenal yang dicatatkan majalah bentukan Denny Sabri—mantan wartawan majalah musik Diskorina yang muncul tahun 1957. Idhar mencatat, pasca Aktuil tutup tahun 1975, “sudah tak ada lagi tulisan-tulisan musik yang kritis terhadap industri atau melakukan propaganda budaya layaknya Aktuil”.

 

Aktuil fenomenal karena pertama, mereka “mampu memberikan opini yang lugas tanpa tedeng aling-aling”.

“Majalah ini pernah merendahkan lagu-lagu Koes Plus meski band itu sangat digemari dan laku di pasaran (Mulyadi, 2009). Aktuil bahkan tak segan menyebut musik pop cengeng atau lagu-lagu easy listening dengan sebutan ‘kue pancongan’, ‘kacang goreng’ atau ‘kuacian’.” (Hal. 13)

Kedua, Aktuil menyulut pertempuran antara penggemar musik rock dan musik dangdut. Nama “dangdut” sendiri awalnya disematkan redaktur Aktuil, Billy Silabumi “untuk menyebut (atau ‘mengejek’) musik melayu yang dianggapnya kacangan”. Dan fakta itu diamini Rhoma Irama. Dalam video wawancara Si Raja Dangdut ketika menghadiri Archipelago Festival tahun 2019, ia paparkan bahwa musik sejenis yang dimainkannya, bernama musik “melayu” atau “orkes melayu”.

 

Ketiga, Aktuil membuat populer kata “belantika”. Kata ini disadur dari Bahasa Sunda “balantik” yang berarti usaha atau dagang. Aktuil memang berkantor di Kota Bandung hingga akhirnya tutup redaksi setelah boncos akibat menggelar konser Deep Purple.

 

Sekarang saya lanjut membaca Bab 02 buku setebal 200-an halaman ini. Setelah sejarah, Idhar mengajak pembaca berkenalan dengan beberapa nama jurnalis musik. Ada pula tabel perbedaan antara “jurnalis umum” dan “jurnalis musik” yang diukur dari berbagai segi. Dalam sesi ini Idhar menjabarkan jurnalisme musik sebagai Perpanjangan Tangan Industri. []

Thursday, August 16, 2018

Grohl

Kamis minggu lalu, Foo Fighters merilis video musik/ dokumenter tentang dave grohl selama 30 menit. Delapan menit awal video itu bercerita tentang 22 menit performa musik yang akan dia tampilkan. Dia lalu mengenalkan anak-anak dari sebuah studio musik bernama Join The Band. Di studio berumur 20 tahun itulah anak Dave belajar main musik. Dia juga mewawancarai pemilik studio dan anak-anak didiknya. Dari perbincangan itu, Dave kemudian merasa melakukan hal yang sama. Memperbaiki diri, mencoba hal baru yang belum pernah dia lakukan. Salah satunya, merekam lagu sepanjang sekitar 23 menit dengan 7 instrumen yang dia mainkan sendiri secara live recording. Jadilah: Play.

Kalau dipecah, lagu Play menurut saya setidaknya bisa jadi tiga sub lagu. Judul pertama bisa ada di interval menit ke-9 sampai 19:11. Potongan kedua di rentang 19:12-23:27. Nah sisanya, masih di hitungan satu sub lagu, meskipun ada bagian melambat jelang akhir durasi. Yang menarik, intro paruh ketiga lagu ini, rasanya mirip intro lagu Smells Like Teen Spirit milik Nirvana.

Dave Grohl memang alumni trio Nirvana, sebagai penggebuk drum. Akhir-akhir ini, saya lagi baca lagi biografi Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal tahun 1994 karena bunuh diri. Di biografi berjudul Heavier Than Heaven itu—dicomot dari nama salah satu tur promo album Nirvana di awal karir—ada kisah tentang pertama kali Dave masuk Nirvana.

Dalam bab berjudul Love You So Much, dikisahkan bahwa kala itu (Mei-Desember 1990), Nirvana gonta-ganti drummer. Dari Chad Channing sampai Dan Peters. Mereka nggak betah di Nirvana karena tabiat gitaris bandnya yang destruktif.
“Sudah menjadi hal umum bagi Kurt saat itu untuk menerjang drum Chad..Di Boston, Kurt malah sempat melemparkan satu teko kaca penuh air ke arah Chad, yang untung saja meleset beberapa inci dari kupingnya.” (hal. 215)
“Show itu menjadi show Dan Peters yang pertama dan terakhir bersama Nirvana meski saat itu dia bermain amat baik. Pendatang baru itu bernama Dave Grohl, 21 tahun, yang aslinya berasal dari Virginia.” (hal. 227)
Buku  Heavier Than Heaven belum khatam lagi saya baca. Sebelum ini, saya khatamkan biografi karangan Charles R. Cross ini tahun 2007 atau 2008. Barangkali kalau dibaca dengan bekal pengalaman dan pengetahuan di usia yang lebih tua 10 tahunan, ada persepsi lain yang muncul dari bacaan satu ini. []

Monday, December 26, 2016

Visi Musik Rully Shabara

Sehari sebelum menggelar konser tunggal, Senyawa tampil di kantor Media Group. Di sana mereka membawa lima nomor lama dan baru. Setelah tampil selama sekitar 20 menit, saya langsung mencegat mereka. Pertama-tama, saya hampiri Wukir Suryadi, pemain instrumen di antara duo itu. Terakhir kali kami jumpa beberapa bulan lalu di Jerman. Saya yang sedang bertugas meliput Frankfurt Book Fair, berkunjung ke lokasi pertunjukan Gandari. Di sana, ada Wukir yang juga menonton teater itu dalam rangkaian perjalanan tur musikalnya. Wukir sempat mengundang saya menyaksikan penampilannya di Weltkulturen Museum. Sayangnya ketika itu saya nggak bisa hadir. Nah di momen ketika Senyawa tampil di kantor inilah saya baru sampaikan alasan ketidakhadiran waktu itu. Haha
Saya kemudian berbelok ke sisi lain panggung, menyalami Rully Shabara dan memperkenalkan diri. Inilah kesempatan pertama saya berbincang panjang dengan biduan berjangkauan vokal lebar ini. Obrolan panjang bersama Wukir pernah saya lakukan di Galeri Nasional tahun 2013. Nah tinggal Rully nih yang belum digali. Maka sekaranglah saatnya untuk mendalami visi musikal penyanyi yang juga sumbang suara bagi kelompok rock-eksperimental Zoo.
“Samastamartha keren banget!” saya berseloroh to the point. “Siapa mastermind-nya?” Mata Rully mengerling, lalu menjawab singkat, “siapa lagi?”
Samastamartha yang saya maksud adalah album termutakhir Zoo. Saya memujinya karena album ketika band asal Jogja itu bukan cuma bundelan musik, tapi juga segepok ide. Sebenarnya dua album Zoo lain juga begitu. Hymne Peradaban memulai perjalanan Zoo. Peradaban memang menjadi kata kunci penting. Setelahnya, album Prasasti dirilis dilengkapi dengan Zoografi, sistem abjad yang diciptakan melekat dengan album itu. Lalu hadirlah Samastamartha yang berarti harfiah terdiri dari samastha (sejajar dengan tanah) dan martha (kekal). Meski memang terasa lebih banyak bahasan tentang Zoo, wawancara saya dengan Rully berikut ini juga berisi tentang proyek paduan suara eksperimental, hingga hal personal tentang kehadiran ibunya di sebuah pentas. Simak!
Zoo
Jadi Samastamartha itu referensinya apa aja?
Oh kalo itu kita membagnun ulang peradaban dari pandangan arsitektur. Jadi aku dibantu sama JP studio itu konsultan arsitektur. Aku cuma pengen bangun kota seperti ini, mitologi dan sejarahnya seperti ini. Jadi aku berdiskusi lama, seperti apa sih sebuah kota itu muncul berkembang dan hancur. Jadi aku banyak dikasih masukan.
Aku hanya membangun histori kota itu dengan sejarahnya dan filosofinya. Jadi aku banyak ngambil contoh dari kota-kota yang ada, termasuk Yogyakarta (kota tempat Rully kuliah, hingga bertemu rekan kolaborator musikalnya).
Itu kayaknya metafora ya?
Beringin itu alam. Kalau kita tidak bersinergi dengan alam ya kita ancur tanpa disadari. Setiap lagu kan tentang filosofi sebuah kota berdasarkan arsitektur yang ada di tempat tersebut. Jadi arsitektur aku nggak ngomongin bangunannya tapi landasan moral masyarakat sekitar. Kayak masyarakat sekitar jawa kan borobudur dan candi-candi itu kan banyak pelajaran moral dari situ, jadi panutan masyarakat sekitar.
Yang ke depan memang Zoografi itu ya proyeknya?
Bukan. Zoografi itu salah satu benang merah. Waktu studi bahasa itu kemarin kan (di album sebelumnya). Aku ciptain bahasa itu apa tentang bahasa, abis itu tentang agama, teknologi.
Tahun berapa?
Tahun depan. Sekarang sedang riset tentang itu, agama. Jadi peradaban yang dulu kita bangun itu sekarang ada agamanya. Kemarin ada bahasanya, ada arsitekturnya, sekarang ada agamanya.
Titik awal dari kehancuran dan kebangkitan bangsa itu dari sini dari agama, abis itu teknologi.
Abis teknologi ada migrasi, tata negara, dan sebagainya sampai akhirnya komplit tahun 2025. Tahun 2025 bubar. Selesai.
Ide itu dari mana?
Ya aku ingin membuat proyek yang berlangsung 20 tahun dengan tema yang tidak habis dieksplor dan tema yang sama. Seperti dari awal peradaban sampai akhir. Dari kosong, dari primitif sampai akhirnya maju berkembang dan hancur.
Dan kayaknya keliatannya menyesuaikan dengan kekinian, maksudnya soal agama tadi bahwa itu bisa menghancurkan atau membangkitkan. Karena kan isu agama lagi marak. Itu memang menyesuaikan dengan itu juga?
Nggak. Kebetulan aja, aku udah rancang ini udah dari tahun kapan agama bakal rilis. Kebetulan aja. Tiap tema aku bikin riset dulu lalu ada liriknya, liriknya kemudian musiknya. Setelah ada musiknya baru kita kembangkan lebih lanjutnya. Digali lagi konsep itu.
Paduan Suara Eksperimental
Itu soal Zoo. Teknik suara seperti itu latihannya gimana?
Sedikit demi sedikit.
Aku pengen bisa. Hahaha.
Wah, nggak bisa mendadak. Sedikit-sedikit, pelajarin, secara detil seperti apa bunyi yang keluar dari kita dicari yang nyaman bukan mana yang bisa. Kalau aku begitu. Aku tiga tahun kemarin belum segini banyaknya, nanti tambah lagi tambah lagi.
Kalau di Indonesia ada nggak yang punya skill serupa?
Aku nggak tahu. Mungkin ada. Orang Indonesia talent-nya kan gila-gila, cuma kan bukan masalah skill-nya, (tapi) bagaimana menerapkannya ke visi musikmu. Aku kalau cuman gitu-gitu aja dengan musik seperti itu kan biasa juga. Jadi harus dikemas dengan yang tepat gitu.
Jadi akhirnya tidak seolah-olah konser yang pamer skill. Jadi kan orang menganggap skill-nya membantu membangun emosi dan energinya. Gitu.
Visi tadi yang dimaksud?
Iya, sama kayak Zoo yang bisa sampai 2025 aku bikin.
Senyawa?
Senyawa lain lagi. Senyawa fokusnya adalah mengembangkan potensi yang ada. Jadi di sini aku belajar mengembangkan potensi diri, pribadi, kemampuan, dan dalam hal musik juga.
Kalau nyebut nama, Rully Shabara ini inspirasinya dari siapa aja?
Wah banyak banget mas, banyak sekali. Dari teman-teman, lingkungan, dari musik yang aku dengerin, dari buku.
Aku nonton wawancara Vice, Mas keberatan kalau ini disebut musik tradisional.
Memang bukan tradisional kan. Aku nggak keberatan disebut apa-apa, tapi bukan tradisional kan. Musik tradisional itu punya pakem tertentu yang harus dihormati. Dan kami tidak melakukan itu. Kamu bisa bilang ini musik avant-garde, musik metal, silahkan. Karena ya gitu. Dan bagi itu gak penting itu genre. Genre itu hanya untuk membantu media atau jurnalis musik untuk mempelajarinya aja.
Tapi bagi musisinya sendiri itu malah sangat tidak penting. Malah membatasi mereka kalau ada sebutannya. Kalau ada sebutannya berarti hanya berkecimpung di kotak itu dong. Ya kan.
Aku follow instagram ada semacam kelas vokal gitu. Kayak gimana itu?
Oh itu aku, paduan suara eksperimental. Kamu bisa ikut kalau kapan-kapan kita bikin. Kapan-kapan bisa, di sini bisa. Kalau sekarang ini yang di Indonesia belum ada tapi kalau mau bikin aja. Kamu undang aku ke sini, aku datang.
Bedanya dengan paduan suara biasa?
Kalau paduan suara biasa kamu harus bisa nyanyi. Kalau ini paduan suara eksperimental, kita akan bereksperimen dengan suara apa pun yang ada.
Tujuannya apa?
Tujuannya membantu orang menjadi lebih percaya diri, bisa menggunakan vokalnya, bisa mengapresiasi bunyi. Begitu kalian selesai itu kalian akan “wah, ternyata aku bisa ya. Aku bisa menggunakan vokalku dengan cara begini. Nggak haram kok. Nggak harus merdu”.
Kalau mau bikin minimal berapa orang?
Minimal 10, 20. Aku pernah bikin sampai dengan 100. Nggak ada batasan. Semakin banyak semakin baik. Dua puluh ideal.
Apresiasi Paling Berkesan
Ketika konser di dalam negeri, apresiasi yang paling menyenangkan itu seperti apa?
Menyenangkan main di hadapan orang tua sendiri. Di kampung halaman. Pernah orang tuaku nonton, ibuku nonton.
Jadi perform di Palu sana?
Ya.
Kenapa itu menjadi spesial?
Rasanya kan lain. Bayangkan ibumu nonton kamu dan musiknya gitu.
Komentarnya?
Komentarnya, “nak kenapa kamu buka baju” gitu.
Jawabannya?
...
Di bagian pertanyaan terakhir, Rully tidak menjawab tegas. Gesturnya kikuk. Saya menduga, pembicaraan tentang ibu mungkin terlalu berharga untuk dibagi. Kesan itu semakin kuat ketika pada konser tunggal Senyawa bertajuk Tanah Air—yang beririsan dengan peringatan hari ibu—Rully menyematkan kredit khusus bagi ibundanya. Pertanyaan lebih personal semacam “kenapa tato di perut Rully bertuliskan ‘father’?” urung saya ajukan. Pencarian akar inspirasi visi musikal Rully Sabhara berakhir di sana. Seseorang kemudian menyela perbincangan kami untuk menyerahkan handuk penghapus keringat. “Wah tengkyu Bal. Dikasih ini? Wah, T-O-P-B-G-T.” []

Wednesday, December 25, 2013

New Album: Finding Nadia - April Is Our December (2013)


Selamat hari natal, hari kelahiran Sang Juru Selamat. Momen kelahiran Kristus hari ini juga menjadi selebrasi kelahiran album baru Finding Nadia. Paket karya Finding Nadia kali ini bertajuk April Is Our December. Ada sembilan lagu yang dipasang di album pamungkas ini. Ya, setelah rilisan ini, Finding Nadia membubarkan diri.

April 2008, empat orang mahasiswa baru sebuah universitas di Bogor sepakat dengan sebuah nama band, Finding Nadia. Nama itu berawal dari inspirasi yang hadir dari sejumlah band emo/screamo yang hanya berkesan feminin di nama. Keempatnya lalu setuju meminjam nama seorang mahasiswi yang mereka kenal di sebuah kegiatan kampus. Jadilah Finding Nadia setelah awalan kata kerja ditambahkan sebagai pelengkap. Finding Nadia kemudian menjadi lima, setelah seorang drummer masuk. Empat bulan kemudian, mereka menjajal panggung pertama di sebuah gig bertajuk "Kota yang Hilang".

Dalam menjalankan Finding Nadia, para personilnya seringkali kesulitan menemukan irisan waktu di sela aktivitas primer mereka. Buntutnya, baru dua tahun setelah ada, album perdana Finding Nadia tercipta dengan judul "A Huge Difference Between Zero and The Number After". Kendala serupa tetap bersama mereka, meski sejumlah panggung sempat menjadi ajang presentasi karya Finding Nadia. Sejak 2012, Finding Nadia yang saat itu hingga kini kembali berempat, berkumpul lagi dan mengolah tabungan karya mereka. Mengenang April sebagai bulan kelahiran, album "April Is Our December" akhirnya dirilis.

Pencapaian progresif seorang kreator, terjadi ketika mereka menggubah karya yang berbeda dengan kreasi sebelumnya, namun tetap terhubung benang merah yang sama. Ikhtiar itu dilakukan Finding Nadia di album keduanya ini. Sembilan lagu dihimpun dari rentang masa tiga tahun proses kreatif. "Pagi Ini di Semester Akhir" sempat dirilis sebagai single. Pun demikian dengan "Tak Kan Pernah Sama" yang sempat muncul dalam wujud akustik. Sementara "Sejak Dekade Terakhir" berasal dari rilisan lama proyek Various Flames, "Tell You Something" ditarik dari album pertama dengan menghadirkan Rizka Zahra Tamira sebagai modifikator sektor vokal. Sisa lima lagu lain tercipta spesial untuk album penutup ini. Mereka adalah "Anthem of Birth", "Hollow Lines", "It Ain't Over 'Till It's Over", "Don't Climb the Wall, Walk Through It!" dan "Run Something New". Seluruh materi album direkam secara swadaya di sebuah ruang rekaman yang juga seadanya. Rekaman momen-momen selama proses vokalisasi sengaja dimasukkan di ujung dua lagu, sebagai perwakilan serupanya gambaran suasana saat Finding Nadia terbentuk, hingga kini terpisah. Semoga rilisan terakhir Finding Nadia ini menjadi hadiah natal yang berkesan. -r.ardiansyah-

track list:

1. Anthem of Birth
2. Pagi ini di Semester Akhir
3. Hollow Lines
4. It ain't Over 'till It's Over
5. Tak Kan Pernah Sama
6. Don't Climb the Wall, Walk Through It!
7. Sejak Dekade Terakhir
8. Tell You Something
9. Run Something New

Download link:
APRIL IS OUR DECEMBER (26 MB)

Finding Nadia:

Rona Jutama Yonanda
Rheza Ardiansyah
Raden Achmad Fauzan Alfansuri Rahili
Mohamad Iqbal Panggarbesi

Release date: December 25th, 2013

Copyright: FINAD 2013

http://soundcloud.com/findingnadia

http://twitter.com/finding_nadia

https://www.facebook.com/FindingNadiaMusic

Sunday, April 14, 2013

Menyelamatkan Musik Indie dari Penciptaan Kultur yang Pragmatis

Mereka menyebut musik ini sebagai musik indie. Ada yang mengatakan bahwa musik indie kini sudah menjadi sebuah genre musik tersendiri, sehingga mereka mengurai sebuah sistem alam semesta bernama musik yang terbagi menjadi beberapa galaksi bernama genre mulai dari pop, rock, jazz, klasik, blablabla dan lalu munculah genre indie. Album musik indie akan diberi rating tinggi di berbagai media musik dibandingkan dengan album-album musik mainstream. Dan orang yang mendengarkan musik indie lebih berkelas dibandingkan mendengarkan musik mainstream. Lalu apakah anda serius membaca paragraf ini? Baiklah, sebenarnya saya tidak serius menulis paragraf ini. Hal-hal berbau sok tahu diatas merupakan hasil pola pikir saya yang merupakan fusi dari naif dan pragmatis yang sampai sekarang diksi dari percampuran pola pikir tersebut mungkin belum dapat anda temukan di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Monday, March 12, 2012

Exclusive Interview : Naif


Naif, band legendaris yang udah berkecimpung belasan tahun di dunia musik ini akhirnya hadir lagi dengan album terbarunya berjudul Planet Cinta yang resmi dirilis pada tanggal 4 Februari 2011 lalu. Album ini berisi 11 lagu dan beberapa diantaranya single yang sudah cukup terkenal di dunia musik Indonesia, seperti Karena Kamu Cuma Satu, Cuek, dan single terbaru mereka, Buta Hati. Berikut bincang-bincang Can I Say dengan Naif di acara Fossil Carnival pada Sabtu 3 Maret 2012 lalu di SMA 47 Jakarta.

Thursday, October 20, 2011

Rolling Stone Music Biz Hadir di IPB

Di interval awal masa ujian tengah semester, mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) kedatangan tamu istimewa dari Rolling Stone dan timnya yang singgah dalam rangka roadshow Music Biz on Campus. Sebelumnya tim Rolling Stone Indonesia telah meninggalkan jejak di Universitas Atmajaya dan Universitas Sriwijaya. Di Music Biz edisi IPB ini, empat orang pembicara didatangkan. Mereka adalah Glenn Fredly, Andi /RIF, EQ Puradiredja, dan Saktimulya Murti. Diskusi bersama ketiga tokoh dunia musik negeri itu dipandu oleh penulis buku Rolling Stone Music Biz sendiri, Wendi Putranto. Executive editor salah satu majalah raksasa itu membuka acara dengan pengakuannya yang tidak ditutup-tutupi. Selain untuk menyelamatkan mahasiswa IPB dari konsumsi musik haram, wartawan yang pernah menjadi ketua senat itu juga hendak memprovokasi agar para mahasiswa pengusung panji pertanian juga ada yang berprofesi sebagai musisi. Penuturan itu spontan diiringi riuh tepungan tangan audiens.

Monday, October 17, 2011

Musik Into The Morning Sky Terbit dari Amerika

Keberadaan penghuni skena musik bawah tanah semakin tak bisa dipandang sebelah mata. Sebuah kongsi musikal bernama Into The Morning Sky berhasil menorehkan prestasi sebagai satu-satunya band asal Indonesia yang karyanya ikut serta dalam album kompilasi Ear Infection Compillation Volume 1. Album kompilasi yang terdiri dari 42 lagu itu terbit dari California, USA. Nomor bertajuk The Foremost terpilih untuk menempati salah satu ruang di album kompilasi yang bisa diunduh gratis itu. Saat ditemui di ruang produksinya, Fanfan sang gitaris band asal Kota Hujan itu menuturkan proses yang dilalui band yang terbentuk di Bogor pada Maret 2011 itu hingga terpilih sebagai salah satu pengisi Ear Infection. "Sekitar 3 bulan yang lalu pihak pengurus kompilasi ngirim email ke Jumpingdew," demikian gitaris yang juga pemilik Jumpingdew Blog Zine itu memulai pemaparan. Jumpingdew diminta memberi referensi band untuk disertakan di album kompilasi dengan kriteria musik turunan punk. Fanfan kemudian mempromosikan beberapa band yang sebelumnya telah dirilis dan direview di Jumpingdew ke kotak masuk panitia album kompilasi, hingga akhirnya Into The Morning Sky tadilah yang terpilih sebagai band yang lolos seleksi. Dalam press releasenya, pihak pengelola kompilasi menyatakan bahwa Ear Infection terdiri dari musik yang beragam, mulai dari punk hingga screamo. Paket karya yang juga dipadati musisi asal Amerika Serikat hingga Switzerland itu pertama kali dirilis tanggal 16 Oktober 2011 lalu. Artinya, Ear Infection masih hangat dan siap untuk disantap melalui tautan ini.