Showing posts with label dave grohl. Show all posts
Showing posts with label dave grohl. Show all posts

Tuesday, May 19, 2020

Konser

Kamu sudah baca esai buatan Dave Grohl? Vokalis Foo Fighters itu menulis sesuatu tentang pertunjukan musik di masa “new normal”. Judulnya "The Day the Live Concert Returns". Melalui kisah yang dituturkan mantan drummer Nirvana itu, saya ingin sekaligus mengenang masa-masa menyenangkan ketika menikmati musik dari (istilah yang dipakai Grohl) “flesh, rather than as a one-dimensional image”.

Tulisan Dave rasanya bertekstur. Banyak deskripsi yang relate banget ke pengalaman konser yang sering kita jumpai. Dan di masa tanpa konser fisikal selama dua bulanan terakhir, mengingat suasana di depan panggung, cukup menyenangkan.

Kata Dave, rahasia magisnya suasana itu ada di koneksi antara penampil dan penonton. Di paragraf berikutnya, Dave mengenang momen ketika dia nonton konser U2. Dia menekankan sensasi menikmati “a massive production” konser Elevation Tour tahun 2001.

Bagi saya, rasa serupa ini barangkali ada di penampilan 30 Seconds To Mars tahun 2011 di festival Java Rockin Land. Serupa deskripsi Dave, saya juga menikmati “the lights to go out so that I could lose myself in a magnificent, state-of-the-art rock show”. Meskipun, kalau kamu ingat juga momen itu, Jared Letto memang menyebalkan ketika dia menolak permintaan foto seorang fans wanita yang ia ajak sendiri ke atas panggung (bahkan menarik rambutnya. Ya kan? Ingatan saya mulai samar).

Kamu barangkali menemukan sensasi yang sama di konser Linkin Park atau Metallica ketika mereka memanaskan stadiun Gelora Bung Karno. Atau mungkin menikmati magisnya penampilan Sigur Ros dengan musik post-rock-nya. Bisa jadi malah penampil lokal semacam Senyawa yang Kamu saksikan di Gedung Kesenian Jakarta itu yang justru paling membius. Yang pasti, Dave kasih kita satu rahasia. Bukan dia yang bilang sih, tapi Bruce Springsteen—musisi yang ia kagumi.

Kata Bruce dalam sebuah kertas yang ditulisinya sendiri buat Dave: “when you look out at the audience, you should see yourself in them, just as they should see themselves in you.”

Lantas, Dave menutup dengan paragraf yang banyak menggunakan kata “we”. Katanya, 
“my songs would only be sound. But together, we are instruments in a sonic cathedral, one that we build together night after night. And one that we will surely build again.” []

Thursday, August 16, 2018

Grohl

Kamis minggu lalu, Foo Fighters merilis video musik/ dokumenter tentang dave grohl selama 30 menit. Delapan menit awal video itu bercerita tentang 22 menit performa musik yang akan dia tampilkan. Dia lalu mengenalkan anak-anak dari sebuah studio musik bernama Join The Band. Di studio berumur 20 tahun itulah anak Dave belajar main musik. Dia juga mewawancarai pemilik studio dan anak-anak didiknya. Dari perbincangan itu, Dave kemudian merasa melakukan hal yang sama. Memperbaiki diri, mencoba hal baru yang belum pernah dia lakukan. Salah satunya, merekam lagu sepanjang sekitar 23 menit dengan 7 instrumen yang dia mainkan sendiri secara live recording. Jadilah: Play.

Kalau dipecah, lagu Play menurut saya setidaknya bisa jadi tiga sub lagu. Judul pertama bisa ada di interval menit ke-9 sampai 19:11. Potongan kedua di rentang 19:12-23:27. Nah sisanya, masih di hitungan satu sub lagu, meskipun ada bagian melambat jelang akhir durasi. Yang menarik, intro paruh ketiga lagu ini, rasanya mirip intro lagu Smells Like Teen Spirit milik Nirvana.

Dave Grohl memang alumni trio Nirvana, sebagai penggebuk drum. Akhir-akhir ini, saya lagi baca lagi biografi Kurt Cobain, vokalis Nirvana yang meninggal tahun 1994 karena bunuh diri. Di biografi berjudul Heavier Than Heaven itu—dicomot dari nama salah satu tur promo album Nirvana di awal karir—ada kisah tentang pertama kali Dave masuk Nirvana.

Dalam bab berjudul Love You So Much, dikisahkan bahwa kala itu (Mei-Desember 1990), Nirvana gonta-ganti drummer. Dari Chad Channing sampai Dan Peters. Mereka nggak betah di Nirvana karena tabiat gitaris bandnya yang destruktif.
“Sudah menjadi hal umum bagi Kurt saat itu untuk menerjang drum Chad..Di Boston, Kurt malah sempat melemparkan satu teko kaca penuh air ke arah Chad, yang untung saja meleset beberapa inci dari kupingnya.” (hal. 215)
“Show itu menjadi show Dan Peters yang pertama dan terakhir bersama Nirvana meski saat itu dia bermain amat baik. Pendatang baru itu bernama Dave Grohl, 21 tahun, yang aslinya berasal dari Virginia.” (hal. 227)
Buku  Heavier Than Heaven belum khatam lagi saya baca. Sebelum ini, saya khatamkan biografi karangan Charles R. Cross ini tahun 2007 atau 2008. Barangkali kalau dibaca dengan bekal pengalaman dan pengetahuan di usia yang lebih tua 10 tahunan, ada persepsi lain yang muncul dari bacaan satu ini. []