Sebuah gelaran apresiasi karya musik kebanggaan bangsa baru saja
dilaksanakan. Setelah digelar 3 hari di 10 hari pertama bulan ke-10,
Java Rockin’ Land meninggalkan kesan khusus bagi pengunjungnya, termasuk
bagi saya yang hadir di hari penutup.
Setelah
bertolak bersama rombongan kecil sejawat dari kampus pertanian, kami
bersembilan tiba saat Seringai menggeber festival musik terakbar seAsia
Tenggara itu. Saya tiba di bibir panggung saat Psikedelia Diskodoom
mengalun. Bada menyanyikan salah satu bahan album Serigala Militia itu,
Arian13 yang tampil dengan kemeja bermotif bunga mulai bercurah
pendapat. “Lagu selanjutnya adalah lagu baru, lagu tentang Tifatul
Sembiring”, demikian ex-vokalis Puppen itu melakukan apersepsi.
Menurutnya, Tiffsy (personal nickname Arian untuk sang menteri) terkesan
pilih kasih dalam mendengar aspirasi dalam jejaring Twitter. Tidak
setuju, block. FPI, rangkul. Demikian gelagat pak Menkominfo RI ia
kisahkan. Tifatul Sembiring dikritik atas kebijakannya melakukan blokir
terhadap semua situs porno yang dapat diakses di Indonesia. Arian tidak
setuju dengan aksi itu. Menurutnya, eksotisme yes, pornografi no.
Artinya ia setuju dengan pengurangan akses pornografi yang terbuka untuk
anak dibawah umur minimal, tapi ia tak setuju bila media penayang
kemolekan biologis itu ditutup total untuk semua kategori umur. PKS
sucks. Begitu komentar yang Arian lempar atas partai yang pernah
dipimpin pak menteri itu. Menurutnya, PKS ingin menjadikan Indonesia
seperti di Arab. PKS mengarahkan telunjuk ke kondisi bangsa yang tak
seperti mereka inginkan atas terjadinya bebagai polemik di negeri ini.
Padahal menurut biduan bernama lengkap Arian Arifin ini, ihwal maraknya
bencana, itu akibat posisi Indonesia yang sial. “Bahkan saat kiamat
nanti, mungkin Indonesia ini yang akan hancur pertama kali”, tambahnya.
Tapi sebelum kiamat mulai bergulir, Arian mengajak audiens untuk
bersenang-senang dahulu di panggung itu. Arian mengumumkan bahwa judul
lagu baru itu adalah Tifatul Sembiring. Tapi tunggu, setelah nama mantan
presiden PKS itu didaulat menjadi judul lagu, kening Ricky sang gitaris
berkerut, lalu terbit semacam ekspresi “hey lu ngomong apaan, ini ga
ada di skenario”. Prolog berlanjut dengan iringan distorsi dan teriakan
“Tiff…Tiffa…Tiffatul!”. Seiring mengalunnya lagu, warna muka gitaris
seringai memerah, dan rona itu bertahan selama Tifatul Sembiring
berkumandang.