Klik gambar diatas untuk mengunduh Can I Say Edisi 3 melalui Slide Share.
Showing posts with label koil. Show all posts
Showing posts with label koil. Show all posts
Wednesday, November 2, 2011
Monday, October 10, 2011
Kick Fest Bandung 2011 Hari Terakhir
Meski masih punya beberapa berita miring, negeri kita ini juga masih punya kabar baik yang membanggakan. Selain menjadi tuan rumah SEA Games bulan November nanti, Oktober ini Indonesia memiliki sebuah gelaran expo produk pembungkus badan terakbar se-Asia, Kick Fest namanya. Di tahunnya yang kelima ini, Kick Fest 2011 digelar di berbagai kota, diantaranya di ibu kota Jawa Barat, Bandung. Berlokasi di lapangan Gasibu Bandung, Clothing Expo yang juga menghadirkan penampilan berbagai kreasi seni ini digelar tiga hari berurutan sejak hari ketujuh hingga kesembilan di bulan kesepuluh tahun kesebelas di abad ke-21. Lampiran foto di bawah ini akan menuntun kamu ke arena festival garmen yang baru saja berlalu, hari terakhir Kick Fest Bandung 2011.
Monday, February 28, 2011
Konser Tunggal Koil
Lazimnya, sebuah konser digelar akhir pekan. Selain memungkinkan
dihadiri lebih banyak orang, malam hari weekend juga dirasa lebih nyaman
diisi dengan aktivitas hiburan. Entah apa yang melatarbelakangi
pemilihan hari untuk pelaksanaan konser ini, namun malam jumat itu
rasanya tak terasa beda dengan akhir pekan dalam hal jumlah audiens
hingga animo penonton. Konser tunggal Koil seakan menjadi alat uji
kesetiaan Killer untuk mengapresiasi musisi acuan mereka. Bertempat di
gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), konser tunggal grup musik rock
asal kota kembang itu sukses digelar. Acara dimulai sekitar pukul 19.45,
meleset kurang lebih 45 menit dari jadwal yang dipublikasikan. Otong
vokalis Koil melalui akun twitternya @midiahn pernah mengajukan semacam
retorika, “siapa sebenarnya yang menyatakan bahwa ini adalah konser
tunggal?”. Pernyataan itu tervisualisasi dengan penampilan vokalis 70’s
Orgasm Club di awal acara. Ia tampil solo menyanyikan beberapa lagu yang
diiringi gitar akustik yang dimainkannya sendiri. Usai hidangan pembuka
itu, barulah kuartet rocker itu memulai goresan sejarah. Rangkaian lagu
mereka lantunkan, tentu dengan kejutan lagu lama yang jarang dibawakan
di atas panggung. Kejutan lainnya adalah hadirnya Risa Saraswati sebagai
backing vocal di beberapa lagu. Penyanyi yang juga berkarya di proyek
solonya yang bernama Sarasvati itu ternyata berulang tahun di malam itu.
Tampil di konser tunggal Koil pasti menjadi hadiah dengan kesan
tersendiri bagi eks-vokalis Homogenic itu.
Bukan Koil namanya jika tidak berbagi rezeki. Di kesempatan berbahagia itu, mereka membagi 2 sepatu boots kepada dua orang Killer yang beruntung tiket pre-sale-nya terpilih Leon dari toples undian. Angkuy, salah satu personel duo Bottlesmoker bahkan menilai Visual: A+ | Lighting: A+ | Audio: A | Crowd: A | Concept: Ultra A double + | Perform: A+. Agar meriahnya konser itu tergambar jelas, nanti kita tengok visualisasinya melalui foto-foto yang saya ambil dari shaf terdepan. Di akhir acara, Adam Vladvamp berhasil saya ajak diskusi. Berikut ulasan pembicaraan saya dengan bassis Koil yang juga bermusik di Kubik itu.
Sunday, October 17, 2010
Java Rocking Land 2010
Sebuah gelaran apresiasi karya musik kebanggaan bangsa baru saja
dilaksanakan. Setelah digelar 3 hari di 10 hari pertama bulan ke-10,
Java Rockin’ Land meninggalkan kesan khusus bagi pengunjungnya, termasuk
bagi saya yang hadir di hari penutup.

Setelah bertolak bersama rombongan kecil sejawat dari kampus pertanian, kami bersembilan tiba saat Seringai menggeber festival musik terakbar seAsia Tenggara itu. Saya tiba di bibir panggung saat Psikedelia Diskodoom mengalun. Bada menyanyikan salah satu bahan album Serigala Militia itu, Arian13 yang tampil dengan kemeja bermotif bunga mulai bercurah pendapat. “Lagu selanjutnya adalah lagu baru, lagu tentang Tifatul Sembiring”, demikian ex-vokalis Puppen itu melakukan apersepsi. Menurutnya, Tiffsy (personal nickname Arian untuk sang menteri) terkesan pilih kasih dalam mendengar aspirasi dalam jejaring Twitter. Tidak setuju, block. FPI, rangkul. Demikian gelagat pak Menkominfo RI ia kisahkan. Tifatul Sembiring dikritik atas kebijakannya melakukan blokir terhadap semua situs porno yang dapat diakses di Indonesia. Arian tidak setuju dengan aksi itu. Menurutnya, eksotisme yes, pornografi no. Artinya ia setuju dengan pengurangan akses pornografi yang terbuka untuk anak dibawah umur minimal, tapi ia tak setuju bila media penayang kemolekan biologis itu ditutup total untuk semua kategori umur. PKS sucks. Begitu komentar yang Arian lempar atas partai yang pernah dipimpin pak menteri itu. Menurutnya, PKS ingin menjadikan Indonesia seperti di Arab. PKS mengarahkan telunjuk ke kondisi bangsa yang tak seperti mereka inginkan atas terjadinya bebagai polemik di negeri ini. Padahal menurut biduan bernama lengkap Arian Arifin ini, ihwal maraknya bencana, itu akibat posisi Indonesia yang sial. “Bahkan saat kiamat nanti, mungkin Indonesia ini yang akan hancur pertama kali”, tambahnya. Tapi sebelum kiamat mulai bergulir, Arian mengajak audiens untuk bersenang-senang dahulu di panggung itu. Arian mengumumkan bahwa judul lagu baru itu adalah Tifatul Sembiring. Tapi tunggu, setelah nama mantan presiden PKS itu didaulat menjadi judul lagu, kening Ricky sang gitaris berkerut, lalu terbit semacam ekspresi “hey lu ngomong apaan, ini ga ada di skenario”. Prolog berlanjut dengan iringan distorsi dan teriakan “Tiff…Tiffa…Tiffatul!”. Seiring mengalunnya lagu, warna muka gitaris seringai memerah, dan rona itu bertahan selama Tifatul Sembiring berkumandang.
Setelah bertolak bersama rombongan kecil sejawat dari kampus pertanian, kami bersembilan tiba saat Seringai menggeber festival musik terakbar seAsia Tenggara itu. Saya tiba di bibir panggung saat Psikedelia Diskodoom mengalun. Bada menyanyikan salah satu bahan album Serigala Militia itu, Arian13 yang tampil dengan kemeja bermotif bunga mulai bercurah pendapat. “Lagu selanjutnya adalah lagu baru, lagu tentang Tifatul Sembiring”, demikian ex-vokalis Puppen itu melakukan apersepsi. Menurutnya, Tiffsy (personal nickname Arian untuk sang menteri) terkesan pilih kasih dalam mendengar aspirasi dalam jejaring Twitter. Tidak setuju, block. FPI, rangkul. Demikian gelagat pak Menkominfo RI ia kisahkan. Tifatul Sembiring dikritik atas kebijakannya melakukan blokir terhadap semua situs porno yang dapat diakses di Indonesia. Arian tidak setuju dengan aksi itu. Menurutnya, eksotisme yes, pornografi no. Artinya ia setuju dengan pengurangan akses pornografi yang terbuka untuk anak dibawah umur minimal, tapi ia tak setuju bila media penayang kemolekan biologis itu ditutup total untuk semua kategori umur. PKS sucks. Begitu komentar yang Arian lempar atas partai yang pernah dipimpin pak menteri itu. Menurutnya, PKS ingin menjadikan Indonesia seperti di Arab. PKS mengarahkan telunjuk ke kondisi bangsa yang tak seperti mereka inginkan atas terjadinya bebagai polemik di negeri ini. Padahal menurut biduan bernama lengkap Arian Arifin ini, ihwal maraknya bencana, itu akibat posisi Indonesia yang sial. “Bahkan saat kiamat nanti, mungkin Indonesia ini yang akan hancur pertama kali”, tambahnya. Tapi sebelum kiamat mulai bergulir, Arian mengajak audiens untuk bersenang-senang dahulu di panggung itu. Arian mengumumkan bahwa judul lagu baru itu adalah Tifatul Sembiring. Tapi tunggu, setelah nama mantan presiden PKS itu didaulat menjadi judul lagu, kening Ricky sang gitaris berkerut, lalu terbit semacam ekspresi “hey lu ngomong apaan, ini ga ada di skenario”. Prolog berlanjut dengan iringan distorsi dan teriakan “Tiff…Tiffa…Tiffatul!”. Seiring mengalunnya lagu, warna muka gitaris seringai memerah, dan rona itu bertahan selama Tifatul Sembiring berkumandang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
