Showing posts with label superman is dead. Show all posts
Showing posts with label superman is dead. Show all posts

Thursday, November 9, 2023

Totok

 I went to Bali a few months ago. I had a very knowledgeable driver accompany me for several days. He goes by Totok.

I sat next to him and we had a music guessing game. It's interesting to note that certain songs relate to his experiences in life.

If we don't listen to Bali's indie grunge band, Navicula, our trip won't be complete. Through the car's speakers, "Saat Semua Semakin Cepat, Bali Berani Berhenti" was played.

Totok informed me about the band's vocalist, Robi. The grunge guy is now a farmer as well as a musician. A coffee plantation belongs to Robi. It must have felt alive when Robi performed a song about a coffee farm for the 2015 film Filosofi Kopi's original soundtrack.

At an intersection Totok proceeded to play Metropolutan, another song from Navicula. The title makes sense in light of his background.

In 2006, the man moved out of the "metropolutan" existence in Bekasi, West Java. He began his career on the island of God, in order to experience the tranquility.

In Bali, Totok supports himself by working as a tour guide while living with his hobby of riding on a motorcycle. One of his three Honda RX Kings was recently used to visit Lombok Island.

"100 km/h." I mention the title of a song. However, it turns out that I was referring to the incorrect song. It was The Brandals' Lingkar Labirin.

The Brandals, a self titled album published in 2003, featured both of these tracks. It was through a compilation album that Sony BMG Music Entertainment issued that I became acquainted with Lingkar Labirin.

I remember the tape so well that I am aware of a few significant bands from it. Superman Is Dead, Rocket Rockers, Purgatory, and The Brandals were some of the big names that participated in the album.

"Sampeyan referensinya banyak," Totok made me feel good even though I didn't win this song-guessing game. He said us farewell for the day with a promising "sampai jumpa di album berikutnya" in his Klaten accent. []



Thursday, August 30, 2012

Bertamu ke Rumah di Seribu Ombak

Apa jadinya kalau seekor singa yang cakarnya gatal dikurung lama? Ketika sangkar dibuka, menggilalah ia. Begitu kira-kira kiasan bagi "cakaran" Erwin Arnada setelah ia dikungkung jeruji selama 8,5 bulan. Dengan serangan gandanya di novel dan film, Erwin memperkuat kesan bahwa beberapa masterpiece memang harus lahir dari ruang penjara. Setelah bebas di pertengahan 2011, Erwin merilis novel yang ditulisnya selama di penjara. Akhir Agustus 2012, film yang diadaptasi dari novel karyanya sendiri, bisa disaksikan di berbagai jaringan bioskop. Film dan novel itu berjudul, Rumah di Seribu Ombak. 



foto dipinjam tanpa izin dari sini

Sunday, October 17, 2010

Java Rocking Land 2010

Sebuah gelaran apresiasi karya musik kebanggaan bangsa baru saja dilaksanakan. Setelah digelar 3 hari di 10 hari pertama bulan ke-10, Java Rockin’ Land meninggalkan kesan khusus bagi pengunjungnya, termasuk bagi saya yang hadir di hari penutup.



Setelah bertolak bersama rombongan kecil sejawat dari kampus pertanian, kami bersembilan tiba saat Seringai menggeber festival musik terakbar seAsia Tenggara itu. Saya tiba di bibir panggung saat Psikedelia Diskodoom mengalun. Bada menyanyikan salah satu bahan album Serigala Militia itu, Arian13 yang tampil dengan kemeja bermotif bunga mulai bercurah pendapat. “Lagu selanjutnya adalah lagu baru, lagu tentang Tifatul Sembiring”, demikian ex-vokalis Puppen itu melakukan apersepsi. Menurutnya, Tiffsy (personal nickname Arian untuk sang menteri) terkesan pilih kasih dalam mendengar aspirasi dalam jejaring Twitter. Tidak setuju, block. FPI, rangkul. Demikian gelagat pak Menkominfo RI ia kisahkan. Tifatul Sembiring dikritik atas kebijakannya melakukan blokir terhadap semua situs porno yang dapat diakses di Indonesia. Arian tidak setuju dengan aksi itu. Menurutnya, eksotisme yes, pornografi no. Artinya ia setuju dengan pengurangan akses pornografi yang terbuka untuk anak dibawah umur minimal, tapi ia tak setuju bila media penayang kemolekan biologis itu ditutup total untuk semua kategori umur. PKS sucks. Begitu komentar yang Arian lempar atas partai yang pernah dipimpin pak menteri itu. Menurutnya, PKS ingin menjadikan Indonesia seperti di Arab. PKS mengarahkan telunjuk ke kondisi bangsa yang tak seperti mereka inginkan atas terjadinya bebagai polemik di negeri ini. Padahal menurut biduan bernama lengkap Arian Arifin ini, ihwal maraknya bencana, itu akibat posisi Indonesia yang sial. “Bahkan saat kiamat nanti, mungkin Indonesia ini yang akan hancur pertama kali”, tambahnya. Tapi sebelum kiamat mulai bergulir, Arian mengajak audiens untuk bersenang-senang dahulu di panggung itu. Arian mengumumkan bahwa judul lagu baru itu adalah Tifatul Sembiring. Tapi tunggu, setelah nama mantan presiden PKS itu didaulat menjadi judul lagu, kening Ricky sang gitaris berkerut, lalu terbit semacam ekspresi “hey lu ngomong apaan, ini ga ada di skenario”. Prolog berlanjut dengan iringan distorsi dan teriakan “Tiff…Tiffa…Tiffatul!”. Seiring mengalunnya lagu, warna muka gitaris seringai memerah, dan rona itu bertahan selama Tifatul Sembiring berkumandang.