Saturday, June 5, 2021

Imaji Origin di Headset Open Ear

 Headset

Saya baru nyobain pake headset open ear. Jadi, sumber suaranya nggak masuk ke lubang telinga. 


Kita denger suara dari speaker kecil yang diarahkan ke telinga. Selain bakal bahas tentang sensasi pemakaiannya, saya mau kaitin teknologi ini sama novel Origin.


Origin buatan Dan Brown--yang terkenal dengan The Da Vinci Code-nya itu--ceritanya tentang Robert Langdon (lagi) yang terlibat pembunuhan seorang inventor--macam Steve Jobs gitulah.


Nah di awal kisah, dia diundang ke sebuah pameran seni. Semua tamu undangan dipandu pakai sebuah headset yang pemakaiannya cukup ditempelin ke tulang di bawah telinga. 


Ternyata, dari benda sekecil itu ceritanya Profesor Langdon seakan-akan bisa denger suara di dalam kepalanya--dari pemandu museum. Macam mendengar firman Tuhan gitu kali ya. Haha.


Apakah sensasi dengerin audio dari open ear headset juga begitu? Nggak juga sih, tapi memang lebih nyaman. Setidaknya bagi saya. 


Pertama, kita jadi bisa dengerin suara sekitar juga. Meskipun beberapa closed ear headset ada juga yang punya fitur nggak nutup suara sekitar, tapi versi open ear ini lebih ngasih sensasi "aware". 


Kedua, nggak bikin pegel lubang telinga. Kalo pun pegel paling rasanya kayak kita kelamaan pake masker yang ngepas. 


Kekurangannya, bass kurang nendang. Meskipun begitu, suara decak dan bisik tetap bisa kita nikmati. Misalnya waktu saya denger lagu Bring Me The Horizon yang judulnya One Day The Only Butterflies Left Will Be In Your Chest As You March Towards Your Death--ada suara Amy Lee di lagu itu.


Sepertinya, headset macam ini memang paling cocok kalo kita olah raganya sambil dengerin podcast. Meskipun sekali lagi, denger lagu pun tetep enak. Dan sekali lagi lagi, ternyata sensasinya nggak kayak kita dengerin wangsit seperti yang saya harapkan. Hehe.

Friday, June 4, 2021

Hewan Jalan

 Anak kucing mati di tengah jalan

Tubuhnya berhamburan terlindas ban


Tak ada yang beri perhatian

Karena semua sedang berkejaran


Tikus mati di tepi jalan

Di badannya ada jejak lindasan


Semua mata membuang pandangan

Manusia memang tak terkalahkan

Tuesday, June 1, 2021

Surat di Selipan Buku

 Siang itu saya duduk dua jam di perpustakaan ruang terbuka Jakarta Book Hive. Dalam masa itu, ada beberapa orang datang dan pergi. Ada yang nyimpen buku doang, ada yang nyimpen dan ngambil juga--kayak saya. Haha.


Setelah mereka nyimpen buku baru ke rak, saya cek tambahan koleksi di dalam lemari. Ternyata ada buku puisi Catatan Najwa 2.


Ternyata, di dalamnya ada pembatas buku. Sebuah kertas. Begitu dibuka, isinya surat cinta. Atau surat permintaan maaf--katakanlah begitu.


Isinya tulisan tangan, rapi banget. Hurufnya tegak lurus digores pake pensil. 


Si penulis surat, entah laki entah perempuan, minta balikan sama seseorang yang entah pacarnya entah pasangannya berumah tangga. Sentimentil banget.


Saya bisa ngira orang mana yang punya buku ini, tapi itu nggak penting. Persoalan apakah surat ini sengaja dibuang atau nggak sengaja keselip, nggak bisa dipastiin juga.


Yang jelas, pengalaman emosional semacam saat itu berkesan banget. Saya bisa berempati sama ruwetnya hubungan mereka berdua. Semoga mereka bersatu kembali. Amin.