Thursday, January 11, 2024

Jakarta, 31 Desember 2023

 

Jakarta asik juga kalo lagi sepi. Waktu itu Minggu, 31 Desember 2023.

Saya sekeluarga datang ke kawasan Blok M sekitar jam makan siang. Kami langsung ke Futago Ya.

Ini kedai ramen favorit saya dan Windi. Kuahnya enak dan dagingnya empuk.

Selesai makan siang, kami melipir ke seberang: Taman Literasi Martha Tiahahu. Di sana, anak kami senang liat-liat buku di dalam perpustakaan yang adem.

Di dekat situ juga ada lemari buku Jakarta Book Hive. Isinya sedikit dan berantakan, saya lupa bawa beberapa judul buku buat disumbangkan.

Dari selatan Jakarta kami melesat ke arah pusat. Sore itu jalanan lancar. Tipikal gejala sub-urbanisasi.

Istilah itu merujuk ke kondisi ruang sebuah kota yang bergantung ke pembagian waktu. Jakarta lengang banget di satu waktu, tapi padet banget di waktu lain. Menurut Avianti Armand dalam buku “Arsitektur yang Lain”, sub-urbanisasi atau counter-urbanization ibarat “aspirin untuk sakit gigi”.

Dua puluh menitan kemudian kami sampai di Galeri Nasional. Ada dua area pameran yang kami datangi.

Pertama, Ruang Keluarga dan Anak. Ada instalasi lantai berpasir yang diseraki sampah plastik.

Anak kita bisa “pungut” sampah itu dengan scan sebuah barcode di dekatnya. Nantinya, proyektor akan menampilkan hewan laut yang ceritanya hasil daur ulang sampah tadi.

Interaksi serupa juga ada di gedung lain area Galnas. Sebuah imaji hewan bisa muncul setelah kita teriak di sebuah corong. Kami lantas pulang setelah hujan yang datang dari arah Bogor reda.

Malam harinya, kami tidur seperti biasa. Meski nggak nunggu sampai jam 00:01, saya akhirnya kebangun juga.

Dari balik jendela kembang api menyalak bergantian. Lampu mobil yang parkir di bawahnya juga nyala, sebuah false alarm.

Dua jam kemudian saya baru bisa tidur lagi setelah koor lagu tentang patah hati terdengar sayup dinyanyikan dari entah bar sebelah mana. Menara Blok M Square—yang motif kotaknya mirip motif roket di komik Tintin—tetap gelap.

Jakarta, selamat datang di tahun 2024. []

Wednesday, January 10, 2024

Teknoskeptisisme


Selama paruh akhir 2023, isi bacaan, tontonan dan musik yang saya dengar banyak bertema tentang teknoskeptisisme—paham yang meragukan keuntungan teknologi termutakhir. Mari saya ceritakan tentang mereka satu per satu.


Awalnya dari buku. Oleh seorang teman diskusi di English Lab, saya direkomendasikan buat baca Make Time. Dalam buku terbitan 2018 itu Jake Knapp dan John Zeratsky (JZ) kasih tips cara meluangkan waktu (make time) dan kenalkan konsep kolam tak berujung (infinity pool) untuk analogikan distraksi yang mudah diakses via internet. 


Buku itu pula yang mengenalkan saya ke istilah "industri distraksi" sekaligus menganalogikan ponsel sebagai cincin di film Lord of The Rings.


"Terkadang aku merasa ia seperti mata yang terus menatapku... Aku menemukan diriku tidak bisa tidur tanpa dia di sakuku." (Bilbo Baggins)


Halaman terakhir Make Time berisi dereran buku yang jadi acuan ide JZ dan Knapp. Alhasil saya baca Sapiens (2018).


Yuval Noah Harari jadi pemikir superstar gara-gara bukunya itu banjir pujian. Tokoh prestisius global semacam Barrack Obama hingga Bill Gates merekomendasikan buku bersubjudul "Sejarah Ringkas Umat Manusia" itu.


Isinya memang cukup cerdik merangkum sederet alasan kenapa Homo sapiens bisa jadi penguasa planet bumi. Menariknya, dalam wawancara di situs vox, Yuval mengaku kalau seandainya dia nggak rutin meditasi, sebagai profesor ilmu sejarah di Israel, dia akan terus meneliti tentang objek militer di abad pertengahan. "Meditasi" lantas jadi kata kunci yang berkait dengan "teknoskeptisisme" tadi.


Judul lain yang saya lahap dari daftar pustaka Make Time: Deep Work (2016). Buku ini ditulis Cal Newport.


Dalam satu bab khusus, profesor ilmu komputer dari Georgetown University itu mengajak pembaca menimang benefit media sosial yang menurutnya: kurang berfaedah. Akademisi lulusan MIT tahun 2009 itu kasih tips penggunaan notebook (buku tulis dalam arti harfiah) untuk atur fokus harian pembaca. 


Trik "pemenggalan waktu per 15 menit" itulah yang saya pake sampai sekarang—meskipun saya tetap harus juggling dengan komitmen buat disiplian. Dan itu ga masalah. Jangan sampai ilusi kesempurnaan justru jadi distraksi itu sendiri.


Sebetulnya, ada satu lagi buku yang saya baca Juli lalu dan ditulis seorang teknoskeptik lain: Jaron Lanier. Judulnya, Ten Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now. 


Cukup jelas lah ya isinya tentang apa. Jadi mari kita lanjut bahas musik.


Oktober 2023, Saturday Night Karaoke merilis minialbum yang efektif dan efisien: More Chords, Better Points. Isinya lima lagu yang kalo didengar berurutan rasanya akan seperti naik kereta Whoosh dari tengah perjalanan: cepat-cepat-cepat-cepat-pelan.


Yayaya, analoginya aneh. Haha. Poin saya: secara musikal rasanya begitu. 


Secara lirikal, kuartet asal Bandung ini menawarkan nomor bernuansa tragis tapi bisa komedik dalam sekali hentak. Judulnya: Abnormal? Abnormal!!!


Tokoh utama di lagu ini ceritanya muak dengan "unggahan gawai" seseorang yang punya ego tengik dengan membagikan "piagam, properti, teknologi termutakhir, swafoto pretensius di tengah momen plesir". Lebih jauh dari urusan pamer-pameran, lagu ini menggarisbawahi "konsep prestasi" yang di judul sempat diragukan lantas diyakinkan dengan tiga tanda seru: abnormal!!!


Visualisasi abnormalitas tadi lalu saya tonton di film The Truman Show. Film rilisan 1998 itu belum menyebut "unggahan", "distraksi", atau istilah terkait teknologi kiwari di atas. Judul yang dibintangi Jim Carrey ini menampilkan komodifikasi kehidupan personal.


Hari ini bukankah itu yang terjadi? Saat scrolling tentang posting trivial aktivitas harian, di timeline muncul satu-dua iklan yang menyelingi. Kalau kata Superman Is Dead di lagu Citra OD yang dirilis 2006: "privasi hari ini adalah konsumsi".


Kita mungkin sudah merasa maklum. Bagi kreator film itu, nggak. 


Meskipun yaaah, kalau kata Yuval sih harusnya film itu diakhir dengan Truman bebas dari studio televisi dan masuk lagi ke "studio" peradaban global. Dia merujuk ke beberapa hal yang disepakati umat manusia sebagai intersubjektivitas—pembahasan tentang objektif, subjektif dan intersubjektif ada di buku Sapiens.


Teknoskeptisisme yang dikenalkan judul-judul di atas baru beberapa titel yang saya simak tahun lalu. Untuk menutup ulasan ini, saya kutipkan artikel buatan Cal Newport yang dipublikasikan The New Yorker akhir tahun lalu. Dalam sebuah paragraf dia memperhalus kata skeptis menjadi seleksionis:


Techno-selectionists believe that we should continue to encourage and reward people who experiment with what comes next. But they also know that some experiments end up causing more bad than good. 


Techno-selectionists can be enthusiastic about artificial intelligence, say, while also taking a strong stance on settings where we should block its use. They can marvel at the benefits of the social Internet without surrendering their kids' mental lives to TikTok. []


Monday, November 13, 2023

Balinese Cuisine (Part 2)

 If you happen to visit Serangan Beach in Denpasar, Bali, here's a cuisine suggestion. You can tour an unused boat that has been transformed into a restaurant and is tied to a mangrove beach.

We ordered nila nyat nyat. It is a type of cooked fish served with a spicy soup on top. Veggies are also served with the main courses.


Nila nyat nyat is a culinary menu from Kintamani, a district in northern Bali. However, because the cooking process can be done anywhere, it can be found on the southern part of the island.


Nyat is a Balinese word that means "less." The term nyat nyat refers to the process of decreasing the concentration of water in the fish while it cooks. The cooking method is unique to Bali and can be used in other protein-based cuisines.


Bali has another distinct culinary technique: betutu. Betutu combines the procedures of boiling and grilling.


I tried a different kind of ayam betutu in Gilimanuk. The broth is more watery than the one I tried a few days earlier in Badung.


The spice is also hotter in the Ayam Betutu Men Tempeh. The eatery also serves a lot of fried nuts. I ate the rest as a snack during the drive across the Bali Strait and then left the island.  []