Showing posts with label yuval noah harari. Show all posts
Showing posts with label yuval noah harari. Show all posts

Wednesday, January 10, 2024

Teknoskeptisisme


Selama paruh akhir 2023, isi bacaan, tontonan dan musik yang saya dengar banyak bertema tentang teknoskeptisisme—paham yang meragukan keuntungan teknologi termutakhir. Mari saya ceritakan tentang mereka satu per satu.


Awalnya dari buku. Oleh seorang teman diskusi di English Lab, saya direkomendasikan buat baca Make Time. Dalam buku terbitan 2018 itu Jake Knapp dan John Zeratsky (JZ) kasih tips cara meluangkan waktu (make time) dan kenalkan konsep kolam tak berujung (infinity pool) untuk analogikan distraksi yang mudah diakses via internet. 


Buku itu pula yang mengenalkan saya ke istilah "industri distraksi" sekaligus menganalogikan ponsel sebagai cincin di film Lord of The Rings.


"Terkadang aku merasa ia seperti mata yang terus menatapku... Aku menemukan diriku tidak bisa tidur tanpa dia di sakuku." (Bilbo Baggins)


Halaman terakhir Make Time berisi dereran buku yang jadi acuan ide JZ dan Knapp. Alhasil saya baca Sapiens (2018).


Yuval Noah Harari jadi pemikir superstar gara-gara bukunya itu banjir pujian. Tokoh prestisius global semacam Barrack Obama hingga Bill Gates merekomendasikan buku bersubjudul "Sejarah Ringkas Umat Manusia" itu.


Isinya memang cukup cerdik merangkum sederet alasan kenapa Homo sapiens bisa jadi penguasa planet bumi. Menariknya, dalam wawancara di situs vox, Yuval mengaku kalau seandainya dia nggak rutin meditasi, sebagai profesor ilmu sejarah di Israel, dia akan terus meneliti tentang objek militer di abad pertengahan. "Meditasi" lantas jadi kata kunci yang berkait dengan "teknoskeptisisme" tadi.


Judul lain yang saya lahap dari daftar pustaka Make Time: Deep Work (2016). Buku ini ditulis Cal Newport.


Dalam satu bab khusus, profesor ilmu komputer dari Georgetown University itu mengajak pembaca menimang benefit media sosial yang menurutnya: kurang berfaedah. Akademisi lulusan MIT tahun 2009 itu kasih tips penggunaan notebook (buku tulis dalam arti harfiah) untuk atur fokus harian pembaca. 


Trik "pemenggalan waktu per 15 menit" itulah yang saya pake sampai sekarang—meskipun saya tetap harus juggling dengan komitmen buat disiplian. Dan itu ga masalah. Jangan sampai ilusi kesempurnaan justru jadi distraksi itu sendiri.


Sebetulnya, ada satu lagi buku yang saya baca Juli lalu dan ditulis seorang teknoskeptik lain: Jaron Lanier. Judulnya, Ten Arguments For Deleting Your Social Media Accounts Right Now. 


Cukup jelas lah ya isinya tentang apa. Jadi mari kita lanjut bahas musik.


Oktober 2023, Saturday Night Karaoke merilis minialbum yang efektif dan efisien: More Chords, Better Points. Isinya lima lagu yang kalo didengar berurutan rasanya akan seperti naik kereta Whoosh dari tengah perjalanan: cepat-cepat-cepat-cepat-pelan.


Yayaya, analoginya aneh. Haha. Poin saya: secara musikal rasanya begitu. 


Secara lirikal, kuartet asal Bandung ini menawarkan nomor bernuansa tragis tapi bisa komedik dalam sekali hentak. Judulnya: Abnormal? Abnormal!!!


Tokoh utama di lagu ini ceritanya muak dengan "unggahan gawai" seseorang yang punya ego tengik dengan membagikan "piagam, properti, teknologi termutakhir, swafoto pretensius di tengah momen plesir". Lebih jauh dari urusan pamer-pameran, lagu ini menggarisbawahi "konsep prestasi" yang di judul sempat diragukan lantas diyakinkan dengan tiga tanda seru: abnormal!!!


Visualisasi abnormalitas tadi lalu saya tonton di film The Truman Show. Film rilisan 1998 itu belum menyebut "unggahan", "distraksi", atau istilah terkait teknologi kiwari di atas. Judul yang dibintangi Jim Carrey ini menampilkan komodifikasi kehidupan personal.


Hari ini bukankah itu yang terjadi? Saat scrolling tentang posting trivial aktivitas harian, di timeline muncul satu-dua iklan yang menyelingi. Kalau kata Superman Is Dead di lagu Citra OD yang dirilis 2006: "privasi hari ini adalah konsumsi".


Kita mungkin sudah merasa maklum. Bagi kreator film itu, nggak. 


Meskipun yaaah, kalau kata Yuval sih harusnya film itu diakhir dengan Truman bebas dari studio televisi dan masuk lagi ke "studio" peradaban global. Dia merujuk ke beberapa hal yang disepakati umat manusia sebagai intersubjektivitas—pembahasan tentang objektif, subjektif dan intersubjektif ada di buku Sapiens.


Teknoskeptisisme yang dikenalkan judul-judul di atas baru beberapa titel yang saya simak tahun lalu. Untuk menutup ulasan ini, saya kutipkan artikel buatan Cal Newport yang dipublikasikan The New Yorker akhir tahun lalu. Dalam sebuah paragraf dia memperhalus kata skeptis menjadi seleksionis:


Techno-selectionists believe that we should continue to encourage and reward people who experiment with what comes next. But they also know that some experiments end up causing more bad than good. 


Techno-selectionists can be enthusiastic about artificial intelligence, say, while also taking a strong stance on settings where we should block its use. They can marvel at the benefits of the social Internet without surrendering their kids' mental lives to TikTok. []


Thursday, May 21, 2020

Informasi

Tindakan atau keputusan yang kita ambil, berkaitan dengan informasi yang kita terima. Nyatanya, hari-hari ini informasi tadi bisa dikendalikan. Tahun 2016, warga yang ikut pemilu di AS dibombardir informasi yang mengarahkan mereka ke satu keputusan: memilih Donald Trump sebagai presiden.

Bagaimana skema itu bekerja? Film The Great Hack menjabarkannya. Sejumlah pemilik akun media sosial facebook, mengisi kuesioner. Biasanya, kuis psikologis semacam itu dianggap asik-asikan aja. Nanti mereka akan digolongkan ke kategori tertentu berdasarkan hasil tes itu. Lalu tentu saja: dipamerkan di wall.

Yang tidak mereka sadari, alat identifikasi preferensi politik itu difasilitasi sebuah perusahaan bernama Cambridge Analitica. Berdasarkan data tadi, laman Facebook responden akan disodori informasi yang mengarahkan mereka ke dua tindakan utama: mendukung Trump jadi presiden dan setuju Brexit—Britain Exit, keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa.

The Great Hack menayangkan testimoni mantan karyawan Cambridge Analitica. Pengakuan mereka dikonfirmasi ke CEO CA: Alexander Nix. Sayangnya dia menolak diwawancara untuk film ini. Meski begitu, ada rekaman suara, transkrip pengiriman email hingga video dari kamera tersembunyi yang mengonfirmasi aksi Cambridge Analitica.

Kondisi itulah yang diwanti-wanti sejarawan Yuval Noah Harari sebagai kondisi bernama digital dictatorship. Yang dia maksud, propaganda melalui media sosial, bisa mengarahkan kita melakukan sesuatu sesuai arahan si diktator (Google dan Facebook)—tanpa kita sadari. Karena ternyata, situasi di atas memperkuat argumennya pula perihal predikat manusia sebagai hackable animal.

Meski menyebut manusia sebagai animal—dalam konteks biologi—dalam buku Homo Deus, Yuval sebenarnya lebih banyak menekankan bahwa makhluk hidup—termasuk manusia—sejatinya adalah algoritma, sehimpun tahapan kerja. Dia menyandingkan kita serupa dengan mesin, yang berfungsi dengan arahan berurutan—input masuk, diproses, keluar output.

Gagasan bahwa makhluk hidup adalah benda mati—atau sebaliknya—pernah juga dilontarkan Kevin Kelly, seorang tech journalist. Di tahun 2011, dia mempresentasikan argumen bahwa kini, muncul kingdom ketujuh.

Kingdom yang ia maksud, berkaitan dengan sistem penggolongan makhluk—taksonomi. Lazimnya, ada 6 kingdom yang kita pelajari di sekolah:
  1. Animalia (hewan),
  2. Plantae (tumbuhan),
  3. Monera (sel tanpa membran inti),
  4. Protista (sel dengan membran inti),
  5. Fungi (jamur),
  6. Virus.

Kingdom ketujuh, bernama technium. Singkatnya, semua teknologi buatan manusia, bisa digolongkan ke sini. Dari tulang yang dimodifikasi jadi alat, sampai pesawat antariksa. Dari Turing Machine sampai Artificial Intelligence (AI).

Dalam novel Origin, Dan Brown mengutip kekhawatiran Kelly tentang punahnya spesies Homo sapiens karena teknologi. Yuval—sekali lagi—membuka kemungkinan Homo sapiens punah dan digantikan spesies lain bernama Homo deus.

Sejauh ini, yang membedakan animalia dan technium (manusia dan AI) ada di satu aspek: kesadaran atau consciousness. Sederhananya, ketika kita sadar dengan konsekuensi atas tindakan dan memutuskan berdasarkan pengalaman, saat itulah kita memanfaatkan kesadaran. Bukan cuma mengolah input sehingga output menjadi sesuatu yang terjadi secara mekanistik. Video ini menjelaskan konsep kesadaran dengan relatif mudah dipahami dalam tiga menit pertama.

Maka, kala kita menerima informasi dan terdorong untuk melakukan sesuatu, tak ada salahnya kita gunakan kemanusiaan kita: eling lan waspodo.

Wednesday, May 20, 2020

Bullying

Perundungan atau bully jadi sorotan lagi. Rizal, seorang anak berusia 12 tahun dianaya sekelompok orang. Saya nggak nonton videonya. Nggak tega. Istri saya yang cerita. Dia geram katanya kok orang-orang itu beraninya ke anak yang terlihat lebih lemah dari mereka—yang bergerombol. Saya cuma jawab: memang begitulah karakter pengecut pelaku bullying.

It

Saya jadi ingat film It. Yang dibagi jadi dua bagian itu. Film horror tentang hantu badut di kota Derry. Sekawanan anak berusaha mengusir kutukan yang datang ke kota itu dalam selang waktu puluhan tahun. Awalnya, adik seorang di antara mereka hilang diculik iblis bernama Pennywise.

Dalam It pertama, kisah berakhir di masa remaja para tokoh utama. Selain mengusir hantu dari masa awal pendirian kota Derry, mereka juga bertarung dengan perundungan. Seorang tokoh antagonis mengintimidasi anak berbadan tambun. Dia juga menyasar anak berkulit hitam dan satu anak lain yang gagap bicara. Saya membaca, It sebenarnya metafora perlawanan terhadap ketakutan—yang bukan cuma soal hantu.

It kedua berlanjut saat tokoh utama dewasa. Rupanya trauma menggelayuti mereka. Iblis Pennywise jadi halusinasi bagi kawanan ini, tapi tetap mematikan. Di sisi lain, pelaku bullying belum berubah. Di antara kawanan itu, ada yang akhirnya bunuh diri.

Kekuatan Medsos

Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya kalau media sosial tidak menyelamatkan Rizal. Dia cukup beruntung karena videonya viral, dan massa yang menyaksikan kemalangan Rizal bersimpati.

Bagaimana jika, misalnya Chester Bennington diselamatkan dengan kondisi serupa. Maksud saya, ketika dia juga mengalami bullying di masa mudanya, barangkali bebannya berkurang jika ada yang berempati. Dan akhirnya bisa jadi batal bunuh diri—terlepas faktor lain ikut berpengaruh ke keputusannya.

Kalimat berikut ini barangkali bikin nggak nyaman. Keterbukaan data dalam hal ini menyelamatkan. Satu bab buku Homo Deus, memaparkan tentang agama data. Bagi Yuval Noah Harari (penulis buku itu) agama berarti ideologi—yang kemudian tercermin dalam sebuah keadaan.

Agama data berarti sebuah kondisi atau pola pikir ketika aliran data jadi yang utama. Dan menurut buku tadi, di situlah sekarang kita ada. Setiap kali kita berbagi data, ketika itu pula ritual agama data sedang dijalankan. Seperti halnya dua sisi mata pedang ideologi lain. Keterbukaan data seperti yang dialami Rizal menguntungkan. Kebocoran data serupa kasus Cambridge Analitica, berujung sebuah kondisi: digital dictatorship. []



View this post on Instagram

Buku apa yang paling berpengaruh terhadap caramu memandang kehidupan? Jawabanku, judul ini. Homo Deus isinya tentang analisa Yuval Noah Harari terhadap masa depan manusia. Katanya, di masa depan, Homo sapiens akan berevolusi jadi Homo deus. Sapiens kan berarti bijak, sementara deus berarti dewa. Jadi ke depan, evolusi akan menjadikan manusia sekuat “tuhan”. Kenapa bisa begitu? Karena berdasarkan studi sejarah peradaban umat manusia yg dia pelajari—Yuval berstatus profesor ahli militer abad pertengahan—manusia semakin bisa mengatasi tantangan dasar kemanusiaan. Apa itu? Kelaparan, peperangan, penyakit. Ribuan tahun tiga hal itu jadi masalah utama peradaban manusia. Akhir2 ini, masalahnya bergeser ke: kebahagiaan, keabadian, kekuasaan. Ketika tiga hal itu teratasi, Homo sapiens punah. Balik lagi ke pertanyaan pertama. Apakah buku ini benar2 menjawab semua pertanyaan kemanusiaan? Nggak juga, karena sudut pandangnya dari sisi ilmu sejarah, ekonomi dan biologi (evolusi). Butuh sudut pandang lain agar upaya manusia untuk abadi, berkuasa dan bahagia tidak menghilangkan “kemanusiaan”. #homodeus
A post shared by Rheza Ardiansyah (@rheza.ardiansyah) on

Wednesday, May 13, 2020

Yali

Di papua ada seorang politisi. Namanya Yali. Dia berpendidikan terakhir tingkat SMA. Yali belum pernah pergi ke luar pulau Papua, tapi rasa ingin tahunya tinggi.

Suatu ketika, Yali berjumpa dengan seorang peneliti asal Amerika Serikat yang sedang ada di Papua. Namanya Jared Diamond. Kepada Jared, Yali bertanya:
“Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”
Jared kemudian menjelaskan jawabannya dalam sebuah buku tebal. Jumlahnya lebih dari 600 halaman. Buku yang ditulis 25 tahun setelah Yali bertanya itu diberi judul: Guns, Germs and Steel.

Bedil, Kuman dan Baja

Saya tertarik baca buku ini karena Yuval Noah Harari memujinya. Bahkan dalam sebuah pertemuan, secara terbuka Yuval mengaku bahwa buku inilah yang menginspirasinya menulis trilogi Sapiens. Buku Yuval yang berjudul Homo Deus (dan ceramahnya tentang buku Sapiens) membuka cakrawala baru bagi saya dalam memandang sejarah peradaban manusia. Maka, buku Jared barangkali akan memberi pengalaman serupa.

Saat ini saya baru sampai di halaman dua ratusan. Masih jauh untuk memahami isi buku ini secara utuh. Meski begitu, garis merah gagasan yang ditulis ahli ornitologi ini sudah bisa saya ikuti.

Secara ringkas, Jared merangkum bahwa penaklukan suatu wilayah melewati tiga tahapan sesuai judul buku: senjata, penyakit dan teknologi. Secara fundamental, Jared menganalisa tentang penyebab adanya perbedaan kondisi suatu peradaban dibanding peradaban lainnya.

Jawaban bagi Yali, ada di kondisi geografi. Menurut Jared, kondisi alam di daerah tropis tempat Yali tinggal, cenderung “menyerap energi dan menghambat kreativitas”. Kondisi ini, bukan berarti minus dampak positif. Jared menuliskan bahwa orang Papua justru berpotensi lebih cerdas karena lebih sering menerima rangsangan aktif untuk meningkatkan perkembangan mental. Meski tentu saja harus didukung dengan nutrisi pula.

Di bagian lain buku tebal ini, ada juga penjelasan tentang kondisi yang mempengaruhi ketersediaan sumber pangan di Papua. Melalui perspektif evolusi, Jared juga merinci peristiwa domestikasi.

Domestikasi atau “perumahan” bermakna proses yang dilakukan spesies manusia untuk “merumahkan/ mengandangkan” spesies lain yang sebelumnya "liar". Meski pada faktanya justru manusialah yang kemudian dirumahkan.

Karena memiliki teknologi untuk mengembangkan tanaman sumber karbohidrat, koloni manusia bisa menetap. Lantas lahirlah struktur kekuasaan yang bersumber dari akses terhadap sumber pangan tadi. Demikianlah peradaban berlanjut. Jawaban untuk Yali masih panjang terbentang. []