Monday, February 28, 2011

Konser Tunggal Koil

Lazimnya, sebuah konser digelar akhir pekan. Selain memungkinkan dihadiri lebih banyak orang, malam hari weekend juga dirasa lebih nyaman diisi dengan aktivitas hiburan. Entah apa yang melatarbelakangi pemilihan hari untuk pelaksanaan konser ini, namun malam jumat itu rasanya tak terasa beda dengan akhir pekan dalam hal jumlah audiens hingga animo penonton. Konser tunggal Koil seakan menjadi alat uji kesetiaan Killer untuk mengapresiasi musisi acuan mereka. Bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), konser tunggal grup musik rock asal kota kembang itu sukses digelar. Acara dimulai sekitar pukul 19.45, meleset kurang lebih 45 menit dari jadwal yang dipublikasikan. Otong vokalis Koil melalui akun twitternya @midiahn pernah mengajukan semacam retorika, “siapa sebenarnya yang menyatakan bahwa ini adalah konser tunggal?”. Pernyataan itu tervisualisasi dengan penampilan vokalis 70’s Orgasm Club di awal acara. Ia tampil solo menyanyikan beberapa lagu yang diiringi gitar akustik yang dimainkannya sendiri. Usai hidangan pembuka itu, barulah kuartet rocker itu memulai goresan sejarah. Rangkaian lagu mereka lantunkan, tentu dengan kejutan lagu lama yang jarang dibawakan di atas panggung. Kejutan lainnya adalah hadirnya Risa Saraswati sebagai backing vocal di beberapa lagu. Penyanyi yang juga berkarya di proyek solonya yang bernama Sarasvati itu ternyata berulang tahun di malam itu. Tampil di konser tunggal Koil pasti menjadi hadiah dengan kesan tersendiri bagi eks-vokalis Homogenic itu.

Bukan Koil namanya jika tidak berbagi rezeki. Di kesempatan berbahagia itu, mereka membagi 2 sepatu boots kepada dua orang Killer yang beruntung tiket pre-sale-nya terpilih Leon dari toples undian. Angkuy, salah satu personel duo Bottlesmoker bahkan menilai Visual: A+ | Lighting: A+ | Audio: A | Crowd: A | Concept: Ultra A double + | Perform: A+. Agar meriahnya konser itu tergambar jelas, nanti kita tengok visualisasinya melalui foto-foto yang saya ambil dari shaf terdepan. Di akhir acara, Adam Vladvamp berhasil saya ajak diskusi. Berikut ulasan pembicaraan saya dengan bassis Koil yang juga bermusik di Kubik itu.

Tuesday, February 22, 2011

Bandoengsche

“Bandung emang ga ada matinya”
Rasanya tak berlebihan kalimat itu terlontar bagi sang kota kembang. Bandung memang selalu hidup, terlebih apresiasi seni dan industri kreatifnya, karenanya tak heran banyak musisi yang lahir dari ibu kota tanah sunda itu. Bukti tingginya penghormatan karya seni itu terlihat dari frekuensi penyelenggaraan pentas seni (pensi) disana. Setidaknya 2 minggu terakhir ini ada 2 gelaran seni yang telah dan akan saya hadiri. Event yang saya singgahi sabtu lalu adalah sebuah event bertajuk Bandoengsche (baca: bandungs). Bandoengsche adalah poin akhir rangkaian acara yang digelar oleh Permib, Perhimpunan Mahasiswa IT Telkom Bandung. Acara yang digelar sejak awal waktu ashar itu diramaikan dengan lantunan melodi beberapa musisi yang diantaranya adalah Deu Galih and Folks, Polyester Embassy, CUTS, hingga Sarasvati. Sekarang mari kita ulas para musikus yang turut andil dalam Bandoengsche.

Band pertama yang resmi menginjak panggung Bandoengsche adalah Raspberry. Kuartet classic rock itu tampil dalam naungan rambut gondrong dan tubuh yang dibalut kemeja a la penganut grunge.



Wednesday, January 26, 2011

Ikiw: Orang Yang Ga Suka Musik Itu Orang Munafik

Tema romantika perjuangan menegakkan bendera musik di IPB tak pernah surut dibahas. Selain disinyalir minim kesadaran mengapresiasi saat sebuah gelaran seni digelar, jumlah tokoh intelektual (baca: mahasiswa) yang rela membasahi diri dengan keringat musikal pun tak banyak. Diantara jumlah aktor yang sedikit tadi, terdapat sebuah nama, Riki Rachman alias Ikiw. Ikiw adalah mantan mahasiswa Fakultas Peternakan angkatan 43 (2006). Menyibak isi dibalik tempurung kepalanya adalah hal yang menarik, karena mahasiswa yang berkecimpung dalam dunia melodia di mata saya selalu punya rangkaian neuron yang tersimpul dalam formasi lain dari yang lain. Katidakbiasaan yang saya maksud diantaranya adalah pernyataan bahwa orang yang tak menyukai jenis musik tertentu sebenarnya tidak mencintai musik. Melalui paket tanya-jawab berikut, Ikiw mempertanggungjawabkan pernyataannya.


Menurut Anda seberapa penting peran musik dalam hidup ini?
Menurut gue ya itu penting banget musik. Kalo orang ga suka musik, menurut gue dia munafik. Semua orang pasti pernah bermain musik, entah itu bernyanyi atau cuman toktoktok [mengetuk-ngetuk meja] tanpa sadar orang akan ngelamun terus toktoktok [mengetuk-ngetuk meja lagi]. Contohnya deh hari senin upacara, nyanyi Indonesia Raya itu tu udah musik. Semua orang menurut gue ga bisa lepas dari musik.