Monday, April 18, 2011

Naif di A Mild As You Like It Bogor

Hari sabtu itu harinya musisi. Boleh lah istilah itu kita setujui, hari sabtu kan memang biasa digelar berbagai event apresiasi seni (musik khususnya). Menghadiri sebuah pagelaran musik, tentu menjadi hal yang sangat penting. Apalagi tujuannya kalau bukan mengapresiasi, berekspresi dan terinspirasi buat bikin karya yang lebih kreatif. Untuk menjaga siklus kreatifitas itu terus bergulir, saya cukup aktif memburu berbagai panggung, bahkan untuk beberapa event, saya dan Fan rela bolak-balik Bogor-Bandung. Betul, bolak-balik Bogor-Bandung bukan berarti ga cinta gig lokal, tapi di Bogor setau saya kok jarang ya ada acara beginian, ya jadinya Bandung pun diladeni. Tapi sekarang (bahkan mungkin sejak dulu. cuma gue aja yang baru ngeh :p) Bogor udah punya acara rutinan, diantaranya ada Bogor Rendezvous yang rutin dibuka tiap 2 minggu di O-Lounge, ada juga MKKK yang diadakan di Cafe Kebun Kita, dll.

Sabtu ketiga di bulan April 2011, Bogor kedatangan tamu spesial. Sebuah band legendaris asal ibu kota tampil di kota hujan. Ya, mereka adalah Naif. Kuartet pria yang bermusik sejak 1994 itu tampil dalam event A Mild As You Like It. Saya berkesempatan menyaksikan aksi mereka, bahkan mengikuti sesi check sound-nya, bahkan ngobrol sama David, bahkan makan pecel lele bareng Jarwo. Beneran, Fajar Enda Taruna si gitaris gondrong yang kharismatik itu, makan pecel bersama saya. Ga percaya? Kalau begitu saya ceritakan kronologi kejadiannya yah. Mari simak!

Tuesday, March 1, 2011

Tisond: Rock Star (Pernah) Kribo yang Lulus IPB Dengan Predikat Sangat Memuaskan



Di Inggris sana, ada sebuah universitas yang dipimpin oleh seorang rockstar. Betul, Universitas John Moores Liverpool dipimpin oleh gitaris band legendaris pelantun We Are The Champion, Queen. Brian Harold May memimpin universitas itu menggantikan Cherie Booth Q.C., pemimpin Universitas John Moores Liverpool sebelumnya sekaligus istri mantan PM Inggris Tony Blair. Dr. May, demikian sang gitaris disandingkan dengan gelar akademiknya, tentu saja berambut keriting dan panjang terurai. Citra eksternal tokoh akademik macam demikian jarang kita temui, apalagi di IPB. Saat ini aturan bahwa mahasiswa IPB dilarang telah diperkuat dengan SK rektor. Pasca pengesahannya, isu tentang penolakan larangan berambut gondrong kencang berhembus. Tentu saja mahasiswa yang nyaman berambut panjang merasa terusik, gelombang resistensi pun deras mengalir. Salah satu tokoh yang vokal memperjuangkan eksistensi rambut kribonya adalah Tisond. Fresh graduate dari FEM IPB ini ternyata menggemari figur Slash, pencabik gitar di band pujaan milyaran umat, Guns N’ Roses. Layaknya sang gitaris pujaan, Tisond juga bermain gitar untuk bandnya. Bagaimana kiprah musikal Tisond? Bagaimana konsep pergerakan mahasiswa dimatanya? Bagaimana kisah pahit getir pengalaman mempertahankan potongan rambut yang tak lazim di dunia akademik negeri? Mari simak penuturannya.

Halo Tisond, apa kabar?
Kabar ogut selalu baik apapun itu sikatt terus!!

Monday, February 28, 2011

Konser Tunggal Koil

Lazimnya, sebuah konser digelar akhir pekan. Selain memungkinkan dihadiri lebih banyak orang, malam hari weekend juga dirasa lebih nyaman diisi dengan aktivitas hiburan. Entah apa yang melatarbelakangi pemilihan hari untuk pelaksanaan konser ini, namun malam jumat itu rasanya tak terasa beda dengan akhir pekan dalam hal jumlah audiens hingga animo penonton. Konser tunggal Koil seakan menjadi alat uji kesetiaan Killer untuk mengapresiasi musisi acuan mereka. Bertempat di gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), konser tunggal grup musik rock asal kota kembang itu sukses digelar. Acara dimulai sekitar pukul 19.45, meleset kurang lebih 45 menit dari jadwal yang dipublikasikan. Otong vokalis Koil melalui akun twitternya @midiahn pernah mengajukan semacam retorika, “siapa sebenarnya yang menyatakan bahwa ini adalah konser tunggal?”. Pernyataan itu tervisualisasi dengan penampilan vokalis 70’s Orgasm Club di awal acara. Ia tampil solo menyanyikan beberapa lagu yang diiringi gitar akustik yang dimainkannya sendiri. Usai hidangan pembuka itu, barulah kuartet rocker itu memulai goresan sejarah. Rangkaian lagu mereka lantunkan, tentu dengan kejutan lagu lama yang jarang dibawakan di atas panggung. Kejutan lainnya adalah hadirnya Risa Saraswati sebagai backing vocal di beberapa lagu. Penyanyi yang juga berkarya di proyek solonya yang bernama Sarasvati itu ternyata berulang tahun di malam itu. Tampil di konser tunggal Koil pasti menjadi hadiah dengan kesan tersendiri bagi eks-vokalis Homogenic itu.

Bukan Koil namanya jika tidak berbagi rezeki. Di kesempatan berbahagia itu, mereka membagi 2 sepatu boots kepada dua orang Killer yang beruntung tiket pre-sale-nya terpilih Leon dari toples undian. Angkuy, salah satu personel duo Bottlesmoker bahkan menilai Visual: A+ | Lighting: A+ | Audio: A | Crowd: A | Concept: Ultra A double + | Perform: A+. Agar meriahnya konser itu tergambar jelas, nanti kita tengok visualisasinya melalui foto-foto yang saya ambil dari shaf terdepan. Di akhir acara, Adam Vladvamp berhasil saya ajak diskusi. Berikut ulasan pembicaraan saya dengan bassis Koil yang juga bermusik di Kubik itu.