Sunday, November 22, 2015

Mengenal FSTVLST Dari Kedai Buku Jenny


Menuju Kedai Buku
Sebuah koordinat di GPS jadi acuan saya untuk menuju sebuah tempat: Kedai Buku Jenny. Toko buku dan rumah baca itu saya ketahui kala sebuah band asal Jogja bernama FSTVLST merilis album dan rajin berjualan. Saya sendiri hampir beli CD albumnya. Sangat hampir. Hehe.*

Setelah menembus kemacetan kota Makassar sore itu, sekitar 45 menit kemudian saya tiba di lokasi yang dituju. Satu yang di ujung komplek perumahan. Spanduk nama toko meyakinkan bahwa saya tidak salah alamat. Mobil yang saya sewa berhenti dan memekikkan bunyi singkat klakson. Seorang ibu yang memangku anaknya menghambur keluar rumah. Gelagat itu tak lazim tampak di sebuah toko buku. Maka saya memastikan apakah itu benar-benar tempat yang dituju. Rupanya meski di GPS nama lokasinya bertanda lokasi baru, ini tempat lama. Justru yang tanpa keterangan "new store" di peta digital itulah kedai buku sebenarnya. Suami sang ibu kemudian mengatur motornya keluar, dan memandu saya ke lokasi sebenarnya.

Yang Terinspirasi
Pria berjaket kuning itu kemudian memandu saya ke ujung sebuah perumahan lain. Kami pun berkenalan. Namanya Bobhy. Rumah berpagar kami masuki. "Itu Farid yang buat" katanya menunjuk sebuah triplek bergambar di depan rumah itu. Farid yang dimaksud adalah vokalis FSTVLST, band yang jadi mula dari nama kedai buku itu: Jenny.

Koleksi Kedai Buku Jenny (KBJ) tidak selengkap Kineruku. Katalog penjualan musik dan bukunya pun tak seberada Omuniuum. Tapi sulit dipungkiri, pengalaman pertama memasukinya, serupa dengan mengunjungi dua toko buku dan musik di Bandung itu. Bobhy kemudian mengakui bahwa memang dua toko itulah diantara acuannya membentuk KBJ: mengawinkan buku dan musik. Lalu bagaimana bisa FSTVLST alias Jenny bisa punya tempat khusus? Bobhy mengajak saya duduk untuk mendengar pemaparannya.

Pada tahun 2010, Jenny merilis album Manifesto. Di dalam album itu ada lagu Mahaoke. Lagu itu turut masuk dalam OST film Radit dan Jani. Bobhy mengenang Mahaoke sebagai sebuah karya yang religius. Ia berkisah tentang rasa syukur yang menurutnya sangat anak muda. Dari sanalah ia kemudian jatuh cinta, hingga nama band itu melekat di nama kedai buku yang dikelolanya bersama seorang teman.**

Kesukaan Bobhy terhadap Jenny, tidak berubah ketika kemudian band itu bersalin nama menjadi FSTVLST. Pergantian nama dilakukan menyusul hengkangnya sang drummer dan bassis. Dampaknya, Jenny menjadi asing. “Beberapa teman bilang albumnya berat”, Bobhy mengawali kisah. Kala Jenny merilis album Manifesto, masih ada lirik-lirik cinta.*** Tapi ketika Hits Kitsch dirilis saat Jenny bernama FSTVLST, liriknya memang lebih berat. Meski demikian Bobhy paham bahwa sumber inspirasi penulisan lirik justru datang dari kehidupan sehari-hari, tidak seberat itu.

Pengakuan tentang sumber inspirasi ia dapat melalui percakapan langsung dengan sang penggubah. “Saya lumayan kenal dengan si Farid-nya yang vokalis itu, jadi kalau ketemuan sangat jarang bicara tentng musik an sich gitu, pasti terlibat percakapan yang lebih filsafat misalnya”, Bobhy yang menempuh kuliah S2 di Yogyakarta ketika mengenal Farid, melanjutkan kisah dalam logat Makassar yang khas. Kedekatan itu terbukti ketika lagu Hal-Hal Ini Terjadi, diciptakan khusus untuk ayah dua anak itu. Lirik si lagu kelima di album Hits Kitsch awalnya adalah tulisan untuk buku yang dibuat Bobhy bersama istri berjudul Maha Tanpa Huruf Kapital. Si buku yang perwujudan lain dari sebuah blog adalah hadiah bagi anak mereka yang kala itu berulang tahun ketiga. Farid menambahkan tulisan sebagai salah seorang pembaca blog bapakmaha.blogspot.com. Tulisan itulah yang kemudian menjadi lirik Hal-Hal Ini Terjadi.

Perkenalan saya dengan FSTVLST melalui Bobhy, ditutup dengan kisah tentang kedatangan kuartet itu ke kota Makassar beberapa hari lalu. Kata Bobhy, tidak terlalu banyak penonton yang menyaksikan band asal Yogyakarta itu tampil. Tapi ia meyakini satu hal: “tapi saya tahu benar teman-teman yang menikmati FSTVLST ini tahu, menikmati lirik, menghayatinya, menjadikannya bahan perbincangan, menjadikan FSTVLST referensi membicaran hal yang transformatif misalnya”. Setelah itu, saya menuju rak penjualan CD dan membeli Hits Kitsch versi kemasan berwarna hitam. [rhezaardiansyah]

* Saya pernah memesan digipack album Hits Kitsch. FSTVLST hanya menjual karyanya dalam dua wujud: box set dan digipack. Intinya, melalui dua metode itu, mereka tak hanya menjual music dalam wujud CD, tapi juga nilai band dalam bentuk lain. Ketika itu pemesanan saya lewat SMS balasannya lama banget. Akhirnya alokasi uang jajan digipack Hits Kitsch saya belikan ke yang lain. Eeeeh, ternyata nomor di seberang saya minta konfirmasi apakah jadi beli atau tidak. Dengan berat hati SMS itu dijawab: saya urung beli digipack maaf. Hehe.
** Beberapa hari kemudian saya dikabari bahwa Bobhy dan Aswin Baharuddin diwawancarai dalam rubrik Sosok Koran Kompas hari Jumat, 20 November 2015.
*** Kata “lirik-lirik cinta” saya maknai sebagai lirik yang banal, bukan berarti lagu “lirik-lirik cinta” kurang bagus.


Jalan menuju Kedai Buku Jenny dari jalan besar di seberang pintu masuk Universitas Hassanuddin. Saking kecilnya jalan, mobil yang saya tumpangi nggak jadi masuk. Saya menumpang motor yang dibawa Bobhy


Suasana bagian depan kedai buku. Meski bernama kedai, tidak ada makanan yang dijual di dalamnya. Gambar di bagian kanan itulah yang diperkenalkan Bobhy sebagai buatan Farid
Lukisan di bagian dalam ruangan



Arena CD jualan


Bobhy mencatat data pembelian CD. "Karena tokonya kecil jadi harus disiplin", ujarnya.

2 comments: