Showing posts with label ernest prakasa. Show all posts
Showing posts with label ernest prakasa. Show all posts

Tuesday, June 2, 2020

Diffable


I stucked on the traffic jam. In front on me, there were a man riding his tricycle—a modified motorcycle that has 3 tires. From right behind him, I can see his leg laid down. I suggest, one of his another leg has lost or disabled.

Diffable

Those situation reminded me of an essay written by Roy Thaniago. He was a media activist/ media scientist. Once on his facebook post, he shared the thought about how diffable in Indonesia and Sweden live their life.

Roy stated that there was one condition that make diffable became what there were. Those are: infrastructure. In the place where he was studied his master degree, public facility was well-built. So much so that one with different abilities can be present. They were appear—as mentioned on the essay—on the street, or in the library.

Different condition occurred in Indonesia. We seldomly see disabled people because for them, there were only two options: being active with their own resource, or being held in confinement deliberately. This kind of situation was certainly not a best way of how we treat them. Through this encounter, I would love to risen up our consciousness, that they are need the same support from society—not only from government.

One Humankind

The moment of #blacklivesmatter campaign on social media—that incinerated by the racial killing in US—also became the right time to gather the same solidarity. Last night I watched an interview of Syamsi Ali, the director of Jamaican Moslem Center in New York, US.

He said that moslem community supported the campaign of Black Lives Matter, but not because of the color of their skin. It was considering about one main value of religion: perpetrate all people as one humankind.

The Way

There was one simple way we can do to prevent ourselves from being a racist. Ernest Prakasa dechiper it in one of his instagram post. He shared his experience of being marginalized due to his racial backgound. In Indonesia—especially on the president Soeharto’s regime—chinese people had to face some restriction. From forbidden to complicit in political activity, to cultural repression. They obliged to change their chinese name.

Ernest conclude, that those vicious condition was ever held because there were no empathy. Chinese people became stigmatized because of their lack of exploration. Nonchinese people also tend to judge them by this missunderstanding. In conclussion, the simple thing that Ernest has mentioned on the net is: socialize. []

Monday, January 4, 2016

Sabda Charlie Chaplin Dalam Film Ngenest

Ngenest bagi saya dengan baik menghadirkan sebuah realita dalam bingkai tawa. Penonton akan ditarik ke masa lalu kala peranakan tionghoa mendapat perlakuan berbeda dari warga negara mayoritas di negara Indonesia tercinta ini. Satir itu segar menghentak sejak adegan pertama. Seorang anak hendak masuk kelas barunya, lalu ia diledek dengan sebutan "cina" saat menyebut kelas tujuannya. Bertubi-tubi, kegetiran yang lucu (atau kelucuan yang getir) serupa terus dihadirkan menyindir kenyataan yang memang demikian pernah terjadi. Itu mengingatkan saya ke pernyataan charlie chaplin, bahwa hidup adalah tragedi ketika dipandang dalam komposisi close up, namun justru komedi kala dilihat dalam adonan visual long-shot.

Film ini disutradarai seorang komika Ernest Prakasa. Ia pula yang menjadi bintang utama plus penulis skenario. Ernest jugalah yang menulis buku trilogi yang jadi pijakan kisah berdurasi sekitar 90 menit itu. Ia berperan sebagai dirinya sendiri dan beradu akting dengan Morgan Oey yang menjadi Patrick, sahabat Ernest sejak kecil. Deretan dialog di film ini pun mengalir sedemikian khas Ernest Prakasa. Simak ketika tokoh patrick memaparkan "filosofi tokay", yang mengingatkan saya ke gaya materi dan pembawaan komika juara 2 kompetisi komedi tunggal Kompas TV tahun 2011 itu. Ernest tanpa risih membahas hal yang mestinya dirasa menjijikan. Tanda tangan Ernest pun tampak di adegan yang serupa dengan sebuah bit tentang aktivitas seksual dengan istrinya. Meski mengandung materi yang biasanya dicerna penonton dewasa, kategori film ini digolongkan ke dalam kelas penonton 13+. Saya merasa itu kurang tepat. 

Yang juga perlu diapresiasi dari film ini, adalah dukungan akting para komika rekan seprofesi Ernest. Mereka juga tampil dengan gaya khas masing-masing. Awe dan Adjis Doa Ibu bagai punakawan di kisah pewayangan. Selipan keseharian mereka sebagai teman kos Ernest mampu menjaga ritme kisah dalam rangkain kejenakaan yang konstan. Tengok pula Ge Pamungkas. Juara 1 kompetisi Stand Up Comedy Indonesia kompas TV tahun 2012 itu sekali lagi membuktikan kebolehannya dalam seni peran. Setelah sebelumnya tampil di film Negeri Van Oranje sebagai seorang kikuk yang jenaka, di sini ia menjadi rekan kerja Ernest yang polos, ceplas ceplos dan bicara dengan rahang bawah terdorong ke depan. Saya jadi ingat sosok Don Corleone di film Godfather. Marlon Brando harus menggunakan alat penahan yang diselipkan di sela gusinya agar bentuk mukanya "melorot". Ge mengakali diri demiki karakter yang diperankannya tanpa alat apa-apa. Itu terlihat di skena penutup ketika kemeriahan pasca pengambilan gambar diperlihatkan. Dalam hal ini, Ge benar-benar berakting. 

Pada akhirnya, wujud karya baru Ernest Prakasa ini mengingatkan saya bahwa karakter pekerja seni dewasa ini tidak hanya didefinisikan dalam satu perimeter. Ernest tak hanya bisa disebut komika, tapi juga sutradara, penulis buku, juga penggubah skrip film. Pandji Pragiwaksono (kenapa dia gak diajak main film juga ya?) menyebut generasi demikian dengan nama vincinian. Sekali lagi Ernest mengingatkan, bahwa untuk sintas dan naik kelas, generasi hari ini mungkin perlu menjadi Vincinian. []

Saturday, January 25, 2014

Ernest Prakasa Analisa Kandidat Capres ala Tionghoa

Teks dan foto oleh Rheza Ardiansyah


Sekitar dua bulan sebelum pemilu tiba, komika Ernest Prakasa menutup rangkaian tur ketiganya yang bertajuk Illucinati di Jakarta. Tak hanya menyampaikan analisa jenakanya tentang para kandidat calon presiden, Ernest juga fasih mengisahkan hal personal tentang keluarga kecilnya.

Ruang auditorium Gedung Kesenian Jakarta mendadak gelap setelah komika Arie Kriting menjadi komika pembuka dan David Nurbianto meneriakkan nama pengisi acara utama. Panggung pun dikelipi beragam jenis cahaya. Lalu seorang dengan tangan terikat dan berpenutup kepala dipapah oleh dua sosok berperawakan besar. Setelah didudukkan diatas panggung, muncullah dua pemain wushu unjuk kebolehan dengan pedang dan tombaknya. Mereka menyelamatkan si tersandera. Ikatan tangan dibuka, dan muncullah sosok Ernest Prakasa setelah ia menyingkapkan diri. Aksi pembuka komika berdarah tionghoa ini bahkan dibuka dengan sesuatu yang begitu mengidentifikasi dirinya. Pun demikian dengan materi yang ia sampaikan.

Memulai dengan membahas para martir reformasi, Ernest Prakasa seakan ingin segera membuktikan janji di booklet pertunjukan bahwa ia akan "menginjak pedal dalam-dalam dan melaju lebih kencang". Artinya bisa jadi lebih nekat. Lebih tak takut terhadap respon tidak senang jika ada yang membenci materinya. Tapi sebelum benar-benar menginjak pedal gas, ayah satu anak ini mengendurkan bahasan ke persoalan sekitar pengalaman pribadinya. Potongan kisahnya selama menempuh tur Illucinati dihadirkan kembali. Lalu Ernest menghadirkan menu politik tentang arogansi pejabat hingga keberpihakannya terhadap pemberantasan korupsi. Menjembatani ke topik inti, Ernest menghadirkan si kecil Sky Tierra Solana, anaknya yang berumur empat tahun.