Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Tuesday, August 15, 2023

Experiencing Vincent Van Gogh

Through certain style, painting becomes a way of expressing ones feeling. Vincent Van Gogh once said "Paintings have a life of their own that derives from the painter's soul." 

Now imagine, what if their soul's expression is extended. That's what exactly the aim of an exhibition titled Van Gogh Alive Jakarta.

I visited the exhibition on July 30, although the event is set to end on October 9 this year at Taman Anggrek shopping center, Jakarta. The capital becomes another city to host this exhibition which uses Sensory 4 technology.

An information panel stated that the technology promises us "a powerful and vibrant symphony of light, colour and sound". Through the technology, objects on the paintings are able to move. 

On The Starry Night, swirling clouds are moving. The move is slow enough for us to still enjoy the night scene from Vincent's asylum over the township of Saint-Rémy, France.

But before that, visitors can immerse themselves in some rooms where Vincent's paintings are transformed into numbers of art installations. Sunflowers and Bedroom In Arles are few of them.

In one particular room myriad number of plastic sunflowers are planted. There are mirrors on the wall which reflect the flowers to be seen as it is a garden.
Sunflowers' inspiration came from the gardens of Montmartre in Paris. "The sunflower is mine, in a way." Wrote Vincent to his brother.  

Another installation also lets visitor to get into Bedroom In Arles. Decorated in some 8 meter square area, the installation is originally inspired by the 72 cm x 90 cm painting.

A digital projection of Vincent's paintings become another highlight of the exhibition. As I entered the last exhibition room, japanese music was heard.

Inside, I can see a number of big screens. There are 37 screens that placed both vertically and horizontally which display projection of japanese style paintings—before showing Vincent's paintings. 

At the end of the 19th century some artists in Europe were inspired by the style. Van Gogh was among them.
The influence can be seen through Vincent's painting titled Almond Blossom. 

"There are hints of Japanese influence, suggesting that Vincent and Theo's collection of more than 400 Japanese wood block prints may have been a source of inspiration for this work." wrote exhibitor on one panel.

Out from Van Gogh Alive exhibition, I was also introduced to Theo Van Gogh—Vincent's little brother. Almond Blossom was made as Theo's wife gave birth to a boy named Vincent Willem van Gogh. This Vincent then handed all his uncle's collection to Netherland's government.

Theo himself, was Vincent's life supporter. He spared his earnings so that Vincent can still be able to draw. As a result, along Vincent's last 10 years of his life, the mentally ill painter has created 1.100 sketches and 930 paintings.

Aside from Theo, his wife Johanna Gezina Van Gogh-Bonger also took a distinctive role on making her brother in law's paintings become popular posthumously. Vincent died at the age of 37. 

On Van Gogh Alive Jakarta, his death was depicted by a painting titled Wheatfield with Crows. Sound of a gunshot was heard loudly at the end of video projection. Crows on the picture then seen flew immediately.

Wheatfield with Crows was painted on July 1890, week(s) before Vincent shot himself on July 27 in the same year and died three days after. Six month after that, Theo also passed away.

The tragic life of Vincent Van Gogh today meets its relevance. Mental health issue becomes mass concern. And this exhibition extends the experience of how art can be one's medium of expression. []

Tuesday, May 12, 2020

Bersepeda

Hari ini saya jalan-jalan pakai sepeda pinjaman di sekitar Jalan Sudirman, Jakarta. Serial foto ini merangkum perasaan pangling dengan kondisi trotoar dan jembatan penyeberangan di sana.

Onthel bergaya berlatar jembatan Gelora.


Si cantik onthel London Taxi berpose di dalam naungan cincin gelora. Pola bentuk jembatan ini membuat pencahayaan natural di dalam jembatan jadi optimal. 


Lalu lintas kendaraan di depan Ratu Plaza terlihat lengang. Layar megatron tetap menayangkan iklan barang-barang yang dijual di Ratu Plaza meski mall itu tutup. Begitu pula mall lain di jalur itu: fX Sudirman.



Suasana di dalam mall fX Sudirman yang tetap dijaga petugas keamanan. Masih ada sebagian kecil gerai yang buka.   

Cincin penutup jembatan Gelora di dekat halte busway Gelora Bung Karno berbentuk melingkar (twisted).

Trotoar di kawasan Jalan Sudirman luas. Rata dan enak juga dipake skateboard keliatannya. Hehe.

Hari ini langit dan awan lagi bagus. Sebuah aplikasi pengukur kualitas udara, memperlihatkan warna hijau untuk mutu area GBK.

Saya nyeberang di satu dari 3 Jembatan Gelora. 

Jembatannya bagus. Lantainya kayu, penutupnya artistik. Seperti yang tertulis di papan informasi di sana: Simbolisasi dari gejolak dan semangat bangsa Indonesia untuk terus maju dan berkembang.


Petugas pengamanan tetap bertugas menjaga halte MRT, meskipun pelayanannya dihentikan.

Selama masa PSBB, banyak pesepeda memanfaatkan lengangnya jalur pusat kota ini untuk berolah raga.

Sebenarnya, ada pemberitahuan bahwa yang diperbolehkan naik jembatan hanya sepeda lipat. Maksudnya, agar jembatan tetap bagus, tapi di lantai ada beberapa jejak garis pergerakan roda sepeda. Sepeda yang saya pakai tidak meninggalkan jejak. Jadi rasanya tetap aman kalau pun saya bawa dia menyeberang.

Siang itu terik matahari beberapa kali diselingi teduh awan.


Bangunan atau struktur berbentuk hitam bergaris itu ada beberapa unit di sepanjang Jalan Sudirman. Saya tidak tahu pasti isinya apa dan untuk apa. Sepertinya semacam ruang pembangkit energi untuk mengoperasikan stasiun MRT.

Garis pengarah di trotoar juga tersambung rapi.

Saya berpose di hadapan gerbang GBK.

Cincin penutup jembatan Gelora di dekat halte busway Gelora Bung Karno berbentuk melingkar.

Suasana arena GBK sepi.


Patung Pemuda Membangun tampak di kala pagi.

Tuesday, May 5, 2020

Mudik

Kemarin pagi, sewaktu isi bahan bakar motor, saya disapa seseorang berbahasa sunda. Dia bertanya tentang daerah asal saya setelah mendapati huruf yang sama di pelat nomor kendaraan kami. Ternyata saya dan dia dari satu kabupaten, satu kecamatan pula.

Meski tidak mengenal sampai tahap bertukar nama, kami berbagi kisah tentang rencana pulang kampung, yang sama-sama batal. Sampai sesi itu, kami berpisah.

***

Barangkali baru kali ini krisis kesehatan begitu berdampak secara global sejak awal abad ke-20. Banyak orang tidak mengantisipasi ketika akhir tahun lalu sebuah “penyakit semacam pneumonia” dilaporkan muncul di Tiongkok. Kita tidak menyangka bahwa sindrom yang kini bernama Covid-19 ini berpengaruh luas. Dalam hal ini, terhadap tradisi mudik.

Sejarawan punya pandangan berbeda tentang muasal kata “mudik”. Ada yang bilang itu kependekan dari frasa “mulih ke udik” yang berarti “pulang kampung”. Dengan pemaknaan yang sama, ada pula yang menelusuri bahwa kata itu datang dari Bahasa Melayu.
“Makanya ada istilah hilir-mudik,”
Demikian Asep Kambali menjelaskan. Hari Rabu besok, wawancara Asep akan tayang dalam program yang saya kerjakan: 15 Minutes Metro TV. Selain soal akar kata mudik, Asep juga menjelaskan bahwa tradisi ini sudah ada sejak masa kerajaan.

Sejarawan lain sempat mengingatkan bahwa klaim bahwa “mudik terjadi di masa kerajaan” perlu lebih didalami melalui riset akademis. Meski demikian, Asep bulat berkata bahwa memang mudik ada sejak lama.
“Ketika Jayakarta dibangun, buruh didatangkan dari daerah Jawa. Begitu pula saat Batavia dibangun oleh pasukan yang dipimpin Souw Beng Kong untuk membuat kota yang dirancang Simon Melvin,”
Seiring waktu berlalu, tradisi mudik terus berlaku. Sebuah foto memperlihatkan momen ketika Bung Karno dan Bu Fat sungkem di hadapan Ida Ayu Nyoman Rai. Itu tahun 1946. Di tahun 1962 dan 1963, warga Jakarta diminta menunda tradisi ini. Musababnya, biar warga Jakarta tetap siaga demi merebut Irian Barat. Ibu kota jangan sampai kosong di masa pertempuran bersenjata itu.

Kini, pantangan serupa disuarakan, bahkan bukan cuma di Jakarta. Kecamatan tempat orang tua saya tinggal pun kena aturan PSBB. Artinya pemudik dilarang keluar-masuk. Yang boleh melintas cuma urusan kelangsungan hidup primer. Masalahnya, pelanggar aturan masih saja ada.

Jurnalis senior Usman Kansong kemudian menyampaikan pandangannya. Bahwa sebetulnya, dengan pemahaman bahwa mudarat lebih besar dari manfaat pulang kampung, mustinya pemudik urung balik. Kalau itu tidak mempan, mereka harus sadar bahwa tradisi ini urusan hati atau perasaan. Logika harus dikedepankan untuk penyeimbang.
“Virus ini urusan logika, jadi harus dilawan secara logis.”
Usman juga memberi saran bagi pengambil kebijakan. Menurutnya, kondisi pandemi saat ini dilematis. Ketika orang hendak didenda karena melanggar PSBB, ekonomi lagi lesu. Kalau dipenjara, justru para tahanan dibebaskan. Maka yang terpenting: pencegahan pelanggaran hukum lebih baik dibanding penindakan terhadapnya.

Itu dari sudut pandang pemerintah. Dari sisi kita yang warga biasa (dengan aksesibilitas teknologi), lebih baik ikuti trik yang secara spontan dilontarkan presenter 15 Minutes Wahyu Wiwoho:
“Sungkem virtual. Angpao-nya juga transfer aja.” []

Sunday, November 8, 2015

Pameran Bebas Tapi Sopan

Meski Jakarta Biennale 2015 baru akan dibuka pada pertengahan november mendatang, acara pemanasannya sudah sedemikian panas. Gelaran yang dihelat di galeri nasional ini padat pengunjung. Tak hanya di akhir pekan, di tengah minggu pun pameran ini tidak sepi. 

Nampak sebagian besar pengunjung memanfaatkan karya para seniman sebagai latar untuk berswafoto. Mural ini dibuat oleh Bujangan Urban

Sunday, April 19, 2015

Record Store Day Buktikan Bahwa Pembajakan Bisa Kalah

Pada pekan ketiga bulan April, penggemar musik di seluruh dunia merayakan hari toko rekaman atau Record Store Day (RSD). Di Indonesia, pesta ini dirayakan di 13 kota secara serentak. Sebuah lapangan futsal di dekat terminal Blok M, menjadi salah satu panggung perayaan RSD di Jakarta. Selama masing-masing 12 jam pada dua hari penyelenggaraan acara, pecinta musik bisa membeli berbagai wujud produk musik, termasuk yang dirilis khusus di hari besar itu. Ada 51 rilisan yang dijual khusus dengan stok terbatas. Semuanya dikemas dalam wujud cakram padat (CD), kaset, piringan hitam berbagai ukuran atau gabungan ketiganya. begitu pintu gerbang arena penjualan dibuka, puluhan pengunjung berhambur masuk. Mereka pun bergegas menuju gerai produk musik yang tersaji.

Antusiasme demikian, seturut dengan pendapat Anthono Oktariandi, project manager perusahaan rekaman Demajors. Menurutnya, meski kebiasaan berbagi lagu mengancam bisnis produk rekaman, ia tak khawatir. "Buktinya Demajors bertahan 15 tahun," ujarnya yakin. Anthon juga mengaku bahwa sekitar 75 persen pendapatan Demajors, berasal dari penjualan rilisan fisik produk musik. Selain CD, Demajors juga merilis piringan hitam dalam jumlah maksimal sekitar 400 keping. Namun berbeda halnya dengan CD yang pembuatannya mengikuti permintaan pasar. CD album Gajah milik penyanyi Tulus, merajai peringkat penjualan CD produksi label rekaman yang berkantor di Jakarta Selatan itu. Gajah sudah terjual hingga 80 ribu keping, sementara rilisan band White Shoes and The Couples Company dan Endah N Rhesa, menyusul di belakangnya. Dengan demikian, Anthon tak khawatir dengan kebiasaan unduh ilegal atau berbagi file musik. "Kalau suka sama band-nya, si orang yang file sharing itu pasti akan beli merchandise, datang ke konsernya," tutup pria berkacamata itu.

Strategi berbeda dilakukan Anoa Records. Perusahaan rekaman yang berusia tiga tahun ini, menjual karya band yang diampunya dalam wujud voucher album. Sebuah kartu seukuran kartu nama mereka jual dengan harga beragam, tergantung artis dan jumlah lagu di dalamnya. Salah satu pendiri Anoa Records, Peter Wallandouw, menjelaskan bahwa kartu voucher itu bertuliskan kode untuk mengunduh lagu dan hanya bisa digunakan sekali. Dengan demikian, potensi kebocoran karya artis mereka, bisa dicegah. Meski menjual album artisnya secara digital, Anoa Records tetap mencetak dan menjual kaset dan CD band mereka. Dari CD album Barefood bertajuk Sullen, hingga kaset Black Mustang mereka jajakan dalam gelaran dua hari itu. "Kita percaya pembelian online tetap hidup, dengan catatan selalu berdampingan dengan penjualan fisik," tutupnya. [rhezaardiansyah]

Para pendiri Anoa Records dan produk jualannya
Anthon di lapak Demajors
Antusiasme pengunjung perayaan Record Store Day

Friday, October 10, 2014

Yang Dipajang di Pameran Besar Seni Rupa Keseharian

Kami baru masuk lagi ke ruangan blog ini. Lalu sadar bahwa kisah tentang Pameran Besar Seni Rupa bertema Keseharian sudah siap rilis, namun belum ditekan tombol Publish. Maka dari itu mari nikmati dokumentasinya berikut ini:



Saturday, January 25, 2014

Ernest Prakasa Analisa Kandidat Capres ala Tionghoa

Teks dan foto oleh Rheza Ardiansyah


Sekitar dua bulan sebelum pemilu tiba, komika Ernest Prakasa menutup rangkaian tur ketiganya yang bertajuk Illucinati di Jakarta. Tak hanya menyampaikan analisa jenakanya tentang para kandidat calon presiden, Ernest juga fasih mengisahkan hal personal tentang keluarga kecilnya.

Ruang auditorium Gedung Kesenian Jakarta mendadak gelap setelah komika Arie Kriting menjadi komika pembuka dan David Nurbianto meneriakkan nama pengisi acara utama. Panggung pun dikelipi beragam jenis cahaya. Lalu seorang dengan tangan terikat dan berpenutup kepala dipapah oleh dua sosok berperawakan besar. Setelah didudukkan diatas panggung, muncullah dua pemain wushu unjuk kebolehan dengan pedang dan tombaknya. Mereka menyelamatkan si tersandera. Ikatan tangan dibuka, dan muncullah sosok Ernest Prakasa setelah ia menyingkapkan diri. Aksi pembuka komika berdarah tionghoa ini bahkan dibuka dengan sesuatu yang begitu mengidentifikasi dirinya. Pun demikian dengan materi yang ia sampaikan.

Memulai dengan membahas para martir reformasi, Ernest Prakasa seakan ingin segera membuktikan janji di booklet pertunjukan bahwa ia akan "menginjak pedal dalam-dalam dan melaju lebih kencang". Artinya bisa jadi lebih nekat. Lebih tak takut terhadap respon tidak senang jika ada yang membenci materinya. Tapi sebelum benar-benar menginjak pedal gas, ayah satu anak ini mengendurkan bahasan ke persoalan sekitar pengalaman pribadinya. Potongan kisahnya selama menempuh tur Illucinati dihadirkan kembali. Lalu Ernest menghadirkan menu politik tentang arogansi pejabat hingga keberpihakannya terhadap pemberantasan korupsi. Menjembatani ke topik inti, Ernest menghadirkan si kecil Sky Tierra Solana, anaknya yang berumur empat tahun.

Tuesday, May 29, 2012

Hijab Class - UIN Fashion Fair 2012



Salah satu pre-event UIN Fashion Fair 2012, yaitu Hijab Class "Festive Hijab and Beauty", telah sukses dilaksanakan. Jum'at, 25 Mei 2012 lalu bertempat di Cafe Cangkir Lantai 2, Kampus UIN Jakarta, Grand Opening UIN Fashion Fair 2012 sekaligus Hijab Class ini digelar. Grand Opening UIN Fashion Fair turut menghadirkan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Dirjen Arsitektur dan Desain. Ibu Dra. Poppy Savitri beserta beberapa staffnya. Berbalut busana biru tosca, Ibu Poppy menyampaikan apresiasinya terhadap acara ini. Selain itu, hadir pula perwakilan dari Rektorat UIN Jakarta. Acara ini diresmikan dengan penorehan tinta di atas sterofoam bertuliskan 'UIN Fashion Fair 2012 Sukses' oleh para tamu undangan yang hadir. Acara yang dikepalai oleh Qonitah Al-Jundiah, mahasiswi Psikologi UIN Jakarta, memiliki beberapa rangkaian acara, yaitu Hijab Class "Festive Hijab and Beauty", Talk Show "Fashion, World, and Religion", Fashion Swap "Fashion For Charity", dan Islamic Styling Competition. Main event sendiri yaitu Fashon Show "Breaktrough" akan dilaksanakan pada bulan September 2012 mendatang.

Monday, April 30, 2012

Upcoming Event: UIN Fashion Fair 2012


UIN Fashion Fair 2012
Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta
Kampus 1 Jl. Ir. H. Juanda No. 95, Ciputat - Tangerang

Thursday, April 12, 2012

LA Terusik Traxkustik So Social Gugun Blues Shelter



Sore yang mendung di hari Minggu, 1 April 2012 tidak menjadi penghalang bagi pecinta musik blues untuk datang ke LA Terusik Traxkustik So Social Gugun Blues Shelter di Hard Rock Cafe EX Plaza tempo hari. Acara ini di selenggarakan oleh Trax FM Jakarta bekerjasama dengan LA Lights Community. Sebelumnya, Trax FM menggelar LA Terusik Traxkustik Battle Of The Band untuk menentukan siapa band yang akan menjadi opening act di acara tersebut. LA Terusik Traxkustik Battle Of The Band ini diadakan dua kali, pertama ada Morgen bis Abend (@MorgenbisAbend) melawan Siberian Siderocks (sibsocks), yang dimenangkan oleh Morgen bis Abend. Kedua, ada Tokyolite (@TokyoLiteBand) melawan Young De Brock (@Young_de_Brock), yang dimenangkan oleh Young De Brock.

Saturday, March 17, 2012

Fossil Carnival - SMA 47 Jakarta


Saman SMA 47 Jakarta sebagai pembuka Kompetisi Tari Saman

Fossil Carnival, sebuah pentas seni dengan tema "Transport Audience Into The Past" diselenggarakan oleh SMA 47 Jakarta dalam rangka merayakan hari jadinya yang ke-30 tahun, berlangsung cukup meriah. Acara ini dibuka dengan Kompetisi Tari Saman antar SMA se-Jakarta dan sekitarnya pada hari Sabtu, 25 Februari 2012.