Showing posts with label hayao miyazaki. Show all posts
Showing posts with label hayao miyazaki. Show all posts

Saturday, May 30, 2020

Kosong

Masa pandemi yang memaksa kita #dirumahaja, bikin ada semacam ruang kosong di keseharian. Kamu merasa begitu? Saya sih, iya. Ada semacam jeda yang kita sadari. Nggak ngapa-ngapain. Kerjaan beres, rumah bersih, makan udah, mau tidur nggak ngantuk, baca bosen, nonton males, keluar jelas berisiko. Tapi saya jadi bisa merasakan Ma.

Dalam sebuah ulasan, Insider menguak sisi eksotis dari film Hayao Miyazaki, Spirited Away. Menurut analisa itu, ada satu hal yang membuat spesial kartun pemenang Best Animated Feature di Academy Award alias Oscar 2003 ini. Dalam rangkaian adegannya, ada sesuatu bernama Ma, bermakna kekosongan.

Sebenarnya, definisi literal Ma menurut sang sutradara: jeda waktu di antara tepukan tangan. Maksud dia, kalau film diisi ruang momen, bangunan tensi jadi punya dimensi lebih luas. Kadang itu berupa adegan makan nasi sambil nangis, sesuatu yang nggak berkonsekuensi signifikan di film Spirited Away. Dan durasi totalnya bisa 6 menit sendiri buat momen semacam ini dari keseluruhan 2 jam 5 menit.

Pemanfaatan konsep Ma, kayaknya juga dipake di sebuah film yang—secara nggak sengaja—saya tonton semalam: The World of Married Couple. Film idola sejuta kaum ibu itu bercerita tentang pecahnya kehidupan rumah tangga akibat orang ketiga.

Cerita semalam: tokoh suami duduk dan makan mie. Sumpitnya berbahan besi. Panci buat masak mie tadi dibawa ke meja makan, dialasi potongan kayu. Mie disantap, setelah disajikan dulu ke piring kecil. Ini bukan adegan biasa.

Hal ringan sesederhana makan mie aja, bisa jadi media promosi budaya Korea. Istri saya target korbannya. Cara dia makan samyang, kurang lebih persis kayak di film itu. Bagi saya yang nggak ngerti konteks keseluruhan adegan makan mie, potongan itu kosong-kosong saja. Ma.

Bagi istri saya, ternyata pemaknaannya nggak berhenti di situ. Ketika lagi nikmat makan mie tadi, si suami dikasih kimci sama istri (muda)nya. Orang Korea ternyata memang biasa menyantap mie yang digabung potongan sawi putih dingin. Kalau kimcinya ketinggalan dimakan, berarti ada yang salah. Di situlah poin utamanya. Adegan makan berkait ke alur kisah berikutnya.

Dengan Ma tadi, film Spirited Away bisa jadi terasa bertele-tele. Adegan makan mie juga terasa trivial. Nggak penting-penting amat. Tapi buat orang-orang yang bisa menikmati sensasi Ma, bisa jadi itu penting—dalam istilah film Hayao Miyazaki: magical. Sama halnya dengan Ma di keseharian kita—jika memang kita mau menyebutnya demikian. Lagipula, yang bikin kita menjadi manusia justru kan pencarian makna. Ma itu mungkin salah satu sarananya. []

Wednesday, May 27, 2020

Kesuburan


Saya nonton ulang film besutan sutradara Joko Anwar: Modus Anomali. Waktu pertama kali tayang tahun 2011, saya nonton di bioskop. Rasanya menegangkan. Film itu memang minim dialog dan banyak menampilkan momen diam—suasana yang dalam film Hayao Miyazaki bernama Ma: “kekosongan”.

Sejak awal film kita diajak bertanya tentang siapa dan kenapa si tokoh utama diteror. Lantas di pertiga akhir film, perlahan penonton dibuat paham tentang semua pertanyaan di awal. Brilian—dan “sakit”.

Hal menarik lain dari film ini, tentu saja tentang keterkaitannya dengan film lain. Joko anwar dikenal punya cinematic universe-nya sendiri. Dan semuanya dikenal punya pesan eksistensial soal kelahiran. Coba lihat. Di semua filmnya, ada cerita tentang kehamilan—entah itu digambarkan dengan hampir melahirkan di dalam taksi, sampai lewat cerita tentang kesuburan melalui aliran sesat.

Tokoh utama dalam film Modus Anomali—yang cuma dikasih keterangan “man” di bagian credit title—muncul lagi di akhir film Pintu Terlarang. Film rilisan 2009 itu sendiri diadaptasi dari novel yang ditulis Sekar Ayu Asmara dengan judul yang sama.

Doa Ibu

Saya belum baca Pintu Terlarang, tapi sudah baca novel Sekar Ayu Asmara yang lain: Doa Ibu. Novel terbitan tahun 2009 ini bercerita tentang dua kisah.

Pertama, tentang pelukis bernama Ijen yang mengalami sejumlah kejadian ganjil. Seorang pengantin wanita yang juga sahabatnya, menghilang ketika dia ada di pelaminan. Sahabat Ijen yang lain pun mengalami nasib yang sama.

Kisah kedua, tentang seorang ibu bernama Madrim. Suaminya baru meninggal, dan setelahnya dia baru mengetahui bahwa sang suami punya istri kedua. Ternyata, sebuah rahasia juga dipendam Madrim. Tanpa diduga, rahasia itu berkaitan dengan eksistensi Ijen. Mereka berdua lalu bertemu dalam sebuah momen yang sureal.

Novel ini enak dibaca karena kalimat terakhir di tiap bab langsung tersambung dengan kejadian di awal bab berikutnya. Sehingga sekuensial, padahal itu dua cerita berbeda. Sekar Ayu Asmara dan Joko Anwar mempertanyakan makna kelahiran dan kehadiran anak melalui karya mereka. []